Melepas Ragu dan Rindu Pada Angin

Kutuklah aku yang selalu berharap mampu menggetarkan bumi untuk lebih menyayangiku. Inginku hanya satu, tak ingin sepi dan mati sendiri. Jika memang Tuhan berkehendak lain, bisa jadi aku akan menerima apa yang Ia tuturkan. Tetapi, sedikit saja aku boleh berharap. Tolong jangan biarkan aku membenci angin yang sudah kuanggap kekasih sejati sepanjang hidupku.

Aku tak berumpun. Adapun sanak saudara yang tersebar di sekitar sana, tetapi berdiri berjauhan seperti ini bak ayam kehilangan induknya. Setiap sore harus sedikit meringis kesakitan apabila usia telah matang dan angin lembah turun untuk sekadar mendinginkan sekitar.

Belajar ikhlas setiap hari, belajar lapang untuk melepas sesuatu yang telah pergi.

Tak apa juga hal itu terjadi, karena nantinya aku akan tumbuh lagi untuk mengantar mereka yang ingin pergi dan mencari penghidupan yang baru dan mungkin tidak di sini. Hak mereka ingin pergi, juga memang bukan salah angin ketika tak berniat menerbangkannya. Hanya saja, kehilangan sesuatu yang berharga merupakan perihal yang sama sekali berbeda. Kuatkan hati untuk tak rubuh sebelum usia benar-benar habis termakan cuaca.

Aku tak setajam duri mawar ataupun kaktus padang pasir. Aku sosok yang rapuh meski pujian cantik nan anggun selalu tak kalah pamor dengan Bulan yang mekar mewah dan terjual mahal. Aku murahan, tak ada yang bisa memeliharaku. Tidak mungkin memang, karena siapa yang akan sudi dengan aku yang memang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan?

Dulunya aku seorang perindu pada sosok yang terbang melayang dan sesekali turun ke bumi tandusku untuk memberi senyum yang ibarat air, ia lebih dari sekadar zam-zam. Ia begitu agung dan sempurna jika dibandingkan dengan aku yang lugu dan tak berwarna.

Rinduku begitu menggebu hingga tak tahu malu. Kupoles diriku dengan warna dadu, tetapi hujan meluruhkan seluruh pesonaku. Membuatku pucat pasi tanpa seri. Demi Tuhanku, aku membencimu, hujan. Tetapi ia hanya menyeringai tanpa merasa berdosa.

“Kau ingin berdandan untuk siapa? Memang ada yang tertarik padamu?”

Kenapa bisa ada makhluk seperti dirinya di dunia ini? Tawanya semakin menjadi-jadi. Entah kapan susut semua tangis karena tertawanya yang keras itu. Angin datang setelahnya, begitu kacau balau seakan dirinya saat ini bukanlah sosok yang aku kenal dan kusimpankan rindu yang setiap hari kuberi.

Barangkali seharian digempur hujan dan ributnya angin yang tengah gundah. Aku bergegas mengeringkan diri dengan sinar mentari yang hangat untuk sekian kali semenjak aku bernyawa. Tetapi, aku tersadar tak ada banyak waktu untukku berkeluh kesah. Usiaku sudah berada pada ujung jemari kucing liar.

Bulu-buluku telah mengering, ia bergoyang ringan saat angin yang kukenal dan kurindukan datang menyapa. Aku belum siap, masih perlu menunggu. Kalau perlu jangan dulu. Aku ingin bersama kekasihku untuk waktu yang lebih lama. Aku masih ingin berbagi rindu padanya.

Tapi sebuah kesadaran baru bermunculan di benakku. Rinduku terlalu membuat kantongku penuh. Pori-pori tubuhku terbuka penuh, melepas seluruh rindu dan ragu yang aku simpan untuk angin yang setia bersamaku. Membawa pergi seluruh hidupku kemanapun ia pergi, kemudian menempatkanku di tempat yang baru.

Rumpunku layu, kemudian tumbuh saudara baru. Bisa jadi ia bakal tenggelam ke bumi atau tetap berada di permukaan. Yang aku tahu aku jatuh lalu bertemu bumi kembali. Mencari hara yang selalu memberiku makan dan nutrisi yang berguna. Kemudian mencari batu untuk menguatkan akar-akarku. Dan lagi mencari angkasa serta angin baru yang mau kujadikan naungan dan kekasih baru.

***

Namanya Satya, orang pertama yang mengatakan padaku bahwa akulah makhluk yang paling cantik. Dia menemukanku sendirian dan terisolasi. Setiap harinya ia datang memberiku air dan makanan. Bayangkan hari-hariku ke depan, begitu menyenangkan karena aku tidak akan sendirian lagi dan merasa bahwa dunia sedang kejam padaku. Dunia sedang sayang padaku.

Satya, lelaki yang manis meski tak rupawan. Matanya yang setengah menyipit dengan dagu lancipnya itu diam-diam telah membuatku ingin memilikinya. Bahkan saat dirinya pernah membawa gadisnya kemari untuk sekadar melihatku, aku tak sudi Satya dimiliki oleh orang lain selain aku. Aku berani bersumpah, jangankan untuk tersenyum, melihat gadis itu tersenyum pada Satya di depanku pun aku tak mau.

Semenjak hari itu Satya menjadi sering datang bersama gadisnya untuk menemaniku. Aku rindu Satya yang datang sendiri kepadaku. Aku rindu Satya yang hanya melihatku. Aku benci pada gadis yang bergelayut manja di lengan pujaanku.

Hingga sore itu tiba, Satya maupun gadisnya tidak tampak seharian. Cemasku kemana-mana. Doaku semoga tak terjadi apa-apa. Tapi, tak berlangsung lama tenangku terusik dengan dengungan suara aneh yang jarang kudengar. Kemudian aku mendengar suara Satya. Ia seperti sedang memburu dan perintahnya tegas juga sarat penekanan. Aku bingung, ada apa? Apa yang terjadi.

Pertanyaanku terjawab sudah, ketika dinding batu bata di sebelahku rubuh dan hampir menimpaku. Aku kaget setengah mati. Aku tahu selama ini aku berada di antara rumah tua yang katanya siap dipugar kembali. Tak tahu kalau itu adalah saat ini.

Satya terlihat mondar-mandir, sesekali dapat kulihat gadis yang dulu bersamanya juga turut serta. Semua orang yang ada di sana memakai helm pelindung warna putih pucat. Terlintas pikiran buruk di kepalaku. Dan benar saja, untuk pertama kali Satya menatapku dengan sorot begitu dingin. Tak pernah kurasakan dia seberbeda itu. Aku tak mengenalinya.

Dan saat benak terus bertanya-tanya, aku merasa ragaku ringan. Aku ingat angin sempat berhembus pelan kemudian riuh di sekitarku. Aku merasa terbang dan juga kosong disaat bersamaan. Ada apa? Apa yang terjadi padaku?

“Maafkan aku,” samar-samar suara berat Satya mengalun di telingaku.

Tangisku pecah saat itu juga, sesak yang ada di dada begitu kentara. Hingga hanya menutup mata dan meremas urat nadi yang kini bisa kujadikan pelampiasan. Aku tahu selama ini dia ada bersamaku, tetapi aku juga tahu selama ini dia juga mengasihaniku. Sungguh aku bukan hal yang pantas untuk dirindu. Kepada bumi aku ingin mati saja. Kepada angin aku ingin hilang saja.

(ik)
Iklan

Ditandai:, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku

%d blogger menyukai ini: