Will You Marry Me?

Gambar

 

Happy Reading….

Siang itu cuaca begitu panas, terik matahari begitu menyengat kulit. Aku menyusuri jalan dengan beban dipundakku yg sangat berat. Hari ini memang sangat melelahkan, pekerjaan rumah menumpuk seperti gunung, ulangan berjubel, membuat isi kepalaku meleleh. Sesampai di depan rumah kedua bola mataku menangkap sosok pemuda asing yang duduk dikursi teras rumahku. Aku pun menghampirnya.

”Kau siapa?”

”Oh, kau sudah pulang. Cepat taruh tasmu dan ikut aku.”

”Kemana? Dan kenapa aku harus ikut denganmu?”

”Ke Rumah Sakit. Ayahmu kecelakaan.”

”Apa?”

 

Di Rumah Sakit

Apa yg sebenarnya terjadi? Kenapa bisa ayah… Pikiranku berkecamuk, aku terus saja meremas-remas tanganku selama duduk menunggu di depan ruang UGD. Kulihat lagi ruang UGD tsb, belum ada yg keluar. Aku semakin gelisah.Tiba-tiba di depan wajahku muncul sekaleng minuman penambah ion. Aku pun mendongak keatas. Pemuda tadi tersenyum padaku. Aku menenggakkan posisi dudukku dan mengambil minuman itu dari tangannya, ia pun langsung duduk disampingku.

”Kau tidak lapar?”

”Tidak. Kau? Bagaimana kau bisa?”

”Apa? Mengetahui rumahmu? Itu gampang, KTP ayahmu.” katanya lalu menatapku.

”Lalu bagaimana dengan kecelakaan ayahku? Apa kau yang menabraknya?” tuduhku cepat

”Hey! Jangan menatapku seperti itu, ayahmu punya janji ingin bertemu denganku, saat ayahmu menelponku, beliau tengah menyetir dan terjadilah kecelakaan itu.” Aku kaget mendengar penuturan dari pemuda yang duduk disampingku ini.

Oh, ayah. Kenapa kau ceroboh sekali? Tidakkah kau kasihan padaku yg sudah tak punya ibu? Aku menangis pelan. Tapi nampaknya dia mengetahuinya.

”Kau menangis?”

”Hey! Jangan menangis. Disini banyak orang yang melihat.” dia nampak kebingungan melihatku menangis. Tapi aku tidak bisa menghentikan tangisanku. Tiba-tiba sebuah telapak tangan yang lebar mengusap kepalaku dan mendorongku ke pelukan yang begitu hangat dan nyaman. Entah berapa lama aku menangis sampai akhirnya aku terlelap dalam tidur.

 

Still at Hospital

Saat kubuka mataku, nampak dimataku langit2 kamar yang putih bersih, lalu ku tolehkan kepalaku, disana terbaring ayah dengan infus ditangannya dan kepala yang dibalut. Tak hanya itu, pemuda itu juga tengah tertidur disofa. Ku dekati dia, wajahnya terlihat lelah sekali. Ak pun menyelimutinya karena udara mulai dingin. Tak terasa sudah pukul 6 petang. Tapi ayah belum siuman, sedangkan dia, dasar cowo bisanya cuma molor mulu, tapi, mungkin dia kecapekan, ya?

”Kenapa mukamu jelek begitu?” aku kaget saat tahu dia sudah bangun. Aish, tampangnya kusut banget, tapi rambutnya yg acak-acakan itu terlihat manis diwajahnya. Eh, apa yang kupikirkan. Lupakan-lupakan, huh.

”Sekarang mukamu merah?”

”Tidak’ sangkalku cepat.

”Iya keliatan tuh.”

”Aku bilang tidak, wajahku merah karena sinar senja yang masuk dari jendela itu saja.”
dia hanya tersenyum lalu bangkit dari sofa dan beranjak ke kamar mandi. Aduh, aku malu sekali sudah memperhatikannya tadi. Hoaa…

”Yunna.”

Tiba-tiba aku mendengar suara ayah memanggilku, aku menoleh padanya. Ak melihat mata ayah terbuka. Aku langsung menitikkan air mata.

”Aayah? ayah ini yunna, ayah.”

”Ada apa?: tanya pemuda tadi sekembalinya dari kamar mandi.

”Ayah, ayah sudah sadar.” kataku padanya.

”Oh, paman sudah bangun?”

”Nak alvin~” panggil ayah padanya. Oh, jadi namanya alvin.

”Ayah, dia siapa?”

”Dia adalah calon suami kamu, yunna.” Apa kata ayah tadi.

”Apa? Suami?” aku langsung menoleh kearah laki-laki yang bernama alvin itu. Aku melihat wajahnya tidak menunjukkan kekagetan sedikitpun. Apa ini sudah direncanakan? Sejak kapan?

”Ayah. Aku masih SMA. Kenapa terburu-buru menyuruhku menikah?”

”Ayah, sudah tua dan tidak bisa lagi menjagamu. 1 bulan lagi ujian dan lulus, kau menikahlah dengan alvin. Minimal kalian tunangan dulu.”

”Tapi aku masih ingin kuliah, ayah.”

”Aku tidak akan melarangmu kuliah setelah kita menikah nanti.”

”Apa? Sedikitpun kau tidak menolaknya? Dan, siapa yang akan menikah denganmu?”

”Kenapa harus menolak? Wajahmu lumayan dan tidak membuat malu aku bila kuajak jalan.”

”Apa?” Sembarangan saja dia bicara. Hah, menyebalkan.

”Nak alvin, aku titip yunna padamu. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi karena aku sudah mulai tua dan tidak dapat lagi menjaganya.”

”Iya, paman. Aku akan jaga dia dengan baik. Aku janji pada paman.”

Apa? Apa maksudnya akan menjagaku dengan baik? Apa dia bersungguh-sungguh akan menikah dengan ku? Apa dia sudah gila?

Didalam mobil si alvin itu, aku menutup mulutku rapat-rapat. Aku kesal sekali. Tiba-tiba dia menepikan mobilnya. Aku terkejut.

”Kenapa berhenti?”

”Menurutmu kenapa?”

”Ja, jangan macam-macam!!” sergapku waspada.

Aduh, kenapa dia menatapku seperti itu? Alvin sedikit mencondongkan tubuhnya kearah ku, dia juga terus menatapku lekat-lekat seperti ingin memangsaku.

”Hey! Kau. Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak suka.” kilahku tak tahan dengan situasi seperti ini.

”Kau punya mata lebar dan warna mata coklat. Hmm, alismu juga tebal. Hidungmu juga bagus. Bibirmu, hmm, mungil.’

Apa dia bilang? Bibirku mungil?

“Hey! Kau ini. Apa yang sebenarnya ada pikiranmu itu?”

”Apa? Tidak ada.”

”Aish, kau seorang playboy ya? Dengan mudahnya menilaiku.”

”Playboy? Hahaha, kenapa? Kelihatan ya?” Alvin dengan santainya tertawa lepas didepanku. Dasar.

”Jadi benar, kau ini playboy?”

”Kalau aku playboy, aku tidak akan mau menerima pinangan ayahmu. Buat apa? Kalau aku bisa cari perempuan yang lebih darimu?”

Apa, dia bilang? Lebih dari aku?

”Apa? Wah, benar-benar.” Alvin hanya tersenyum lalu kembali menjalankan mobilnya. Hih!! Menyebalkan!!

 

”Yunna~, menikahlah dgku.” alvin berlutut didepanku dengan sebuah cincin dan sebuket mawar merah ditangannya. Senyum yang menawan menghiasi wajahnya.

”Apa? Ini mustahil. Tidaaakkkk!!!”

”Tidaaakkk!!”

”Kriiiing!!” jam bekerku berteriak-teriak membangunkanku. Aku langsung terbangun dari tidurku.

”Hhh, cuma mimpi. Syukurlah.” aku mengusap wajahku dan membenahi rambutku yang berantakan. Jam beker yang masih berbunyi segera kumatikan. Pukul 06.30.

“Hah? Aku harus cepat.” Aku berlari kesana kemari, secepat mungkin aku berbenah diri. Saat aku mengunci pintu, terdengar suara mobil berhenti.

”Alvin?”

”Kau siang sekali? Kau tau ini pukul berapa? Dasar lamban.”

”Kenapa, kau ada disini?”

”Cepat naik. Sudah terlambat.” Tanpa bertanya lagi aku segera masuk ke mobil.

Di Sekolah

Teng.Teng.Teng

“Hari ini kita pulang cepat.’

“Iya, ada apa ya?’

“Entahlah. Yunna, kau ikut dengan kami tidak?’

‘ah, tidak. Aku harus ke Rumah Sakit. Maaf.’

‘oh, ya sudah. Kami duluan ya.’

‘baiklah, hati-hati.’

Aku masih terduduk lesu dibangku ku. Tak ingin beranjak pergi, walau kelasku sudah kosong.

‘hah~, menyebalkan!’

‘apanya yang menyebalkan?’

Tiba-tiba seseorang datang.

‘vino?’

Vino tersenyum padaku lalu duduk di bangku depanku. Vino adalah temanku diklub pecinta alam. Walau tak sekelas tapi kami cukup baik.

‘belum pulang?’

‘iya.’

‘aku dengar ayahmu masuk RS?’

‘tahu darimana?’

‘tadi istirahat, temenmu yang kasih tau.’

‘oh, iya. Ayah mengalami kecelakaan.’

‘benarkah?’

‘sudah tidak apa-apa, rencananya pulang sekolah mau kesana.’

‘aku boleh ikut?’

Apa ini sungguh-sungguh? Vino mau ikut menjenguk ayah? Senangnya 😀

 

Di Parkiran

Saat aku dan vino berjalan beriringan menuju parkiran, disana sudah ada alvin yang bersandar dikap mobilnya. Aduh, itu orang kenapa lagi sih?

Loh, kok alvin jalan kearah sini?

‘lama banget sih?’

‘yunna, dia siapa?’

‘dia?’

‘aku calon suaminya.’

‘suami? Dia calon suamimu?’

‘bu, bukan. Aduh.’ aku langsung menarik alvin menjauh dari vino.
‘ihh, kau ini apa-apaan sih? Kenapa harus bilang calon suami segala sih?’

‘memang iya kan? Apa salahnya?’

‘aduh, kau ini benar-benar ya?’

Apa salahnya? Apa dia sudah gila? Oh, vino. Aku langsung menghampirinya.

‘eh, Vin. Jangan salah paham ya. Dia cuma…’

‘calon suamimu? Gak masalah, kenapa harus salah paham?’

Apa? Iya.ya kenapa aku harus khawatir?

‘ya sudah. Pergilah, aku ingat aku masih ada janji. Aku pergi dulu.’ vino pun berlalu.

 

Di dalam mobil.

‘hey! Kenapa diam saja?’

Huh, aku tidak akan menanggapimu. Aku kesal sekali :@

‘marah ya? Lihat mukamu jadi jelek tahu kalau cemberut gitu?’

Apa sih maksudnya dia nggoda aku kayak gitu?

‘mau makan dimana?’

Makan dia bilang?

‘nggak usah.’

‘beneran? Nggak laper?’

‘nggak.’ Kataku ketus.

Tiba2-tiba. Kruyuukk~ Ya ampun! Perutku bunyi. Ah, tidak!

‘suara apa itu?’

‘bu, bukan apa-apa.’ aku berkilah agar alvin tidak mengetahuinya. tapi percuma, dia melirikku dengan senyum dibibirnya. Oh Tuhan, dia mendengarnya. Ouw, aku malu sekali 😦

 

  Di Restoran Cepat Saji

Aku duduk sendiri dimeja nomor 4. Sebentar kemudian alvin datang dengan sebaki penuh makananku dan makanannya.

‘ini. Kau minta cheese burger kan? Cepat makan.’

‘kau tidak makan? Kenapa hanya makan kentang goreng?’

‘ aku tidak suka junk food. Apalagi keju. Yaiks!’

‘kau tidak suka keju? Yang benar?’

Dia? Tidak suka keju, ya?

’sudah cepat makan. Terus ke Rumah Sakit.’

Aku pun langsung menggigit cheese burgerku dan melahapnya sampai habis. Tanpa sadar alvin terus menatapku dengan pandangan yang aneh. Aku pun tersadar dan merasa kikuk.
‘ada apa?’ Tanpa menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba saja ibu jari alvin mengusap bibirku. Apa yang dilakukannya barusan?

‘ada saus. Makanlah denganbaik.’ Aku tak bisa berkata-kata. Saking kagetnya aku cepat-cepat memasukkan gigitan terakhir kemulutku.

‘uhuuk.uhuuk.’

‘aduh. Kau ini. Makan saja tidak hati-hati. Ini, cepat minum. Pelan-pelan.’

Aku minum air putih miliknya. Ah, ada apa denganku? Kenapa bisa sampai tersedak sih?

‘maaf’

‘sudahlah. Ayo ke Rumah Sakit’

Aku diam saja, dan menurutinya kembali ke mobil.


Di Rumah Sakit

‘ayah ak datang~’ aku berlari memeluk ayah.

‘paman’

‘oh, kalian berdua’

‘kapan ayah boleh pulang?’

‘barusan dokter bilang, besok sudah bisa pulang’

‘benarkah? Syukurlah’ aku memeluk ayah lagi.

‘alvin, mendekatlah’

Alvin yang sedari tadi berdiri dibelakangku, kini duduk disamping pembaringan ayah. Otomatis, ak mundur.

‘kau benar mau menikah dengan yunna?’

‘paman’

‘aku tahu, aku sangat egois, walaupun kau hanya anak angkatku, tapi kau selalu menuruti ucapanku’ papar ayah membuatku tercengang.

‘paman, aku senang dan berterimakasih sudah mau mengangkatku anak. Bagiku, dengan menikahi yunna, paman akan menjadi ayah seutuhnya bagiku’

‘terimakasih alvin.’

Apa? Apa, aku tidak salah dengar? Alvin itu, anak angkat ayah? Kenapa aku tidak tau? Dan dia benar-benar mau menikahiku? Oh, astaga. Tamatlah riwayatmu yunna, kau tidak akan bisa lagi berharap dapat bersama dengan vino, orang anyg selama ini kau kagumi. Oh, tidak. Ak ulangsung tertunduk lesu. Tapi, tiba-tiba alvin menarik tanganku dan berjalan keluar kamar.
‘hey! Apa-apaan ini? Lepaskan!’ alvin sama sekali tidak mendengar dan terus menggeretku entah kemana.

‘alvin! Kita mau kemana?’

Dan sampailah kami ditaman Rumah Sakit, alvin berdiri didepanku. Dia menatapku dengan tatapan yang berbeda. Begitu menggetarkan dan mengunci, membuat mataku tak bisa lepas dari tatapannya. Oh, tuhan ada apa ini?

‘yunna, apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan sebelum aku mulai bicara?’

’em, kau, anak angkat ayahku? Sejak kapan?’

‘saat umurku 17th, dan kau pasti masih berumur 10 atau 11th, waktu itu panti asuhanku sudah tidak bisa lagi mendapatkan donatur, aku yang masih duduk dibangku SMA merasa putus asa kalau sampai putus sekolah. Namun, suatu ketika paman datang dan menolong panti asuhan kami dan akhirnya aku pun diangkat anak. Tapi, aku tetap tinggal disana walau sudah diadopsi. Itulah kenapa selama ini kau tidak mengenalku. Tapi aku sudah mengenalmu jauh sebelum kau mengenalku’

Ak tercengang.

‘apa? Kau sudah pernah bertemu denganku sebelumnya?’

‘hmm, aku mengikuti perkembanganmu’

Jadi selama ini, astaga! Oh, mengejutkan sekali.

‘jadi?’ oh, dia masih mau bicara apalagi?

‘kau, bersedia menikah denganku?’

Apa? Menikah? Astaga mimpiku jadi kenyataan. Apa yg harus kulakukan? Ak tdk tau, ak bingung.

‘a, apa? Tunggu. Alvin, apa kau benar-benar mau melakukan apa yang ayah minta padamu? Menikah dengan ku?’

‘kenapa? Kau ragu padaku? Ak sudah mampu menghidupi mu.’

‘bukan itu.  Kau tidak melakukannya karena balas budi terhadap ayahku, kan?’

‘tidak. Aku menerima ini bukan karena ayahmu. Ini pilihanku. Jadi kau tidak perlu takut aku akan mempermainkanmu.’

Kedua tangan alvin memegang pundakku, dia tersenyum. Ya ampun manis sekali. Setelah itu ia pun beranjak pergi. Mataku mengikuti langkahnya pergi meninggalkanku.

Hhh, aku hanya bisa menghela nafas panjang.

Malam telah larut, aku tidak bisa tidur. Pikiranku masih melayang-layang pada kejadian tadi siang di taman Rumah Sakit. Aku membolak-balik badanku kekanan dan kekiri.

’Ahhh!! Menyebalkan!!’ desahku kesal.

 

Diwaktu yang sama. Ditempat berbeda.

Alvin membuka laci meja kerjanya. Dia mengambil selembar foto dari dalm album. Ia menatap potret seorang gadis yang mengenakan baju abu-abu putih ditahun pertama gadis tersebut di SMA. Di foto ttersebut, gadis itu sedang tersenyum pada teman-temannya. Alvin jadi ikut tersenyum melihat foto tersebut.

”Apapun alasannya, aku harus bisa mendapatkanmu, Yunna.”

 

Di Rumah.

Satu bulan sudah semenjak ayah pulang dari Rumah Sakit dan pernyataan alvin sewaktu ditaman Rumah Sakit padaku. Sejak hari itu dia jadi sangat sering datang kerumah. Entah ingin bertemu ayah secara khusus atau hanya kebetulan lewat. Awalnya aku diam dan cuek saja apabila dia kerumah. Tapi kenapa lama2-lama aku merasa agak jengkel? Dan juga kalau sehari tak melihatnya kenapa rasanya ada yang aneh?

Seperti halnya hari ini, dia biasa datang kerumah sore hari sepulang kerjanya. Tapi entah kenapa hari ini dia belmu datang lebih tepatnya tidak datang. Sore itu ak tengah menyirami taman depan rumah yang sudah seminggu tak ku kucuri air. Maafkan aku ya..

Ayah sedang keluar untuk menyelesaikan sesuatu dikantor katanya.

‘ah, melihat kau kusirami, seperti ini membuatmu segar ya?’ aku bicara pada tanaman-tanamanku. ‘tumbuhlah dengan baik.’ aku tersenyum pada mereka.

Tanpa kusadari, sesuatu sudah menutup mataku dari belakang. Auk kaget tapi langsung menguasai diri. Pelan-pelan kuraba sesuatu itu. Tangan manusia.

Hah? Siapa?

‘he, hey. Kau. Siapa? Lepaskan.’ Tak ada jawaban. Aku mulai ketakutan dan pikiran buruk terlintas.

‘hey!’  aku mengeraskan suaraku dan berusaha melepaskan diri. Setelah lepas, spontan aku langsung menyemprotnya dengan air dari selang yang ku pegang dari tadi.

‘hiaa..rasakan..hahaha!!’

‘hey.hey.hey. Yunna, hentikan!’ dia berteriak dengan suara yang kukenal. Aku memiringkan kepala, siapa? Dan pada saat itu dia malah mendekat kearahku dan merebut selang yang kupegang dariku dan balas menyemprotku.

Hah? Apa-apaan ini?

Tiba-tiba dia tertawa melihatku basah kuyub.

Alvin?

Apa benar yang ada dihadapanku adalah alvin?

Dia masih dengan tawanya yang lebar. Dia basah kuyub dan aku juga. Sial..
‘ternyata itu kau. Lihat aku jadi basah kuyub tahu.’ aku menutupi rasa senangku melihatnya dengan muka jengkelku.

‘kau pikir hanya dirimu? Lihat, aku juga. Kau harus bertanggung jawab.’

‘apa? Enak saja aku harus tanggung jawab. Nggak mau.’

Lalu alvin, menjatuhkan selang itu ketanah dan berjalan samping rumah untuk mematikan kran. Lalu berjalan masuk kerumah. Loh, mau kemana dia?

‘alvin! hey! Mau kemana kau?’

Aku mengikutinya dari belakang. Dia mengambil handuk yang tersampir disofa ruang tengah, lalu mengusapkannya di rambutnya yang basah. Handuk warna hijau.
Tunggu, handuk hijau? Disofa?

‘hey! Itu handukku!’

‘pinjam. siapkan air panas buatku.’

Apa?
‘seenaknya saja menyuruhku. 
Memang aku istrimu?’

Ups,,

‘memang kau calon istriku kan?’ Katanya sambil tersenyum licik padaku.

‘lupakan saja.’

Menyebalkan. Aku segera berlalu ke dapur untuk merebus air untuknya.

‘berusahalah jadi istri yang baik.’

Sial..

Sementara alvin mandi, aku segera mengeringkan rambutku, lalu masuk ke kamar dan mencari baju yang pas dibadan alvin. Saat membuka lemari, aku teringat ak pernah dapat hadiah, sepasang baju couple.

‘nah, ini dia. Lumayan. Ukurannya mungkin pas.’ aku tersenyum senang, lalu akusegera beranjak menuju kamar ayah untuk meminjam celana training. Kudengar suara alvin yang memanggilku.

‘ada apa?’ aku bengong.

Dia hanya memakai handuk yang dililitkan dipinggangnya. Butir-butir air menetes turun dari dadanya yang bidang.  Tercium aroma mint, itu shampoku.. Dia memakainya.

A,a,apa-apaan ini? Kenapa tubuhku jadi terasa gemetar?

‘hey! Yunna? Kenapa kau ini?’ Aku tersadar dari keterkejutanku.

‘oh, eh. Ini, pakailah. Bajumu yang basah biar aku cuci.’ aku mengulurkan baju kepadanya.

Saat Ia menerima baju itu, tangannya yang dingin menyentuh tanganku. Aku langsung menarik tanganku dan berlalu masuk ke kamar mandi. Kulihat alvin hanya diam saja.
Oh, tuhan ada apa ini? Kenapa dengan jantungku?

Selama dikamar mandi, aku merasa tidak tenang. Mencemaskan. Keluar dari kamar mandi, terdengar suara petir.

Blaarr..

‘Aaa..!!’ aku memekik kaget dan langsung berjongkok di depan kamar mandi.
‘apa apa? Kenapa teriak?’

‘petir’

‘turun hujan. Dan langsung lebat. Cepat berdiri.’ Alvin membantuku berdiri dan membimbingku keruang tengah.

‘ini, minumlah. Aku membuat 2 cangkir teh untuk kita.’

‘ayah belum pulang?’ tanyaku sambil menghirup harumnya the di mug-ku.
‘paman telfon, dia tidak akan pulang. Selain hujan lebat, urusannya juga belum kelar.’

‘kau tidak pulang?’

‘mobilku mogok diujung gang rumahmu, makanya aku kesini. Lagipula malam ini kau sendirian dirumah, paman menyuruhku menjagamu. Aku juga sependapat.’

Apa?

‘tidak. Ini tidak baik. Aku wanita dan kau laki-laki tinggal satu rumah. Dengan kondisi tidak ada siapa-siapa selain kita, dan juga…’

‘dan juga diluar hujan. Coba pikir, apa yang harus kita lakukan?’

Tiba-tiba wajah alvin jadi sangat dekat dengan wajahku. Oh, tuhan jangan sampai dia melakukan sesuatu yang buruk padaku dan juga jangan sampai dia mendengar detak jantungku yang entah kenapa jadi seperti ingin lepas. Tanpa sadar aku malah memperhatikan wajanya yang oval. Bola mata yang hitam. Dagu yang runcing. Dan bibir yang tipis.

Hah? Apa yang kupikirkan?

Dia jadi semakin dekat, karna aku bisa mencium aroma tubuhnya. Oh, tidak. Tidak. Tidak.

Aku menutup mataku rapat-rapat. Tak ingin tau apa yang akan terjadi.

Tiba-tiba..

Cethakk!!

‘auw. Sakit!’ aku mengusap.usap dahiku.

Kulihat dia tertawa menang..

Dia menyentilku, kurang ajar dia mengerjaiku sampai seperti ini. Bego kau yunna. Awas kau alvin. Lihat saja balasanku.

‘yunna, kau ini kenapa, Ha? Apa yang kau pikirkan? Aku akan menciummu, begitu?’

Aku malu sekali. Melihat si alvin itu masih tertawa lebar, wajahku menjadi terasa panas.

‘hahaha,, lihat wajahmu merah seperti tomat.’

Apa? Dengan cepat aku memegang kedua pipiku dan menepuknya beberapa kali. Alvin terus saja tertawa. Aku jadi semakin malu. Tanpa cap cip cup, aku berlari ke dapur untuk mencari air. Mendinginkan hatiku.

‘aahh. Segar.’ aku meletakkan gelas dengan kasar.

‘Menyebalkan, kenapa aku melakukan hal yang memalukan didepan dia tadi?’

Kruyuukk~

‘ouh, lapar.’

Aku membuka kulkas. Hanya ada sosis dan telur. Aduh makan.

‘yunna~’

Alvin muncul tak lama kemudian.

‘apa?’ sahutku sinis.

‘kau marah ya? Maaf deh. Sekarang aku lapar. Kau punya apa?’ alvin membuka pintu kulkas.

‘hanya ada sosis dan telur saja? Apa-apaan ini? Wah-wah, sepertinya aku harus memberimu uang belanja lebih kalau nanti kita menikah.’ ia mengeluarkan semua telur dan sosis dari dlm kulkas.

‘apa?’

Alvin hanya tertawa lalu tiba-tiba ia memotong motong sosis dan mengocok telur lalu memcampurnya jadi satu. Tak lupa garam dan merica ia tambahkan. Tanpa diminta aku menyiapkan penggorengan diatas kompor dengan bara api sedang. Setelah minyak panas, alvin menuangkan adonan telur ke penggorengan.Dengan cepat dia membolak balik telur tersebut seperti chef handal, tiap kali telur tersebut terbang lalu mendarat dengan selamat. Aku berteriak girang.

Alvin hanya tertawa geli.

‘makanan siap.’

‘wah, sepertinya enak.’ ak ubertepuk tangan saat alvin menghidangkan Sepiring omelet dihadapanku. Kami duduk berhadapan.

Sebentar kemudian kami larut dalam kenikmatan omelet yang kami makan. Tak kusangka si alvin itu jago masak. Aku yang seorang cewe saja tak pandai memasak.

Benar-benar suami idaman. Aku beruntung juga punya calon seperti dia. Ups, apa aku baru mengakui sesuatu?

Selesai makan ak sibuk memutar channel tv, hujan juga belum mau reda. Ak ubosan.

‘alvin~’

Tak ada jawaban darinya. Aku coba panggil sekali lagi.

‘Alvin~!’ tetap sama.

Kemana sih si alvin itu? Aku beranjak dari tempat duduk. Aku meneliti seluruh ruangan. Kemana dia? Saat aku melewati ruang baca ayah. Kulihat pintunya terbuka sedikit. Ada sorot lampu keluar dari dalam. Oh, apa dia ada disana?

Cepat-cepat aku membuka pintu selebar mungkin. Mataku menangkap sosok lelaki yang tengah duduk dengan kepala ditelungkupkan dimeja. Aku tersenyum lalu menghampirinya. Hey, lihat wajah alvin saat tidur sangat lucu. Diam-diam aku memperhatikan sebagian wajahnya yang terlihat. Aku sibakkan rambutnya.

Oh, ada goresan luka baru. Dengan cepat aku mencari plester dan merekatkannya didahi alvin. Ak usap2 plester merah bergambar hati itu dg ibu jariku. Darimana ia mendapat goresan itu?

Lama aku memperhatikan alvin tidur. Dia terlihat lelah dan nyenyak sekali. Tapi kalau dia tidur seperti ini, saat bangun besok, tubuhnya pasti sakit semua. Pelan-pelan aku tepuk-tepuk pipinya dan dengan lembut aku membangunkannya.

‘vin~, alvin~. Bangun. Ayo tidur dikamar ayah. Alvin~.’

Tak perlu usaha keras, sedikit demi sedikit kelopak mata alvin terbuka. Ia tersenyum padaku dan tangannya meraih tanganku yang tengah menepuk pipinya. Aku tersengat. Jantungku kembali meloncat loncat tak menentu.

Ouh, dia masih menatapku dengan tatapan hangatnya itu. Lalu, ia bangun dan duduk bersandar, tentu saja tanganku sudah dilepaskannya.

‘ada apa? Teganya kau bangunkan aku.’

‘ah, eh, itu, badanmu besok akan sakit semua kalau cara tidurmu seperti itu.’

‘aku sudah biasa tertidur dalam posisi duduk. Dirumah aku sangat sering.’

‘apa? Kalau begitu mulai sekarang kau harus tidur ditempat tidur.’

Apa-apaan kebiasaan buruk itu. Tanpa banyak omong aku menyeretnya ke kamar ayah. Aku merapikan tempat tidur ayah sebentar lalu mendorong alvin ke tempat tidur.

‘cepat tidur. Besok kau harus kerja kan? Dan aku juga harus tidur sekarang, karena besok sudah ujian. Jadi jangan banyak komentar. Tidur saja.’

‘tunggu. Tunggu sebentar.’

‘ada apa?’

‘bisa kau temani aku sampai aku tertidur. Gara-gara kau, aku jadi sulit memejamkan mata.’

‘sudah, aku juga mau tidur.’

Aku kembali melangkah keluar saat alvin menarik tanganku. Membuat aku terjatuh dalam pelukannya. wajahku memanas, jantungku berdebar. Dia mendekapku erat.

Alvin menatap mataku dengan tatapan hangatnya. Senyumnya mengembang.Membuatku seperti terbius, membeku.

 

Keesokan paginya.

Aku telat bangun. Sial, aku harus cepat2. Saat mematut diri, aku melihat wajahku lekat-lekat dan entah kenapa aku tak sebegitu ingat dengan kejadian tadi malam. Lebih tepatnya tak mau ingat. Tidak, lupakan. Aku menepuk.nepuk pipiku lalu menyambar tas dan melangkah keluar kamar. Dan pada saat itu, alvin juga baru keluar dari kamar. Dia tersenyum padaku sekilas lalu menuju meja makan. Aku diam saja dan mengikutinya. Aku menghembuskan nafas panjang. Saat tiba di meja makan.

‘ayah? Pulang jam berapa?’

‘oh, yunna. Cepat duduk, sarapan.’

‘ayah?’

‘subuh ayah baru pulang. Untung alvin sudah bangun. Jadi tidak perlu membangunkan kalian. Ayo, alvin cepat makan.’

‘baik, paman.’

Ak, ayah dan alvin pun sarapan dg nasi goreng buatan ayah tanpa ada yg bicara.Semua tengah menikmati sarapannya masing2.

‘yunna, kau berangkat bersamaku saja ya?’

‘wah, itu ide bagus, mobilmu sdh selesai?’

‘sudah, baru saja diantar. Bagaimana?’

‘baiklah.’

Sebelumnya aku sempat menatapnya dan ternyata ia juga menatapku, membuat aku salah tingkah dan secara sadar ak langsung mengiyakan ajakannya.

 

Di mobil Alvin.

Dan akibatnya, kini aku merasa canggung duduk disebelahnya. Aku hanya menatap lurus kedepan atau kearah jendela samping, walaupun tak mau munafik aku sempat meliriknya.

‘hey! Kenapa diam begitu sih? Tidak seperti biasanya, kau cerewet.’ dia tersenyum dan melihatku sekilas.

‘ah, tidak. Tidak apa-apa, cuma tegang karena hari ini ujian. Itu saja’ Dia tetap dengan senyumnya. Lihat saja dia, dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa tadi malam. Hoaa, kalau begitu aku akan bersikap biasa-biasa saja.

 

Di Sekolah

Sesampai disekolah, aku langsung keluar dari mobil, aku sempat mendengar alvin berteriak kalau dia akan menjemputku. Ah, masa bodoh, terserah dia saja yang penting saat ini aku sudah tak bersamanya lagi.

Selesai ujian, saat melewati taman belakang, mataku menangkap sosok teman sekelasku yang tengah berciuman mesra dengan pacarnya. Astaga, spontan aku langsung menyembunyikan diriku dibalik tembok. Aku kaget setengah terkejut. Dan dalam pikiranku terlintas kejadian tadi malam dikamar ayah. Kecupan lembut alvin dibibirku. Aku langsung menggeleng-gelengkan kepala, berusaha membuyarkan ingatan tersebut.

 

Di Restoran

Seminggu kemudian ujian telah usai, sekarang saatnya menunggu pengumuman kelulusan. Hhh, melegakan sekaligus mendebarkan. Dan asal tau saja, aku bingung mau kuliah dimana. Dan satu lagi yang membuatku frustasi 4 hari lagi aku bertunangan dengan alvin. Aku sama sekali tidak dimintai pendapat tentang pertunangan ini. Dan setiap melihat alvin aku jadi teringat malam itu.
Menyebalkan..

Seperti sekarang, dia mengajakku makan malam. Jas coklat, kemeja krem dasi merah garis-garis, rambutnya dipotong rapi. Arloji putih merk terkenal bertengger di perggelangan tangan kirinya. Parfume yanng dipakainya memiliki aroma segar yang memikat, membuatku tak henti meliriknya. Dan seperti sudah direncanakan, aku memakai gaun merah selutut dengan pundak terbuka yang kudapatkan kemarin sore. Selain itu, aku kesulitan berjalan dengan sepatu hak tinggi yang cantik ini. Aku jengah ditatap seperti itu, dia tidak tahu apa kalau itu membuatku gelisah.

”Kenapa menatapku begitu?” Aku mencoba menekan kegelisahan ini. Dia tersenyum, astaga Tuhan, tampan sekali.

”Kau cantik sekali malam ini.” Aku tersipu, senang sekali mendengar dia berkata demikian.
‘mau dansa denganku?’

”A-apa? Dansa? Aku tidak bisa.” Dia mengajakku berdansa? Yang benar saja. Tidak. Aku tidak bisa.

”Tak apa, aku juga tidak bisa.” dia sudah berdiri didepanku dengan mengulurkan tangannya kearahku.

Aku sempat bimbang. Ikuti kata hati yunna. Tanganku bergerak menyambut uluran tangannya. Alvin menggenggam tanganku dengan erat. Lagu milik BCL ft. Crishtian Bautista mengalun lembut mengiringi langkah kaki kami. Alvin membimbingku bergerak kekanan kiri. Aku geli sendiri karena selalu salah dan akhirnya menginjak kakinya. Kami tertawa bersama.

”Yunna?”

”Hmm..”

”Aku menyukaimu.” Aku berhenti berdansa lalu menatapnya. Dia juga menatapku.

”Aku bilang, aku menyukaimu. Dan aku sungguh-sungguh mengatakan ini. Kau tidak percaya?”

Serius nih? Aku bengong sesaat. Merasa kaget, tak percaya dan senang. Aku menahan senyumku. Aku belum bisa jujur pada hatiku. Masih ingin melihat seberapa cintanya dia padaku.

Aku belum bisa menjawabnya. Aku tidak tau harus jawab apa. Matanya membulat, menatapku lama. Aku tak sanggup berpaling. Seakan terkunci. Wajahnya mendekat, sedetik kemudian ia mendaratkan ciuman lembut nan hangat dibibirku untuk yg kedua kali. Aku diam, tapi entah mendapat dorongan darimana, aku membalas ciumannya. Tak seberapa lama kami menyatu, masing-masing dari kami melepaskan diri, aku tak berani menatap matanya. Dia mengangkat daguku.

”Aku akan nunggu apapun jawabanmu.” dia tersenyum hangat lalu mengecup keningku lama. Kemudian memelukku dengan dekapan nyaman, Dekapannya hangat, nyaman dan terasa aman bila didekatnya. Perasaan ini pernah kurasakan saat pertama kali alvin memelukku, sewaktu di Rumah Sakit.

 

Di Kamar.

Sampai-sampai nyamannya masih kurasakan sampai sekarang. Aku tercenung tak bergeming di tempat tidur. Yunna, pikirkan dengan baik-baik. Tanya hatimu, tanya lagi dan lagi. Aku mengacak.acak rambutku.

”Argh, pusing! Menyebalkan!” Aku merebahkan tubuhku dan menarik selimut sampai menutupi kepalaku.

 

Hari Pertunangan.

Hey, aku tiba-tiba mengiyakannya. Apa yang kulakukan? Aku benar apa salah?

Aku hanya tersenyum semampuku saat alvin mendengar jawabanku. Dia begitu senang dan aku tak ingin memberitahunya kalau aku belum yakin. Aku butuh keyakinan. Dan aku butuh diyakinkan.

Semua tamu dari teman-teman alvin, teman-teman ayah, dan teman-temanku, serta sanak keluarga datang dalam acara pertunanganku dengan alvin. Aku hanyut dalam kehangatan acara ini. Acara berjalan lancar sampai pada saat alvin menyisipkan cincin emas putih di jari manisku, begitu juga denganku, vino datang menyeruak dalam kerumunan tamu-tamu yang berdiri.

Vino? Batinku bertanya, sedang apa dia disini? Alvin yang sudah pernah bertemu sebelumnya dengan vino, sepertinya merasa ini ada yang tidak beres. Ia langsung menarikku dalam dekapannya. Aku menurut saja. Ku lihat airmuka vino terlihat kusut dan kacau, sepertinya ia ingin bicara.

“Apa-apaan ini yunna? Kenapa, kau bertunangan dengannya?”

“Vino”

“Bukannya kau pernah bilang suka padaku? Tapi, kenapa kau dengan dia?”

“Darimana kau..”

“Aku tau semuanya, yunna. Terlihat jelas di matamu.”

Aku tak bisa bicara lagi. Aku kehabisan kata-kata. Mulutku terkunci, tanpa sadar aku mencengkram kuat jas hitam alvin. Alvin menyadarinya.

”Hey! Apa yang kau lakukan di acara pertunangan kami?”

”Kau diam saja! Aku hanya ingin bicara dengan yunna. Yunna, kenapa kau diam?”

”Anak muda, sebaiknya kita bicarakan ini dengan baik-baik nanti setelah acara selesai. Jadi tolong hentikan.” ayah yunna menghampiri vino. Memang sulit, tapi akhirnya vino mau untuk menyingkir dulu dari acara ini. Dan Setelah acara selesai, alvin, aku, vino dan ayah duduk berhadap-hadapan.

”Jadi, apa kau sungguh-sungguh?”

“Maafkan aku Vino, aku belumbisa menjawab pertanyaanmu sekarang.”

”Kenapa? Kenapa tidak bisa? Apa lagi yang harus kau pikirkan.”

Aku semakin tersudut, aku tak mampu lagi menatap Vino.

”Heii!! Pelankan suaramu.”

”Kau. Kenapa tiba-tiba datang? Siapa kau? Kau merusak hubungan kami. Kau membuat aku dan Yunna menjadi jauh. Dasar laki-laki tidak tahu diri.”

”Apa kau bilang?! Tutup mulutmu itu. Jangan asal bicara.”

Alvin dan Vino menegang. Ayah tidak dapat berbuat banyak, sedangkan aku hanya sanggup terduduk diam tanpa suara. Vino terus saja mencela Alvin dengan kata-katanya yang semakin kasar. Aku tidak nyaman, aku merasa risih. Aku bangkit dari tempat ku duduk dan spontan saja aku menampar muka Vino.

Plakkk!!!

Semuanya terdiam, nampaknya kaget dengan apa yang kulakukan barusan.

”Yunna?!”

”Vino, kau kejam sekali dengan mengatakan Alvin seperti itu. Kau tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Aku tidak menyangka kau begitu mudah mengucapkan kata-kata kasar seperti itu.”

”Yunna, aku tidak seperti yang kau pikirkan.” Vino mencoba mendekat dan meraih tanganku, namun ku tepis dengan cepat.

”Sudah cukup. Dulu aku memang menyukaimu. Menyukai seorang Vino yang ramah dalam sikap dan ucapan, hangat dan perhatian. Tapi hari ini aku sepertinya tidak mengenali dirimu. Kau, bukan Vino yang aku kenal.”

”Yunna.”

”Dan jujur aku katakan. Aku tertarik pada pribadi Alvin.” aku sungguh-sungguh mengucapkannya dan Alvin menatapku tak berkedip. Seperti mendapat semangat baru, aku melanjutkan ucapanku.

”Walaupun hnaya sebulan saja aku mengenalnya, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku. Aku merasa nyaman di dekatnya. Aku mulai menyukainya. Jadi, Vino. Pulanglah. Lupakan aku dan semua kejadian ini. Anggap ini tidak pernah terjadi.”

”Kau tidak bisa seperti ini, Yunna.”

”Aku bilang cukup Vino!! Aku menyukaimu Cuma sebatas suka pada seorang teman. Dan sekarng aku ingi kau pulang dan jangan temui aku lagi.” aku berlari meninggalkan semua dan pergi keluar ruangan.

Aku terus berlari tanpa tahu tujuanku dan tanpa terasa kakiku menuntunku sampai ke sebuah taman kecil di depan sebuah taman kanak-kanak. Walaupun malam hari, tapi lampu-lampu disini menyala dengan sangat baik. Aku melangkah menuju ayunan yang ada dihadapanku.

Sebelum memainkan ayunan tersebut, aku lepaskan sepatu hak inggi yang aku pakai. Ahh lega sekali… Yunna apa kau tadi benar-benar bilang suka pada Alvin? Iya?

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil terus menayun ayunanku. Tiba-tiba saja seseorang menghentikan laju ayunanku. Lalu ia menarikku ke dalam pelukannya.

”Kenapa kau selalu membuatku ketakutan seperti ini? Aku mencarimu kemana-mana?”

”Alvin??” aku mencoba melepaskan diri dari pelukannya tapi sia-sia, ia malah semakin memelukku deangan erat. Ahhh, pasrah sajalah.

”Maaf, aku terus saja berlari. Tahu-tahu sudah sampai disini.”

”Lain kali, jangan pernah pergi seperti tadi. Kalau ingin lari, ingin sembunyi, ingin mati sekalipun. Jangan pernah ragu untuk mengajakku bersamamu.”

”Alvin.”

Aku, aku bahagia. Tidak pernah sebahagia ini. Dengan mantab aku mengangguk dalam pelukannya. Dan sepertinya ia menyadari anggukanku. Buktinya ia tambah erat memelukku dan kurasakan ia sedang menciumi kepalaku. Sebentar kemudian ia melonggarkan pelukannya, menatapku hangat dan dalam. Aku tersenyum untuk pertama kali padanya dengan hatiku.

”Kau tahu, aku sudah jatuh cinta padamu.” kataku malu-malu. Tak bisa kubayangkan bagaimana sekarang wajahku yang merah padam, karena sekarang aku merasakan wajahku terasa panas sekali.

”Aku tahu ini pasti akan berhasil.” aku menatapnya yang tersenyum padaku. Aku memiringkan kepalaku.

”Apa?”

”Kau mencintaiku. Itu sudah pasti, karena aku yang membuatmu mencintaiku.”

Aku melongo takjub. Percaya diri sekali orang ini.

”Hei. Tingkat percaya dirimu itu payah sekali, hah? Merasa sudah diatas angin karena aku jatuh cinta padamu?” aku langsung melepaskan pelukkan Alvin dan berjalan kembali ke arah ayunan.

”Itu kenyataannya. Kenapa harus merasa diatas angin? Itu terlalu berlebihan.”

”Sudahlah, daripada kau bicara hal-hal yang bukan-bukan. Lebih baik sekarang kau dorong aku. Aku ingin main ayunan.”

”Buat apa? Kau tadi bisa main ayunan sendiri. Kenapa sekarang menyuruhku untuk mendorongmu?”

”Apa? Kau kesal padaku? Karena aku mengatakan kau diatas angin?”

”Tidak. Aku hanya tidak ingin mendorongmu.”

”Baiklah-baiklah. Terserah saja. Kau boleh pulang. Aku masih ingin disini.”

”Baik, aku pulang.”

”Ya, pulang sana.” aku tidak mengacuhkannya. Aku terus mengayun ayunanku sambil bersenandung riang. Alvin nampak ragu-ragu pergi meninggalkanku.

Dasar, begitu saja langsung ngambek. Bilang saja kalau tidak mau aku mengatainya diatas angin. Ada-ada saja. Aku tersenyum melihatnya berjalan meninggalkanku. Tapi, belum juga keluar dari taman, Alvin kembali lagi dan ikut duduk di ayunan samping kananku.

”Kenapa kembali? Bukannya kau mau pulang?”

”Aku ingin disini.”

”Ya sudah. Disini saja. Main ayunan saja, tidak usah banyak bicara. Kita main ayunan sambil melihat bintang saja. Lihat malam ini cerah sekali. Banyak bintang yang bertaburan.”

”Kekanak-kanakan sekali.”

”Apa kau bilang?”

”Tidak. Bukan apa-apa.”

Akhirnya malam itu kuhabiskan bermain ayunan sambil melihat bintang bersama Alvin. Dia terus saja bergumam tidak jelas membuatku penasaran. Sebenarnya apa sih yang ia ucapkan?

Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sangat kalut sekali. Melihat Vino dengan berantakannya hadir diacar pertunanganku lalu aku yang membentak dan memarahinya. Hhh… sungguh hari yang begitu berat dan melelahkan. Tapi mendengar Alvin bicara seperti tadi… ingatanku kembali ke beberapa waktu lalu.

”Maaf, aku terus saja berlari. Tahu-tahu sudah sampai disini.”

”Lain kali, jangan pernah pergi seperti tadi. Kalau ingin lari, ingin sembunyi, ingin mati sekalipun. Jangan pernah ragu untuk mengajakku bersamamu.”

Aku merasa hatiku terasa hangat dan tak lagi merasa sendiri. Terkadang aku merasa jengkel dan kesal pada sifatnya yang seenaknya sendiri, tapi terkadang juga aku merasa merindukan sifatnya yang seperti anak kecil dan selalu menghiburku dengan lelucon basinya itu. Aku tertawa sendiri sehingga mebuatnya berkerut heran padaku. Sudahlah, acuhkan saja. Aku hanya ingin bermain ayunan dengan bebas. Menikmati waktuku yang tersisa.

 

6 Bulan Kemudian.

Aku duduk dengan muka yang sepertinya sudah berkerut puluhan kali. Okta-penata riasku-sudah uring-uringan dengan make up ku yang hampir-hampir rusak gara-gara aku selalu merusaknya. Aku tidak henti-hentinya mengusap bedak dan lipstik dengan tissue setiap kali Okta memoleskannya ke wajahku.

”Yunna!! Pliss deh, kau ini kenapa sih? Acaranya sebentar lagi, kenapa kau selalu menghapus riasannya?” aku tidak menanggapi omelan pendek Okta. Kembali ku perhatikan layar ponselku. Gelap. Tidak ada telpon ataupun SMS yang masuk.

Alvin, aku bersumpah kau pasti akan mati kalau 5 menit lagi kau tidak menelponku. Aku meremas ponselku kesal. Okta sudah selesai dengan riasanku. Kuintip lagi keadaan diluar melalui jendela kamarku. Tidak ada tanda-tanda kehadiran si Alvin itu. Aku hampir menangis saking kesalnya kalau saja Okta tidak segera berteriak kearahku.

”YUNNA!! Oh, sayang~ jangan menangis. Sudah-sudah, dia pasti akan datang. Tenang saja.”

”Tapi ini sudah terlambat sekali.”

”Tenanglah. Alvin orangnya bertanggung jawab. Aku yakin itu.” aku memeluk Okta dengan senyum yang masih sulit untuk melengkung bibirku. Kuharap Alvin segera datang.

Ya, memang benar. Aku dan Alvin akhirnya merencanakan pernikahan setelah pertunangan yang amburadul waktu lalu. Setelah sibuk ujian masuk universitas, ospek dan segala hal kriteria mahasiswa baru. Aku dan Alvin segera mempersiapkan pernikahan kami.

Acara akad nikah seharusnya berlangsung 30 menit yang lalu, namun entah ada apa Alvin menelponku untuk memberitahukan agar acara akad nikahnyanya diundur dulu. Aku kaget mendengarnya. Aku sempat menanyakan apa yang membuatnya terlambat. Dia hanya bilang kalau ia sedang berada di rapat dadakan yang ada diperusahaannya.

Aku sempat marah padanya, tapi si Alvin itu berhasil meyakinkanku untuk menunggunya. Tapi sekarang apa? Aku sudah tidak kuat lagi menunggunya.

”Kau kemana saja sih?” keluhku sambil terus menatap keluar jendela.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Disana berdirilah Vino dengan setelan jas warna abu-abu. Tampan sekali, berbeda dengan waktu pertunanganku dulu. Acak-acakan. Bisa dikatakan Vino dan aku sudah berbaikan semenjak insiden pertunanganku yang kacau itu. Itu gara-gara dia. Dia yang pertama kali datang kepadaku. Meminta maaf kepadaku dan juga Alvin. Aku awalnya enggan namun setelah melihat aksi Alvin yang memaafkannya duluan aku jadi malu. Aku akhirnya mau memaafkannya. Dan sampai saat ini hubungan kami baik-baik saja. Informasi saja dia tidak satu universitas denganku, itu merupakan kelegaan terbesar Alvin. Aneh kan orang itu, dia yang memaafkannya duluan tapi masih saja menyimpan rasa cemburu pada Vino yang akan mendekatiku lagi. Ckckckck…

”Kau cantik sekali dengan kebaya itu, Yunna.” ucapnya dengan senyum mengembang di wajahnya.

”Oh, Vino. Terimakasih sudah mau datang ke pernikahanku.”

”Mana mempelai prianya? Aku tidak melihatnya?”

”Dia sedang dalam perjalanan.”

”Jangan bilang kalau Alvin sedang ditengah-tengah acara meeting dikantornya?” aku hanya mengangguk lemah.

”Kalau kau mau. Aku bisa menggantikan mempelai prianya.” ucap Vivo sambil tersenyum usil ke arahku. Aku hanya tertawa mendengar ucapan Vino.

”Yang benar saja. Kau pasti akan dibunuh Alvin.”

”Biar saja. Salahnya sendiri meninggalkan mempelai wanitanya sendirian disini.” ujarnya yang akhirnya membuat kami berdua tertawa. Disela-sela tawa kami, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku segera menatap layar ponsel. –Alvin Pabo– tertera dilayar ponselku. Segera kuterima telpon itu.

”Kalau begitu aku keluar dulu. Semoga sukses.” pamit Vino padaku, sepertinya dia tahu siapa yang menelponku.

”Iya, terimakasih.” Vino segera keluar dari ruangan kamarku. Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.

”Halo?”

”Yunna, maafkan aku. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku…” aku segera memotong perkataan Alvin sebelum dia bicara panjng lebar. Disini yang harusnya bicara panjang lebar adalah aku. Jadi, dengarkan aku baik-baik.

”Kau jahat sekali. Kau tahu aku menunggumu lama sekali disini. Tapi kau belum juga muncul. Kau ingin menikahiku tidak sih, hah? Kau mencintaiku tidak?” aku sekuat tenagaku menahan air mata yang rasa-rasanya ingin jebol saja.

”Maafkan aku.”

”Aku bersusah payah meyakinkan hatiku dan percaya padamu kalau kau pasti akan datang. Tapi sampai kau menelponku saat ini kau juga belum datang. Tega sekali kau Alvin.” ucapku tak karu-karuan sambil terus mentap keluar jendela.

”Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Kalau aku sampai disana kurang dari 5 menit, apakah kau akan memaafkanku.”

”Tidak usah menghiburku. Aku tahu kau pasti saat ini ada diruang meeting dengan klien-klien menyebalkanmu itu. Tidak usah memberiku harapan lagi.”

”Aku mengucapkannya sungguh-sungguh. Kau tidak percaya?” kudengar suara Alvin semakin lama semakin jelas. Aku melihat ponselku lalu meletakkannya kembali ke telingaku.

”Tidak. Aku tidak akan percaya begitu saja. Aku akan percaya kalau sudah melihatmu disini.”

”Makanya percayalah padaku.” tiba-tiba saja seseorang memelukku dari belakang dan aku sangat kenal betul siapa orang itu. Aku segera menoleh kebelakang. Kulihat disana Alvin dengan setelah jas hitamnya. Menatapku dengan senyum lebar dibibirnya.

Aku tidak percaya ini, pertahananku jebol. Air mataku luruh satu per satu. Aku segera menghambur ke pelukkan Alvin. Dia memelukku hangat sekali. Aku merindukannya. Aku menangis tanpa dapat dicegah.

”Hei, ini hari bahagia kita. Jangan menangis. Nanti make up mu hilang.”

”Biarkan saja. Ini semua salahmu, kenapa membuatku menangis.” aku segera melepaskan pelukannya.

”Sudahlah maafkan aku. Sekarang aku disini, usap air matamu segera. Jangan perlihatkan wajah jelekmu itu kepada para tamu undangan. Cukup aku saja yang tahu.” aku memukul pundak Alvin kesal. Masih sempat-sempatnya dia melucu seperti itu. Dasar.

”Janji kau tidak akan pergi lagi. Jangan jauh-jauh dariku.” ucapku setelah menyusut habis air mataku dengan tissue.

”Janji.”

”Bohong.”

”Sungguh.”

”Aku tidak percaya.”

”Mau bukti?”

”Apa?”

”Kemarilah.” aku mendekat kearah Alvin. Tanpa di duga-duga Alvin meraih wajahku dan mencium keningku. Aku memejamkan mata takjub. Aku tersenyum.

”Kau bisa pegang ucapanku. Sekarng kita harus keluar, apa kau tidak ingin melanjutkan akad nikah kita? Kita belum resmi jadi suami-istri lho?” Aku tertawa mendengarnya. Lalu berjalan beriringan keluar dari kamar.

Diluar semua tamu undangan sudah menunggu. Aku dan Alvin duduk bersanding di depan penghulu yang tak lain adalah ayahku sendiri. Saksi dari pihakku adalah pamanku, sedangkan dipihak Alvin adalah kakak kelasnya dulu sewaktu SMA yang sekarang jadi teman sekantornya.

Ayah menjabat tangan Alvin dengan mantab. Aku sedikit tegang saat Alvin mengucap ijab qobul.  Rasanya seperti mimpi, Alvin mengucapkannya lancar sekali.

”Saya terima nikahnya Yunna Arista Winata binti Hendra Winata dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

”Saksi, sah?”

”Sah”

”Sah”

”Alhamdulillah.” sejenak kami memanjatkan doa untuk kelancaran akad nikah. Aku bersuka cita menyambut anugrah terindah ini. Rasanya sungguh nikmat.

Setelah selesai berdoa, aku dan Alvin saling memasangkan cincin dijari manis kami masing-masing. Kemudian aku mencium tangannya sebagai imamku kelak. Dan Alvin pun kembali mencium keningku.

”Sekarang kau resmi jadi milikku.” bisiknya pelan saat kami berdiri menyalami para tamu.

”Aku milikku sendiri.” ucapku sambil tersenyum meliriknya.

”Ahh, kau masih saja seperti itu. Aku akan bersabar menghadapimu.”

”Coba saja.”

”Hei, sudah-sudah. Kalian ini, sudah menikah tapi tetap saja seperti kucing dan anjing. Ayo kita foto bersama sebelum berangkat ke tempat resepsi.” kata Okta menengahi kami.

”Ayo foto.” sambutku antusias.

”Semangat sekali.”

Aku dan Alvin berdiri berdampingan, disampingku ayah berdiri dengan tegap. Disamping Alvin kakak kelasnya berdiri dengan senyumnya yang kocak. Lalu berturut-turut Okta dan Vino juga saudara-saudara dan teman-temanku dan Alvin berjajar mengitari kami sebagai pusatnya.

”Siap ya. Satu.. Dua.. Tiga..”

Klikk…

Senyum bahagia tercetak hari ini, dan nanti akan semakin banyak foto bahagia yang akan tercetak dikehidupanku dan Alvin kelak. Aku ingin membangun sebuah keluarga kecil yang hangat dan nyaman. Keluarga yang tidak akan pernah tergantikan. Keluarga yang akan selalu menjadi tempat ku dan Alvin pulang. Alvin pernah bilang, dia tidak akan bisa selamanya membuatku bahagia tapi dia berjanji dia akan tetap dan selalu mencintaiku disaat suka dan duka.

Ya, itu benar sekali, kita tidak akan selamanya bahagia, karena kalau kita selalu bahagia, rasanya seperti memakai topeng saja. Terkesan munafik. Maka kalaupun tidak bahagia aku ingin selamanya bersama dia disisiku. Menemani hari-hariku. Menghabiskan waktu yang terasa sangat cepat berlalu kalau berada disampingnya. Aku sangat mencintainya. Sangat mencintainya. Kuharap rasa ini akan terus bertahan lama. Selamanya.

”I love you”

”I love you too”

 

sekian

Iklan

One thought on “Will You Marry Me?

  1. ayuna September 7, 2012 pukul 11:28 am Reply

    tinggalkan jejak..hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku

%d blogger menyukai ini: