Cincin Separuh Hati: Jodoh Memang Tidak Akan Lari Kemana-mana

Ilustrasi oleh Google

Galak, judes, pemikir, egois, keras kepala, dan emosian. Itu sifat buruk Nilam. Takdirnya untuk berjodoh dengan—Aryo—mantan tunangan kakak iparnya dan suami teman SMAnya yang akhirnya berubah menjadi mantan suami merupakan gonjang-ganjing yang harus ia terima karena sikapnya yang terlalu berlebihan menganggap status sendirinya adalah petaka. Salah siapa yang terlalu berlebihan saat harus datang ke acara reuni? Memang pertanyaan ‘kapan kawin?’ ‘mana suami/istri?’ adalah contoh pertanyaan basa-basi yang muncul untuk pertama di awal usia 20 tahun dan akan terus berlanjut mengikuti usiamu sampai akhirnya kamu menikah atau setidaknya punya pasangan yang siap untuk diajak menikah.

Sewajarnya pertanyaan itu adalah biasa dan tidak mengandung muatan menghina. Menurut penuturan orang tuaku, pertanyaan itu wajar keluar ke permukaan saat masing-masing dari kita jarang bertemu dan ingin mengetahui status terakhir dari masing-masing. ‘sudah punya pacar?’ ‘sudah menikah?’ atau ‘sekarang sibuk apa?’ ‘kerja di mana?’ adalah tersebut pertanyaan dari seseorang yang memang bertujuan ingin mengupdate informasi salah satu temannya yang sudah lama tidak ia temui di memorinya. Sejenis pertanyaan ‘apa kabar?’ gitu aja sebenarnya.
Tapi, karena ‘baper’ adalah virus yang menjangkiti lapisan muda-mudi saat ini, pertanyaan yang awalnya betujuan memang ingin sekadar basa-basi atau ingin tahu berubah menjadi bahan bullying. Kadang mereka sudah tau, tetapi sengaja meneror dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Seperti ada kepuasan saat melihat obyek bullying mulai terpojok dan marah karena terpancing pertanyaan tersebut.
Karena takut menjadi bahan bully itulah Nilam nekat memakai cincin bekas tunangan milik Kanti, sepupu iparnya, yang berbuntut panjang. Dengan janjinya yang tidak akan menikah seumur hidup membuatnya dilema, karena perlahan-lahan hatinya tertambat pada sosok Aryo, sang pemilik cincin separuh hati lainnya. Mereka berdua lucu, gemes juga. Cukup terhibur dengan kisah mereka.

Meski di awal cerita Nilam menolak habis-habisan tentang harus menikah, tapi perlahan ia sadar bahwa ia hanya kesepian. Ia ketakutan bahwa saat diriny menyerahkan diri pada sebuah cinta, ia akan lemah dan tak lagi mampu berdiri di kakiny sendiri.

Sejauh ini teori tentang ‘jodoh tidak akan lari kemana’ memang ada yang benar ada yang tidak. Kenapa demikian? Sejauh apapun Nilam menolak perasaan baru yang muncul akan Aryo, lelaki itulah nantinya yang akan berani meminangnya. Mengajaknya mengarungi bahtera baru bernama pernikahanan. Dan mengajarinya bahwa mencintai dan dicintai adalah hak semua makhluk di dunia. Tapi, saat pikiran sinis muncul, emang jodoh gak akan lari kemana-mana, tetapi musti perlu dicari. Tuhan nggak serta merta mendatangkan jodoh buat kita tanpa kita usaha terlebih dahulu.

Perjalanan kisah mereka sedikit banyak memberian pelajaran, motivasi, dan harapan. Dimana jodoh, rejeki, dan maut selalu selarasa dengan doa, usaha, dan percaya yang kita miliki.

Dan sekali lagi, novel ini rekomen banget. Bagi yang suka sama karyanya mbak Netty, ini layak buat dibaca. Bahasa ringan, merakyat, dan apa adanya. 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku

%d blogger menyukai ini: