Arsip Kategori: Prosa Liris

Memilih Setia

Kemarin seperti halnya hari ini. Langit cerah dengan awan putih bak kapas sintetis, bergumpal dan berarak pelan menghiasi birunya angkasa. Hari ini angin sepertinya ingin bermain-main dengan rumput-rumput di tanah lapang. Melambai lemah lembut mengalahkan nyiur di pantai selatan. Wangi rumput semerbak memenuhi hidung, serpihan dandelion yang lepas dari tangkainya, terbang membumbung jauh mencari tempat persinggahan yang baru untuk tunas-tunas baru.

Tapi, tidak dengan lelaki itu. Dirinya takut akan hal baru, tempat baru, suasana baru, bahkan orang baru. Kegelisahan yang tak ingin ia tunjukkan pada alam tak mudah begitu saja ia sembunyikan. Semakin ia pendam, semakin ribut angin yang tadinya sepoi tersebut.

Helaan nafas terhembus dan kemudian menyatu bersama udara sekitar yang cukup lega untuk dihirup sepuasnya, sendirian. Namun rasa-rasanya sendirian adalah sesuatu yang benar-benar menyesakkan, tak ada yang menandingi sesak karena sendirian itu. Selega apapun tempat kita bernaung, tapi rumah sesungguhnya dari hati kita tak selega kelihatannya. Mustahil kita akan bernafas sampai esok hari.

Dari sini mungkin kita tahu, lelaki itu tengah mendamba. Dambaan hati yang tak tahu rimbanya. Rindu yang menjejal semakin banyak dan memenuhi, kantong-kantong rindu di benak sanubari. Ia rindu karena setia. Ia cinta maka setia. Setia dan setia. Ia setia. Ia lelaki setia.

(ik)

Pengagum Rahasia

Begitu banyak orang yang mengagumimu

Begitu banyak orang yang mencuri perhatianmu

Dan begitu banyak orang yang mencuri potretmu

Tak apa, walau aku tak berusaha

Tak apa, walau aku tak mencoba

Biarlah, kau tetap apa adanya dalam ingatanku

Biarlah, mata dan otak ini yang mengabadikannya

Karena sesungguhnya aku masih menanti jantungku berdebar aneh karena seseorang

Dan entah kenapa itu bukan dirimu?

Blitar, 25 Oktober 2013

(ik)

Peron 3 dan Kereta Yang Telah Datang

Menunggu, apakah itu sebuah pilihan?
Memilih tak memikirkannya, apakah itu kesalahan?
Aku selalu berpikir untuk segera enyah dari tempat ini, tetapi urung itupun tak pernah segera lenyap dari jeda yang ada di sekitarku. Aku menanti di peron ini dengan sesekali tengokkan kepala ke arah pintu masuk. Kemudian seperti tak pernah lupa untuk selalu bertanya-tanya, kapan dia sampai? kapan dia akan menepuk pundakku dan berkata “apa aku terlambat?” dan aku akan segera menjawabnya “tidak, kau tidak terlambat”. Tapi, semua itu tidak atau belum juga menjadi fakta. Aku harus tahu kalau itu hanya harapanku saja.
Saat moncong kereta itu terlihat dan kau masih tetap belum terlihat, apa yang harus aku perbuat?
Meloncat ke dalam kereta dan melupakan segala yang pernah ada di antara kita atau tetap berdiri di sini, di peron 3 dan membiarkan kereta melaju meninggalkan kota ini?
Apa? Apa aku masih perlu untuk menunggu?
Sudah terlalu banyak keluh kesah, penantian serta rindu yang tercurah di tempat ini. Sudah terlalu sering luka dan air mata yang terekam di tempat ini.
Kau yang masih belum datang, aku bimbang dalam penantian, sementara kereta yang telah datang tak pernah berlama-lama menunggu penumpang.
Putusku akhirnya sangat memberatkan, jangan salahkan aku, aku masih tidak mengerti bagaimana bisa aku tetap menunggumu. Tapi, aku ingin tahu rasanya pergi dari tempat ini dan ikut serta bersama kereta yang siap membawaku jauh dari masa kelam saat bersamamu.
Begitu aku telah mencoba untuk menunggu, kini giliranku untuk meninggalkanmu.

(ik)

Horizon Tak Kasat Mata

Saat keajaiban datang, khayalanku memenuhi dan menguasai jalan pikiranku. Aku tahu, aku adalah orang yang terlalu berlebihan dalam menvisualisasikan imaji yang ada. Tapi, entah kenapa, hal itu seperti memperjelas dunia asing yang kumiliki sendiri dan hanya diriku yang mengetahuinya.
Aku yang menjadi raja, aku yang menjadi tokoh utama, dan aku yang menjadi pembuat cerita. Dunia yang menunjukkan sisi terdalamku. Dunia yang menunjukkan sisi yang nyata dari diriku.
Tidak ada yang mengetahuinya, karena aku yakin seandainya mereka ingin tahu sekalipun, mereka tidak akan paham apa yang sedang kulakukan, kupikirkan, kubicarakan, kutertawakan, dan kudambakan. Semua adalah hal-hal yang tidak akan mudah dimengerti.
Hanya aku seorang dan orang-orang yang memiliki dunia asingnya sendiri sepertiku yang tahu itu apa.

(ik)
Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku