Rahasia Hati

Kemarin seperti halnya hari ini. Cerah tanpa ada ramalan turun hujan. Kesibukan setiap orang memuncak di penghujung hari untuk mendapatkan akhir pekan yang sempurna. Di hari yang cerah ini, masih ada yang meniti nasib dengan sembunyi-sembunyi. Mungkin juga secara blak-blakan menyadurnya begitu saja. Hingga tak paham rasa sakit yang dimiliki orang lain.

Siang itu segerombolan manusia dari segala penjuru arah menyerbu kantin kampus yang sudah dipadati mahasiswa yang memiliki tujuan yang sama setelah dari pagi bergulat dengan diktat dan materi presentasi ataupun bahan-bahan praktikum. Salah satu meja yang terletak di tengah puluhan meja lain ditempati 4 mahasiswi yang sedari tadi meributkan sesuatu yang membuat perhatian orang-orang di sekitar teralih pada mereka. Tawa berderai diproduksi dari mereka berempat. Membicarakan hal-hal yang hanya mereka yang tahu. Tanpa ada tanda-tanda apapun, hari ini akan jadi hari panjang untuk salah satu dari mereka. “Oke, semuanya. Aku punya pengumuman,” Olla, gadis berhijab biru tua dengan dandanan casualnya memecah tawa mereka untuk sesuatu yang selama ini ia pendam sendirian. “Pengumuman apa?” sahut Sanny penasaran. Dengan mata berbinar-binar dan senyum yang tak putus-putus, ia buka sedikit rahasianya, “Aku lagi suka sama seseorang.” “Benarkah? Aku juga lagi suka sama seseorang.” rasa terkejut sekaligus tertarik membuat Riyani salah satu teman Olla ikut mengungkapkan rahasianya. Keduanya saling bertatapan tidak percaya dan tertawa bersamaan pada akhirnya. Teman-teman mereka menunjukkan wajah penasaran dan ingin tahu lebih lanjut. “Jadi, siapa yang akan bicara duluan?” Erta bertanya pada keduanya dengan sekali tusukan bakso yang tinggal seperempat itu masuk ke mulutnya. “Kau duluan saja Olla. Kau kan tadi yang pertama bicara,” tanpa mengurangi rasa hormat, Riyani mengalah. “Tidak, kau saja Yani.” Tetapi, Olla memilih menjadi orang kedua dan bisa jadi itu fatal akibatnya. “Hmm, baiklah.” Senyumnya kembali terbit dan tidak bisa dipungkiri, ia begitu senang mendominasi temna-temannya. “Jadi teman-teman. Aku… suka dengan teman sekalas kita,” “Siapa?” Erta kembali tak sabar. “Galang.” Satu nama keluar dari bibir Riyani, “Aku suka sama Galang, teman-teman.” Terurailah nama itu sekali lagi dan seketika wajah gadis itu memerah malu bak tomat ranum. Namun, bukan main terkejutnya Olla setelah mendengar pernyataan Riyani tentang siapa gerangan yang gadis itu sukai. Bukan perkara siapa yang berhak menyukai Galang, tetapi kenapa harus Riyani yang juga sahabatnya. Sudah begitu Riyani terihat begitu senang sekali saat mengungkapkan hal tersebut, sehingga membuat Olla semakin menciutkan nyalinya sendiri unutk mengungkapkan siapa yang ia sukai. Karena sudah jelas, ia juga menyukai Galang. Nama itulah dan dengan tujuan yang sama ia awalnya ingin mengungkapkan perasaannya. Galang Mahendra, lelaki yang didaulat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil dan memiliki senyum kharismatik itu telah membuat Olla yang notabene adalah seorang perempuan dengan kepribadian tomboy dan suka ribut di manapun dia berada menyukainya lebih dari yang ia ketahui. Suatu kemustahilan memang untuk mampu membuat seorang Galang berbalik menyukainya. Riyani jelas lebih unggul darinya. Dengan gaya yang dimilikinya, dia lebih mungkin untuk menarik perhatian seorang Galang. Saat teman-temannya kembali mempertanyakan siapa orang ia sukai, dirinya hanya tersenyum, kemudian mengalihkannya dengan nama seseorang yang begitu saja terlintas di pikirannya. Tetapi, hal tersebut didahului Sanny yang juga nampaknya mengetahui betul siapa yang akan digagas oelh Olla. “Jangan bilang, kau menyukai Habib? Dia begitu getol mendekatimu, kan.” “Yah, begitulah.” Hanya itu dan gendikan bahu serta senyum masam yang terpaksa ia terbitkan. Selanjutnya berita tentang Riyani yang menyukai Galang tersebar cepat di kalangan teman-teman sekelas. Tentu saja itu tidak terlepas karena memang mulut besar Riyani-lah yang membuat hal itu menjadi demikian. Tersudut juga perasaan Olla yang tidak pernah ada penyampaian. Ngilu hatinya saat tahu bahwa Riyani dan Galang menjadi semakin dekat semenjak berita itu tersebar. Tidak ada yang pernah tahu apa yang dirasakan Olla, hingga dirinya lambat laun berubah menjadi sosok yang pendiam dan menjadi orang yang tidak lagi bisa nyaman, jika membicarakan masalah Galang yang tiba-tiba hinggap dipercakapan mereka berempat. Bulan saja memiliki bintang untuk terus ada di semestanya. Kenapa tak ada yang mengasihi perasaannya? Sepanjang 3 semester berlangsung dengan sangat tidak nyaman, tetapi Olla berusaha untuk beradaptasi secepatnya. Dirinya tidak ingin teman-temannya mengetahui keterpurukannya. Ia berusaha menjadi Olla yang seperti mereka kenal. Tak memiliki beban berarti yang membuatnya tak berdaya. Tetapi perlu diketahui, meski dirinya yang paling jarang menangis dan mengeluh di antar teman-temannya. Dirinyalah yang sering kali merasa sakit dan mengabaikannya begitu saja. Setiap kali mengingat Galang, yang terlintas di pikirannya adalah saat lelaki itu bersama sahabatnya. Meskipun dirinya sendiri memiliki kenangan bersama Galang, tetapi rasa cemburu membuatnya melupakan hal tersebut. Hingga suatu hari Sanny datang ke rumah indekosnya. Di sana gadis itu mendapat Olla yang bukan Olla dan sebuah kesadaran baru terlintas di pikirannya. “Kau tidak sedang patah hati, kan, La?” “Kata siapa? Tentu tidak,” menghindar bukanlah kebiasaan Olla dan Sanny langsung menyadarinya. “Jangan bohong. Kau juga menyukai Galang, kan?” tebakkan Sanny begitu tepat dan menjadikan Olla tergagap sebelum akhirnya mampu ia kilah kembali. “Kau ini bicara apa sih?” “Kau pasti selama ini menahannya? Kau pasti sakit hati. Iya, kan?” “Kau ini bicara apa? Aku tidak punya perasaan apa-apa pada Galang. Jangan mengada-ada.” “Jika benar demikian, kenapa sikapmu berubah dingin kepada Riyani? Kau jadi terlihat seperti orang terkena iritasi setiap Riyani bercerita soal Galang.” “Hanya perasaanmu saja.” Olla tetap pada pendiriannya, takkan ia mengakui perasaannya begitu saja yang percuma. “Baiklah kalau kau memang belum mau jujur. Tapi, aku bisa jaga rahasiamu itu. Tenang saja.” Dan pembicaraan tentang Galang pun terputus begitu saja tanpa ada yang mau melanjutkan. Olla menyadari dirinya tidak akan mungkin bisa terus menghindar dari teman-temannya. Tetapi, yang terjadi adalah dirinya seperti lepas kendali dan pada akhirnya akan seperti keadaan semula yang tidak pernah ada dalam agendanya. Di tengah hiruk pikuk dan kusut masai hati dan pikirannya, sebuah kabar beredar bahwa Riyani dan Galang tidak lagi bersama. Memang mereka tidak pernah mengungkapkan dan mendeklarasikan bahwa mereka saling menyukai, tetapi yang membuat terkejut adalah Galang baru saja memiliki pacar dan demikian juga dengan Riyani. Dan perlu dipertegas, mereka memiliki kekasih masing-masing bukan saling memiliki sebagai kekasih. Lucu benar ia dipermainkan nasib juga keadaan. Tawanya berderai hingga air matanya tumpah tak sengaja. Bagaimana bisa… bagaimana bisa ini semua terjadi? Apakah ini karena ia terlalu takut mengatakannya, hingga buruk sangkanya begitu alot untuk meninggalkan kewarasannya? “Olla? Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Galang suatu hari di jam kuliah sore. “Ah, tidak. Aku tidak sedang menatapmu. Jangan kege-eran ya,” cebik Olla dengan wajah sedikit memerah malu. “Oh, benarkah? Baiklah kalau begitu.” Senyum Galang masih menjadi nomor satu bagi Olla dan hal itu adalah penyakit menular baginya. “Akhir pekan ini kosong tidak?” “Eh? Tidak ada sih. Ada apa?” “Ikutan paralayang dengan anak-anak HMJ yuk, aku yang traktir deh.” Tiba-tiba jakan itu muncul begitu saja, perlu dicatat saat ini Galang masih bersama kekasihnya yang entah siapa itu namanya. “Wah, sepertinya menarik, tapi dengan anak-anak HMJ. Apa tidak masalah?” “Kenapa tidak? You come in?” “Of course,” sahut Olla tanpa pikir panjang. Dan begitulah, di akhir pekan Galang bersama dengan teman-teman HMJnya mengajak serta Olla untuk bermain paralayang bersama. Tidak terkejut juga bahwa Galang mengajak Yaya, kekasihnya, pun ikut. Dengan sangat tidak nyaman untuk kedua kalinya, Olla berusaha menikmati permainannya. Ia tidak ingin pikiran negatifnya merusak suasana baik hatinya yang tengah merasakan permainan menyenangkan dan graris pula ini. Dirinya tahu, tak ada lagi kesempatan tersisa jika ia tetap diam seperti ini, tetapi memang itulah yang ia inginkan. Tak ada kata yang perlu ia ucapkan.yang ia tahu dan inginkan adalah hatinya berhak memilih siapa saja yang memiliki hatinya. Tak perlu ditentukan dan dipastikan. Ia yakin hatinya tidak pernah salah. Jadi, meskipun matanya iritasi melihat keduanya bermesraan, tetap saja senyumnya terkembang begitu saja. Mungkin dirinya sudah memaafkan dirinya sendiri juga menerima apa yang perlu ia terima. Tak perlu ada yang disesalkan, karena memang hal yang saat ini ia butuhkan adalh semangat untuk bertemu hal batu lainnya tanpa meributkan hal-hal yang membuatnya tak dapat mengenaliku sendiri. Jika pertemuan adalah hal untuk saling berbagi hati Jika pertalian adalah hal untuk saling memahami hati Bukan inginku untuk memiliki lebih Tetapi malah relaku untuk memberikan punyaku dimiliku olehmu Sampai kapan mungkin aku tak tahu waktu Kalaupun kau tak sanggup untuk membawa bersamanya lebih lama Kembalikan saja ke tempat dimana kau amil sebelumnya Jika memang tak ingin memiliki, jangan coba-coba untuk menggodanya Karena tak ada yang mampu menggodanya di sini selain kau seorang… Puisi “Hati sang Pemilik” oleh Iklima “Aku ingat, kau tak ingin bilang apa-apa padaku jika kau suka pada Galang. Aku sekarang tahu alasannya,” ujar Sanny pada suatu jingga yang memerah dengan sempurna jika awan mendung itu tang menghitam dengan sangat buruk. “Jika kau tahu alasannya, mungkin juga aku tak perlu mengatakannya lagi. Tapi, ada sedikit kesalahan di kalimatmu.” “Bukannya aku tak ingin Galang tahu aku menyukainya, hanya aku tak ingin dia tahu bahwa dirinyalah yang telah memiliki hatiku selama ini. Bukankah itu yang lebih penting?” “Ya, kau benar.” “Aku tidak akan mengharapkan hadirnya di sisiku, jika memang bukan itu keinginannya. Aku juga tidak akan berharap dirinya akan berpikiran demikian. Bagiku, cukup menyukainya adalah sebuah pilihan. Aku bukan penggemar rahasianya, karena memang tak ada niat untuk menjadi seorang penggemar rahasianya. Jika ia tahu nanti entah kapan yang perlu ia tahu hanyalah, dirinya memiliki hatiku yang tak akan ia dapatkan jika selamanya tak ada pernyataan. Tetapi, memang cukup begitu saja. Tak perlu ada yang tahu lagi. Cukup aku dan Tuhan yang tahu. oh, mungkin juga Sanny yang menebak tepat tanpa aku iyakan sebelumnya. Cukup rahasia ini aku yang miliki dan hati ini dia yang miliki. Tak perlu ada ungkapan, karena aku percaya suatu hari nanti ada yang lain untuk mengisinya lagi.”

(ik)
Iklan

Ditandai:, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku

%d blogger menyukai ini: