Duhai, Simpanan!

Senja tak lagi menggagah di ufuk langit

Kelam petang merangkak kasar saat bola pejal menggelinding hilang termakan horizon

Perdebatan yang tak kunjung usai menggugu waktu yang tak suka menunggu

Mereka bicara soal rindu, pertemuan-pertemuan, juga perselingkuhan

Mukanya berang, cangkir kopi tersisa ampas melayang pada dinding pucat seberang

Tak ada pekikan kejam, mungkin umpatan gila dari mulut banyak orang

Mereka diam membisu lagi, meresapi sunyi yang melangkahi

Senja telah hilang bersama camar yang kembali ke sarang

Malam mulai datang dengan tusukan dingin angin laut seberang

Kebisuan mereka masih bertahan mengambang di udara yang penuh asap tembakau

Tak ada yang bergerak memindahkan kedua bola mata mereka dari masing-masing

Menguliti hampir ke tulang

Menyesapi rasa asin darah yang mengalir

Tatapan mereka saling tajam menghantam

Tak ada yang benar-benar mau dipersalahkan ataupun dibenarkan

Rembulan gading tersangkut pada gelapnya langit malam itu

Merasa salah alamat muncul di ujung bulan yang rusuh

Suara mereka hilang dalam balutan kengerian

Diam-diam sebuah nyawa terbang ke awang-awang

Banyak orang berlarian tanpa mengerti apa tujuannya

Ketika menyadari sebuah kepala tertembak peluru senapan

Tubuhnya ambruk menghempas ubin warna kecokelatan

Linangan air matanya sekejap mengering

Tak disangka ia akan menghilang seperti hewan buruan

Terbunuh ditangan saingan yang sudah menikmati harum tubuh simpanannya

Mengesankan, bukan?

Dimuat di Harian Radar Malang edisi Minggu, 8 November 2015

(ik)

Morning Glory: Pertemuan Takdir yang Menakjubkan

LaVyrle Spencer - Morning Glory

Ya Tuhan!

Buku yang manis dan penuh cinta. Buku setebal hampir 600 halaman ini cukup membuatku tersedot ke kisah Elly dan Will yang cukup menghebohkan.

Kisah seorang Eleanor Dinsmore yang awal namanya adalah Eleanor See dan akrab dipanggil Elly menyatakan di sebuah iklan koran bahwa dia membutuhkan suarang suami! Bayangkan itu, dia mencari seorang suami. Mungkin itulah yang menjadikan julukan gila padanya bertambah, karena sebelumnya dia pernah dianggap gila karena tingkah keluarganya. Kemudian pertemuan pertama mereka—Elly dan Will maksudku—dengan Will yang seorang mantan narapidana, tidak memiliki tempat untuk pulang, tidak ada yang peduli dan percaya padanya. Tapi, saat mereka saling membutuhkan, tidak ada keraguan yang hadir. Semua lenyap dan tergantikan dengan perasaan percaya, hangat, dan cinta.

Sempat terpikir saat membaca buku ini, seberapa luas rumah yang dimiliki oleh Elly. Mengingat wanita itu punya kebun jeruk, apel, lemon, sebuah pohon asam besar, kandang sapi, keledai dan ayam. Juga tumpukan rongsokan mobil tua dan tungku yang diceritakan di awal sempat membuat menyita ruang di halaman rumah Elly. Mungkin bayanganku adalah rumah Elly seperti rumah dengan peternakan yang luas itu.

Tidak hanya itu, cerita tentang masa Perang Dunia II juga mampir menghiasi kisah mereka berdua. Di mana seorang William Lee Parker, mendapat panggilan kenegaraan untuk menjadi tentara relawan. Yang kemudia berhasil mendapatkan pangkat kopral dan juga anugerah purple heart. Sebuah anugerah yang pertama kali ada semenjak PD II dan samapai saat ini masih terus diberikan kepada tentara yang memiliki usaha heroik dalam penyelamatan.

Juga Lula Peak yang membuatku mendaftar segala nama hewan yang ada di hutan maupun kebun binatang. Bagaimana bisa seorang wanita tidak bisa menjaga birahinya sendiri dan malah mengumbarnya ke orang lain. Dasar gila.

Dan saat bab yang mengisahkan Will harus membantu persalinan Elly, aku sungguh tercengang dibuatnya. Elly dengan santainya tidak masalah dia melahirkan sendiri tanpa bantuan peralatan dan orang-orang medis. Ya Tuhan, itu tindakan yang berani. Aku sampai merinding dibuatnya.

Dan aku sangat terharu saat Will berusaha untuk membelikan Elly cincin di hari pernikahan mereka, dan ketika Will mungkin sudah mampu membeli cincin emas, Elly berkeras tetap memaki cincin imatisinya dan berkata, “Aku ingin memakai cincin yang disematkan olehmu di hari pernikahan kita.” Oh, aku mencintai wanita ini, kata Will dalam hati. Betapa tidak, mereka saling mengagumi satu sama lain dan saling menghormati dan mencintai satu sama lain.

Oh, Will… apapun, siapapun… nama William seperti magnet tersendiri. Semenjak karenamu, Willian Hakim 🙂

(ik)

Sabtu Bersama Bapak: Sekotak Kenangan, Hiburan, dan Wejangan di Setiap Hari Sabtu

sabtubersamabapak

Ilustrasi by Google

Desember yang mendingin karena hujan turun hampir setiap hari. Di tengah hiruk pikuk jadwal penelitian yang semakin mendekati akhir dan skripsi yang perlu segera dituntaskan. Saya membuka lagi file review sebuah novel yang baru-baru ini akan naik ke layar lebar. Yap, novel karangan Aditya Mulya, ‘Sabtu Bersama Bapak’. Saya menuntaskan cerita keluarga ini saat KKN sekitar kurang lebih tujuh bulan yang lalu.

Cerita ini berkisah tentang seorang bapak yang hanya memiliki waktu setahun untuk dapat menghela napas bersama istri dan kedua anak laki-lakinya. Tapi, yang menjadi menarik adalah ketika waktunya hanya singkat, ia pergunakan untuk membuat sebuah rekaman video yang berisi pesan-pesan untuk bekal anak-anaknya kelak. Pesan-pesan itu dapat dilihat oleh kedua anaknya setelah bapak mereka tiada. Setiap hari Sabtu mereka akan berhenti melSayakan aktivitas hanya untuk menyimak pesan-pesan bapak mereka yang diputar oleh ibu mereka. Saat mereka beranjak remaja, ada pesan tersendiri. Saat mereka beranjak dewasa, bahkan ketika mereka menikah, ada pesan-pesan bapak yang menuntun mereka.

Hingga mereka dewasa, hingga anak-anak mereka lahir. Pesan-pesan dari bapak mereka masih menjadi tontonan favorit mereka berdua. Satya, sang kakak dan Cakra atau Saka sang adik. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang tak terlihat seperti kehilangan kasih sayang dari seorang bapak. Meski bapak mereka sudah meninggal jauh saat mereka masih kecil.

Dalam novel Sabtu Bersama Bapak ini kita akan ditunjukkan kehidupan Satya saat sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Dan Saka yang masih berusaha dalam mencari calon istri. Mereka masih memiliki seorang ibu yang setia mendampingi. Terharu sekaligus kocak membaca novel ini secara langsung. Banyak kata-kata bijak yang dapat dipetik. Merasa sangat mendapat masukan yang bermanfaat. Mungkin karena saya masih berstatus anak dan belum menjadi orang tua, jadi pesan-pesan yang disampaikan cukup mengena. Juga bisa dijadikan bekal nantinya.

Penggambaran yang dibuat Kang Adhit benar-benar ringan, tetapi mempu menyatukan segala lapis rasa yang ada. Senang mendengar Saka akhirnya laku dan Satya yang mampu menjadi ayah sejati pada akhirnya, meski di awal ia perlu belajar banyak. Buruan segera baca novelnya sebelum filmnya tayang di bioskop.

(ik)

What If: Tuhan Memang Satu, Kita yang Berbeda

P_20150922_143945[1]

Isu cinta beda agama itu bukan hal baru. Ada beberapa kisah yang berputar di sekitarku. Tentang seorang teman perempuanku yang seorang muslim dan pacarnya yang Katolik. Atau yang baru-baru ini, keduanya temanku, perempuan itu seorang Protestan dan laki-laki itu muslim sepertiku. Perbedaan-perbedaan yang ada di setiap selubung kehidupan manusia itu memang tidak sebatas kaya-miskin, cantik-jelek, pintar-bodoh, rajin-malas, dan banyak hal bersifat adjective lainnya.

Kita mahkluk sosial, sama-sama ciptaan sang Khalik. Punya insting untuk saling mengenal satu sama lain, saling berbagi apapun yang sepantasnya bisa dibagi. Punya rasa ketertarikan, bahkan rasa benci dan permusuhan. Kita semua manusia hidup berdampingan. Sesadar apapun kita dengan banyak sekali perbedaan yang membentang di dalam hidup manusia. Jauh sebelum manusia sebanyak sekarang. Bahkan saat akhirnya Tuhan memutuskan menciptakan Adam.

Dalam novel ini, ‘What If’, aku kembali disadarkan bahwa segalanya pasti ada sebab dan ada solusi. Tapi, terkadang sebab dan solusi akan menciptakan sebuah dilematis tersendiri yang mengakibatkan orang yang bersangkutan di antaranya merasakan perasaan yang mungkin hanya mereka atau beberapa yang punya posisi yang sama seperti mereka.

Selama menyelesaikan kisah Kamila-Jupiter, aku tidak menyalahkan mereka, baik Kamila maupun Jupiter. Banyak pertanyaan yang berseliweran di dalam sumsum kelabuku. Bahkan aku sempat melontarkan pertanyaan kepada ibuku.

“Kenapa hidup manusia itu rumit? Maksudku hubungan antar manusia itu rumit?” ada jeda sejenak, “ketika sepasang anak manusia saling jatuh cinta, saling mengasihi. Apa yang salah dari mereka. Kenapa perbedaan yang mereka miliki harus selalu mengunggulkan logika daripada apa yang mereka saat ini rasakan?

Kenapa stigma masyarakat begitu kuat melempar mereka ke sudut dan bolak-balik membenturkan mereka agar sadar bahwa mereka berbeda? Lantas kalau memang Tuhan menuliskan jalan mereka demikian, siapa yang patuh dipersalahkan? Mereka tidak sedang merancang bom bunuh diri. Mereka hanya sedang jatuh dalam kubangan bernama cinta.”

Kemudian ibuku mendebat, “Itulah ujian Tuhan yang bersifat inmaterial. Tidak melibatkan apa-apa. Hanya hati, perasaan, dan juga imanmu. Seberapa kuat iman yang saat ini kamu teguhkan dalam hati. Seberapa yakinkah kamu dengan kitab sucimu, yang bicara tentang ayat-ayat dan perihal apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan. Tuhan tidak serta merta mencipta manusia dalam perbedaan. Itulah kenapa logika harus selalu bermain dalam setiap keputusan yang dibuat manusia. Sekalipun hati nurani dan perasaan beriringan menyertai.”

Yah, pembicaraan ini pasti sangat panjang. Dan selama dekade-dekade di masa depan pasti akan masih ada kisah Kamila-Jupiter yang lain. Mbak Morra kembali sukses membuatku berpikir hanya dengan membaca novel setebal 279 halaman saja. Percintaan yang tidak melulu soal cinta segitiga. Tidak dengan drama dan tidak dengan kata-kata indah penuh rekayasa.

Penuturan yang gamblang dan yakin bahwa di luar sana memang demikian. Semakin dibuat rindu dengan ulasan Teori-Teori Sosial. Buku Das Kapitalis, milik Karl Max kalau tidak salah sempat mencuri perhatian di awal aku mengunjungi Kafe Pustaka, bulan-bulan yang lalu. Karena kavernya lebih tepatnya. Lalu seorang yang aku ikuti di Wattpad memasangnya sebagai gambar sampul berandanya. Kemudian Kamila dan Helena membahasnya. Aku tertarik ingin membacanya. Mereka semua mata kuliah semester satu atau dua. Dulu sekali, sekarang aku semester delapan. Skripsi. Aku hampir lupa soal itu.

Satu rahasia kubuka, bulan-bulan lalu aku hampir merasa nyaman dengan seseorang yang berseberangan denganku. Tapi, kuberitahu bahwa itu adalah nyala lilin yang sebentar kemudian terhembus angin dan mati. Aku sadar dan kembali menatapnya dengan tatapan seperti sebelumnya. Hanya teman, tidak lebih. Dan semua hilang begitu saja tak bersisa. Ini hanya sekadar sementara. Aku bersyukur soal itu.

(ik)

Sesuatu Tentang Kertas

Berarti ada sebabnya kenapa harga novel jadi tambah mahal. Selain itu gara2 skripsi ini kebutuhan untuk beli novel jadi sedikit tertahan. Masih harus puasa dulu, maafkan saya 😔😫

Taste Life Twice

Kertas

Belakangan ini, naskah yang panjang adalah sesuatu yang saya hindari. Saya jadi berhati-hati sekali dalam menulis, berusaha hemat dengan kata-kata. Saat menyadari naskah saya menembus halaman keseratus tujuh puluh dan belum ada tanda-tanda akan selesai, saya cemas. Saya semakin cemas saat mengira-ngira jumlah halaman si naskah apabila sudah selesai nanti. Dua ratus.

Dua ratus halaman naskah berarti empat ratus halaman novel. Dan, empat ratus adalah angka minimal. Apa masalahnya? Novel itu, sial benar, akan memiliki harga di atas tujuh puluh ribu rupiah. Itu dua kali harga Orange pada 2008. Mengapa sekarang buku begitu mahal? Jujur, sebagai penulis, saya tidak menyukainya.

Awal Juli yang lalu, saya menerbitkan ulang Orange. Tiga ratus halaman. Harga novel itu, lima puluh ribu rupiah. Selisih tiga bulan, saya menerbitkan Last Forever. Tiga ratus delapan puluh halaman. Harga novel ini, enam puluh sembilan ribu rupiah. Novel ini memang lebih tebal, tetapi yang menyebabkan rentang harga tersebut begitu…

Lihat pos aslinya 566 kata lagi

Ketika Anak Laki-Laki Menjadi Seorang Pria

 

Ada yang mengatakan kehidupan seorang laki-laki itu menyenangkan. Penuh kebebasan dan juga warna-warni kehidupan. Tetapi, mungkin mereka lupa bahwa seorang pria yang kata mereka begitu bebas dulunya hanyalah seorang anak laki-laki yang tidak tahu apa-apa dan hanya berpikir bahwa besok akan mendapatkan mainan baru dari ayah apabila nilai matematikanya mendapat nilai sempurna. Dan mereka mungkin lupa, ketika seorang pria yang mereka puja dengan segala kesempurnaan itu dulunya hanyalah seorang anak laki-laki yang akan menangis ketika warung Plays Station dekat rumahnya tutup atau mainan gundamnya patah karena berebut dengan temannya.

Kehidupan pria yang sebenarnya adalah penuh dengan beban dari pihak-pihak yang menekannya. Antara lain orang tuanya, saudaranya, temannya, dan saat ada di tingkat menuju menjadi seorang dewasa, istri dan mertuanya adalah tekanan baru baginya. Entah soal pekerjaan yang selalu nyambung ke persoalan gaji. Ada juga urusan keturunan dan bagaimana etikanya membantu orang tua untuk membiayai saudara-saudaranya yang masih bergelut dengan dunia pendidikan. Perihal duniawi itu yang tanpa disadari seorang anak laki-laki menjadi bebannya kelak saat dirinya menjadi seorang pria.

Jatuh cinta, tidak ubahnya dengan persoalan di atas. Hanya saja mungkin memiliki pasing grade atau taraf yang berbeda. Cinta, bukan sesuatu yang mudah untuk dipahami. Kadang dirinya seperti mendung yang hanya mengelabu di ujung langit, tetapi tidak pernah mau turun hujan yang kata mereka bilang, dia hanya sedang menunggu penuh dan malu untuk turun ketika yang dia punya belum cukup penuh.

Kata Kahlil Gibran, cinta adalah anak kecocokan jiwa. Jika tidak ada kecocokan, cinta tak bisa hadir dalam hitungan hari bahkan dalam hitungan ribuan tahun.

Memang benar apa yang dikata Kahlil Gibran dalam hal ini. Cinta membuat orang yang dalam hidupnya selalu terstruktur menjadi rancu dan kacau. Cinta bukanlah persoalan yang dapat diatasi oleh seorang diri, melainkan oleh dua orang yang bermasalah di dalamnya.

Seorang pria tumbuh dengan caranya masing-masing, ketika ditanya soal perasaannya kita tidak akan pernah tahu kapan dia akan mengatakan yang sejujurnya.

“Aku tidak akan memberi tahukan perasaanku. Kalian akan punya waktu untuk sadar akan hal itu.”

***

Sore itu hujan gerimis turun tiba-tiba. Jelas saja meski mendung sudah mengeruh dari tengah hari tadi, namun tak ada yang mengira hujan bakal turun di acara yang membuat siapa saja mengutuk untuk keluar rumah. Lain halnya dengan Calvin. Dia suka berjalan-jalan di bawah hujan gerimis, tapi tidak dengan kekasihnya. Lila, yang menganggap hujan adalah buruk.

“Apa kau ingin berjalan-jalan?” tawarnya tanpa pikir panjang saat keluar dari sebuah kedai kopi tepi jalan.

“Apa? Berjalan jalan? Tidak, hari mulai hujan.” Tegas Lila menolak ajakan Cal yang membuat cowok itu langsung berwajah masam.

“Tidak? Ini akan menyenangkan untuk berjalan-jalan saat hujan. Ini indah, bukan?”

“Tidak, tidak ada yang berharga ketika berjalan-jalan kemudian turun hujan.” Lila berkeras untuk tetap pada pendiriannya. Dengan sebelah tangannya yang kosong sementara tangan sebelahnya lagi membawa gelas kertas dengan kepulan asap, ia membuka pintu sebelah kemudi mobil hitam miliknya.

Dilihatnya Cal masih ingin berlama-lama terguyur gerimis, tidak putus asa ia menawarkan seribu madu untuk Lila jika gadisnya itu mau bermandikan gerimis dengannya. “Oh, ayolah. Kau pasti akan suka.”

“Tidak perlu. Kau akan naik atau berjalan di bawah guyuran hujan?” pungkas Lila yang membuat Cal berjalan memutar untuk segera duduk di balik kemudi.

“Baiklah, aku naik dan kau pasti akan menyesal dengan tidak menyukai hujan.”

“Terserah kau saja.”

Mobil hitam milik Lila itu pun bergerak pelan menembus gerimis yang semakin lebat. Seperti biasa Lila begitu menyebalkan hingga Cal berpikir ingin menyudahi saja hubungan mereka. Tetapi, Cal tidak akan pernah bisa menolak apa yang akan nanti Lila lakukan ketika Cal memulai ultimatumnya. Rengekkan dan sikap manja Lila pasti akan membuatnya luluh seketika. Dan itu semakin membuat Cal membenci dirinya sendiri.

Dengan begitu, Cal tidak akan pernah menjadi seorang pria. Dia seperti mendapat tekanan yang setengah ia merasa senang dan yang setengah lagi ia merasa gila dibuatnya. Dalam kamusnya saat dirinya masih bocah ingusan, mempunyai pacar akan sangat menyenangkan. Akan dianggap dewasa dan semacamnya. Lantas ketika kelas satu SMP ia berusaha mancari seorang pacar, tetapi entah dia yang terlalu bodoh atau polos. Dia hanya menjadi tukang antar dan pesuruh yang mau saja dimintai membawa barang yang katanya itu pacarnya.

Cal sangat tahu jika suatu saat nanti pasti hal yang ia risaukan akan terjadi. Ia tahu betul bahwa dalam hubungannya dengan Lila tidak akan berjalan dengan mulus. Ia tahu bahwa hubungannya dengan Lila suatu saat akan seterjal saat ini. Konsekuensi yang harus ia tanggung sangat ia pahami, hingga kadang ia merasa butuh kekuatan untuk terus menguatkannya.

“Lihatlah, kota ini sangat menakjubkan.” Dengan semangat Cal menunjuk hujan yang turun perlahan di kota hujan pagi itu.

“Kau seperti belum pernah datang kemari sebelumnya,” Lila yang begitu sinis menanggapi ocehan Cal dengan setengah hati.

“Aku tidak datang cukup jauh, itulah masalahnya. Dapatkah kau bayangkan betapa menakjubkannya kota ini dalam hujan? Hujan, pelukis, penulis, penyair …”

“Kenapa semua kota mendapatkan hujan? Apa yang indah tentang menjadi basah?”

“Kau sama sekali tidak bisa diajak membayangkan rupanya.”

Cal hanya menghela nafas setelah perdebatan kecil mereka tentang hal-hal yang benar-benar sepele. Sering kali ia dapati sebenarnya dia tidak pernah bisa menyangkal apa yang dimau dan dikehendaki Lila hingga kadang teman-temannya merasa dirinya itu seperti mainan bagi Lila.

Alasan kenapa dirinya bisa melewati masa-masa sulit itu adalah karena dirinya mencintai orang itu. Begitu polos perasaan dan pola pikirnya. Yang ia pahami, Lila juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya dan itu sudah cukup baginya.

Sebulan berlalu dan Lila sengaja datang ke acara kumpul bersama teman-temannya bersama dengan Cal. Sebenarnya dia sangat terganggu dan tidak nyaman setiap kali keluar harus bersama Cal. Entah kenapa orang tuanya sebegitu percaya dengan anak laki-laki itu. Dan jujur ia katakan, ia butuh Cal hanya untuk bisa keluar kali ini. Maka, saat tiba-tiba anak laki-laki itu bertingkah seperti punya hak atas dirinya di depan teman-temannya, itu membuat harga dirinya benar-benar dipermalukan.

“Aku harap kau tidak bertingkah sok kenal seperti tadi?”

“Apa yang membuatku menjadi sok kenal? Aku biasa-biasa saja.” Cal merasa heran dengan perkataan dari Lila yang terdengar tidak suka.

“Oh, ayolah. Kau tadi melakukannya.” Cecar gadis itu.

“Baiklah, tapi mereka, kan temanmu. Dan aku ingin mengenal mereka. Apa itu salah?”

“Tapi, tidak dengan bertingkah sok kenal seperti tadi. Aku tidak suka.” dengan sama-sama keras kepanya mereka berdua beradu pandang yang saling menekan.

“Astaga. Omong kosong macam apa ini?”

Lila menggerlingkan matanya dan menatap Cal dengan sorot mata menyudutkan, “Cal, aku pikir kau sedang dalam keadaan mood yang tidak baik. Kau harus memperbaiki ucapanmu itu.”

“Tapi, kenapa?” tanya Cal setengah frustasi dalam penekanan suaranya.

“Karena kau bersikap seperti itu dan coba kau temukan apa masalahnya.” Lila berjalan menjauh sambil menyambar gelas berisi minuman kola dan pergi entah kemana meninggalkan Cal yang masih berpikir keras tentang begitu susahnya memahami seorang wanita.

Gadis itu sadar, sikapnya terhadap Cal sudah sangat buruk. Entah kenapa dia tidak benar dalam melihat sosok Cal itu seperti apa. Dia kadang dapat melihat sosok pria di sana, tetapi lebih banyak sosok anak laki-laki dari pada sosok prianya. Ia teringat ketika awal hubungan mereka diketahui oleh teman-temannya. Hingga sekarangpun ia masih merasa malu jika diminta mengakui menjalin hubungan dengan junior beda tiga tahun dengannya.

“Oh, Tuhan! Semester dua? Kau berpacaran dengan anak kecil sekarang?” kedua temannya begitu terkejut mendengar pengakuan Lila yang tiba-tiba. Sebenarnya bukan karena tiba-tiba, tetapi karena obyek yang mereka bicarakan adalah sesuatu yang tidak pernah mereka pikirkan selama ini.

“Apa yang akan kau lakukan dengannya?”

“Apa lagi? Aku akan bersenang-senang.” Dengan santai Lila menjawab pertanyaan dari temannya itu. Senyum sudutnya muncul bersamaan dengan suara menantang. Kedua temannya ikut tersenyum mengiyakan niat Lila.

Dan ketika rasa bersalah itu diam-diam mengendap di dasar, ia berusaha tak menyadarinya. Dalam diam dan mengatur segalanya untuk tidak terjadi apa-apa, ia tahu benar bahwa sikapnya sudah membuat lelakinya itu terluka. Terluka yang mungkin ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya.

***

Seorang pria hidup dengan mengandalkan orang-orang di sekitarnya, sebenarnya. Meski ia terkesan mampu untuk melaluinya sendiri, tetapi ia lebih banyak akan bergantung ketika ia menemukan sosok yang mampu membuatnya nyaman layaknya pulang ke rumah. Seorang wanita bohong kalau dirinya mampu hidup sendiri tanpa satupun laki-laki. Karena kenyataannya ia adalah makhluk paling rapuh untuk persoalan hati. Meski seorang pria dan wanita begitu dasar sekali perbedaan di antara mereka, sesungguhnya sama saja.

Dan bicara soal perasaan wanita dan pria ada yang lebih panjang dan lebih kokoh dari pada tembok Cina. Itulah pikiran seorang wanita yang tertutup untuk seorang pria. Kenapa perempuan perlu keyakinan cinta?

Mereka bisa mencintainya dulu dan mengakuinya secara perlahan. Pria dan wanita memang unsur yang berbeda, tetapi karena berbeda itulah mereka dapat disatukan. Permasalahannya saat ini adalah ketika seorang anak laki-laki ingin menjadi pria bagi wanitanya sudah semestinya laki-laki itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan hati wanitanya. Tapi yang terjadi adalah kenapa wanitanya tidak pernah bisa melihat sedikit usahanya.

Mungkin alasan pria dan wanita telah bertengkar di usianya adalah karena mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda. Untuk menjadi orang baik, seorang pria harus menangkap setiap kata dan setiap ekspresi wajah yang ia buat. Kita semua berkencan dengan alien.

“Kau bertingkah seperti pria macho. Kulihat kau masih bertingkah seperti anak kecil. Kau memang anak kecil.”

“Aku tahu apa-apa yang aku lakukan. Kenapa kau tidak pernah bisa untuk menghargainya?”

“Cal, kau ini masih anak kecil. Kau tidak tahu apa-apa tentang duniaku. Lebih baik kau pulanglah dan belajar untuk pre-testmu besok. Bukankah matakuliah itu sangat kau benci?”

“Kenapa kau suka sekali mengata-ngataiku anak kecil? Umurku sudah 20 tahun.”

“Baru 20 tahun dan aku lebih tua tiga tahun darimu. Meskipun kita berpacaran jangan lupakan fakta itu.”

“Kenapa masalah umur di sini begitu dipusingkan? Memang apa salahku dilahirkan telat tiga tahun?”

Selalu begitu, apakah semua wanita yang berumur tua dari pasangannya akan selalu berpikir negatif tentang pasangannya? Apakah dia tidak bisa melihat bahwa dewasa itu tidak dipandang dari perbedaan umur? Padahal wanita itu adalah jenis manusia yang berapapun umurnya tidak ada bedanya sama sekali.

Bukankah pernah ada yang mengatakan bahwa cinta itu murni tanpa perlu apa-apa. Cinta tumbuh karena rasa ingin menyayangi, tetapi cinta tidak pernah membebani siapa-siapa, karena dirinya memang sesuatu yang ada sejak manusia ada. Lalu apakah kadar cinta juga berpengaruh dalam sebuah hubungan? Di mana seorang wanita dan pria akan berkontribusi di dalamnya. Cal selalu bertanya-tanya mengapa memahami seorang wanita begitu mempersulit jalannya menjadi seorang pria sejati?

Ketidakwajaran hubungan antara dirinya dan Lila memang sering kali membuatnya harus berpikir ulang apa yang seharusnya terbaik bagi mereka. Dan Cal berharap ketika keputusan sudah ia dapatkan, ia ingin mempercayainya juga yakin tanpa perlu bertanya-tanya lagi. Karena sepertinya ia sadar bahwa usahanya untuk bersikap dewasa memiliki banyak cobaan yang mengharuskannya tegar dan sabar.

***

Hari itu mendung, langit tak merona sama sekali. Aku membawa payung seperti biasa, kebiasaan yang Bunda ajarkan ternyata berguna. Sudah hampir setengah jam aku menunggu di taman dekat tempat tinggal, tapi sepertinya gadis itu ingin sedikit menguji kesabaranku. Aku kenal siapa dan bagaimana sifatnya. Maka, aku terus menunggu sampai suara langkah kakinya akhirnya terdengar dan seperti malu-malu untuk segera mendekat dan duduk di sebelahku.

Ia hanya diam tanpa memancarkan ekspresi, terkesan dingin dan tak acuh. Aku tahu ini pasti buruk. Karena memang sebenarnya aku yang memulai suasana buruk. Aku ikut berdiri sejajar dengannya, menghadap dan menatap lekat wajah oval kuning langsat itu.

Tetap tak ada suara dari kami berdua. Aku yakin sekali bahwa jauh di dalam batinnya ia sedang menggerutu tak senang, apalagi hari sebentar lagi hujan. Aku tahu dia tidak menyukai hujan. Aku biarkan dia sampai bosan. Biar saja bosan karena aku sengaja melakukannya, mungkin ini adalah satu-satunya cara terakhir untuk menggodanya.

Terlihat dia memainkan sepatunya, menghentak sedikit dan mendecakkan lidahnya kesal. Aku tersenyum saja tanpa perlu menanggapinya terlalu jauh. Hingga akhirnya ia melontarkan kata itu. Perasaan kesal, jengkel dan semacamnya. Pertahanan dirinya goyah, ia mendesak untuk segera menyelesaikan masalah ini dan aku punya solusi yang sangat tepat untuk kami berdua saat ini.

“Maafkan aku, Lila. Aku sudah tidak bisa lagi untuk jadi orang yang kau sandari. Hubungan kita sudah cukup sampai di sini. Kita lebih baik berteman saja, bagaimana?” dengan sangat jelas dan lancar akhirnya aku bisa mengutarakan apa yang ingin aku sampaikan selama ini padanya.

Wajahnya memaling ke arahku setelah berapa kali mencoba menghindar. Matanya membulat sempurna. Ahh, mata kesayanganku.

Ia mendengus kesal, “Berteman? Kau bercanda, ya? Tidak ada namanya laki-laki dan wanita berteman.”

“Itu mungkin benar, tapi percaya pasti ada sosok lain yang bisa mendampingimu nanti. Maafkan aku, Lila.”

Aku bisa melihat wajah terlukanya saat aku ingin akhir dari hubungan ini. Aku bisa melihat titik air mata yang akan segera keluar dari pelupuk matanya. Dan aku bisa tahu bahwa nuraniku berat untuk melihatnya. Tapi, aku harus membalikkan badan dan melangkah menjauh dari dirinya. Semakin lama aku melihatnya akan semakin tidak baik dan berakhir tanpa hasil apa-apa. Karena aku tidak mau terlihat seperti anak laki-laki lagi di depannya. Aku harus pergi dari hadapannya sebagai seorang pria.

Seorang pria yang mampu menguatkan diri dan orang-orang sekitarnya. Seorang pria yang tidak akan lemah hanya arena perasaannya. Saat menjadi seorang anak laki-laki banyak luka, tawa, canda, dan cinta yang aku dapatkan. Saat ini pun aku juga ingin mendapatkan banyak rawa, canda, dan cinta meski luka pasti ada. Seperti di awal aku ingin menjadi seorang pria, luka melihat orang yang dulu begitu kita cintai terluka, luka itu ada. Samar-samar memang mengganggu, tapi keyakinanku bulat, luka itu tidak akan apa-apa. Karena ketika kita tumbuh melalui rasa sakit, itulah bagaimana anak laki-laki tumbuh menjadi seorang pria. (ik)

Sempurna Itu Luka

Orang sempurna bukanlah satu-satunya yang selalu mendapat apa yang ia inginkan. Orang sempurna adalah tempat cacian bahkan kritikan mampir kepadanya. Menjadi orang sempurna seperti menjadi orang yang terhina. Bukan perkara apa-apa, hanya saja kata sempurna seperti kutukan yang tidak mau lepas sebelum sempurna itu hilang dari jagad raya.

Mungkin begitu dengan Hanny, seorang putri tunggal dari keluarga cukup kaya. Urusan penampilan dari ujung rambut sampai ujung kaki tidak perlu dipertanyakan. Masalah pergaulan dia merupakan sosok yang cukup terkenal. Otak begitu cerdas dan prestasi juga kesana kemari pun ada.

Tetapi, membayangkan kalau setiap hari harus mendengar ocehan juga celaan, bahkan sindiran dan semacamnya terlontar begitu saja kepada diri kita. Apakah ada kesabaran seseorang bisa tetap mempertahankan emosi mungkin mental untuk tetap stabil?

Aku rasa tidak. Hanny, dia tertekan di mana-mana dan sekali lagi dia bukan orang yang sempurna. Telinganya mungkin sudah bernanah, berdarah berkali-kali kalau gunjingan, celaan, dan hinaan yang ia dapat diibaratkan pisau belati atau garpu yang ujungnya tajam. Usahanya tak kunjung tampak dengan mencoba tersenyum pada sekelompok orang yang jelas-jelas memperlakukannya sebaliknya. Mungkin belum terjadi, tetapi ia tetap tersenyum, meski malam sebelum tidur tangisnya juga sampai 3 ronde pun belum cukup.

“Hanny, ngapain kamu disini? Sudah pintar tidak perlu belajar, nanti kami tersaingi dan guru akan meningkatkan standart penilaiannya kalau sampai kamu dapat nilai A lagi.” Ujar salah seorang teman yang di hadapannya terdapat setumpuk buku-buku tebal dan buku tulis yang terlihat sudah penuh dengan catatan.

“Tenang saja, aku hanya akan mengembalikan buku lalu pulang.” Balas Hanny dengan nada kalem.

“Baguslah,”

Setiap hari pujian datang sebanding dengan gunjingan yang ia dapatkan. Ia tidak mengerti kenapa menjadi seorang dia terlalu rumit berbaur dengan sesama. Mungkin mereka iri juga dengki. Tetapi, apa hal semacam itu dibenarkan?

“Jangan suka cari muka! Pergi sana!”

“Mau cari sensasi lagi? Mau pamer kalau populer?”

“Jangan sok. Cantik bukan milikmu sendiri, kaya dan pintar apalagi.”

Dengungan-dengungan yang menyesakkan telinga, membuatnya terpuruk jauh dan tenggelam dalam keruetan yang menjalar bak akar tanaman yang suka sekali menjegal kaki. Hatinya sesak, pilu. Teriakpun sama saja, matipun percuma. Dia ingin lari juga pergi. Lenyap kalau bisa.

“Tidakkk!!” batinnya terkoyak. Tak bisa dipungkiri ia sakit hati.

Tetapi, hatinya yang berlinang tak ingin malang. Ingin jiwanya unjuk diri bahwa dunia masih ada untuk dirinya. Tak dipungkiri, ia masih ingin berdiri. Tak tahu lagi hujatan seperti apa yang ia dapat setelah ini. Karena ia ingin mandiri, ingin kuat bak belati yang tajam dan penuh nyali.

Dirinya selalu dikuatkan oleh orang tuanya, kendati mereka jarang sekali berada di rumah. Masih ada guru-guru yang senantiasa memberi perlindungan. Tak jarang Hanny begitu dekat dengan gurunya dari pada kedua orang tuanya.

“Abaikan saja, jangan menghiraukan orang-orang yang iri padamu.”

“Iya, Bu.”

Fatal terjadi ketika waktu jam istirahat berakhir. Ada seseorang yang menyuruhnya untuk pergi ke dekat kamar mandi lantai 3 dengan alasan ada yang ingin dibicarakan. Tapi, yang terjadi adalah dirinya dikunci selama seharian dan selamat pada keesokan harinya. Ia menangis tersedu dan mengadukannya ke guru BP.

Orang tuanya sempat mencarinya dan mendapat laporan kalau anak semata wayangnya terpaksa menginap di sekolah. Geramnya orang tua Hanny membuat teman-temannya menciut nyalinya. Mereka seperti tersadar bahwa tindakan mereka sudah berlebihan. Etika moralnya perlu dipertanyakan. Benar-benar,sekali lagi Hanny bukanlah orang yang sempurna.

Sesampai di rumah, kedua orang tua Hanny berbincang. Memutuskan untuk memindahkan putrinya ke tempat di mana tidak ada diskriminasi yang didapat oleh putrinya. Demi kebaikan mental juga masa depannya.

“Papa ingin kamu pergi. Pergi untuk menjadi orang hebat, bukan pergi untuk menghindar.” Papa menatap lekat putrinya yang sayu matanya.

Tak ada kata-kata lain selain senyum rindu. Mungkin sedikit banyak Hanny merasa rindu pada perhatian kedua orang tuanya. Jika karena masalah ini ia mendapatkan perhatian orang tuanya, tak jadi soal kalau ia harus merana.

Malam itu juga tawaran kedua orang tuanya ia amini. Berkemas cepat tanpa perlu membawa seisi rumah. Tak lupa ia menulis surat untuk semua yang pernah memberinya perhatin, dari pujian sampai sindiran. Ia tulis dengan bahasa yang sopan dan bersahabat. Menggunakan kertas berwarna pirus beraroma kertas biasa. Kemudian ia sematkan fotonya yang saat itu menjadi peraih juara pertama olimpiade sains. Senyum merekah saat itu didampingi teman dan juga guru.

Ia titipkan kepada pesuruhnya untuk pagi-pagi sekali dikirim ke meja redaksi mading sekolah. Secepat kilat perintah sang papa, secepat itu hari berganti. Tiket berada di tangan, siap mengangkasa di akhir hari nanti.

Langit sore menjingga sempurna, ada semburat kelabu sisa mendung kemarin yang tidak habis luruh bersama hujan yang baru tadi pagi mereda. Ruang tunggu ramai lalu lalang calon penumpang dengan tentengan barang bawaan. Hanny berada di antarnya. 15 menit lagi sebelum take off, dirinya masih menunggu untuk kesekian kali kepada mereka yang dulu pernah membencinya.

Ingin berpamitan secara langsung, tetapi tak ada waktu baginya untuk sekadar beramah tamah. Kemarin juga sebuah surat sudah ia layangkan ke pengurus mading sekolah. Barangkali tadi pagi surat itu sudah terpasang dan ramai dibicarakan sampai saat ini. Isinya ia izin pamit untuk meniti pendidikan yang lebih tinggi di negeri orang. Bukan ingin pamer, tetapi ia ingin bertemu banyak orang yang mungkin tidak akan memandang ia sempurna, melainkan seseorang yang perlu belajar lebih banyak dan seseorang yang tidak pernah bisa sempurna mengalahkan Tuhannya.

Jujur sakit hatinya belum reda, ia merasa sempurnanya tidak ada arti yang mungkin dapat ia gunakan untuk memotivasi orang lain. Malahan ia mendapat motivasi dari mereka yang mencibirnya. Keanehan macam apa yang ia pikirkan, menganggap semua cobaan menjadi semacam adu mental tahan apapun.

Senyumnya terbit meski senja sudah luruh berganti petang. Suara bising mesin dan avtur yang telah berada di tangki mengantar Hanny siap mengangkasa petang itu juga. Mengubur semua luka dan membuang semua sempurna. Ia bukan apa-apa, ia akan menjadi orang serba bisa dan kuat bak metal baja.

(ik)
Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku