Bulan Terbelah di Langit Amerika: Apakah Dunia Akan Lebih Baik Tanpa Islam?

Ilustrasi oleh Google

Ilustrasi oleh Google

Sutradara                     : Rizal Mantovani

Produser                      : Ody Mulya Hidayat

Penulis Skenario          : Hanum Salsabiela Rais

Produksi                      : Maxima Pictures

Pemeran                      : Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Nino Fernandez, Rianti Cartwright, Hannah Al Rashid

Durasi                          : 90 menit

Negara                         : Indonesia

Bahasa                         : Indonesia

Berkesempatan bisa kembali untuk menikmati karya Hanum Salsabiela Rais dan suami Rangga Almahendra yang sebelumnya ramai dengan filmnya 99 Cahaya di Langit Eropa. Memang film Bulan Terbelah di Langit Amerika masih sekuel dari 99 Cahaya di Langit Eropa. Masih setia menghadirkan Acha Septriasa dan Abimana Aryasatya sebagai pasangan suami istri Hanum-Rangga, dan teman mereka Nino Fernandez. Di film ini menghadirkan peran baru yang akan dibawakan oleh Rianti Cartwright dan Hannah Al Rashid.

Bulan Terbelah di Langit Amerika menceritakan tentang seorang jurnalis wanita bernama Hanum yang harus menemani suaminya bernama Rangga sekolah di Wina. Pada suatu hari, ia menerima sebuah tugas dari atasannya yang bernama Gertrude Robinson untuk membuat artikel yang bertema “Would The World Be Better Without Islam”. Artikel tersebut nantinya akan dimuat dalam sebuah koran. Gertrude juga meminta kepada Hanum supaya mewawancarai dua narasumber dari pihak muslim dan nonmuslim di Amerika. Narasumber tersebut merupakan para keluarga korban serangan World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001 di Washington DC, New York.

Di sisi lain, Rangga juga diminta bosnya yang bernama Professor Reinhard untuk pergi ke Washington agar bisa mengikuti sebuah konferensi internasional dalam bidang bisnis. Dalam konferensi yang nantinya akan membahas dan memfokuskan seorang filantropi dunia bernama Brown Phillipus tentang “Strategi The Power of”.

Bersama-sama akhirnya pasangan suami istri itu terbang ke New York. Kembali bertemu dengan Stefan (Nino Fernandez), teman mereka dan pacarnya Jasmine (Hannah Al Rashid). Nampaknya perjalanan mereka tidak semulus rencana awal sebelum mendarat di kota paling padat itu. Dimulai dari berkas jurnalis Hanum yang tertinggal di taksi yang mereka tumpangi, perdebatan khas antara suami-istri, tanggung jawab dari masing-masing akan tugas mereka, dan sebuah pertanyaan besar: Akankah dunia lebih baik tanpa Islam?

Film ini menyuguhkan kilas balik tragedi terbakarnya gedung WTC oleh teroris. Banyak pertanyaan mencuat seputar siapakah teroris itu? Apa tujuan mereka? Hingga sebuah ide tentang teroris adalah seorang Islam. Kecamuk yang dihadirkan pada setiap karakter begitu menyentuh. Pergolakan hati seorang wanita mualaf Julia Collins atau Azima Hussein—diperankan oleh Rianti Cartwright—yang mendapat tudingan bahwa suaminya adalah seorang teroris pelaku serangan WTC. Ia dikucilkan, ia dihujat habis-habisan, dan yang sangat disayangkan adalah ketika ia sangat mencintai agamanya saat ini (Islam), ia kehilangan akan kebanggaannya.

Pada saat scene itu saya terenyuh. Mata saya pedih. Bagaimana bisa seorang muslim sampai kehilangan rasa bangga pada agamanya sendiri? Hanum berusaha keras membuktikan bahwa dunia akan baik-baik saja dengan Islam. Dan dengan kegigihannya, ia kembali mengajak Azima terus percaya bahwa Islam akan memberikan rasa damai dan aman. Islam bukanlah agama yang membenci. Dan, ketika kita berpasrah pada-Nya, segalanya pasti akan ada jalan.

Film ini sarat emosi. Tidak banyak yang bisa saya utarakan saat selesai menonton ini. Jika kita berkaca pada dunia saat ini, bagaimana kerusuhan masih santer terdengar. Fitnah akan Islam masih merajalela dan masih banyak saudara-saudara kita sesama muslim yang perlahan-lahan kehilangan kebanggaannya.

Dalam film ini, nantinya akan terkuak sebuah benang merah yang mengaitkan Azima Hussein, Phillip Brown, dan seseorang bernama Michael Jones. Sebuah benang merah yang akan membuka jalan pikiran kita untuk menemukan jawaban tentang pertanyaan: Akankah dunia lebih baik tanpa Islam?

Lagi-lagi ekspektasi setiap orang berbeda-beda. Untuk film ini, saya berpendapat bahwa manajemen emosinya sangat dapat. Mengaduk perasaan. Teman saya ada yang menangis saat menonton film ini. Tapi, eksekusi akhir yang diberikan saya rasa masih bisa dimaksimalkan. Apa yang penonton cari-cari memang sudah ditemukan, akan tetapi polesan pada sebuah akhir kisah harus bisa membuat antiklimaks tersebut lebih berkesan. Namun, usaha yang diberikan Hanum dan suami dalam ceritanya ini sudah sangat baik. Mereka tidak kehilangan ciri khas mereka. Menceritakan kisah mereka tanpa berusaha untuk menggurui. Karena sewajarnya sebuah karya besar itu, selain berguna bagi dirinya sendiri juga bermanfaat untuk orang lain. (ik)

Iklan

Ditandai:, , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku

%d blogger menyukai ini: