Ketika Anak Laki-Laki Menjadi Seorang Pria

 

Ada yang mengatakan kehidupan seorang laki-laki itu menyenangkan. Penuh kebebasan dan juga warna-warni kehidupan. Tetapi, mungkin mereka lupa bahwa seorang pria yang kata mereka begitu bebas dulunya hanyalah seorang anak laki-laki yang tidak tahu apa-apa dan hanya berpikir bahwa besok akan mendapatkan mainan baru dari ayah apabila nilai matematikanya mendapat nilai sempurna. Dan mereka mungkin lupa, ketika seorang pria yang mereka puja dengan segala kesempurnaan itu dulunya hanyalah seorang anak laki-laki yang akan menangis ketika warung Plays Station dekat rumahnya tutup atau mainan gundamnya patah karena berebut dengan temannya.

Kehidupan pria yang sebenarnya adalah penuh dengan beban dari pihak-pihak yang menekannya. Antara lain orang tuanya, saudaranya, temannya, dan saat ada di tingkat menuju menjadi seorang dewasa, istri dan mertuanya adalah tekanan baru baginya. Entah soal pekerjaan yang selalu nyambung ke persoalan gaji. Ada juga urusan keturunan dan bagaimana etikanya membantu orang tua untuk membiayai saudara-saudaranya yang masih bergelut dengan dunia pendidikan. Perihal duniawi itu yang tanpa disadari seorang anak laki-laki menjadi bebannya kelak saat dirinya menjadi seorang pria.

Jatuh cinta, tidak ubahnya dengan persoalan di atas. Hanya saja mungkin memiliki pasing grade atau taraf yang berbeda. Cinta, bukan sesuatu yang mudah untuk dipahami. Kadang dirinya seperti mendung yang hanya mengelabu di ujung langit, tetapi tidak pernah mau turun hujan yang kata mereka bilang, dia hanya sedang menunggu penuh dan malu untuk turun ketika yang dia punya belum cukup penuh.

Kata Kahlil Gibran, cinta adalah anak kecocokan jiwa. Jika tidak ada kecocokan, cinta tak bisa hadir dalam hitungan hari bahkan dalam hitungan ribuan tahun.

Memang benar apa yang dikata Kahlil Gibran dalam hal ini. Cinta membuat orang yang dalam hidupnya selalu terstruktur menjadi rancu dan kacau. Cinta bukanlah persoalan yang dapat diatasi oleh seorang diri, melainkan oleh dua orang yang bermasalah di dalamnya.

Seorang pria tumbuh dengan caranya masing-masing, ketika ditanya soal perasaannya kita tidak akan pernah tahu kapan dia akan mengatakan yang sejujurnya.

“Aku tidak akan memberi tahukan perasaanku. Kalian akan punya waktu untuk sadar akan hal itu.”

***

Sore itu hujan gerimis turun tiba-tiba. Jelas saja meski mendung sudah mengeruh dari tengah hari tadi, namun tak ada yang mengira hujan bakal turun di acara yang membuat siapa saja mengutuk untuk keluar rumah. Lain halnya dengan Calvin. Dia suka berjalan-jalan di bawah hujan gerimis, tapi tidak dengan kekasihnya. Lila, yang menganggap hujan adalah buruk.

“Apa kau ingin berjalan-jalan?” tawarnya tanpa pikir panjang saat keluar dari sebuah kedai kopi tepi jalan.

“Apa? Berjalan jalan? Tidak, hari mulai hujan.” Tegas Lila menolak ajakan Cal yang membuat cowok itu langsung berwajah masam.

“Tidak? Ini akan menyenangkan untuk berjalan-jalan saat hujan. Ini indah, bukan?”

“Tidak, tidak ada yang berharga ketika berjalan-jalan kemudian turun hujan.” Lila berkeras untuk tetap pada pendiriannya. Dengan sebelah tangannya yang kosong sementara tangan sebelahnya lagi membawa gelas kertas dengan kepulan asap, ia membuka pintu sebelah kemudi mobil hitam miliknya.

Dilihatnya Cal masih ingin berlama-lama terguyur gerimis, tidak putus asa ia menawarkan seribu madu untuk Lila jika gadisnya itu mau bermandikan gerimis dengannya. “Oh, ayolah. Kau pasti akan suka.”

“Tidak perlu. Kau akan naik atau berjalan di bawah guyuran hujan?” pungkas Lila yang membuat Cal berjalan memutar untuk segera duduk di balik kemudi.

“Baiklah, aku naik dan kau pasti akan menyesal dengan tidak menyukai hujan.”

“Terserah kau saja.”

Mobil hitam milik Lila itu pun bergerak pelan menembus gerimis yang semakin lebat. Seperti biasa Lila begitu menyebalkan hingga Cal berpikir ingin menyudahi saja hubungan mereka. Tetapi, Cal tidak akan pernah bisa menolak apa yang akan nanti Lila lakukan ketika Cal memulai ultimatumnya. Rengekkan dan sikap manja Lila pasti akan membuatnya luluh seketika. Dan itu semakin membuat Cal membenci dirinya sendiri.

Dengan begitu, Cal tidak akan pernah menjadi seorang pria. Dia seperti mendapat tekanan yang setengah ia merasa senang dan yang setengah lagi ia merasa gila dibuatnya. Dalam kamusnya saat dirinya masih bocah ingusan, mempunyai pacar akan sangat menyenangkan. Akan dianggap dewasa dan semacamnya. Lantas ketika kelas satu SMP ia berusaha mancari seorang pacar, tetapi entah dia yang terlalu bodoh atau polos. Dia hanya menjadi tukang antar dan pesuruh yang mau saja dimintai membawa barang yang katanya itu pacarnya.

Cal sangat tahu jika suatu saat nanti pasti hal yang ia risaukan akan terjadi. Ia tahu betul bahwa dalam hubungannya dengan Lila tidak akan berjalan dengan mulus. Ia tahu bahwa hubungannya dengan Lila suatu saat akan seterjal saat ini. Konsekuensi yang harus ia tanggung sangat ia pahami, hingga kadang ia merasa butuh kekuatan untuk terus menguatkannya.

“Lihatlah, kota ini sangat menakjubkan.” Dengan semangat Cal menunjuk hujan yang turun perlahan di kota hujan pagi itu.

“Kau seperti belum pernah datang kemari sebelumnya,” Lila yang begitu sinis menanggapi ocehan Cal dengan setengah hati.

“Aku tidak datang cukup jauh, itulah masalahnya. Dapatkah kau bayangkan betapa menakjubkannya kota ini dalam hujan? Hujan, pelukis, penulis, penyair …”

“Kenapa semua kota mendapatkan hujan? Apa yang indah tentang menjadi basah?”

“Kau sama sekali tidak bisa diajak membayangkan rupanya.”

Cal hanya menghela nafas setelah perdebatan kecil mereka tentang hal-hal yang benar-benar sepele. Sering kali ia dapati sebenarnya dia tidak pernah bisa menyangkal apa yang dimau dan dikehendaki Lila hingga kadang teman-temannya merasa dirinya itu seperti mainan bagi Lila.

Alasan kenapa dirinya bisa melewati masa-masa sulit itu adalah karena dirinya mencintai orang itu. Begitu polos perasaan dan pola pikirnya. Yang ia pahami, Lila juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya dan itu sudah cukup baginya.

Sebulan berlalu dan Lila sengaja datang ke acara kumpul bersama teman-temannya bersama dengan Cal. Sebenarnya dia sangat terganggu dan tidak nyaman setiap kali keluar harus bersama Cal. Entah kenapa orang tuanya sebegitu percaya dengan anak laki-laki itu. Dan jujur ia katakan, ia butuh Cal hanya untuk bisa keluar kali ini. Maka, saat tiba-tiba anak laki-laki itu bertingkah seperti punya hak atas dirinya di depan teman-temannya, itu membuat harga dirinya benar-benar dipermalukan.

“Aku harap kau tidak bertingkah sok kenal seperti tadi?”

“Apa yang membuatku menjadi sok kenal? Aku biasa-biasa saja.” Cal merasa heran dengan perkataan dari Lila yang terdengar tidak suka.

“Oh, ayolah. Kau tadi melakukannya.” Cecar gadis itu.

“Baiklah, tapi mereka, kan temanmu. Dan aku ingin mengenal mereka. Apa itu salah?”

“Tapi, tidak dengan bertingkah sok kenal seperti tadi. Aku tidak suka.” dengan sama-sama keras kepanya mereka berdua beradu pandang yang saling menekan.

“Astaga. Omong kosong macam apa ini?”

Lila menggerlingkan matanya dan menatap Cal dengan sorot mata menyudutkan, “Cal, aku pikir kau sedang dalam keadaan mood yang tidak baik. Kau harus memperbaiki ucapanmu itu.”

“Tapi, kenapa?” tanya Cal setengah frustasi dalam penekanan suaranya.

“Karena kau bersikap seperti itu dan coba kau temukan apa masalahnya.” Lila berjalan menjauh sambil menyambar gelas berisi minuman kola dan pergi entah kemana meninggalkan Cal yang masih berpikir keras tentang begitu susahnya memahami seorang wanita.

Gadis itu sadar, sikapnya terhadap Cal sudah sangat buruk. Entah kenapa dia tidak benar dalam melihat sosok Cal itu seperti apa. Dia kadang dapat melihat sosok pria di sana, tetapi lebih banyak sosok anak laki-laki dari pada sosok prianya. Ia teringat ketika awal hubungan mereka diketahui oleh teman-temannya. Hingga sekarangpun ia masih merasa malu jika diminta mengakui menjalin hubungan dengan junior beda tiga tahun dengannya.

“Oh, Tuhan! Semester dua? Kau berpacaran dengan anak kecil sekarang?” kedua temannya begitu terkejut mendengar pengakuan Lila yang tiba-tiba. Sebenarnya bukan karena tiba-tiba, tetapi karena obyek yang mereka bicarakan adalah sesuatu yang tidak pernah mereka pikirkan selama ini.

“Apa yang akan kau lakukan dengannya?”

“Apa lagi? Aku akan bersenang-senang.” Dengan santai Lila menjawab pertanyaan dari temannya itu. Senyum sudutnya muncul bersamaan dengan suara menantang. Kedua temannya ikut tersenyum mengiyakan niat Lila.

Dan ketika rasa bersalah itu diam-diam mengendap di dasar, ia berusaha tak menyadarinya. Dalam diam dan mengatur segalanya untuk tidak terjadi apa-apa, ia tahu benar bahwa sikapnya sudah membuat lelakinya itu terluka. Terluka yang mungkin ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya.

***

Seorang pria hidup dengan mengandalkan orang-orang di sekitarnya, sebenarnya. Meski ia terkesan mampu untuk melaluinya sendiri, tetapi ia lebih banyak akan bergantung ketika ia menemukan sosok yang mampu membuatnya nyaman layaknya pulang ke rumah. Seorang wanita bohong kalau dirinya mampu hidup sendiri tanpa satupun laki-laki. Karena kenyataannya ia adalah makhluk paling rapuh untuk persoalan hati. Meski seorang pria dan wanita begitu dasar sekali perbedaan di antara mereka, sesungguhnya sama saja.

Dan bicara soal perasaan wanita dan pria ada yang lebih panjang dan lebih kokoh dari pada tembok Cina. Itulah pikiran seorang wanita yang tertutup untuk seorang pria. Kenapa perempuan perlu keyakinan cinta?

Mereka bisa mencintainya dulu dan mengakuinya secara perlahan. Pria dan wanita memang unsur yang berbeda, tetapi karena berbeda itulah mereka dapat disatukan. Permasalahannya saat ini adalah ketika seorang anak laki-laki ingin menjadi pria bagi wanitanya sudah semestinya laki-laki itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan hati wanitanya. Tapi yang terjadi adalah kenapa wanitanya tidak pernah bisa melihat sedikit usahanya.

Mungkin alasan pria dan wanita telah bertengkar di usianya adalah karena mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda. Untuk menjadi orang baik, seorang pria harus menangkap setiap kata dan setiap ekspresi wajah yang ia buat. Kita semua berkencan dengan alien.

“Kau bertingkah seperti pria macho. Kulihat kau masih bertingkah seperti anak kecil. Kau memang anak kecil.”

“Aku tahu apa-apa yang aku lakukan. Kenapa kau tidak pernah bisa untuk menghargainya?”

“Cal, kau ini masih anak kecil. Kau tidak tahu apa-apa tentang duniaku. Lebih baik kau pulanglah dan belajar untuk pre-testmu besok. Bukankah matakuliah itu sangat kau benci?”

“Kenapa kau suka sekali mengata-ngataiku anak kecil? Umurku sudah 20 tahun.”

“Baru 20 tahun dan aku lebih tua tiga tahun darimu. Meskipun kita berpacaran jangan lupakan fakta itu.”

“Kenapa masalah umur di sini begitu dipusingkan? Memang apa salahku dilahirkan telat tiga tahun?”

Selalu begitu, apakah semua wanita yang berumur tua dari pasangannya akan selalu berpikir negatif tentang pasangannya? Apakah dia tidak bisa melihat bahwa dewasa itu tidak dipandang dari perbedaan umur? Padahal wanita itu adalah jenis manusia yang berapapun umurnya tidak ada bedanya sama sekali.

Bukankah pernah ada yang mengatakan bahwa cinta itu murni tanpa perlu apa-apa. Cinta tumbuh karena rasa ingin menyayangi, tetapi cinta tidak pernah membebani siapa-siapa, karena dirinya memang sesuatu yang ada sejak manusia ada. Lalu apakah kadar cinta juga berpengaruh dalam sebuah hubungan? Di mana seorang wanita dan pria akan berkontribusi di dalamnya. Cal selalu bertanya-tanya mengapa memahami seorang wanita begitu mempersulit jalannya menjadi seorang pria sejati?

Ketidakwajaran hubungan antara dirinya dan Lila memang sering kali membuatnya harus berpikir ulang apa yang seharusnya terbaik bagi mereka. Dan Cal berharap ketika keputusan sudah ia dapatkan, ia ingin mempercayainya juga yakin tanpa perlu bertanya-tanya lagi. Karena sepertinya ia sadar bahwa usahanya untuk bersikap dewasa memiliki banyak cobaan yang mengharuskannya tegar dan sabar.

***

Hari itu mendung, langit tak merona sama sekali. Aku membawa payung seperti biasa, kebiasaan yang Bunda ajarkan ternyata berguna. Sudah hampir setengah jam aku menunggu di taman dekat tempat tinggal, tapi sepertinya gadis itu ingin sedikit menguji kesabaranku. Aku kenal siapa dan bagaimana sifatnya. Maka, aku terus menunggu sampai suara langkah kakinya akhirnya terdengar dan seperti malu-malu untuk segera mendekat dan duduk di sebelahku.

Ia hanya diam tanpa memancarkan ekspresi, terkesan dingin dan tak acuh. Aku tahu ini pasti buruk. Karena memang sebenarnya aku yang memulai suasana buruk. Aku ikut berdiri sejajar dengannya, menghadap dan menatap lekat wajah oval kuning langsat itu.

Tetap tak ada suara dari kami berdua. Aku yakin sekali bahwa jauh di dalam batinnya ia sedang menggerutu tak senang, apalagi hari sebentar lagi hujan. Aku tahu dia tidak menyukai hujan. Aku biarkan dia sampai bosan. Biar saja bosan karena aku sengaja melakukannya, mungkin ini adalah satu-satunya cara terakhir untuk menggodanya.

Terlihat dia memainkan sepatunya, menghentak sedikit dan mendecakkan lidahnya kesal. Aku tersenyum saja tanpa perlu menanggapinya terlalu jauh. Hingga akhirnya ia melontarkan kata itu. Perasaan kesal, jengkel dan semacamnya. Pertahanan dirinya goyah, ia mendesak untuk segera menyelesaikan masalah ini dan aku punya solusi yang sangat tepat untuk kami berdua saat ini.

“Maafkan aku, Lila. Aku sudah tidak bisa lagi untuk jadi orang yang kau sandari. Hubungan kita sudah cukup sampai di sini. Kita lebih baik berteman saja, bagaimana?” dengan sangat jelas dan lancar akhirnya aku bisa mengutarakan apa yang ingin aku sampaikan selama ini padanya.

Wajahnya memaling ke arahku setelah berapa kali mencoba menghindar. Matanya membulat sempurna. Ahh, mata kesayanganku.

Ia mendengus kesal, “Berteman? Kau bercanda, ya? Tidak ada namanya laki-laki dan wanita berteman.”

“Itu mungkin benar, tapi percaya pasti ada sosok lain yang bisa mendampingimu nanti. Maafkan aku, Lila.”

Aku bisa melihat wajah terlukanya saat aku ingin akhir dari hubungan ini. Aku bisa melihat titik air mata yang akan segera keluar dari pelupuk matanya. Dan aku bisa tahu bahwa nuraniku berat untuk melihatnya. Tapi, aku harus membalikkan badan dan melangkah menjauh dari dirinya. Semakin lama aku melihatnya akan semakin tidak baik dan berakhir tanpa hasil apa-apa. Karena aku tidak mau terlihat seperti anak laki-laki lagi di depannya. Aku harus pergi dari hadapannya sebagai seorang pria.

Seorang pria yang mampu menguatkan diri dan orang-orang sekitarnya. Seorang pria yang tidak akan lemah hanya arena perasaannya. Saat menjadi seorang anak laki-laki banyak luka, tawa, canda, dan cinta yang aku dapatkan. Saat ini pun aku juga ingin mendapatkan banyak rawa, canda, dan cinta meski luka pasti ada. Seperti di awal aku ingin menjadi seorang pria, luka melihat orang yang dulu begitu kita cintai terluka, luka itu ada. Samar-samar memang mengganggu, tapi keyakinanku bulat, luka itu tidak akan apa-apa. Karena ketika kita tumbuh melalui rasa sakit, itulah bagaimana anak laki-laki tumbuh menjadi seorang pria. (ik)

Iklan

Ditandai:, ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku

%d blogger menyukai ini: