Arsip Kategori: puisi

Mencari Keajaiban

Berdebur dingin menelusup

Terbang mengudara penuh kabut

Menahan desakan kaku penghujam jenuh

Gelap langit bulan itu

Titik-titik putih berhamburan jatuh

Luruh air hangat dari sudut kerlingan

Angannya mengabur seiring uap mengepul lenyap

Terlampau lelah menunggu datangnya

Termangu layak orang bodoh

Dia menunggu mimpi

Mimpi tentang orang-orang yang telah lama pergi

Dia menunggu keajaiban

Keajaiban tentang esok hari penuh suka cita untuk dirinya

Letihnya mengembara

Ingin segera ia hanguskan

Pertemuannya pada desember mengingatkannya pada kenangan

Pada sebongkah hati yang dulu begitu ia sayang

Pada hasrat, rindu, dan dendam yang bersemayam dalam diam

Desember yang biru, yang mengharuskannya memilih percaya pada waktu

Ia menggali kesempatan, menemukan banyak keajaiban

Terpasung luka dan sesak yang harus ia hilangkan

Damainya ingin ia raup serakusnya

Bertemu keajaiban yang mampu membungkus kembali semua

Kembali pada tawa yang banyak ditawarkan dunia

Kembali pada raga-raga yang menyimpan jiwa-jiwa

Malang, 30 November 2015

(ik)
Iklan

Duhai, Simpanan!

Senja tak lagi menggagah di ufuk langit

Kelam petang merangkak kasar saat bola pejal menggelinding hilang termakan horizon

Perdebatan yang tak kunjung usai menggugu waktu yang tak suka menunggu

Mereka bicara soal rindu, pertemuan-pertemuan, juga perselingkuhan

Mukanya berang, cangkir kopi tersisa ampas melayang pada dinding pucat seberang

Tak ada pekikan kejam, mungkin umpatan gila dari mulut banyak orang

Mereka diam membisu lagi, meresapi sunyi yang melangkahi

Senja telah hilang bersama camar yang kembali ke sarang

Malam mulai datang dengan tusukan dingin angin laut seberang

Kebisuan mereka masih bertahan mengambang di udara yang penuh asap tembakau

Tak ada yang bergerak memindahkan kedua bola mata mereka dari masing-masing

Menguliti hampir ke tulang

Menyesapi rasa asin darah yang mengalir

Tatapan mereka saling tajam menghantam

Tak ada yang benar-benar mau dipersalahkan ataupun dibenarkan

Rembulan gading tersangkut pada gelapnya langit malam itu

Merasa salah alamat muncul di ujung bulan yang rusuh

Suara mereka hilang dalam balutan kengerian

Diam-diam sebuah nyawa terbang ke awang-awang

Banyak orang berlarian tanpa mengerti apa tujuannya

Ketika menyadari sebuah kepala tertembak peluru senapan

Tubuhnya ambruk menghempas ubin warna kecokelatan

Linangan air matanya sekejap mengering

Tak disangka ia akan menghilang seperti hewan buruan

Terbunuh ditangan saingan yang sudah menikmati harum tubuh simpanannya

Mengesankan, bukan?

Dimuat di Harian Radar Malang edisi Minggu, 8 November 2015

(ik)

Cerita Kita dan Hujan

Rintik yang tenang,

Mengalirkan kenangan,

Kau, aku, dan hujan.

Sejauh ini hujan masih menjadi saksi yang sangat efektif untuk menyembunyikan banyak cerita di sekitarnya, begitu juga dengan cerita kita. Saat itu hujan turun dan kita membuat jalinan cerita yang akan menghuni sudut memori pada masing-masing diri kita…

(ik)

Pengagum Rahasia

Begitu banyak orang yang mengagumimu

Begitu banyak orang yang mencuri perhatianmu

Dan begitu banyak orang yang mencuri potretmu

Tak apa, walau aku tak berusaha

Tak apa, walau aku tak mencoba

Biarlah, kau tetap apa adanya dalam ingatanku

Biarlah, mata dan otak ini yang mengabadikannya

Karena sesungguhnya aku masih menanti jantungku berdebar aneh karena seseorang

Dan entah kenapa itu bukan dirimu?

Blitar, 25 Oktober 2013

(ik)
Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku