Arsip Tag: Akhir Tahun

Permen Apel dan Kembang Api di Penghujung Tahun

Menurutmu apa yang menjadi motivasi seseorang bertahan pada masa lalunya?

Apakah orang-orang yang masih terbelenggu dengan masa lalunya tersebut tidak berpikiran untuk bangkit keluar dari dunianya?

Mungkinkah mereka memiliki seseorang yang ditunggunya dari masa lalu untuk nantinya bangkit bersama menuju masa depan?

Kalau memang demikian, apakah aku benar-benar orang seperti itu? Lalu salah siapa aku masih tetap seperti ini?

Aku terus saja berpikir keras tentang hal ini, terlalu melelahkan sebenarnya, tapi tak kunjung juga kuhentikan. Sudah banyak orang yang menyarankanku untuk melepaskannya, kurang kerjaan kata mereka kalau aku masih tetap seperti ini. Aku pikir-pikir, mereka benar, aku seperti orang yang kurang kerjaan, selalu saja beranggapan semua tidak masalah kalau aku tetap seperti ini, terbelenggu dengan dimensi yang aku ciptakan sendiri. Sebagai akibatnya, aku tak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya khayalan semata.

Setiap hari yang bisa aku lakukan hanya berkutat dengan apel-apel segar yang nantinya akan aku celupkan ke dalam saus karamel bermacam-macam warna, kemudian kutaburi choco chips warna-warni, atau kacang yang sudah disangrai, atau bisa dengan taburan meses warna-warni lalu menyimpannya di lemari es. Lebih tepatnya aku sedang membuat permen apel.

Sebuah permen yang populer di Jepang, sebuah permen yang mengawali pertemuan kami 3 tahun silam saat festival kembang api di Jepang. Dia dengan senyumnya yang hangat dan sorot mata yang begitu menenangkan mengulurkan tangannya yang menggenggam permen apel dengan saus karamel warna merahnya padaku.

Isak tangisku seketika berhenti saat mata sembabku menemukan sesuatu yang berbau manis dan bentuknya yang begitu cantik. Saat itu aku terpisah dengan teman-temanku, aku yang tidak suka berada di tempat keramaian berusaha untuk mencari mereka. Tapi, aku keburu menangis dan membiarkan keramaian tersebut menenggelamkan suaraku di tengah hiruk pikuk yang menyelubungiku.

Namun, dirinya hadir dengan segala yang dia miliki. Tersenyum layaknya malaikat yang turun dari langit. Ia memberiku permen apel tersebut bersamaan dengan luncuran kembang api pertama di langit malam. Suaranya begitu riuh, kemudian saling bersahut-sahutan. Warna-warni terang menghiasi dunia kami. Semenjak saat itu aku tidak pernah lepas untuk memandangnya. Dirinya menenangkanku dengan caranya sendiri, tidak memaksa, hanya bercerita kalau dirinya menyukai kembang api. Lucu sekali, dia seorang laki-laki, tapi menyukai hal-hal yang sering kali disukai oleh para gadis.

Lihat, membayangkan tertawanya saja sudah membuatku salah tingkah, padahal kejadian tersebut sudah lama sekali, aku yang masih sibuk dengan mencelupkan apel ke dalam saus karamel sembari mengingat kejadian tersebut merasakan sudut bibirku terangkat. Apa aku sedang tersenyum?

Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa pesonanya masih mampu membuatku seperti ini sementara wujudnya saja sudah sangat lama tidak mampir dalam nyata. Aku tahu mungkin aku berlebihan, memang aku sangat berlebihan. Karena awal berdirinya toko Sweet Heart ini pun juga karena ulahnya. Saking gemarnya aku dengan makanan manis terutama permen apel ini, aku sampai merengek-rengek pada Ayah untuk menyewakan aku sebuah toko kecil yang akan kujadikan sebuah toko dengan segala jenis makanan manisnya.

Berharap dengan itu dia akan datang ke tokoku. Harapan gila, bukan? Tapi sejauh ini aku tidak berharap banyak dirinya masih mengingatku. Keinginan terbesarku adalah melihat dirinya yang baik-baik saja dan tidak kekurangan satupun.

“Ara! Permennya sudah jadi belum?” teriak Arin, kakak perempuanku satu-satunya. Dia akan mengoceh sepanjang hari kalau mengetahui pekerjaanku tidak beres. Sebenarnya toko ini milikku atau miliknya sih? Dia begitu berkuasa di toko ini, mengurusi segala macam yang berhubungan dengan manajemen, keuangan, dan humas.

Aku? Aku berkuasa di dapur, gudang penyimpanan bahan makanan, dan kepuasaan pelanggan. Karena memang itulah keahlianku dan itu bukan keahlian kakakku. Maka dari itu kami membagi tugas dan dengan hal tersebut toko Sweet Heart berkembang pesat. Ayah senang melihat kami dapat bekerja sama dan beliau merasa tidak rugi untuk akhirnya membeli toko tersebut dan mengatasnamakannya dengan nama kami.

Menjelang natal dan tahun baru, toko kami selalu dipenuhi dengan pesanan-pesanan yang terkadang melebihi kapasitas. Hal tersebut menjadikanku sering kali lembur dan di sanalah nikmatnya. Kakak akan membantuku menghias cup cake, mengolesi tart dengan saus jeruk, dan menatanya dalam kotak-kotak kardus kecil, sedang, ataupun besar lalu setelahnya akan dikirim ke alamat pemesan.

Dirinya yang jarang sekali turun ke dapur akan terlihat sangat lucu dengan mulutnya yang terus saja mengerucut apabila sedang serius mengerjakan sesuatu. Aku jadi ingat lelaki itu, dia sama seperti kakak. Dirinya akan sering mengerutkan dahinya apabila tengah serius mengerjakan sesuatu. Bukan apa-apa, hanya itulah kebiasaanya.

Permen apel buatannya adalah yang paling enak dari segala permen apel yang pernah kucicipi. Aku terus berusaha untuk menyamai rasa miliknya, tapi hal tersebut susah sekali. Aku masih terus mencobanya, meski terkadang aku harus menyianyiakan waktuku untuk hal-hal lain.

Kenangan bersamanya begitu melekat erat, apalagi dapur ini. Walaupun bukan benar-benar dapur ini, tapi dapur lain, yaitu dapurnya seakan terus membuatku teringat akan sosoknya yang bercelemek putih dengan kedua tangannya memegang baskom aluminium dan pengocok telur. Aroma yang keluar darinya bukanlah aroma maskulin pada umumnya, tapi aroma manis roti, bubuk vanili, dan kayu manis. Andai saja aku berani untuk pergi bersamanya waktu itu. Andai saja aku tidak ragu. Tapi, ya sudahlah, apalah artinya aku terus mengeluh pada masa lalu yang tidak pernah bisa kembali kumuat ulang.

Yang terpenting saat ini adalah menyelesaikan permen apel ini yang nantinya akan kujual saat perayaan malam tahun baru. Toko kami selalu mendirikan sebuah stan kecil dan menjual berbagai macam makanan manis. Tahun lalu laku keras dan aku harap tahun ini demikian.dan harapanku masih sama, jangan membuatku kecewa lagi.

Malam terus beranjak, aku sudah menata sebagian letak kue-kue buatanku ini di etalase-etalase kecil stanku. Aku dibantu oleh beberapa karyawan, sedangkan kakakku selalu melarikan diri bersama suaminya. Menyenangkan sekali, menghabiskan perayaan malam tahun baru bersama orang terkasih. Betapa membuatku merasa iri.

Setelah meletakkan nampan terakhir, aku segera berbalik menghadap lautan manusia yang memenuhi lapangan yang bila pada hari biasa hanya dipenuhi orang-orang yang tengah lari pagi, bermain sepak bola ataupun bersepada berkeliling lapangan. Beberapa orang yang tertangkap oleh mataku sepertinya sudah tidak sabar untuk menyalakan kembang api. Aku tersenyum melihatnya, mereka sebentuk keluarga yang lengkap. Ayah, ibu, dengan ketiga anaknya. Menyalakan kembang api kecil yang memercikkan api-api cantik hingga membuat si anak bungsu tertawa dengan lucunya. Kedua matanya sampai hanya tinggal segaris saja, pipinya yang tembam membuatku merasa gemas dan ingin mencubitnya.

Tanpa sadar aku ikut tertawa bersama mereka dan demi segala apa yang diinginkan Tuhan, mataku menangkap sosoknya yang berjalan santai di antara keramaian orang. Aku terpaku sejenak, mengamatinya lebih lama untuk memastikan kebenaran mataku.

Lelaki itu tersenyum dengan senyum yang sama, gesturnya, dan cara dia berjalan, itu adalah dia. Tanpa bisa dikendalikan lagi aku berjalan menuju ke arahnya, membaur bersama keramaian orang-orang yang memadati lapangan Rampal.

Aku berusaha membelah kerumunan orang dengan kepalaku terus berputar ke kanan dan ke kiri, mataku memindai setiap orang yang barangkali adalah dirinya. Aku yakin sekali kalau lelaki yang baru saja aku lihat tersebut adalah sosoknya. Aku tidak akan bisa melupakan tentang dirinya. Bagaimana bisa aku melupakannya kalau dirinya selalu saja menjadi objek yang sama dalam setiap mimpi dan lamunanku?

Aku terus mencarinya, semangatku belum putus, aku akan terus mencarinya. Yakinku terus mendukungku untuk terus melangkah mengurai setiap kerumunan yang menjejal semakin padat menginjak waktu yang semakin larut. Tentu saja, ini malam tahun baru dan dewi fortuna sepertinya berpihak, kota Malang yang sudah masuk musim penghujan kali ini hujan tidak turun seperti tahun-tahun sebelumnya. Langit malam cerah tanpa awan, bintak berkedip-kedip seakan ingin ikut menyambut pergantian tahun baru.

Kakiku sepertinya sudah pada batasnya, rasanya nyeri sekali. Keringat mengaliri dahi dan turun sampai daguku. Nafasku sesak. Mataku berubah menjadi berkunang-kunang. Aku berputar lagi melihat sekeliling. Dia tidak ada. Aku melihat sekeliling lagi. Dia benar-benar tidak ada. Dan saat aku kembali sadar aku sudah tercekam dengan ketakutanku sendiri.

Lagi-lagi aku terjebak di tempat keramaian yang dipenuhi sesak teriakan orang-orang yang gila hura-hura. Aku memutar tubuhku untuk melihat sekelilingku, semua orang-orang asing di sekitarku membuatku pusing dan mataku berair. Inilah yang aku benci dari diriku. Terlalu bodoh, naif, dan juga penakut. Lantas kalau sudah tahu seperti itu, kenapa juga harus mengejar sosok yang belum tentu benar-benar itu dirinya? Kenapa aku selalu menjadi orang bodoh yang selalu mau saja dibodohi oleh dirinya?

Seketika aku yang gampang sekali menangis ini menitikkan air mata yang sudah sejak tadi aku tunggu-tunggu untuk jatuh. Linangannya semakin deras sampai-sampai membentuk aliran sungai kecil di kedua pipiku. Aku sudah tidak tahu lagi apakah orang-orang melihatku atau tidak. Aku menangis karena merutuki diriku sendiri yang terlalu bodoh. Bagaimana bisa aku membayangkan dirinya sudah kembali ke Indonesia dan ada di sini. Di tempat di mana dirinya yang dulu akan berjanji menemuiku. Bagaimana bisa aku dengan naifnya mempercayai ucapannya yang sudah ia langgar dan aku masih tetap datang menungguinya di sini?

Tangisku semakin keras. Aku memegangi dada kiri atasku, rasanya di sini sakit sekali. Aku berdiri setengah membungkuk, ketidakbenaran ini harus aku hentikan. Aku harus melenyapkannya, aku tidak ingin terus menerus berada dalam bayang-bayangnya. Sudah cukup selama 3 tahun ini aku menjadi orang yang begitu bodoh. Aku ingin lari saja. Tapi, aku tidak bisa. Aku masih tetap membiarkan diriku seperti ini. Perasaanku tidak semudah membuat permen apel. Perasaanku terlalu rumit untuk dilepas begitu saja.

Ya Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini merindukan seseorang? Kenapa pula dirinya tidak segera datang menepati janjinya dulu? Kenapa aku selalu menjadi orang yang menunggu? Kenapa aku tidak pernah bisa melupakannya saja? Kenapa? Kenapa aku seperti ini? Kenapa?

Aku masih menangis dalam kekalutan yang aku ciptakan sendiri. Nafasku terengah-engah. Bagaimana ini? Dia tidak ada? Apa aku sedang mimpi?

Ya Tuhan, jangan biarkan ini semua kembali terulang seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku tidak kuat lagi. Aku ingin bertemu dengannya. Aku menginginkannya, Tuhan. Isakku terdengar begitu menyedihkan di telingaku.

Samar-samar aku mendengar pembawa acara mengumumkan bahwa sebentar lagi akan memasuki hitungan mundur untuk menyambut tahun baru, namun setelah itu aku sudah tidak mendengar apa-apa lagi karena fokusku sudah terpaku pada sosok bertubuh tegap yang menjulang tinggi di depanku.

Lelaki itu tersenyum, senyum hangat yang begitu kurindukan. Sorot matanya yang menenangkan dan apa ini? Dia menggunakan sweater merah buatanku dulu lalu di salah satu tangannya terdapat permen apel dengan saus karamel cokelat keemasan. Ia membelinya dari stan tokoku. Aku tahu itu karena hanya stan tokoku yang menjual permen apel. Apa itu benar-benar dia? Dia yang kurindukan? Dia yang kunanti kehadirannya?

Aku hanya berdiri diam tanpa tahu harus berbuat apa. Aku sendiri bingung, kakiku susah untuk digerakkan. Aku hanya terpaku menatapnya dengan linangan air mata yang terus mengalir. Sesak yang sedari tadi aku rasakan semakin mencekikku. Lalu entah sejak kapan dia sudah membawaku dalam dekapannya yang sudah lama kurindukan.

Aku menangis lebih keras di pelukannya. Aku mencengkram kuat sweaternya, ingin kusalurkan perasaan kesalku padanya lewat tangis menggilaku ini. Agar dia tahu, aku sudah lama sekali ingin memukulnya, menamparnya kalau perlu karena sudah berani membuatku terus memikirkannya tanpa mau tahu masih banyak yang harus aku pikirkan selain dirinya.

“Dasar bodoh, kenapa berdiri di tengah lautan orang-orang padahal tahu kalau tidak menyukainya?”

Suara berat baritonnya terdengar samar karena tenggelam dalam suara isak tangisku. Aku tidak menjawabnya, terus saja aku membenamkan wajahku pada dadanya. Menghirup aromanya dalam-dalam, aku sudah menemukan heroinku.

Aku merasakan tangannya yang besar mengusap rambutku. Aku hanya memejamkan mata, menikmatinya. Aku tidak ingin sosoknya yang saat ini tengah mendekapku berubah menjadi kepulan asap dan menghilang begitu saja. Aku tidak ingin kecewa lagi.

“Maaf, sudah membuatmu menunggu begitu lama. Aku memang sangat jahat padamu. Aku membiarkan diriku terhanyut begitu lama di negeri orang tanpa menyadari ada seseorang yang setia menungguku.”

“Sebegitu mudahnya kau mengucapkan kata maaf?” ujarku sembari melepaskan diri dari pelukannya. Kususut habis air mataku dengan punggung tanganku. Kuamati dirinya lekat-lekat, sedikit banyak dia sudah berubah.

“Apa kau marah padaku? Apa kau membenciku?” kedua matanya meredup tanpa mengalihkan pandangannya dariku. Sebenarnya orang ini tahu tidak sih dengan hatiku yang sudah remuk seperti ini karena terlalu merindukannya?

“Itu sudah pasti. Kau dengan segala janji yang kau ucapkan dulu, membuatku harus berharap setiap harinya kau akan datang, mengetuk pintu rumahku atau pintu tokoku lalu memberiku senyum hangat yang kau miliki. Tapi, apa? Semua itu selalu saja berakhir dengan kosong. Tanpa pesan atau kabar. Kau seperti tuli dan tidak punya hati. Kau…” belum selesai kalimat panjang yang ingin kuutarakan, bibirku sudah dibekapnya dengan permen apel yang sedari tadi dia bawa.

Aku menjilatinya, manis.

Aku meraih permen apel tersebut untuk kupegang sendiri. Matanya terus mengawasiku dengan senyum yang masih mengembang. Lihat, betapa pintarnya dia melumpuhkanku, melupakanku dengan segala kesakitan dan luka yang ia torehkan pada hatiku. Dengan sekejab hilang tak berbekas. Menggelikan sekali diriku ini yang begitu mudah menerima apa saja yang ia berikan padaku.

“Rasa manisnya enak sekali, melebihi buatanku.” Senyumnya mengembang, aku hanya mengerjap-ngerjapkan mataku. Apa yang dia bilang barusan?

“Sepertinya kau sudah bisa membuatnya melebihi apa yang sudah kubuat. Kau mengalahkanku.”

“Benarkah? Ini seperti milikmu?” aku tidak merasa yakin dengan apa yang baru saja dia katakan.

“Ini milikmu. Aku tidak pernah merasakan rasa manis yang begitu nikmat seperti ini.”

“Itu karena aku membuatnya dengan terus memikirkanmu.” Setengah mati sebenarnya aku malu mengatakannya, tapi terkadang bibirku ini bergerak sendiri tanpa bisa kucegah.

“Oh ya?”

“Jadi, bagaimana? Kau mau menerimaku? Apa aku sudah dimaafkan?” aku meliriknya, Ya Tuhan, inilah yang tidak bisa aku enyahkan dari otakku, senyumnya begitu menawan dan aku tidak bisa menghindarinya. Inilah yang selama ini menyusahkanku.

“…3…2…1!!”

Belum sempat aku menjawabnya tiba-tiba suara letusan terdengar di kejauhan, luncurannya bergerak ke atas lalu pecah membentuk jaring-jaring cahaya yang berwarna-warni. Dari merah, kuning keemasan, hijau sampai biru. Sepertinya kami melewatkan perhitungan mundur, ah sudahlah, nikmatinya saya kembang apinya.

Image

Malam semakin semarak dengan langit malam yang dipenuhi banyak cahaya seperti ini. Pelan-pelan aku merasakan tanganku yang bebas digenggam olehnya. Terasa hangat dan nyaman. Aku bertaruh, malam ini akan menjadi malam yang tidak akan pernah aku singkirkan dalam ingatan.

“Ryan…” panggilku lirih, entah dirinya mendengarnya atau tidak.

“Hmmm?” ternyata dia mendengarku.

“Maukah kau tetap di sini bersamaku? Jangan pergi lagi. Aku mencintaimu.” Aku mengucapkan kalimat tersebut tanpa memandang ke arahnya. Karena aku tahu kalau aku menatap kedua bola matanya, kalimat itu tidak akan pernah terucap. sembari mengulum permen apel yang masih kugenggam, aku mencoba meredam debar jantungku yang seperti ingin lari ke tengah lapangan. Aku dapat melihatnya dari sudut mataku kalau dirinya tengah membuat senyum sudut khasnya.

“Sesuai keinginanmu, aku akan melakukannya.”

“Baiklah, itu bagus.” Aku dapat merasakan genggaman tangannya semakin erat. Aku tersenyum merasakan kehangatan yang mengaliri setiap sudut tubuhku. Aku benar-benar menyukai apa yang kau berikan padaku, Tuhan. Terima kasih.

(ik)
Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku