Love Like Breeze – 1

Gambar

Annyeong Yeoreobun!!!!
aku gak tau lagi mau ngisi blog ini dengan apa…
tapi kali ini aku niat buat publish ini fanfict di blog kedua ku ini, fanfict ini sengaja aku buat karena aku ingin, heeheheheee…
okelah, mari kita baca bareng-bareng, semoga kalian suka XD

Happy Reading…

Author  : Iklima Bhakti

Subtitle : The Sunflowers

Cast      : Choi Sang Hee

Lee Nara

Park Shin Ae

Keiko Fujisawa

Prologue

 “Aku akan selalu mengikutimu, kemana pun kau berada…”

 

“Apa yang kau lihat dariku?”

“Tidak ada.”

“Jawab yang jujur. Aku akan mendengarkannya.”

“Sungguh.”

“Jangan bohong!”

“Aku tidak bohong. Aku hanya melihat seorang gadis yang penuh dengan semangat. Sibuk berlarian kesana kemari dengan kameranya. Tersenyum lebar secerah bunga matahari.”

“Dan memang benar, gadis itu sangat terobsesi dengan bunga matahari” senyumnya mengembang indah saat kedua matanya menangkap wajah seorang gadis yang akhir-akhir ini mengisi setiap sudut memori otaknya…

Siapa nama gadis itu?

Choi Sanghee…

Ya, itulah nama gadis yang ia maksud.

::::::::::::::

PART 1

Seoul, 10:30 AM

Aku sebenarnya sudah berkali-kali merasakan adrenalinku dipacu secepat ini. Tapi, baru kali ini aku merasa adrenalinku beroperasi lebih menggila, membuat tubuhku gemetar karena gelisah. Sampai-sampai suara yang aku keluarkan terasa asing ditelingaku sendiri.

Astaga! Ini benar-benar gila.

Semoga saja masih sempat. Dan aku berharap waktu bisa berhenti sejenak, agar aku dapat menjangkaunya.

Aku terus berlari, memaksa kedua kaki ku untuk bergerak lebih cepat. Aku jadi teringat masa SMA ku dulu. Berlari seperti ini adalah makananku setiap hari. Bukan masalah besar. Tapi sekarang? Jangan tanya. Aku seperti orang sekarat sekarang.

Setelah berhasil keluar dari kampus, aku segera melarikan kakiku menuju halte bus. Jaraknya? Jangan Tanya. Ini lumayan membuat nafasku tersengal-sengal karena bernafas saat berlari itu membuat alur pernafasan kita itu menjadi cepat dan tidak normal. Sesampai di halte bus, tak perlu menunggu lama. Bus datang dan berhenti. Aku segera naik ke dalam bus, memasukkan uang lalu segera mencari tempat duduk di dekat jendela.

Hahhhh…

Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ini sungguh melelahkan. Kedua kakiku rasanya seperti ingin putus saja. Sesaat setelah aku duduk, ada seorang wanita hamil yang datang dan duduk disebelahku. Aku menatapnya, memberikan senyum kepadanya sekilas karena dia tersenyum padaku.

Karena hari ini bus penuh dengan penumpang, jadi udara di dalam bus jadi agak sesak. Aku mengalihkan pandanganku kearah luar. Menatap kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang dengan tujuan yang beraneka ragam. Bus pun segera berjalan mengikuti arus padat lalu lintas kota yang masih belum masuk tengah hari.

Dan pada saat itulah hal yang tidak pernah aku bayangkan terjadi padaku. Tiba-tiba aku merasakan tangan kananku di remas dengan kuat oleh wanita hamil yang duduk disebelahku tadi.

Aku langsung menoleh kearah wanita tersebut. Aku menemukan wajahnya pucat, peluhnya yang besar-besar memenuhi dahinya. Wajahnya menunjukkan kesakitan yang sangat. Tangan kanannya memegang perutnya yang besar.

Ya Tuhan!!

Jangan katakan wanita yang ada disebelahku ini sudah waktunya untuk melahirkan?

Oh, Tidak!!

Dia mulai mengerang, membuat beberapa orang yang berdiri di dalam bus menoleh kearahnya. Aku memberanikan diri untuk bertanya padanya.

“Maaf, kehamilan anda sudah masuk bulan ke berapa?”

“Apa?” wanita itu menatapku dengan sorot mata kesakitan.

“Kehamilan anda sudah masuk bulan ke berapa?” kataku mengulangi pertanyaanku tadi.

“Oh, bulan kedelapan. Dan sebenarnya ini belum masuk waktunya. Tapi, entahlah. Kenapa perutku bisa sakit sekali. Aduhh…” wanita itu semakin keras meremas tangaku. Aku sempat meringis kesakitan.

“Ahjumma, gwaenchanayo?” Tanya seorang anak SMA yang berdiri di sebelah wanita tersebut.

“Agasshi, apa kau akan melahirkan?” Tanya seorang pemuda yang duduk di depanku. Wanita disampingku ini hanya diam tak merespon setiap pertanyaan yang mampir kepadanya.

“Aduh… Tolong aku!! Sepertinya aku akan melahirkan lebih awal dari jadwal yang sudah diperkirakan!”

“Mwo?! Bagaimana ini?”

“Ya! Pak Sopir! Kita kerumah sakit segera!” teriak salah seorang penumpang.

Sopir bus yang mendapat perintah seperti itu langsung mengemudikan bus dengan kecepatan penuh, beberapa halte yang harus ia singgahi terpaksa ia lewati begitu saja. Tak lupa sopir bus memberitahukan keadaan darurat yang ada di busnya saat ini kepada kantor pusat agar segera mengisi kekosongan armada yang disesabkan oleh keadaan darurat ini.

“Apa?!” pekikku kencang membuat beberapa orang menoleh kearahku.

“Ada apa nona?”

“A..Ani.. Ahjumma, kau harus bertahan.” Ucapku akhirnya memberi semangat.

Tapi percuma, aku sendiri sedang dilanda kepanikan yang sangat. Bagaimana ini? Bagaimana dengan kereta ku?! Keretaku!! Aku berteriak histeris dalam hati.

“Aduh!! Sakit!!”

Wanita disebelahku ini mulai menangis karena kontraksi di rahim nya sudah menjadi-jadi. Suasana di dalam bus pun menjadi kacau. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Posisiku terjepit. Mau keluar tidak ada jalan. Tetap bertahan akan semakin membuat tanganku tercabik oleh kuku jari wanita hamil disampingku ini. Sopir bus pun segera melarikan busnya ke rumah sakit terdekat.

“Tenang, sabar.. sebentar lagi sampai.” Ucap lembut seorang ibu-ibu yang entah sejak kapan sudah berada disamping wanita hamil disampingku ini.

Wanita hamil disampingku ini mulai tenang, tapi aku yang tidak tenang. Sebentar setelah dia tenang, wanita itu kembali berteriak kesakitan.

“Waaaa!!!”

“Waaaa!!” aku ikut berteriak. Dan mungkin aku mulai ikut menangis bersamanya. Tangan ku terasa terbakar.

Oh, Tuhan…

Kenapa ini terjadi padaku?

Rasanya aku jadi ikut merasakan kesakitan yang wanita ini rasakan disamping rasa sakit yang ada ditanganku.

15 menit kemudian bus sampai di halte dekat rumah sakit. Pihak rumah sakit segera bergegas membawa brangkar untuk menyambut wanita hamil itu setelah salah satu dari penumpang melaporkannya ke unit IGD mereka.

Wanita itu segera di baringkan ke brangkar dan dibawa masuk ke dalam rumah sakit dengan masih berteriak kesakitan dan menangis. Orang-orang yang ada disekitar halte terbengong-bengong melihat kejadian yang baru saja mereka lihat.

Aku yang ikut turun untuk membantu evakuasi wanita itu segera kembali naik ke dalam bus dan bernafas lega. Aku melihat hasil cabikan wanita itu ditangan kananku.

Aigoo!!

Cengkramannya dalam sekali, sampai keluar darahnya. Aishh, ini pasti perih sekali.

Sopir bus segera menjalankan busnya dan segera setelah itu keadaan kembali normal. Tak butuh waktu lama, bus berhenti di halte berikutnya. Aku segera turun, berjalan agak tergesa menuju stasiun. Dan seperti sudah aku perkirakan sebelumnya.

Aku ketinggalan kereta.

::::::::::::::

Seoul Railway Station, 11:15 AM

Aku duduk tercenung di kursi panjang stasiun, tatapanku menerawang kedepan. Memutar kilas balik kisahku yang sangat heroik tadi. Aku segera merogoh saku celana ku, mengambil ponselku. Dengan tangan sedikit gemetar aku mengirim pesan ke nomor sahabatku.

To: Park Shin Ae

Shin-ah…

Eotteokhae??

Tak lupa aku juga mengirim pesan ke eomma.

To: Eommanie

Eomma, aku ketinggalan kereta 😦

Sebentar kemudian, aku mendapat telpon dari eomma. Eomma sedikit memarahiku karena keteledoranku. Hahhh…

Aku ketahuan kalau hari ini aku telat datang ke stasiun bukan karena masalah wanita hamil tadi saja tapi karena aku terlalu mepet saat keluar dari kampus tadi. Sudah tahu kereta berangkat pukul 10:40, aku keluar dari kampus pukul 10:30. Dasar bodoh…

Setelah itu, Shin Ae membalas pesanku. Dia bertanya ada apa? Aku jawab saja apa adanya, kalau aku ketinggalan kereta. Dan aku sudah tidak bisa membeli tiket, karena tiket yang aku butuhkan sudah habis terjual untuk seluruh jadwal keberangkatan, untuk hari ini. Lemas sudah aku dibuatnya.

Apa yang harus aku lakukan? Rasa-rasanya aku ingin menangis saja…

“Klutuk… Klutuk… Klutuk…” suara pesan masuk.

From: Park Shin Ae

Tenang, aku ada tiket lebih untuk jam 2 siang nanti.

Kau ada dimana sekarang?

To: Park Shin Ae

Jinjjaiyo???!!!

Aku ada distasiun sekarang 😀

From: Park Shin Ae

Ne, kau ketempatku saja sekarang.

Menunggu ku sampai aku selesai kuliah pukul 12 siang.

Lalu kita bisa pulang bersama.

To: Park Shin Ae

Aish,jinjja!! Aku senang sekali 😀

Terimakasih Tuhan…

Gomapta, ne :*

Ah, aku disini saja. Aku sudah lelah bolak-balik dijalan.

From: Park Shin Ae

Terserah kau saja.

Hati-hati dengan orang asing. Kalau kau lengah, kau akan diculik. Hahaha 😀

To: Park Shin Ae

Hahaha…

Lucu sekali.

Akan aku tendang mereka satu per satu

Hehehe XD

From: Park Shin Ae

Kau ini, ckckckck

Jalgayo 🙂

To: Park Shin Ae

Geurae!! 😀

Aku mengakhiri sms ku bersama Park ShinAe, sahabatku. Aku bersyukur sekali dia masih punya satu tiket lagi. Dengan begini aku bisa pulang ke rumah.

Bagiku menunggu 2,5 jam tidak masalah. Aku pernah menunggu lebih lama dari itu, yakni saat menunggu pengumuman penerimaan mahasiswa baru pada seleksi nasional.

Waktu 2,5 jam itu bisa aku gunakan untuk mencari obyek yang cocok untuk dibidik kameraku. Hmm… gwaenchana, ini akan menjadi kenangan tersendiri akibat kecerobohanku.  Hahahaa…

Sambil menenteng kamera, aku sudah mulai menelusuri sudut-sudut stasiun. Menemukan obyek, membidiknya, lalu tersenyum saat melihat hasilnya sesuai harapan. Dan benar saja, ShinAe datang pun aku tidak menyadarinya. Dia memanggilku dengan cukup lantang.

“Ya!! Choi Sanghee!!”

Aku seketika menoleh kearahnya, tersenyum lebar dan tangan kananku melambai kearahnya

“Disini” Balasku sembari berlari-lari kecil kearahnya.

::::::::::::::

One Weeks Later

Friday, 11 AM at Coffee Cojjee

“Nara-ya, kau ingin pesan apa?” seorang gadis mungil yang duduk didepanku menatapku sembari berpikir dengan bola matanya yang bergerak ke kanan kiri, tak ayal kepalanya juga ikut bergerak.

“Kau sendiri mau pesan apa?”

Aish, dasar anak ini.

Kebiasaan, dia itu kalau ditanya selalu menjawabnya dengan pertanyaan.

“Aku ingin pesan jus alpukat dan fried potato with cheese mayo sauce.” jawabku mengutarakan pesananku. Pelayan yang berdiri di dekat meja kami segera menulis pesananku. Dia sangat sabar sekali.

“Bukannya itu menu mu setiap kali datang ke kafe ini?”

“Memang kenapa? Tidak masalahkan? Iyakan HyeIn-ah?” tanyaku pada pelayan tadi yang sebenarnya aku mengenalnya sebagai salah satu rekan kerja dari sahabatku.

“Ne, dan karena itu adalah menu yang selalu kau pesan, kau akan dapat bonus porsi lebih banyak. 50%.” Ujarnya dengan mata berbinar, terkesan meyakinkan.

“Jinjja?!”

“Ne” HyeIn mengangguk membenarkan.

“Wahahaa… ini menyenangkan!!” jeritku tertahan.

“Aigoo… ya!! Kau ini seperti anak kecil saja, ishh… HyeIn-ah, aku pesan jus kacang hijau saja.” Ucap Nara sembari menatap HyeIn dengan senyumannya. Aku hanya mencibirnya lalu tersenyum pada HyeIn yang telah selesai mencatat pesanan kami.

“Geurae, pesanan kalian akan segera datang.” Ujarnya sebentar lalu segera meninggalkan meja kami.

“Keiko jadi datang kan?” tanyaku sembari memeriksa ponselku. Geser sana geser sini. Entah apa yang sedang aku lakukan.

“Geurae, sebentar lagi bel pulang sekolah berbunyi” ucap Nara sembari melirik jam tangannya. “Dan aku tadi sudah mengabarinya kalau kita menunggunya di tempat Shin Ae bekerja.”

“Baguslah” ucapku sambil meletakkan ponselku dimeja.

Aku melihat HyeIn datang membawa baki dengan semua pesananku dan Nara. Segera setelah itu HyeIn sampai di meja kami. Meletakkan semua makanan dan minuman ke meja kami.

“Selamat menikmati” ucapnya sembari tersenyum ramah.

“Khamsahamnida” ujarku bersamaan dengan Nara. HyeIn pun segera berlalu. Aku pun segera menguasai jus alpukat ku, kuaduk-aduk sebentar lalu menikmatinya. Ahh…segarnya…

Ku lihat Nara masih sibuk dengan laptopnya, dia mengabaikan pesanannya. Karena Keiko–hoobae kami yang sudah janji akan bertemu–belum datang, aku mengalihkan pandanganku untuk menelusuri penjuru ruangan kafe tempat Shin Ae bekerja paruh waktu.

Aku memindai setiap jengkal interior yang dipakai di kafe ini. Kafe ini memiliki design interior yang menurutku seperti ruang keluarga yang penuh dengan pajangan foto-foto pemiliknya. Banyak pajangan yang dipasang disini. Ruangan yang di dominasi warna coklat tua, hitam, abu-abu, coklat susu, dan krem ini menunjukkan betapa hangatnya pemilik kafe ini. Tema yang diusung dalam penataan kafe ini begitu pas dan mampu membawa para pengunjung untuk merasa nyaman dan betah untuk berlama-lama di dalamnya.

Kalau boleh jujur, aku tertarik dengan rak yang menempel pada dinding disana itu. Di rak tersebut terpajang banyak foto, album, dan beberapa pernak-pernik yang sepertinya sangat berharga bagi pemiliknya.

Saat kegiatan meninjau ruangan kafe, pada saat itulah kedua mataku menangkap sosok pemuda yang baru masuk ke dalam kafe. Dia berjalan pelan, dibahunya tersampir tas selempang warna hitam. Aku berani bertaruh pasti tas itu berisi laptop. Dia duduk tak jauh dari meja ku. Berseberangan. Lumayan dekat.

Dia melepas mantel coklat tuanya, meletakkannya di kursi sebelahnya lalu menaruh tasnya tadi di kursi itu pula. Kemudian dia melambaikan tangan, memanggil pelayan. Aku tak cukup jelas apa yang ia pesan. Tapi, hal itu terjawab saat pelayan tadi kembali dengan jus alpukat diatas bakinya lalu meletakkan jus alpukat tersebut di meja pemuda tersebut.

Aku terus memperhatikannya, aku melihatnya mengaduk-aduk jus alpukatnya lalu menyesapnya pelan. Setelah menikmati jus alpukatnya sebentar ia beralih pada tas hitamnya tadi, mengeluarkan isinya. Sebuah tablet.

Ia menyentuhkan beberapa kali jemarinya yang panjang tersebut keatas layar tablet tersebut. Entah apa yang tengah ia kerjakan.

Sepertinya dia merasa aku perhatikan sedari tadi, maka dari itu dia menoleh kearah ku. Namun dia kalah cepat denganku. Aku sudah mengalihkan tatapanku darinya ke arah pintu kafe. Disana aku melihat Keiko berjalan menghampiri mejaku dengan agak terburu-buru. Aku tersenyum kearahnya.

“Mianhe, unniedeul. Aku tadi ada pelajaran tambahan kelas..” ucapnya tergesa-gesa sambil menarik kursi lalu duduk disebelahku.

“Gwaenchana, kami tahu betul kau sedang sibuk sekolah saat ini. Eh, maksudku karena kau sudah kelas 12, kau jadi lebih sibuk, begitu..” ujarku sambil nyengir kearahnya. Nara hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Hehehe… Iya”

“Geureom, kau bawa pesananku kan, saeng?” Nara segera masuk ke topik pertemuan kami kali ini.

“Eo, ne.. chakkamanyo..” Keiko segera membongkar isi tasnya untuk mencari sesuatu, “Igo..” ia menyerahkan Hard Disk Eksternal warna hitam kepada Nara. Sementara Nara sibuk memindahkan beberapa file dari Hard Disk ke laptopnya, aku mengajak Keiko bicara.

“Kau sibuk apa saat ini selain kelas tambahan?”

“Eo, biasalah unn…mengintip dan mencari tahu kegiatan para bias ku. Hehehe…” jawabnya polos. Aku tertawa mendengarnya.

“Hahahha, Nado… kekekee” aku terkikik pelan.

“Untungnya kita belum berubah jadi stalker atau sesaeng fans. Hahhhh… aku lebih suka fangirlingan daripada harus terjun langsung. Kau tahu, itu semua merepotkan dan menguras waktu, energi, serta..” belum sempat aku melanjutkan ucapanku, Keiko sudah memotongnya.

“Uang.” Potongnya tepat sasaran yang membuatku tertawa.

“Tepat sekali.”

“Aigoo… kalian ini.” Celetuk Nara dari balik laptopnya.

“Ya!! Bukannya kau sendiri seperti itu? Huh, dasar.” Aku tersenyum senang saat melihat bibir Nara mengerucut kesal.

“Keiko-ya…filmnya yang aku mksud kemarin kok tidak ada? Kau taruh difolder mana?” tanya Nara dengan wajah bingun.

“Yang benar? Aku sudah menaruhnya di Hard Disk kok, masa tidak ada? Sini unn, laptopnya.” Segera kemudian Nara bangkit dari tempat duduknya lalu oper tempat dengan Keiko.

Aku sudah tidak mempedulikan mereka, karena saat ini aku kembali memperhatikan pemuda yang tadi sempat aku perhatikan. Saat ini dia sedang asyik dengan BlackBerry nya lalu sebentar kemudian dia sibuk dengan tabletnya kembali.

Aishh, jinjja!! Orang ini..

Aku tidak sepenuhnya memperhatikan dia terus. Karena, yang benar saja, memang siapa yang mau tertangkap basah sedang memperhatikan orang dengan pandangan menilai seperti yang aku lakukan saat ini? Bisa-bisa aku tidak akan mampu menunjukkan wajahku lagi di kafe ini karena malu.

Oleh karena itu, aku mengubah posisi duduk ku agak condong ke arahnya, tidak lagi lurus kedepan. Alasannya, agar aku lebih mudah melihatnya tanpa kelihatan secara kentara kalau aku sedang mengawasinya. Dan karena dengan posisi ini walau aku tidak melihatnya secara langsung, tapi ekor mataku masih dapat menangkap sosoknya.

Oh, lihat dia baru saja mengeluarkan laptopnya kemudian membukanya. Tak lama kemudian terdengar ringtone ponsel, dia mengambil mantelnya lalu merogoh saku bawah dari mantelnya tersebut dan mengeluarkan Samsung Note nya.

Aigoo.. orang ini benar-benar. Apa dia sedang pamer, heh? Seluruh gadgetnya ia keluarkan dan ia mainkan semua. Ckckckckkk… namja sok pamer.

Tanpa sengaja mataku menangkap sesuatu yang menggantung di lehernya. Apa itu? Seperti gantungan kunci yang panjang yang dapat dikalungkan dileher.     Sebentar, tulisan apa yang ada di gantungan itu ya?

Aku berusaha memicingkan mataku. B..M..W.. BMW?? Itu gantungan kunci mobil BMW?? Omo~ apa benar dia mengendarai BMW?? Segera setelah itu aku berusaha mencolek lengan Nara yang duduk disampingku.

“Ya! Nara-ya, kau lihat pemuda itu? Yang pakai kemeja coklat. Jangan melihatnya seperti itu, pabo!! Biasa saja.” Bisikku ke dekat telinga Nara, tapi dia langsung menolehkan kepalanya ke arah pemuda itu tanpa sungkan-sungkan. Aishh, benar-benar anak ini.

“Arra, waeyo?” tanyanya sama berbisiknya denganku.

“Coba tebak, seberapa kaya pemuda itu?” ucapku pelan tanpa melirik kearah pemuda itu, “Di mejanya sudah ada laptop, sebuah tablet. Kemudian ada BlackBerry dan sesaat tadi aku melihat dia mengeluarkan Samsung Note nya. Dan sekarang dilehernya tergantung gantungan kunci bertuliskan BMW.

Coba sekarang tebak, yang tergantung pada gantungan BMW itu kunci BMW atau bukan?” Nara yang mendengarkanku secara teliti dengan hati-hati melirik ke arah pemuda itu.

“Dan lihat tingkahnya. Aneh sekali. Dia itu datang ke kafe ini memang sendiri atau sedang menunggu temannya sih? Terkadang tersenyum, tiba-tiba tertawa lalu sesekali melirik jam tangannya atau kalau tidak melihat ke arah pintu masuk. Aish jinjja!!” aku mengutarakan pendapatku dengan tetap menjaga volume suaraku yang masih tenang terkendali.

“Ya!! Kau ini apa-apaan sih? Kenapa berpikir seperti itu?”

“Coba lihat, dia sudah memesan gelas kedua jus alpukatnya.” Tunjukku dengan geran dagu.

“Bukannya kau juga sudah habis dua gelas jus alpukat?” sejurus kemudian aku melirik mejaku, ada dua gelas berdiri berjajar disana. Satu gelas sudah tandas isinya dan satunya lagi isinya tinggal setengah. Aku nyengir kearah Nara. Aku menatap Keiko yang sekarang malah asyik menjamah dunia maya.

“Aku berani bertaruh, yang tergantung di gantungan BMW itu bukan kunci mobil BMW.” Nara terdengar sangat yakin akan tebakannya. Aku hanya mengernyit menatapnya lalu kembali melirik kearah pemuda itu.

“Kalau bukan, lalu mau apa lagi?”

Dan pada saat itulah, pemuda itu berdiri untuk sekedar meregangkan persendiannya dan kami dapat melihatnya dengan jelas.

“FLASHDISK???!!!!” pekikku lumayan keras.

Tawaku dan Nara meledak saat mengetahui kenyataan itu, membuat beberapa pengunjung memperhatikan kami dengan tatapan—mengganggu sekali—yang akhirnya membuat kami harus menghentikan tawa kami, selain itu dia menatap kearah kami sesaat setelah duduk kembali. Aku dan Nara menundukkan kepala, meyelamatkan muka merah kami yang berusaha menahan tawa.

“Unniedeul, kalian berdua kenapa?” Keiko celingak-celinguk dengan tingkah polah kami. Aku hanya menggelengkan kepala. Berusaha mengatakan “Tidak ada apa-apa, kau abaikan saja keberadaan kami berdua.”

Aku cekikikan sendiri, sementara Nara sudah dapat mengontrol tawanya.

“Kau benar-benar gila, Hee-ya. Bisa-bisanya kau berteriak sekeras itu tadi? Kau ingin dia menyadari kalau sedari tadi kita memperhatikan dia?” pertanyaan Nara membuatku terdiam sesaat.

“Bukan begitu, tadi itu begitu spontanitas. Keluar dari mulutku tanpa bilang-bilang.”

“Aish, kau ini.”

“Tenang saja, dia tidak akan menyadarinya.” Aku menyandarkan punggungku ke kursi lalu memasukkan beberapa  fried potato with cheese mayo sauce ke mulutku dengan cepat.

“Aku tidak yakin.” Wajah Nara nampak menyiratkan ketidakyakinannya itu.

“Ya!! Sudahlah, aku yakin dia tidak akan menyadarinya. Disini kita bebas bersuara apa saja, dia tidak akan berpikiran sempit dengan menuduh kita yang terus memperhatikannya. Walau itu benar, kekeke..”

Nara hanya bisa-bisa geleng-geleng kepala, aku tidak mengacuhkannya. Setelah tawa dan cekikikan ku reda, aku mengatur nafasku agar stabil kembali. Kemudian aku menoleh kearah seberang, bukan ke meja pemuda itu tapi ke meja yang agak jauh lagi dariku. Disana aku mengenali teman SMA ku sedang duduk berdua dengan adiknya. Dia menyadari aku tengah melihat kearahnya. Dan seketika dia langsung menyapaku dengan suaranya yang khas dan lantang.

“Ya!! Choi Sanghee!! Kau ada disini??!!” suaranya cukup lantang sampai membuat pemuda tadi menoleh kearahnya lalu menoleh kearahku.

Mati aku!! Aku terlambat mengalihkan pandanganku kearahnya. Mata kami sempat bertemu sebentar lalu aku segera mengalihkan pandanganku kearah temanku yang ada diseberang sana.

“Hahaha, Annyeong!! Kau juga?” sapaku sembari tersenyum kearahnya.

“Sering datang kemari?”

“Lumayan.” Ucapku sekenanya.

Hanya sebatas itu percakapan kami, lalu kami mengakhirinya dengan bertukar senyum. Setelah itu aku kembali menghadap ke gelas jus alpukatku. Menikmati sensasi kental dan manisnya buah alpukat. Tak lama kemudian, ShinAe datang, sepertinya dia sudah selesai dengan pekerjaannya.

“Mianhe, jeongmal mianhe. Kalian menungguku lama, eo?” ucapnya sembari menarik kursi dan duduk disebelah Keiko.

“Lumayan, dua gelas sudah tandas.” Ucapku nyengir kearahnya.

“Mau tambah lagi, Hee-ya?” tawarnya.

“Tidak, terimakasih.”

“Bagaimana kabar ShinAe unnie?” tanya Keiko mengakhiri petualangannya di dunia maya.

“Aku baik.” Kata ShinAe singkat lalu tersenyum.

“Jeongmal? Apa bulan depan akan masih baik-baik saja?” tanya Keiko lagi. Apa maksudnya? Tapi sebentar kemudian aku mulai sadar kemana arah pemicaraan ini.

“Jangan mengingatkanku, saeng. Aku sedang berusaha.” Ujar ShinAe sambil tersenyum miris. Aku tahu apa yang ShinAe tengah pikirkan saat ini. Pasti itu masalah konser tunggal Boyband favoritnya. Yang bulan depan rencananya akan mulai tur konser album baru keenam mereka.

“Aigoo.. bukan kau saja ShinAe-ya, Nado.. arra.” Ucapku sembari tertawa frustasi.

“Geurae, mari kita berusaha bersama-sama.” Ujar Nara memberi semangat.

Kami berempat pun larut dalam pembicaraan tentang KPOP dan para bias kami masing-masing. Sampai ekor mataku menangkap gerak-gerik pemuda tadi yang membereskan barang-barangnya. Memakai kembali mantelnya lalu beranjak dari tempat duduknya.

Aku sempat tegang, tapi aku pikir-pikir buat apa aku tegang? Hahaha… lucu sekali.

Aku meliriknya, dia berjalan kearah meja…kami??

Aku bingung dibuatnya, dia berhenti didekat meja kami, lalu tangan kanannya mencomot kentang goreng mayoku dan memakannya. Aku mendongak menatapnya. Dia tersenyum padaku.

Ya Tuhan, senyumnya manis sekali. Dia punya lesung pipi dikedua pipinya. Aigoo.. apa yang tengah kau pikirkan Sanghee?? Sadar..Sadar..

“Jangan melihatku terus. Aku takut kau akan terpikat oleh pesonaku.” Ucapnya begitu gamblang lalu segera setelah itu dia mengedipkan sebelah matanya kearahku dan dia pun berlalu dengan santai.

Aku bengong ditempatku. Apa dia bilang tadi??

“Ya! Dia sadar kalau kau memperhatikannya sedari tadi, Sanghee-ya!!” ujar Nara yang sudah sadar dari keterkejutannya tadi.

“Hah? Apa dia sedang bercanda dengan berkata seperti itu tadi?? Apa dia sedang membalasku??”

“Apa maksudmu, Hee?” Nara bingung akan pertanyaanku yang entah untuk siapa aku utarakan.

“Ada apa? Siapa pemuda itu? Kalian berdua mengenalnya?” Tanya ShinAe yang bingung melihat adegan tadi dan keterkejutan aku dan Nara.

“Aishh… Jinjjaganya~!!! Jeongmal Pabo!!” aku menepuk dahiku dengan telapak tanganku lumayan keras. Plakk….

Argghhh…. Memalukan!!!!

To be continued….

segitu dulu untuk part 1 dan tunggu part selanjutnya….

.

.

.

see you in the next story XD

Iklan

Ditandai:

2 thoughts on “Love Like Breeze – 1

  1. ayuna Januari 10, 2013 pukul 7:46 am Reply

    Reblogged this on My Imagination My Fiction and commented:
    A/N : Annyeong, kemarin saya sudah post Love Like Breeze dengan sub-title “As White As Dandelion” dan yang ini adalah trilogi yang lain dari Love Like Breeze dengan sub-title The Sun Flower, yang ditulis oleh author Iklima Choi, jadi Happy Reading yang ingin baca.. ^^
    (Ah, sekedar Info, sebenarnya ini trilogi yang pertama, tapi karena authornya baru ngepost jadi baru saya reblogged, jadi biar lebih enak mending baca yang ini dulu..hehe)

  2. iklimachoi Januari 16, 2013 pukul 4:25 pm Reply

    kekeekeee, mianhe telat post….
    yah begitulah adanya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku

%d blogger menyukai ini: