Arsip Tag: cerpen

Ketika Anak Laki-Laki Menjadi Seorang Pria

 

Ada yang mengatakan kehidupan seorang laki-laki itu menyenangkan. Penuh kebebasan dan juga warna-warni kehidupan. Tetapi, mungkin mereka lupa bahwa seorang pria yang kata mereka begitu bebas dulunya hanyalah seorang anak laki-laki yang tidak tahu apa-apa dan hanya berpikir bahwa besok akan mendapatkan mainan baru dari ayah apabila nilai matematikanya mendapat nilai sempurna. Dan mereka mungkin lupa, ketika seorang pria yang mereka puja dengan segala kesempurnaan itu dulunya hanyalah seorang anak laki-laki yang akan menangis ketika warung Plays Station dekat rumahnya tutup atau mainan gundamnya patah karena berebut dengan temannya.

Kehidupan pria yang sebenarnya adalah penuh dengan beban dari pihak-pihak yang menekannya. Antara lain orang tuanya, saudaranya, temannya, dan saat ada di tingkat menuju menjadi seorang dewasa, istri dan mertuanya adalah tekanan baru baginya. Entah soal pekerjaan yang selalu nyambung ke persoalan gaji. Ada juga urusan keturunan dan bagaimana etikanya membantu orang tua untuk membiayai saudara-saudaranya yang masih bergelut dengan dunia pendidikan. Perihal duniawi itu yang tanpa disadari seorang anak laki-laki menjadi bebannya kelak saat dirinya menjadi seorang pria.

Jatuh cinta, tidak ubahnya dengan persoalan di atas. Hanya saja mungkin memiliki pasing grade atau taraf yang berbeda. Cinta, bukan sesuatu yang mudah untuk dipahami. Kadang dirinya seperti mendung yang hanya mengelabu di ujung langit, tetapi tidak pernah mau turun hujan yang kata mereka bilang, dia hanya sedang menunggu penuh dan malu untuk turun ketika yang dia punya belum cukup penuh.

Kata Kahlil Gibran, cinta adalah anak kecocokan jiwa. Jika tidak ada kecocokan, cinta tak bisa hadir dalam hitungan hari bahkan dalam hitungan ribuan tahun.

Memang benar apa yang dikata Kahlil Gibran dalam hal ini. Cinta membuat orang yang dalam hidupnya selalu terstruktur menjadi rancu dan kacau. Cinta bukanlah persoalan yang dapat diatasi oleh seorang diri, melainkan oleh dua orang yang bermasalah di dalamnya.

Seorang pria tumbuh dengan caranya masing-masing, ketika ditanya soal perasaannya kita tidak akan pernah tahu kapan dia akan mengatakan yang sejujurnya.

“Aku tidak akan memberi tahukan perasaanku. Kalian akan punya waktu untuk sadar akan hal itu.”

***

Sore itu hujan gerimis turun tiba-tiba. Jelas saja meski mendung sudah mengeruh dari tengah hari tadi, namun tak ada yang mengira hujan bakal turun di acara yang membuat siapa saja mengutuk untuk keluar rumah. Lain halnya dengan Calvin. Dia suka berjalan-jalan di bawah hujan gerimis, tapi tidak dengan kekasihnya. Lila, yang menganggap hujan adalah buruk.

“Apa kau ingin berjalan-jalan?” tawarnya tanpa pikir panjang saat keluar dari sebuah kedai kopi tepi jalan.

“Apa? Berjalan jalan? Tidak, hari mulai hujan.” Tegas Lila menolak ajakan Cal yang membuat cowok itu langsung berwajah masam.

“Tidak? Ini akan menyenangkan untuk berjalan-jalan saat hujan. Ini indah, bukan?”

“Tidak, tidak ada yang berharga ketika berjalan-jalan kemudian turun hujan.” Lila berkeras untuk tetap pada pendiriannya. Dengan sebelah tangannya yang kosong sementara tangan sebelahnya lagi membawa gelas kertas dengan kepulan asap, ia membuka pintu sebelah kemudi mobil hitam miliknya.

Dilihatnya Cal masih ingin berlama-lama terguyur gerimis, tidak putus asa ia menawarkan seribu madu untuk Lila jika gadisnya itu mau bermandikan gerimis dengannya. “Oh, ayolah. Kau pasti akan suka.”

“Tidak perlu. Kau akan naik atau berjalan di bawah guyuran hujan?” pungkas Lila yang membuat Cal berjalan memutar untuk segera duduk di balik kemudi.

“Baiklah, aku naik dan kau pasti akan menyesal dengan tidak menyukai hujan.”

“Terserah kau saja.”

Mobil hitam milik Lila itu pun bergerak pelan menembus gerimis yang semakin lebat. Seperti biasa Lila begitu menyebalkan hingga Cal berpikir ingin menyudahi saja hubungan mereka. Tetapi, Cal tidak akan pernah bisa menolak apa yang akan nanti Lila lakukan ketika Cal memulai ultimatumnya. Rengekkan dan sikap manja Lila pasti akan membuatnya luluh seketika. Dan itu semakin membuat Cal membenci dirinya sendiri.

Dengan begitu, Cal tidak akan pernah menjadi seorang pria. Dia seperti mendapat tekanan yang setengah ia merasa senang dan yang setengah lagi ia merasa gila dibuatnya. Dalam kamusnya saat dirinya masih bocah ingusan, mempunyai pacar akan sangat menyenangkan. Akan dianggap dewasa dan semacamnya. Lantas ketika kelas satu SMP ia berusaha mancari seorang pacar, tetapi entah dia yang terlalu bodoh atau polos. Dia hanya menjadi tukang antar dan pesuruh yang mau saja dimintai membawa barang yang katanya itu pacarnya.

Cal sangat tahu jika suatu saat nanti pasti hal yang ia risaukan akan terjadi. Ia tahu betul bahwa dalam hubungannya dengan Lila tidak akan berjalan dengan mulus. Ia tahu bahwa hubungannya dengan Lila suatu saat akan seterjal saat ini. Konsekuensi yang harus ia tanggung sangat ia pahami, hingga kadang ia merasa butuh kekuatan untuk terus menguatkannya.

“Lihatlah, kota ini sangat menakjubkan.” Dengan semangat Cal menunjuk hujan yang turun perlahan di kota hujan pagi itu.

“Kau seperti belum pernah datang kemari sebelumnya,” Lila yang begitu sinis menanggapi ocehan Cal dengan setengah hati.

“Aku tidak datang cukup jauh, itulah masalahnya. Dapatkah kau bayangkan betapa menakjubkannya kota ini dalam hujan? Hujan, pelukis, penulis, penyair …”

“Kenapa semua kota mendapatkan hujan? Apa yang indah tentang menjadi basah?”

“Kau sama sekali tidak bisa diajak membayangkan rupanya.”

Cal hanya menghela nafas setelah perdebatan kecil mereka tentang hal-hal yang benar-benar sepele. Sering kali ia dapati sebenarnya dia tidak pernah bisa menyangkal apa yang dimau dan dikehendaki Lila hingga kadang teman-temannya merasa dirinya itu seperti mainan bagi Lila.

Alasan kenapa dirinya bisa melewati masa-masa sulit itu adalah karena dirinya mencintai orang itu. Begitu polos perasaan dan pola pikirnya. Yang ia pahami, Lila juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya dan itu sudah cukup baginya.

Sebulan berlalu dan Lila sengaja datang ke acara kumpul bersama teman-temannya bersama dengan Cal. Sebenarnya dia sangat terganggu dan tidak nyaman setiap kali keluar harus bersama Cal. Entah kenapa orang tuanya sebegitu percaya dengan anak laki-laki itu. Dan jujur ia katakan, ia butuh Cal hanya untuk bisa keluar kali ini. Maka, saat tiba-tiba anak laki-laki itu bertingkah seperti punya hak atas dirinya di depan teman-temannya, itu membuat harga dirinya benar-benar dipermalukan.

“Aku harap kau tidak bertingkah sok kenal seperti tadi?”

“Apa yang membuatku menjadi sok kenal? Aku biasa-biasa saja.” Cal merasa heran dengan perkataan dari Lila yang terdengar tidak suka.

“Oh, ayolah. Kau tadi melakukannya.” Cecar gadis itu.

“Baiklah, tapi mereka, kan temanmu. Dan aku ingin mengenal mereka. Apa itu salah?”

“Tapi, tidak dengan bertingkah sok kenal seperti tadi. Aku tidak suka.” dengan sama-sama keras kepanya mereka berdua beradu pandang yang saling menekan.

“Astaga. Omong kosong macam apa ini?”

Lila menggerlingkan matanya dan menatap Cal dengan sorot mata menyudutkan, “Cal, aku pikir kau sedang dalam keadaan mood yang tidak baik. Kau harus memperbaiki ucapanmu itu.”

“Tapi, kenapa?” tanya Cal setengah frustasi dalam penekanan suaranya.

“Karena kau bersikap seperti itu dan coba kau temukan apa masalahnya.” Lila berjalan menjauh sambil menyambar gelas berisi minuman kola dan pergi entah kemana meninggalkan Cal yang masih berpikir keras tentang begitu susahnya memahami seorang wanita.

Gadis itu sadar, sikapnya terhadap Cal sudah sangat buruk. Entah kenapa dia tidak benar dalam melihat sosok Cal itu seperti apa. Dia kadang dapat melihat sosok pria di sana, tetapi lebih banyak sosok anak laki-laki dari pada sosok prianya. Ia teringat ketika awal hubungan mereka diketahui oleh teman-temannya. Hingga sekarangpun ia masih merasa malu jika diminta mengakui menjalin hubungan dengan junior beda tiga tahun dengannya.

“Oh, Tuhan! Semester dua? Kau berpacaran dengan anak kecil sekarang?” kedua temannya begitu terkejut mendengar pengakuan Lila yang tiba-tiba. Sebenarnya bukan karena tiba-tiba, tetapi karena obyek yang mereka bicarakan adalah sesuatu yang tidak pernah mereka pikirkan selama ini.

“Apa yang akan kau lakukan dengannya?”

“Apa lagi? Aku akan bersenang-senang.” Dengan santai Lila menjawab pertanyaan dari temannya itu. Senyum sudutnya muncul bersamaan dengan suara menantang. Kedua temannya ikut tersenyum mengiyakan niat Lila.

Dan ketika rasa bersalah itu diam-diam mengendap di dasar, ia berusaha tak menyadarinya. Dalam diam dan mengatur segalanya untuk tidak terjadi apa-apa, ia tahu benar bahwa sikapnya sudah membuat lelakinya itu terluka. Terluka yang mungkin ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya.

***

Seorang pria hidup dengan mengandalkan orang-orang di sekitarnya, sebenarnya. Meski ia terkesan mampu untuk melaluinya sendiri, tetapi ia lebih banyak akan bergantung ketika ia menemukan sosok yang mampu membuatnya nyaman layaknya pulang ke rumah. Seorang wanita bohong kalau dirinya mampu hidup sendiri tanpa satupun laki-laki. Karena kenyataannya ia adalah makhluk paling rapuh untuk persoalan hati. Meski seorang pria dan wanita begitu dasar sekali perbedaan di antara mereka, sesungguhnya sama saja.

Dan bicara soal perasaan wanita dan pria ada yang lebih panjang dan lebih kokoh dari pada tembok Cina. Itulah pikiran seorang wanita yang tertutup untuk seorang pria. Kenapa perempuan perlu keyakinan cinta?

Mereka bisa mencintainya dulu dan mengakuinya secara perlahan. Pria dan wanita memang unsur yang berbeda, tetapi karena berbeda itulah mereka dapat disatukan. Permasalahannya saat ini adalah ketika seorang anak laki-laki ingin menjadi pria bagi wanitanya sudah semestinya laki-laki itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan hati wanitanya. Tapi yang terjadi adalah kenapa wanitanya tidak pernah bisa melihat sedikit usahanya.

Mungkin alasan pria dan wanita telah bertengkar di usianya adalah karena mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda. Untuk menjadi orang baik, seorang pria harus menangkap setiap kata dan setiap ekspresi wajah yang ia buat. Kita semua berkencan dengan alien.

“Kau bertingkah seperti pria macho. Kulihat kau masih bertingkah seperti anak kecil. Kau memang anak kecil.”

“Aku tahu apa-apa yang aku lakukan. Kenapa kau tidak pernah bisa untuk menghargainya?”

“Cal, kau ini masih anak kecil. Kau tidak tahu apa-apa tentang duniaku. Lebih baik kau pulanglah dan belajar untuk pre-testmu besok. Bukankah matakuliah itu sangat kau benci?”

“Kenapa kau suka sekali mengata-ngataiku anak kecil? Umurku sudah 20 tahun.”

“Baru 20 tahun dan aku lebih tua tiga tahun darimu. Meskipun kita berpacaran jangan lupakan fakta itu.”

“Kenapa masalah umur di sini begitu dipusingkan? Memang apa salahku dilahirkan telat tiga tahun?”

Selalu begitu, apakah semua wanita yang berumur tua dari pasangannya akan selalu berpikir negatif tentang pasangannya? Apakah dia tidak bisa melihat bahwa dewasa itu tidak dipandang dari perbedaan umur? Padahal wanita itu adalah jenis manusia yang berapapun umurnya tidak ada bedanya sama sekali.

Bukankah pernah ada yang mengatakan bahwa cinta itu murni tanpa perlu apa-apa. Cinta tumbuh karena rasa ingin menyayangi, tetapi cinta tidak pernah membebani siapa-siapa, karena dirinya memang sesuatu yang ada sejak manusia ada. Lalu apakah kadar cinta juga berpengaruh dalam sebuah hubungan? Di mana seorang wanita dan pria akan berkontribusi di dalamnya. Cal selalu bertanya-tanya mengapa memahami seorang wanita begitu mempersulit jalannya menjadi seorang pria sejati?

Ketidakwajaran hubungan antara dirinya dan Lila memang sering kali membuatnya harus berpikir ulang apa yang seharusnya terbaik bagi mereka. Dan Cal berharap ketika keputusan sudah ia dapatkan, ia ingin mempercayainya juga yakin tanpa perlu bertanya-tanya lagi. Karena sepertinya ia sadar bahwa usahanya untuk bersikap dewasa memiliki banyak cobaan yang mengharuskannya tegar dan sabar.

***

Hari itu mendung, langit tak merona sama sekali. Aku membawa payung seperti biasa, kebiasaan yang Bunda ajarkan ternyata berguna. Sudah hampir setengah jam aku menunggu di taman dekat tempat tinggal, tapi sepertinya gadis itu ingin sedikit menguji kesabaranku. Aku kenal siapa dan bagaimana sifatnya. Maka, aku terus menunggu sampai suara langkah kakinya akhirnya terdengar dan seperti malu-malu untuk segera mendekat dan duduk di sebelahku.

Ia hanya diam tanpa memancarkan ekspresi, terkesan dingin dan tak acuh. Aku tahu ini pasti buruk. Karena memang sebenarnya aku yang memulai suasana buruk. Aku ikut berdiri sejajar dengannya, menghadap dan menatap lekat wajah oval kuning langsat itu.

Tetap tak ada suara dari kami berdua. Aku yakin sekali bahwa jauh di dalam batinnya ia sedang menggerutu tak senang, apalagi hari sebentar lagi hujan. Aku tahu dia tidak menyukai hujan. Aku biarkan dia sampai bosan. Biar saja bosan karena aku sengaja melakukannya, mungkin ini adalah satu-satunya cara terakhir untuk menggodanya.

Terlihat dia memainkan sepatunya, menghentak sedikit dan mendecakkan lidahnya kesal. Aku tersenyum saja tanpa perlu menanggapinya terlalu jauh. Hingga akhirnya ia melontarkan kata itu. Perasaan kesal, jengkel dan semacamnya. Pertahanan dirinya goyah, ia mendesak untuk segera menyelesaikan masalah ini dan aku punya solusi yang sangat tepat untuk kami berdua saat ini.

“Maafkan aku, Lila. Aku sudah tidak bisa lagi untuk jadi orang yang kau sandari. Hubungan kita sudah cukup sampai di sini. Kita lebih baik berteman saja, bagaimana?” dengan sangat jelas dan lancar akhirnya aku bisa mengutarakan apa yang ingin aku sampaikan selama ini padanya.

Wajahnya memaling ke arahku setelah berapa kali mencoba menghindar. Matanya membulat sempurna. Ahh, mata kesayanganku.

Ia mendengus kesal, “Berteman? Kau bercanda, ya? Tidak ada namanya laki-laki dan wanita berteman.”

“Itu mungkin benar, tapi percaya pasti ada sosok lain yang bisa mendampingimu nanti. Maafkan aku, Lila.”

Aku bisa melihat wajah terlukanya saat aku ingin akhir dari hubungan ini. Aku bisa melihat titik air mata yang akan segera keluar dari pelupuk matanya. Dan aku bisa tahu bahwa nuraniku berat untuk melihatnya. Tapi, aku harus membalikkan badan dan melangkah menjauh dari dirinya. Semakin lama aku melihatnya akan semakin tidak baik dan berakhir tanpa hasil apa-apa. Karena aku tidak mau terlihat seperti anak laki-laki lagi di depannya. Aku harus pergi dari hadapannya sebagai seorang pria.

Seorang pria yang mampu menguatkan diri dan orang-orang sekitarnya. Seorang pria yang tidak akan lemah hanya arena perasaannya. Saat menjadi seorang anak laki-laki banyak luka, tawa, canda, dan cinta yang aku dapatkan. Saat ini pun aku juga ingin mendapatkan banyak rawa, canda, dan cinta meski luka pasti ada. Seperti di awal aku ingin menjadi seorang pria, luka melihat orang yang dulu begitu kita cintai terluka, luka itu ada. Samar-samar memang mengganggu, tapi keyakinanku bulat, luka itu tidak akan apa-apa. Karena ketika kita tumbuh melalui rasa sakit, itulah bagaimana anak laki-laki tumbuh menjadi seorang pria. (ik)

Iklan

Sempurna Itu Luka

Orang sempurna bukanlah satu-satunya yang selalu mendapat apa yang ia inginkan. Orang sempurna adalah tempat cacian bahkan kritikan mampir kepadanya. Menjadi orang sempurna seperti menjadi orang yang terhina. Bukan perkara apa-apa, hanya saja kata sempurna seperti kutukan yang tidak mau lepas sebelum sempurna itu hilang dari jagad raya.

Mungkin begitu dengan Hanny, seorang putri tunggal dari keluarga cukup kaya. Urusan penampilan dari ujung rambut sampai ujung kaki tidak perlu dipertanyakan. Masalah pergaulan dia merupakan sosok yang cukup terkenal. Otak begitu cerdas dan prestasi juga kesana kemari pun ada.

Tetapi, membayangkan kalau setiap hari harus mendengar ocehan juga celaan, bahkan sindiran dan semacamnya terlontar begitu saja kepada diri kita. Apakah ada kesabaran seseorang bisa tetap mempertahankan emosi mungkin mental untuk tetap stabil?

Aku rasa tidak. Hanny, dia tertekan di mana-mana dan sekali lagi dia bukan orang yang sempurna. Telinganya mungkin sudah bernanah, berdarah berkali-kali kalau gunjingan, celaan, dan hinaan yang ia dapat diibaratkan pisau belati atau garpu yang ujungnya tajam. Usahanya tak kunjung tampak dengan mencoba tersenyum pada sekelompok orang yang jelas-jelas memperlakukannya sebaliknya. Mungkin belum terjadi, tetapi ia tetap tersenyum, meski malam sebelum tidur tangisnya juga sampai 3 ronde pun belum cukup.

“Hanny, ngapain kamu disini? Sudah pintar tidak perlu belajar, nanti kami tersaingi dan guru akan meningkatkan standart penilaiannya kalau sampai kamu dapat nilai A lagi.” Ujar salah seorang teman yang di hadapannya terdapat setumpuk buku-buku tebal dan buku tulis yang terlihat sudah penuh dengan catatan.

“Tenang saja, aku hanya akan mengembalikan buku lalu pulang.” Balas Hanny dengan nada kalem.

“Baguslah,”

Setiap hari pujian datang sebanding dengan gunjingan yang ia dapatkan. Ia tidak mengerti kenapa menjadi seorang dia terlalu rumit berbaur dengan sesama. Mungkin mereka iri juga dengki. Tetapi, apa hal semacam itu dibenarkan?

“Jangan suka cari muka! Pergi sana!”

“Mau cari sensasi lagi? Mau pamer kalau populer?”

“Jangan sok. Cantik bukan milikmu sendiri, kaya dan pintar apalagi.”

Dengungan-dengungan yang menyesakkan telinga, membuatnya terpuruk jauh dan tenggelam dalam keruetan yang menjalar bak akar tanaman yang suka sekali menjegal kaki. Hatinya sesak, pilu. Teriakpun sama saja, matipun percuma. Dia ingin lari juga pergi. Lenyap kalau bisa.

“Tidakkk!!” batinnya terkoyak. Tak bisa dipungkiri ia sakit hati.

Tetapi, hatinya yang berlinang tak ingin malang. Ingin jiwanya unjuk diri bahwa dunia masih ada untuk dirinya. Tak dipungkiri, ia masih ingin berdiri. Tak tahu lagi hujatan seperti apa yang ia dapat setelah ini. Karena ia ingin mandiri, ingin kuat bak belati yang tajam dan penuh nyali.

Dirinya selalu dikuatkan oleh orang tuanya, kendati mereka jarang sekali berada di rumah. Masih ada guru-guru yang senantiasa memberi perlindungan. Tak jarang Hanny begitu dekat dengan gurunya dari pada kedua orang tuanya.

“Abaikan saja, jangan menghiraukan orang-orang yang iri padamu.”

“Iya, Bu.”

Fatal terjadi ketika waktu jam istirahat berakhir. Ada seseorang yang menyuruhnya untuk pergi ke dekat kamar mandi lantai 3 dengan alasan ada yang ingin dibicarakan. Tapi, yang terjadi adalah dirinya dikunci selama seharian dan selamat pada keesokan harinya. Ia menangis tersedu dan mengadukannya ke guru BP.

Orang tuanya sempat mencarinya dan mendapat laporan kalau anak semata wayangnya terpaksa menginap di sekolah. Geramnya orang tua Hanny membuat teman-temannya menciut nyalinya. Mereka seperti tersadar bahwa tindakan mereka sudah berlebihan. Etika moralnya perlu dipertanyakan. Benar-benar,sekali lagi Hanny bukanlah orang yang sempurna.

Sesampai di rumah, kedua orang tua Hanny berbincang. Memutuskan untuk memindahkan putrinya ke tempat di mana tidak ada diskriminasi yang didapat oleh putrinya. Demi kebaikan mental juga masa depannya.

“Papa ingin kamu pergi. Pergi untuk menjadi orang hebat, bukan pergi untuk menghindar.” Papa menatap lekat putrinya yang sayu matanya.

Tak ada kata-kata lain selain senyum rindu. Mungkin sedikit banyak Hanny merasa rindu pada perhatian kedua orang tuanya. Jika karena masalah ini ia mendapatkan perhatian orang tuanya, tak jadi soal kalau ia harus merana.

Malam itu juga tawaran kedua orang tuanya ia amini. Berkemas cepat tanpa perlu membawa seisi rumah. Tak lupa ia menulis surat untuk semua yang pernah memberinya perhatin, dari pujian sampai sindiran. Ia tulis dengan bahasa yang sopan dan bersahabat. Menggunakan kertas berwarna pirus beraroma kertas biasa. Kemudian ia sematkan fotonya yang saat itu menjadi peraih juara pertama olimpiade sains. Senyum merekah saat itu didampingi teman dan juga guru.

Ia titipkan kepada pesuruhnya untuk pagi-pagi sekali dikirim ke meja redaksi mading sekolah. Secepat kilat perintah sang papa, secepat itu hari berganti. Tiket berada di tangan, siap mengangkasa di akhir hari nanti.

Langit sore menjingga sempurna, ada semburat kelabu sisa mendung kemarin yang tidak habis luruh bersama hujan yang baru tadi pagi mereda. Ruang tunggu ramai lalu lalang calon penumpang dengan tentengan barang bawaan. Hanny berada di antarnya. 15 menit lagi sebelum take off, dirinya masih menunggu untuk kesekian kali kepada mereka yang dulu pernah membencinya.

Ingin berpamitan secara langsung, tetapi tak ada waktu baginya untuk sekadar beramah tamah. Kemarin juga sebuah surat sudah ia layangkan ke pengurus mading sekolah. Barangkali tadi pagi surat itu sudah terpasang dan ramai dibicarakan sampai saat ini. Isinya ia izin pamit untuk meniti pendidikan yang lebih tinggi di negeri orang. Bukan ingin pamer, tetapi ia ingin bertemu banyak orang yang mungkin tidak akan memandang ia sempurna, melainkan seseorang yang perlu belajar lebih banyak dan seseorang yang tidak pernah bisa sempurna mengalahkan Tuhannya.

Jujur sakit hatinya belum reda, ia merasa sempurnanya tidak ada arti yang mungkin dapat ia gunakan untuk memotivasi orang lain. Malahan ia mendapat motivasi dari mereka yang mencibirnya. Keanehan macam apa yang ia pikirkan, menganggap semua cobaan menjadi semacam adu mental tahan apapun.

Senyumnya terbit meski senja sudah luruh berganti petang. Suara bising mesin dan avtur yang telah berada di tangki mengantar Hanny siap mengangkasa petang itu juga. Mengubur semua luka dan membuang semua sempurna. Ia bukan apa-apa, ia akan menjadi orang serba bisa dan kuat bak metal baja.

(ik)

Rahasia Hati

Kemarin seperti halnya hari ini. Cerah tanpa ada ramalan turun hujan. Kesibukan setiap orang memuncak di penghujung hari untuk mendapatkan akhir pekan yang sempurna. Di hari yang cerah ini, masih ada yang meniti nasib dengan sembunyi-sembunyi. Mungkin juga secara blak-blakan menyadurnya begitu saja. Hingga tak paham rasa sakit yang dimiliki orang lain.

Siang itu segerombolan manusia dari segala penjuru arah menyerbu kantin kampus yang sudah dipadati mahasiswa yang memiliki tujuan yang sama setelah dari pagi bergulat dengan diktat dan materi presentasi ataupun bahan-bahan praktikum. Salah satu meja yang terletak di tengah puluhan meja lain ditempati 4 mahasiswi yang sedari tadi meributkan sesuatu yang membuat perhatian orang-orang di sekitar teralih pada mereka. Tawa berderai diproduksi dari mereka berempat. Membicarakan hal-hal yang hanya mereka yang tahu. Tanpa ada tanda-tanda apapun, hari ini akan jadi hari panjang untuk salah satu dari mereka. “Oke, semuanya. Aku punya pengumuman,” Olla, gadis berhijab biru tua dengan dandanan casualnya memecah tawa mereka untuk sesuatu yang selama ini ia pendam sendirian. “Pengumuman apa?” sahut Sanny penasaran. Dengan mata berbinar-binar dan senyum yang tak putus-putus, ia buka sedikit rahasianya, “Aku lagi suka sama seseorang.” “Benarkah? Aku juga lagi suka sama seseorang.” rasa terkejut sekaligus tertarik membuat Riyani salah satu teman Olla ikut mengungkapkan rahasianya. Keduanya saling bertatapan tidak percaya dan tertawa bersamaan pada akhirnya. Teman-teman mereka menunjukkan wajah penasaran dan ingin tahu lebih lanjut. “Jadi, siapa yang akan bicara duluan?” Erta bertanya pada keduanya dengan sekali tusukan bakso yang tinggal seperempat itu masuk ke mulutnya. “Kau duluan saja Olla. Kau kan tadi yang pertama bicara,” tanpa mengurangi rasa hormat, Riyani mengalah. “Tidak, kau saja Yani.” Tetapi, Olla memilih menjadi orang kedua dan bisa jadi itu fatal akibatnya. “Hmm, baiklah.” Senyumnya kembali terbit dan tidak bisa dipungkiri, ia begitu senang mendominasi temna-temannya. “Jadi teman-teman. Aku… suka dengan teman sekalas kita,” “Siapa?” Erta kembali tak sabar. “Galang.” Satu nama keluar dari bibir Riyani, “Aku suka sama Galang, teman-teman.” Terurailah nama itu sekali lagi dan seketika wajah gadis itu memerah malu bak tomat ranum. Namun, bukan main terkejutnya Olla setelah mendengar pernyataan Riyani tentang siapa gerangan yang gadis itu sukai. Bukan perkara siapa yang berhak menyukai Galang, tetapi kenapa harus Riyani yang juga sahabatnya. Sudah begitu Riyani terihat begitu senang sekali saat mengungkapkan hal tersebut, sehingga membuat Olla semakin menciutkan nyalinya sendiri unutk mengungkapkan siapa yang ia sukai. Karena sudah jelas, ia juga menyukai Galang. Nama itulah dan dengan tujuan yang sama ia awalnya ingin mengungkapkan perasaannya. Galang Mahendra, lelaki yang didaulat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil dan memiliki senyum kharismatik itu telah membuat Olla yang notabene adalah seorang perempuan dengan kepribadian tomboy dan suka ribut di manapun dia berada menyukainya lebih dari yang ia ketahui. Suatu kemustahilan memang untuk mampu membuat seorang Galang berbalik menyukainya. Riyani jelas lebih unggul darinya. Dengan gaya yang dimilikinya, dia lebih mungkin untuk menarik perhatian seorang Galang. Saat teman-temannya kembali mempertanyakan siapa orang ia sukai, dirinya hanya tersenyum, kemudian mengalihkannya dengan nama seseorang yang begitu saja terlintas di pikirannya. Tetapi, hal tersebut didahului Sanny yang juga nampaknya mengetahui betul siapa yang akan digagas oelh Olla. “Jangan bilang, kau menyukai Habib? Dia begitu getol mendekatimu, kan.” “Yah, begitulah.” Hanya itu dan gendikan bahu serta senyum masam yang terpaksa ia terbitkan. Selanjutnya berita tentang Riyani yang menyukai Galang tersebar cepat di kalangan teman-teman sekelas. Tentu saja itu tidak terlepas karena memang mulut besar Riyani-lah yang membuat hal itu menjadi demikian. Tersudut juga perasaan Olla yang tidak pernah ada penyampaian. Ngilu hatinya saat tahu bahwa Riyani dan Galang menjadi semakin dekat semenjak berita itu tersebar. Tidak ada yang pernah tahu apa yang dirasakan Olla, hingga dirinya lambat laun berubah menjadi sosok yang pendiam dan menjadi orang yang tidak lagi bisa nyaman, jika membicarakan masalah Galang yang tiba-tiba hinggap dipercakapan mereka berempat. Bulan saja memiliki bintang untuk terus ada di semestanya. Kenapa tak ada yang mengasihi perasaannya? Sepanjang 3 semester berlangsung dengan sangat tidak nyaman, tetapi Olla berusaha untuk beradaptasi secepatnya. Dirinya tidak ingin teman-temannya mengetahui keterpurukannya. Ia berusaha menjadi Olla yang seperti mereka kenal. Tak memiliki beban berarti yang membuatnya tak berdaya. Tetapi perlu diketahui, meski dirinya yang paling jarang menangis dan mengeluh di antar teman-temannya. Dirinyalah yang sering kali merasa sakit dan mengabaikannya begitu saja. Setiap kali mengingat Galang, yang terlintas di pikirannya adalah saat lelaki itu bersama sahabatnya. Meskipun dirinya sendiri memiliki kenangan bersama Galang, tetapi rasa cemburu membuatnya melupakan hal tersebut. Hingga suatu hari Sanny datang ke rumah indekosnya. Di sana gadis itu mendapat Olla yang bukan Olla dan sebuah kesadaran baru terlintas di pikirannya. “Kau tidak sedang patah hati, kan, La?” “Kata siapa? Tentu tidak,” menghindar bukanlah kebiasaan Olla dan Sanny langsung menyadarinya. “Jangan bohong. Kau juga menyukai Galang, kan?” tebakkan Sanny begitu tepat dan menjadikan Olla tergagap sebelum akhirnya mampu ia kilah kembali. “Kau ini bicara apa sih?” “Kau pasti selama ini menahannya? Kau pasti sakit hati. Iya, kan?” “Kau ini bicara apa? Aku tidak punya perasaan apa-apa pada Galang. Jangan mengada-ada.” “Jika benar demikian, kenapa sikapmu berubah dingin kepada Riyani? Kau jadi terlihat seperti orang terkena iritasi setiap Riyani bercerita soal Galang.” “Hanya perasaanmu saja.” Olla tetap pada pendiriannya, takkan ia mengakui perasaannya begitu saja yang percuma. “Baiklah kalau kau memang belum mau jujur. Tapi, aku bisa jaga rahasiamu itu. Tenang saja.” Dan pembicaraan tentang Galang pun terputus begitu saja tanpa ada yang mau melanjutkan. Olla menyadari dirinya tidak akan mungkin bisa terus menghindar dari teman-temannya. Tetapi, yang terjadi adalah dirinya seperti lepas kendali dan pada akhirnya akan seperti keadaan semula yang tidak pernah ada dalam agendanya. Di tengah hiruk pikuk dan kusut masai hati dan pikirannya, sebuah kabar beredar bahwa Riyani dan Galang tidak lagi bersama. Memang mereka tidak pernah mengungkapkan dan mendeklarasikan bahwa mereka saling menyukai, tetapi yang membuat terkejut adalah Galang baru saja memiliki pacar dan demikian juga dengan Riyani. Dan perlu dipertegas, mereka memiliki kekasih masing-masing bukan saling memiliki sebagai kekasih. Lucu benar ia dipermainkan nasib juga keadaan. Tawanya berderai hingga air matanya tumpah tak sengaja. Bagaimana bisa… bagaimana bisa ini semua terjadi? Apakah ini karena ia terlalu takut mengatakannya, hingga buruk sangkanya begitu alot untuk meninggalkan kewarasannya? “Olla? Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Galang suatu hari di jam kuliah sore. “Ah, tidak. Aku tidak sedang menatapmu. Jangan kege-eran ya,” cebik Olla dengan wajah sedikit memerah malu. “Oh, benarkah? Baiklah kalau begitu.” Senyum Galang masih menjadi nomor satu bagi Olla dan hal itu adalah penyakit menular baginya. “Akhir pekan ini kosong tidak?” “Eh? Tidak ada sih. Ada apa?” “Ikutan paralayang dengan anak-anak HMJ yuk, aku yang traktir deh.” Tiba-tiba jakan itu muncul begitu saja, perlu dicatat saat ini Galang masih bersama kekasihnya yang entah siapa itu namanya. “Wah, sepertinya menarik, tapi dengan anak-anak HMJ. Apa tidak masalah?” “Kenapa tidak? You come in?” “Of course,” sahut Olla tanpa pikir panjang. Dan begitulah, di akhir pekan Galang bersama dengan teman-teman HMJnya mengajak serta Olla untuk bermain paralayang bersama. Tidak terkejut juga bahwa Galang mengajak Yaya, kekasihnya, pun ikut. Dengan sangat tidak nyaman untuk kedua kalinya, Olla berusaha menikmati permainannya. Ia tidak ingin pikiran negatifnya merusak suasana baik hatinya yang tengah merasakan permainan menyenangkan dan graris pula ini. Dirinya tahu, tak ada lagi kesempatan tersisa jika ia tetap diam seperti ini, tetapi memang itulah yang ia inginkan. Tak ada kata yang perlu ia ucapkan.yang ia tahu dan inginkan adalah hatinya berhak memilih siapa saja yang memiliki hatinya. Tak perlu ditentukan dan dipastikan. Ia yakin hatinya tidak pernah salah. Jadi, meskipun matanya iritasi melihat keduanya bermesraan, tetap saja senyumnya terkembang begitu saja. Mungkin dirinya sudah memaafkan dirinya sendiri juga menerima apa yang perlu ia terima. Tak perlu ada yang disesalkan, karena memang hal yang saat ini ia butuhkan adalh semangat untuk bertemu hal batu lainnya tanpa meributkan hal-hal yang membuatnya tak dapat mengenaliku sendiri. Jika pertemuan adalah hal untuk saling berbagi hati Jika pertalian adalah hal untuk saling memahami hati Bukan inginku untuk memiliki lebih Tetapi malah relaku untuk memberikan punyaku dimiliku olehmu Sampai kapan mungkin aku tak tahu waktu Kalaupun kau tak sanggup untuk membawa bersamanya lebih lama Kembalikan saja ke tempat dimana kau amil sebelumnya Jika memang tak ingin memiliki, jangan coba-coba untuk menggodanya Karena tak ada yang mampu menggodanya di sini selain kau seorang… Puisi “Hati sang Pemilik” oleh Iklima “Aku ingat, kau tak ingin bilang apa-apa padaku jika kau suka pada Galang. Aku sekarang tahu alasannya,” ujar Sanny pada suatu jingga yang memerah dengan sempurna jika awan mendung itu tang menghitam dengan sangat buruk. “Jika kau tahu alasannya, mungkin juga aku tak perlu mengatakannya lagi. Tapi, ada sedikit kesalahan di kalimatmu.” “Bukannya aku tak ingin Galang tahu aku menyukainya, hanya aku tak ingin dia tahu bahwa dirinyalah yang telah memiliki hatiku selama ini. Bukankah itu yang lebih penting?” “Ya, kau benar.” “Aku tidak akan mengharapkan hadirnya di sisiku, jika memang bukan itu keinginannya. Aku juga tidak akan berharap dirinya akan berpikiran demikian. Bagiku, cukup menyukainya adalah sebuah pilihan. Aku bukan penggemar rahasianya, karena memang tak ada niat untuk menjadi seorang penggemar rahasianya. Jika ia tahu nanti entah kapan yang perlu ia tahu hanyalah, dirinya memiliki hatiku yang tak akan ia dapatkan jika selamanya tak ada pernyataan. Tetapi, memang cukup begitu saja. Tak perlu ada yang tahu lagi. Cukup aku dan Tuhan yang tahu. oh, mungkin juga Sanny yang menebak tepat tanpa aku iyakan sebelumnya. Cukup rahasia ini aku yang miliki dan hati ini dia yang miliki. Tak perlu ada ungkapan, karena aku percaya suatu hari nanti ada yang lain untuk mengisinya lagi.”

(ik)

Melepas Ragu dan Rindu Pada Angin

Kutuklah aku yang selalu berharap mampu menggetarkan bumi untuk lebih menyayangiku. Inginku hanya satu, tak ingin sepi dan mati sendiri. Jika memang Tuhan berkehendak lain, bisa jadi aku akan menerima apa yang Ia tuturkan. Tetapi, sedikit saja aku boleh berharap. Tolong jangan biarkan aku membenci angin yang sudah kuanggap kekasih sejati sepanjang hidupku.

Aku tak berumpun. Adapun sanak saudara yang tersebar di sekitar sana, tetapi berdiri berjauhan seperti ini bak ayam kehilangan induknya. Setiap sore harus sedikit meringis kesakitan apabila usia telah matang dan angin lembah turun untuk sekadar mendinginkan sekitar.

Belajar ikhlas setiap hari, belajar lapang untuk melepas sesuatu yang telah pergi.

Tak apa juga hal itu terjadi, karena nantinya aku akan tumbuh lagi untuk mengantar mereka yang ingin pergi dan mencari penghidupan yang baru dan mungkin tidak di sini. Hak mereka ingin pergi, juga memang bukan salah angin ketika tak berniat menerbangkannya. Hanya saja, kehilangan sesuatu yang berharga merupakan perihal yang sama sekali berbeda. Kuatkan hati untuk tak rubuh sebelum usia benar-benar habis termakan cuaca.

Aku tak setajam duri mawar ataupun kaktus padang pasir. Aku sosok yang rapuh meski pujian cantik nan anggun selalu tak kalah pamor dengan Bulan yang mekar mewah dan terjual mahal. Aku murahan, tak ada yang bisa memeliharaku. Tidak mungkin memang, karena siapa yang akan sudi dengan aku yang memang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan?

Dulunya aku seorang perindu pada sosok yang terbang melayang dan sesekali turun ke bumi tandusku untuk memberi senyum yang ibarat air, ia lebih dari sekadar zam-zam. Ia begitu agung dan sempurna jika dibandingkan dengan aku yang lugu dan tak berwarna.

Rinduku begitu menggebu hingga tak tahu malu. Kupoles diriku dengan warna dadu, tetapi hujan meluruhkan seluruh pesonaku. Membuatku pucat pasi tanpa seri. Demi Tuhanku, aku membencimu, hujan. Tetapi ia hanya menyeringai tanpa merasa berdosa.

“Kau ingin berdandan untuk siapa? Memang ada yang tertarik padamu?”

Kenapa bisa ada makhluk seperti dirinya di dunia ini? Tawanya semakin menjadi-jadi. Entah kapan susut semua tangis karena tertawanya yang keras itu. Angin datang setelahnya, begitu kacau balau seakan dirinya saat ini bukanlah sosok yang aku kenal dan kusimpankan rindu yang setiap hari kuberi.

Barangkali seharian digempur hujan dan ributnya angin yang tengah gundah. Aku bergegas mengeringkan diri dengan sinar mentari yang hangat untuk sekian kali semenjak aku bernyawa. Tetapi, aku tersadar tak ada banyak waktu untukku berkeluh kesah. Usiaku sudah berada pada ujung jemari kucing liar.

Bulu-buluku telah mengering, ia bergoyang ringan saat angin yang kukenal dan kurindukan datang menyapa. Aku belum siap, masih perlu menunggu. Kalau perlu jangan dulu. Aku ingin bersama kekasihku untuk waktu yang lebih lama. Aku masih ingin berbagi rindu padanya.

Tapi sebuah kesadaran baru bermunculan di benakku. Rinduku terlalu membuat kantongku penuh. Pori-pori tubuhku terbuka penuh, melepas seluruh rindu dan ragu yang aku simpan untuk angin yang setia bersamaku. Membawa pergi seluruh hidupku kemanapun ia pergi, kemudian menempatkanku di tempat yang baru.

Rumpunku layu, kemudian tumbuh saudara baru. Bisa jadi ia bakal tenggelam ke bumi atau tetap berada di permukaan. Yang aku tahu aku jatuh lalu bertemu bumi kembali. Mencari hara yang selalu memberiku makan dan nutrisi yang berguna. Kemudian mencari batu untuk menguatkan akar-akarku. Dan lagi mencari angkasa serta angin baru yang mau kujadikan naungan dan kekasih baru.

***

Namanya Satya, orang pertama yang mengatakan padaku bahwa akulah makhluk yang paling cantik. Dia menemukanku sendirian dan terisolasi. Setiap harinya ia datang memberiku air dan makanan. Bayangkan hari-hariku ke depan, begitu menyenangkan karena aku tidak akan sendirian lagi dan merasa bahwa dunia sedang kejam padaku. Dunia sedang sayang padaku.

Satya, lelaki yang manis meski tak rupawan. Matanya yang setengah menyipit dengan dagu lancipnya itu diam-diam telah membuatku ingin memilikinya. Bahkan saat dirinya pernah membawa gadisnya kemari untuk sekadar melihatku, aku tak sudi Satya dimiliki oleh orang lain selain aku. Aku berani bersumpah, jangankan untuk tersenyum, melihat gadis itu tersenyum pada Satya di depanku pun aku tak mau.

Semenjak hari itu Satya menjadi sering datang bersama gadisnya untuk menemaniku. Aku rindu Satya yang datang sendiri kepadaku. Aku rindu Satya yang hanya melihatku. Aku benci pada gadis yang bergelayut manja di lengan pujaanku.

Hingga sore itu tiba, Satya maupun gadisnya tidak tampak seharian. Cemasku kemana-mana. Doaku semoga tak terjadi apa-apa. Tapi, tak berlangsung lama tenangku terusik dengan dengungan suara aneh yang jarang kudengar. Kemudian aku mendengar suara Satya. Ia seperti sedang memburu dan perintahnya tegas juga sarat penekanan. Aku bingung, ada apa? Apa yang terjadi.

Pertanyaanku terjawab sudah, ketika dinding batu bata di sebelahku rubuh dan hampir menimpaku. Aku kaget setengah mati. Aku tahu selama ini aku berada di antara rumah tua yang katanya siap dipugar kembali. Tak tahu kalau itu adalah saat ini.

Satya terlihat mondar-mandir, sesekali dapat kulihat gadis yang dulu bersamanya juga turut serta. Semua orang yang ada di sana memakai helm pelindung warna putih pucat. Terlintas pikiran buruk di kepalaku. Dan benar saja, untuk pertama kali Satya menatapku dengan sorot begitu dingin. Tak pernah kurasakan dia seberbeda itu. Aku tak mengenalinya.

Dan saat benak terus bertanya-tanya, aku merasa ragaku ringan. Aku ingat angin sempat berhembus pelan kemudian riuh di sekitarku. Aku merasa terbang dan juga kosong disaat bersamaan. Ada apa? Apa yang terjadi padaku?

“Maafkan aku,” samar-samar suara berat Satya mengalun di telingaku.

Tangisku pecah saat itu juga, sesak yang ada di dada begitu kentara. Hingga hanya menutup mata dan meremas urat nadi yang kini bisa kujadikan pelampiasan. Aku tahu selama ini dia ada bersamaku, tetapi aku juga tahu selama ini dia juga mengasihaniku. Sungguh aku bukan hal yang pantas untuk dirindu. Kepada bumi aku ingin mati saja. Kepada angin aku ingin hilang saja.

(ik)

Bertemu Sahabat

Dulu, aku punya banyak teman, bahkan sahabat pun kumiliki. Dan bisa dibilang pacarpun juga, tidak usah ditanyakan. Sahabatku, mereka yang paling dekat denganku, selalu ada untukku. Kapanpun. Namun itu terjadi dulu, dulu sekali. Saat semua masih berada di tempatnya masing-masing. Sebelum semua berubah menjadi tak terkendali tanpa dapat bisa dihentikan.

Pepatah bilang, roda kehidupan sedang berputar merubah posisi nyamannya menjadi posisi yang tidak nyaman, sejauh ini bagiku. Ya, siapa yang bakal mengira seseorang sepertiku harus menjalani sebuah takdir yang terjadi seperti di drama-drama tv, di novel-novelpun demikian. Secepat kilat memporak-porandakan kehidupan mewah nan antah berantah menjadi sedekil kisah si upik abu. Cerita dongeng. Tidak bombastis, cenderung klasik atau bahkan klise. Tapi, inilah yang terjadi saat ini. Yang mungkin bakal mudah ditebak alur ceritanya, tidak memiliki kejutan-kejutan yang super mendebarkan.

Aku memang tidak punya cerita yang seperti itu. Yang mendebarkan, yang membuat orang berdecak histeris penuh rasa penasaran sampai ubun-ubun. Jelas tidak. Aku tidak membutuhkan cerita tipe seperti itu untuk menjungkir balikkan kehidupanku. Cukup yang klise dan mudah ditebak seperti ini saja rasanya aku sudah tidak sanggup hidup. Kau tahu, aku tidak suka. Tidak sanggup. Dan satu yang kutekankan di sini, ini tidak menyenangkan dan ini sangat menyebalkan.

Lihatlah, rumah megah yang dulu bagaikan istana yang kutinggali bersama kedua orang tuaku dan kedua kakakku sekarang luntur pesonanya menjadi rumah dengan luas sepetak di sebuah perkampungan yang tidak jauh dari kompleks perumahan rumah mewah dan megahku dulu. Halaman yang tidak seluas halaman yang dulu. Hanya berisi bunga melati dan kenanga tidak seperti dulu yang berisi mawar, lili, anggrek dan berbagai macam bunga yang indah dan menawan lainnya bila dibandingkan melati dan kenanga tentunya.

Dinding kamarku yang bercat putih kusam dengan sedikit bercak kuning dan fosil nyamuk yang mati ditimpuk oleh sesuatu yang keras yang mengakibatkan dia mati dan menempel di sana cukup lama, bercak darahnya pun masih. Astaga, dan lihat sekarang, sekolahku. Ya, aku pindah sekolah, bersama-sama dengan orang-orang kalangan menengah ke bawah. Tak masalah, setidaknya sekolah baruku ini masih punya nama dan segudang prestasi. Tidak seperti di novel atau di drama tv yang di sekolahkan di sekolahan yang berlabel ‘tempat buangan’.

Mau tahu kenapa kehidupanku bak cerita-cerita di drama-drama tv atau novel sekarang? Jatuh melarat. Hal ini dikarenakan Ayah terlilit hutang yang cukup besar dan semua aset rumah beserta isinya disita oleh bank. Sungguh ironis. Tidak hanya itu, setelah kabar terburuk dalam perubahan nasibku dan keluargaku, sebuah kecelakaan naas menimpaku satu bulan yang lalu. Saat itu aku pulang dari pesta yang diadakan oleh teman sekolahku. Biasalah, kegiatan kumpul sosialita. Sok metropolit. Khas kalangan orang atas dan berduit yang terlalu sesumbar dan banyak omong. Aku tidak sendirian hari itu, ada beberapa teman yang ikut pulang bersamaku. Aku duduk di jok belakang, walau sebenarnya yang dipakai adalah mobilku.

Dasar nasib dan begonya temanku yang menyetir. Dia tidak fokus pada situasi jalan di depan dan malah asyik berkoar dengan teman di sebelahnya. Ada bis yang berhenti mendadak dan temanku itu melaju kencang dan tentunya dia tidak mengerem malah membanting stir ke kanan. Bodoh. Mobil kami ditubruk mobil lain dari arah berlawanan. Tentu saja, kami memasuki jalur mereka. Kemudian menghantam pembatas jalan dan semuanya gelap seketika.

Tersadar dari tidur yang rasanya panjang dan lama sekali. Aku mencium bau obat dan khasnya rumah sakit. Aku terjebak di sini rupanya. Dalam pikiranku aku ingin mengetahui keadaan teman-temanku. Dan sungguh Tuhan mendengar permintaanku, tidak sengaja aku mendengar obrolan teman-temanku yang lain yang tengah menjengukku. Berita itu mengejutkan diriku. Kedua temanku yang duduk di jok depan meninggal dunia. Hanya aku dan Rista yang duduk di jok belakang bersamaku yang selamat. Tapi dia koma, kepalanya terbentur cukup keras dan tangannya patah. Sedangkan aku, ini petaka.

Saat ingin menggerakkan kakiku, apa yang terjadi tidaklah terjadi. Rasanya kaku, mati rasa. Aku panik sendiri di atas ranjang. Berteriak-teriak memanggil Ibuku. Ingin penjelasan, kenapa kakiku tidak bisa aku gerakkan. Dan apa yang kudengar dari mulut Ibuku sendiri adalah berita terburuk yang pernah kudengar selain kematian kedua temanku, tentu saja melarat lebih mendingan daripada harus kabar tentang diriku.

Aku lumpuh, sejauh ini, aku dinyatakan lumpuh oleh dokter. Kau tahu, lumpuh. Aku tidak bisa lagi menggunakan kedua kakiku. Salah, aku hanya lumpuh separuh. Kaki kiriku masih bisa kugerakkan tapi sangat terbatas karena bergerak terlalu sering membuatku nyeri sendi.

Manis sekali dan semenjak aku divonis lumpuh dan keluarga jatuh melarat, teman-temanku, pelan-pelan menjauhiku. Tidak lagi mau menjengukku. Sahabatku, entah ke mana rimbanya. Bahkan pacarpun tiba-tiba tidak bisa dihubungi dan aku tidak ingin mau tahu lagi. Mereka pengkhianat. Tidak setia kawan!

Baiklah, singkirkan itu semua. Aku tidak ingin mengingatnya. Yang saat ini terjadi adalah aku masih bertahan dengan kondisiku saat ini. Berjalan di atas satu kaki yang sejauh ini masih bisa diajak kerjasama, ditambah dengan kedua tongkat yang membantuku untuk berjalan. Aku tidak ingin menggunakan kursi roda, karena benda itu membuatku semakin terlihat lemah dan aku tidak suka dikasihani.

Semuanya berjalan baik-baik saja, teman-teman baruku di sekolah baruku sejauh ini tidak membuatku harus berteriak-teriak kesal karena sibuk menggodaku karena aku cacat. Mereka hanya berbisik-bisik tidak jelas dan aku akan mengabaikannya walau terkadang panas juga mendengarnya. Hingga hari itu datang, ada murid baru yang akan bergabung di kelasku. Dia seorang gadis, kuakui cantik dengan rambut panjang hitam lebatnya. Mata siapa yang tidak akan menoleh melihatnya. Namanya Monika. Aku tidak tahu kepanjangannya, tidak peduli. Dia duduk di kursi seberangku. Saat dia menoleh ke arahku, dia memamerkan senyum 3 jarinya yang sok ramah dan akrab kepadaku.

“Hai, gue Monika,” sapanya sembari menjulurkan tangannya.

Aku melirik sekilas ke tangannya yang terjulur ke arahku, “Nggak usah sok akrab deh, paling-paling sebentar lagi lo bakal jauhin gue kayak yang lainnya!” ucapku ketus tanpa membalas uluran tangannya lantas kubuang mukaku darinya. Setelah itu tak kudengar lagi si Monika itu berbicara lagi padaku. Dia sama saja dengan yang lainnya, awalnya akan bersikap manis tapi selanjutnya tingkahnya akan memuakkan mata.

Jam istirahat pun datang, dengan lesu aku mengeluarkan bekal dari dalam tas. Sejauh ini aku tidak merasa malu membawa bekal karena dalam pikiranku, membawa bekal masih lebih baik daripada aku harus berjalan bersusah payah menuju kantin, mengantri bersama banyak siswa yang kelaparan dan menjadi tontonan karena langkah kakiku yang tersendat-sendat. Aku tidak suka jadi bahan tontonan.

“Nama lo Kharisma, kan? Lo nggak ke kantin?” aku kira dia bakal berhenti mengusikku, ternyata tidak. Dan tunggu, dari mana dia tahu namaku?

“Oh, lo bawa bekal ya ternyata. Gue temenin ya…” maunya ini anak apa sih?

Aku meletakkan sendok lalu menatapnya malas, dia hanya tersenyum seramah yang dia bisa. “Gue paling nggak suka kalau makan dilihatin. Kayak sekarang ini.” Aku lihat si Monika itu hanya tersenyum tidak peduli dengan perkataan yang aku lontarkan kepadanya dengan nada ketus. Dasar aneh.

“Lo kok kesannya nggak mau ada yang deket-deket sama lo sih?” tanyanya berkomentar.

“Lo tahu apa soal gue? Nggak usah nilai orang terlalu jauh deh, sebelum lo sendiri ngerti orang itu.” Jawabku ketus lalu mulai mengabaikannya.

Sepertinya monika sudah tidak ingin lagi berdebat denganku, dia beranjak pergi dengan teman-teman yang baru saja ia kenal. Kudengar salah satu dari mereka bicara dengan lantang mengenai diriku.

“Monika, lo nggak perlu repot-repot ngajak temenan sama dia. Percuma.” Sebodoh amat kalian mau ngomong apa soal aku.

***

Sudah satu minggu semenjak kedatangan Monika di kelasku, sejujurnya banyak sekali perubahan yang terjadi di kelasku, walau aku sendiri tidak terlalu ingin tahu perubahan-perubahan itu. Yang jelas, kelas menjadi lebih semarak. Dia membawa bahan-bahan guyonan yang entah dari mana membuat seisi kelas tergelak dibuatnya. Dengan cepat kelasku jadi seperti terminal, banyak anak-anak kelas lain yang singgah untuk sekadar berceloteh dengan si Monika itu. Tidak hanya itu, banyak anak cowok yang dengan sejelas-jelasnya menunjukkan rasa tertariknya pada si Monika itu. Apa hebatnya sih?

Karena tidak tahan di dalam kelas yang sama dengannya, aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan keluar kelas. Belum sampai di ambang pintu ada segerombolan anak cowok yang masuk ke dalam kelas tanpa melihat diriku yang berjalan keluar. Mereka menabrakku hingga punggungku membentur tembok, untung saja tidak sampai terjatuh.

“Eh, sori. Nggak sengaja, lo nggak apa-apa, kan?” tanya salah satu dari mereka sambil mencoba menolongku berdiri.

“Nggak sengaja kata lo? Jalan pake mata dong!” sentakku cepat tidak terima dengan permintaan maafnya barusan kepadaku.

“Eh, namanya nggak sengaja ya nggak sengaja. Nyolot banget sih? udah cacat belagu lagi.” Cecarnya dengan nada sama-sama meninggi.

“Emang kenapa kalau gue cacat, hah?! Ngganngu lo pada?! Lo pikir gue mau cacat kayak gini?! Diem aja deh lo!” mataku nyalang menatap anak cowok yang sok kecakepan itu mulutnya. Berani juga dia ngatain aku cacat. Jadi gini ya, mereka selama ini diam lalu tiba-tiba meledakkan diri di depanku. Oke, silahkan kalian lakukan sesuka kalian!

“Hei, udah dong. Kan, mereka nggak sengaja dan buat kalian, jaga mulut kalian dong. Jangan ngatain dia cacat, nggak baik tahu,” ujar Monika tiba-tiba menengahi kami.

“Lo jadi cewek baik banget sih, masih aja belain dia yang selalu nyuekin elo.”

Apa dia bilang? “Heh! Maksud lo ngomong barusan itu apa, hah?” tanyaku nyolot lantas beralih ke si tuan puteri sok ikut campur urusan orang. “Dan buat lo Monika, nggak usah sok baik deh sama gue. Gue nggak butuh.” Secepatnya aku berlalu dari hadapan mereka. Nggak sanggup lagi, udah sumpek aku berada diantara mereka.

“Kharis! Tunggu, Kharis!” Monika masih memanggilku, tapi aku membiarkannya.

Aku terus saja berjalan tanpa mau menghentikan langkah tertatihku untuk sekadar mendengarkan celotehannya padaku. Sampai akhirnya dia berhasil menangkap bahuku dan memutar tubuhku untuk menghadapnya.

“Lo jalannya cepet juga ya…” kelakarnya yang tidak mendapat sambutan dariku. “Oke, sori. Bukan maksud gue buat…”

“Gue ngerti kok,” potongku cepat, “kalian nggak pernah mau sekelas sama orang cacat kayak gue. Karena dengan sekelas dengan orang cacat, kalian akan ngerasa nggak asyik lagi, merasa terbebani dengan omongan anak-anak dari kelas lain.” Tuturku dengan penuh emosi. Aku sudah muak dengan semuanya, dikira aku tidak tahu, mereka selalu membicarakan kelas kami yang dihuni orang cacat, yaitu aku. Apalagi salah satu dari mereka ada yang tahu asal usulku dulu, entah dari mana mereka tahu dan kemudian mereka gunakan untuk mengusiliku. Mengejekku habis-habisan.

“Kharis, kok lo mikir gitu sih? kita nggak pernah berpikiran sepicik itu kali…”

“Gue nggak mau tahu. Gue anggap kalian itu sama. Sama-sama busuk!!” aku sentakkan tangannya yang masih berada di bahuku. Lalu aku tinggalkan dia sendirian di lorong.

Sebenarnya aku merasa sedikit tidak enak hati bersikap seperti itu kepadanya, selama ini Monika selalu membelaku. Memang benar. Dia satu-satunya teman di kelas yang mau susah-susah menjadi teman sekelompokku disaat yang lainnya berusaha menghindar dariku. Tapi, aku sudah pernah dikhianati oleh teman-temanku dulu, bahkan sabahatku. Aku tidak percaya dengan yang namanya pertemanan, bahkan persahabatan. Omong kosong semuanya.

***

Bel pulang sekolah berbunyi, semua anak-anak berhamburan keluar kelas setelah salam kepada guru. Aku selalu memilih untuk pulang belakangan, mengingat kondisiku yang tidak mungkin berebut pintu untuk keluar kelas. Seperti biasanya aku berjalan dengan tongkatku yang sangat setia menemaniku walau kadang aku membencinya karena teringat kondisiku yang begini ini.

Karena keadaan sekolah sudah sepi, jadinya aku bisa mendengar langkah kaki beberapa orang yang ada di belakangku. Karena aku tidak ingin berbelit-belit, maka aku berjalan agak menepi untuk memberikan jalan bagi mereka yang ingin berjalan duluan. Tapi, sudah aku menepi, mereka tidak juga segera berlalu, malah mereka menghampiriku dan mungkin ini yang disebut dengan menghadang langkah seseorang.

Oh, ternyata mereka. Sekumpulan anak-anak cewek yang berjudul ‘geng narsis’—itu aku sendiri yang menamainya, mengingat tingkah mereka yang kekanak-kanakkan. Ada 3 orang yang saat ini merubungku.

“Mau apa kalian?” tanyaku malas.

Mereka tersenyum menghina, terserah. “Kita mau ngapain, bukan urusan lo, kan?”

“Entah kenapa, hari ini kita ngidam ngusilin orang. Dan beruntung banget lo korbannya.” Jelas cewek berkucir miring itu.

“Sori, gue nggak ada waktu buat ngelayanin penyakit kambuhan kalian. Minggir, gue mau pulang.” Aku berusaha mencari celah untuk segera pergi dari mereka.

“Eits, lo nggak bisa gitu aja lolos dari kita, Kharis!” cewek berambut dengan potongan cowok itu yang kutahu namanya adalah Sandra menarik tasku, sehingga aku kembali ke tempat semula.

“Mau kalian apa sih? minggir, gue mau pulang!” ujarku ketus tidak mau kalah dengan mereka.

“Nggak semudah itu.” Cewek berkucir miring yang bernama Ella itu mendorongku hingga punggungku menabrak tiang penyangga. Lantas mereka langsung menggeretku menuju kamar mandi. Klise banget, apa mereka ingin menggencetku saat ini? Astaga…

“Enaknya kita apain cewek cacat belagu ini?” tanya Sandra lalu mendapat cengiran dari Ella dan teman satunya yang bernama Debby yang kutahu.

“Kita telanjangi dia dan kunci di kamar mandi aja, girls!” sambar Debby kurang ajar.

“Kejam lo. Tapi, keren juga tuh. Lagi pula, gue udah enek sama tingkahnya yang sok banget, udah cacat, keluarganya jatuh melarat. Masih aja sok kecakepan. Lo tahu  sejarah keluarganya yang digosipin anak-anak, kan? Itu hukuman Tuhan buat lo, asal lo tahu itu.” Ujar Ella menambah panas telingaku yang sudah berdenging sedari tadi mendengarkan percakapan mereka. Hukuman kata mereka. Tahu apa mereka.

“Dan ini hukuman dari kita-kita.” Sandra langsung merebut kedua tongkatku dan membuangnya menjauh dariku. Aku sempat berteriak ke arah mereka, tapi yang terjadi mereka malah menampar wajahku.

Oh, rasanya telingaku yang sudah berdenging bertambah berdenging lagi dan terasa panas. Aku berusaha memberontak saat tangan-tangan mereka mencoba untuk melucuti semua yang aku kenakan saat ini. Kadang salah satu tangan mereka menamparku dan juga menjambak rambutku.

“Ya!! Kalian gila!! Gue nggak akan terima perlakuan ini!!” teriakku frustasi sembari terus mempertahan diri untuk tidak menangis karena perlakuan mereka. Sungguh ini begitu kejam dan diluar nalar. Tega sekali mereka melakukan ini padaku.

“Heh!! Silahkan teriak sesuka lo. Nggak ada yang bakal tahu kita di sini.” Mereka tertawa bebarengan dengan suara yang begitu menggelikan. Merusak pendengaran.

Saat akhirnya pertahananku jebol, meluruhlah airmata yang selama ini selalu aku simpan dan tidak ingin aku tunjukkan di depan orang lain. Aku… aku tidak bisa menahan gejolak ini. Aku tidak ingin menangis di sini, di depan mereka semua. Tapi, aku tidak berdaya. Aku tidak kuat lagi. Isakku perlahan terdengar oleh mereka dan apa yang terjadi sudah aku bayangkan sebelumnya. Mereka tertawa begitu keras sampai-sampai Ella terbatuk karena tawanya sendiri.

“Lo nangis? Lo bisa nangis? Kasihan sekali…” mereka tertawa lagi untuk yang lebih keras.

Sandra menjulurkan tangannya lalu menarik paksa baju seragamku, aku hanya menutup mataku, tidak ingin tahu apa-apa. Dan saat aku akhirnya berpikir untuk pasrah, aku tidak lagi merasakan cengkraman di tubuhku. Lalu suara yang begitu familiar memenuhi gendang telingaku. Suara Monika.

“Heh! Apa yang kalian lakukan di sini, hah?”

“Sandra, Ella, Debby!! Apa yang kalian lakukan pada… Kharisma?” sebuah suara asing menyerobot pendengaranku, seperti suara Bu Esti, guru BP. Astaga, kenapa ada Bu Esti di sini? Kenapa beliau bisa… dan jawabannya ada pada senyuman sekilas yang diberikan Monika padaku saat aku membuka mata wajahnya lah yang pertamaku lihat, kemudian berubah khawatir. Dia segera menghampiriku.

“Lo nggak apa-apa, kan, Ris? Sori, gue telat nolongin lo,” kata-katanya seperti angin surga yang masuk ke celah-celah hatiku. Kemudian Monika melepas jaketnya dan memakaikannya padaku, lalu dengan hati-hati dia membantuku berdiri.

Aku dan Monika duduk-duduk di kursi taman sekolah dengan masih penampilanku yang semrawut. “Lo nggak apa-apa, kan? Ya ampun, lihat wajah lo berantakan banget. Mereka kejam banget sih, ngelakuin ini sama lo…” Monika tidak henti-hentinya mengusap wajahku dengan sapu tangan handuknya. Membenahi rambutku yang acak-acakan. Dia tidak sadar kalau sedari tadi aku memperhatikannya. Dia memang cantik dan… sebenarnya aku tidak mau mengakui ini… dia baik.

“Kok… lo bisa tahu, gue digencet sama mereka di kamar mandi? Gue pikir… lo udah…” kataku ragu-ragu dan langsung dipotong olehnya.

“Udah pulang?” dia tersenyum. “Nggak kok, gue masih ada perlu tadi di kelas sebelah. Agak lama sih. Terus pas gue mau balik, gue lihat lo dikeroyok sama mereka dan nyeret lo entah kemana. Jadi gue pikir, ini nggak sedang baik-baik aja, langsung aja gue nyariin guru buat nyeret mereka sekalian. Tapi, ternyata nyari gurunya kelamaan. Sori…” cengiran khasnya terbit lagi. Entah kenapa aku suka cengirannya itu. Terkesan nakal, usil dan menggemaskan.

Astaga, apa yang kupikirkan? Aku bukan anak cowok yang lagi naksir cewek, kan?

“Gue… nggak apa-apa kok. Dan gue… makasih banget buat hari ini. Sori karena udah pernah kasar sebelumnya sama lo, gue pikir…”

“Kharis, nggak masalah kok kalau lo benci sama hidup lo yang saat ini. Sori ya, sebelumnya. Gue nyari tahu gosip-gosip yang beredar tentang keluarga lo. Gue pikir itu wajar aja kalau lo ngerasa Tuhan nggak adil sama lo, itu cuma sebagian kecil pikiran manusia yang nggak mau menerima kehendak-Nya.” Aku sempat kaget saat Monika bicara soal keluargaku, aku sempat ingin marah karena dia mengungkit-ungkit masalah itu tapi, langsung aku urungkan niatku, aku pikir, aku harus mendengarkannya kali ini.

“Gue ngerti, kenapa selama ini lo cuek dan nggak mau tahu soal sekitar. Jadi belagu, hahaha… sori,” dia tertawa sembari melirikku.

It’s okay kalau lo ngerasa gue kayak gitu…” aku memutar kedua mataku lalu menatapnya.

“Jadi nggak percaya sama yang namanya persahabatan. Lo tahu, sebenarnya lo bukan nggak percaya. Tapi, karena lo takut sama yang namanya persahabatan.” Aku mengernyitkan dahiku bingung, dia mau ngomong apaan sih?

“Lo itu sebenarnya takut kalau lo mencoba untuk mencari sahabat lagi, lo bakal dikhianati lagi. Sebenarnya lo ingin banget punya temen, kan? Punya sahabat. Tapi lo nggak pernah bisa dapatin itu karena sikap introvert dan galak lo itu, tahu nggak.” Jelas Monika tanpa berusaha menghakimiku. Aku berpikir sejenak. Apa iya aku memang takut? Tapi…

“Asal lo tahu, gue siap kok jadi temen lo, gue bisa terima lo apa adanya. Termasuk keadaan keluarga lo dan diri lo sendiri saat ini.” Aku cuma tersenyum masam menanggapi celotehannya bak burung nuri.

“Gue nggak lagi asal ngomong. Gue udah ngobrol sama orang tua lo.  Mereka juga kasihan, prihatin sama sikap lo semenjak cobaan ini jatuh nimpa lo sekeluarga.”

Aku terpaku sejenak, “lo ke rumah gue? Ngobrol sama orang tua gue? Kapan? Dan kok lo bisa?” ajaib banget sih ini cewek?

“Sori, sebelumnya. Gue ikut campur urusan lo, tapi gue pikir, orang tua lo ada benernya. Mereka ingin ngelihat lo ceria lagi, jadi Kharis yang dulu lagi. Penuh semangat dan suka tersenyum.” Aku menggeleng pesimis.

“Lo harus coba. Seperti kata gue di awal, gue siap jadi temen lo. Bahkan jadi sabahat lo.”

“Dan lo akan mengkhianati gue setelah semuanya kembali seperti sedia kala. Dan gue sendirian lagi!”

“Nggak Kharis. Nggak akan.”

“Mana mungkin lo seyakin itu? Gue udah terlalu sakit hati, Monika. Mereka temen-temen gue, bahkan sahabat gue. Tapi apa? Mereka ngejauhin gue cuma gara-gara cacat sialan ini. Mereka nggak pernah ada. Mereka nggak pernah mau deket sama gue. Gue dianggap lalat yang mesti di abaikan biar mereka nggak kena penyakit!” airmataku berlinang deras saat kata-kata itu meluncur tajam dari mulutku. Aku sudah tidak sanggup menahan ini semua. Seperti sampah yang sudah membusuk dan berbau tak sedap yang selalu aku simpan tanpa bisa membuangnya. Dan pada kesempatan ini akhirnya kau mampu membuang semua.

“Gue nggak pernah berharap hidup layaknya bawang putih atau si upik abu-abu atau hidup semegah puteri-puteri kerajaan. Gue cuma mau hidup itu, ya sebagaimana bisa gue jalani. Gue ingin mereka itu bisa ngertiin gue, nggak kayak gini. Gue ngerasa dibuang dan dipersalahkan atas kematian kedua teman gue yang jelas-jelas itu salah mereka sendiri.” Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Rasanya lega sekali.

“Udah puas?”

“Apa?”

“Curhatnya.” Dia nyengir lagi, sialan. “Untuk pertama kalinya lo bisa ngobrol panjang lebar sama gue. Dan lo langsung curhat, ngeluarin isi hati lo selama ini. Gimana? Udah puas? Plong?”

Aku meliriknya sekilas lalu berdeham sebentar, “Iya sih. plong. Thanks udah mau dengerin.” Kataku malu-malu.

“Sama-sama. Gue tahu, gue nggak akan pernah bisa janjiin apa-apa ke elo. Tapi, yang saat ini, sampai nanti yang bisa gue lakuin buat lo adalah… jadi orang terdekat lo yang bisa jadi tong sampah lo. Kapanpun lo perlu gue buat buang sampah lo. Gue siap,” aku meliriknya yang masih tersenyum seperti itu. Senyuman khasnya.

“Gue yakin lo bakal bisa lagi percaya sama yang namanya persahabatan. Gue emang nggak pernah ngalamin hidup sepahit yang lo rasain. Tapi, gue bersikap jadi orang yang pengertian dan pendengar yang baik. Hidup ini cuma sekali, Kharis. Gue pengen lo bisa ngerasain keindahan hidup ini dengan cara pikir yang baru dan lebih bermanfaat buat kehidupan lo kedepannya. Dan gue harap, lo bisa berdamai dengan masa lalu lo, sakit hati lo dan semuanya.”

Aku menatap Monika lekat-lekat, sungguh Tuhan sebenarnya maha adil. Disaat aku sudah tidak mengingat lagi dan tidak mau tahu lagi dengan kejelasan hidupku Dia menghadirkan makhluk ciptaan-Nya untuk membangunkanku dari mimpi buruk yang selama ini membayangi tidurku.

Dia penuh kasih dan begitu sabar menghadapi kelakuan ekstrimku padanya selama ini, tapi dia pantang menyerah. Mungkin inilah saatnya bagi diriku untuk membuang jauh-jauh sikap bodoh dan kekanakanku dan menggantinya menjadi Kharis yang baru.

Aku ingin sekali memeluknya, maka tanpa aba-aba sebelumnya, kulingkarkan kedua lenganku pada tubuhnya dan kutarik dia dalam pelukanku. Monika sempat memberontak saat aku memeluknya, tapi sebentar kemudian dia membalas pelukanku dengan hangat. Dia mengelus rambut dan juga punggungku. Rasanya damai sekali. Andai saja dari awal aku punya sahabat seperti dia, mungkin hidupku tidak semenakutkan sebelumnya.

Aku harap ini tidak akan cepat berakhir, aku ingin menikmati saat-saat indah seperti ini. Dan tanpa sadar airmataku mengalir pelan membentuk aliran sungai kecil di wajahku. Aku membiarkannya jatuh. Ini airmata kebahagiaan. Dan aku berjanji akan menjaga ikatan ini baik-baik.

“Terima kasih banyak,”

(ik)

Permen Apel dan Kembang Api di Penghujung Tahun

Menurutmu apa yang menjadi motivasi seseorang bertahan pada masa lalunya?

Apakah orang-orang yang masih terbelenggu dengan masa lalunya tersebut tidak berpikiran untuk bangkit keluar dari dunianya?

Mungkinkah mereka memiliki seseorang yang ditunggunya dari masa lalu untuk nantinya bangkit bersama menuju masa depan?

Kalau memang demikian, apakah aku benar-benar orang seperti itu? Lalu salah siapa aku masih tetap seperti ini?

Aku terus saja berpikir keras tentang hal ini, terlalu melelahkan sebenarnya, tapi tak kunjung juga kuhentikan. Sudah banyak orang yang menyarankanku untuk melepaskannya, kurang kerjaan kata mereka kalau aku masih tetap seperti ini. Aku pikir-pikir, mereka benar, aku seperti orang yang kurang kerjaan, selalu saja beranggapan semua tidak masalah kalau aku tetap seperti ini, terbelenggu dengan dimensi yang aku ciptakan sendiri. Sebagai akibatnya, aku tak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya khayalan semata.

Setiap hari yang bisa aku lakukan hanya berkutat dengan apel-apel segar yang nantinya akan aku celupkan ke dalam saus karamel bermacam-macam warna, kemudian kutaburi choco chips warna-warni, atau kacang yang sudah disangrai, atau bisa dengan taburan meses warna-warni lalu menyimpannya di lemari es. Lebih tepatnya aku sedang membuat permen apel.

Sebuah permen yang populer di Jepang, sebuah permen yang mengawali pertemuan kami 3 tahun silam saat festival kembang api di Jepang. Dia dengan senyumnya yang hangat dan sorot mata yang begitu menenangkan mengulurkan tangannya yang menggenggam permen apel dengan saus karamel warna merahnya padaku.

Isak tangisku seketika berhenti saat mata sembabku menemukan sesuatu yang berbau manis dan bentuknya yang begitu cantik. Saat itu aku terpisah dengan teman-temanku, aku yang tidak suka berada di tempat keramaian berusaha untuk mencari mereka. Tapi, aku keburu menangis dan membiarkan keramaian tersebut menenggelamkan suaraku di tengah hiruk pikuk yang menyelubungiku.

Namun, dirinya hadir dengan segala yang dia miliki. Tersenyum layaknya malaikat yang turun dari langit. Ia memberiku permen apel tersebut bersamaan dengan luncuran kembang api pertama di langit malam. Suaranya begitu riuh, kemudian saling bersahut-sahutan. Warna-warni terang menghiasi dunia kami. Semenjak saat itu aku tidak pernah lepas untuk memandangnya. Dirinya menenangkanku dengan caranya sendiri, tidak memaksa, hanya bercerita kalau dirinya menyukai kembang api. Lucu sekali, dia seorang laki-laki, tapi menyukai hal-hal yang sering kali disukai oleh para gadis.

Lihat, membayangkan tertawanya saja sudah membuatku salah tingkah, padahal kejadian tersebut sudah lama sekali, aku yang masih sibuk dengan mencelupkan apel ke dalam saus karamel sembari mengingat kejadian tersebut merasakan sudut bibirku terangkat. Apa aku sedang tersenyum?

Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa pesonanya masih mampu membuatku seperti ini sementara wujudnya saja sudah sangat lama tidak mampir dalam nyata. Aku tahu mungkin aku berlebihan, memang aku sangat berlebihan. Karena awal berdirinya toko Sweet Heart ini pun juga karena ulahnya. Saking gemarnya aku dengan makanan manis terutama permen apel ini, aku sampai merengek-rengek pada Ayah untuk menyewakan aku sebuah toko kecil yang akan kujadikan sebuah toko dengan segala jenis makanan manisnya.

Berharap dengan itu dia akan datang ke tokoku. Harapan gila, bukan? Tapi sejauh ini aku tidak berharap banyak dirinya masih mengingatku. Keinginan terbesarku adalah melihat dirinya yang baik-baik saja dan tidak kekurangan satupun.

“Ara! Permennya sudah jadi belum?” teriak Arin, kakak perempuanku satu-satunya. Dia akan mengoceh sepanjang hari kalau mengetahui pekerjaanku tidak beres. Sebenarnya toko ini milikku atau miliknya sih? Dia begitu berkuasa di toko ini, mengurusi segala macam yang berhubungan dengan manajemen, keuangan, dan humas.

Aku? Aku berkuasa di dapur, gudang penyimpanan bahan makanan, dan kepuasaan pelanggan. Karena memang itulah keahlianku dan itu bukan keahlian kakakku. Maka dari itu kami membagi tugas dan dengan hal tersebut toko Sweet Heart berkembang pesat. Ayah senang melihat kami dapat bekerja sama dan beliau merasa tidak rugi untuk akhirnya membeli toko tersebut dan mengatasnamakannya dengan nama kami.

Menjelang natal dan tahun baru, toko kami selalu dipenuhi dengan pesanan-pesanan yang terkadang melebihi kapasitas. Hal tersebut menjadikanku sering kali lembur dan di sanalah nikmatnya. Kakak akan membantuku menghias cup cake, mengolesi tart dengan saus jeruk, dan menatanya dalam kotak-kotak kardus kecil, sedang, ataupun besar lalu setelahnya akan dikirim ke alamat pemesan.

Dirinya yang jarang sekali turun ke dapur akan terlihat sangat lucu dengan mulutnya yang terus saja mengerucut apabila sedang serius mengerjakan sesuatu. Aku jadi ingat lelaki itu, dia sama seperti kakak. Dirinya akan sering mengerutkan dahinya apabila tengah serius mengerjakan sesuatu. Bukan apa-apa, hanya itulah kebiasaanya.

Permen apel buatannya adalah yang paling enak dari segala permen apel yang pernah kucicipi. Aku terus berusaha untuk menyamai rasa miliknya, tapi hal tersebut susah sekali. Aku masih terus mencobanya, meski terkadang aku harus menyianyiakan waktuku untuk hal-hal lain.

Kenangan bersamanya begitu melekat erat, apalagi dapur ini. Walaupun bukan benar-benar dapur ini, tapi dapur lain, yaitu dapurnya seakan terus membuatku teringat akan sosoknya yang bercelemek putih dengan kedua tangannya memegang baskom aluminium dan pengocok telur. Aroma yang keluar darinya bukanlah aroma maskulin pada umumnya, tapi aroma manis roti, bubuk vanili, dan kayu manis. Andai saja aku berani untuk pergi bersamanya waktu itu. Andai saja aku tidak ragu. Tapi, ya sudahlah, apalah artinya aku terus mengeluh pada masa lalu yang tidak pernah bisa kembali kumuat ulang.

Yang terpenting saat ini adalah menyelesaikan permen apel ini yang nantinya akan kujual saat perayaan malam tahun baru. Toko kami selalu mendirikan sebuah stan kecil dan menjual berbagai macam makanan manis. Tahun lalu laku keras dan aku harap tahun ini demikian.dan harapanku masih sama, jangan membuatku kecewa lagi.

Malam terus beranjak, aku sudah menata sebagian letak kue-kue buatanku ini di etalase-etalase kecil stanku. Aku dibantu oleh beberapa karyawan, sedangkan kakakku selalu melarikan diri bersama suaminya. Menyenangkan sekali, menghabiskan perayaan malam tahun baru bersama orang terkasih. Betapa membuatku merasa iri.

Setelah meletakkan nampan terakhir, aku segera berbalik menghadap lautan manusia yang memenuhi lapangan yang bila pada hari biasa hanya dipenuhi orang-orang yang tengah lari pagi, bermain sepak bola ataupun bersepada berkeliling lapangan. Beberapa orang yang tertangkap oleh mataku sepertinya sudah tidak sabar untuk menyalakan kembang api. Aku tersenyum melihatnya, mereka sebentuk keluarga yang lengkap. Ayah, ibu, dengan ketiga anaknya. Menyalakan kembang api kecil yang memercikkan api-api cantik hingga membuat si anak bungsu tertawa dengan lucunya. Kedua matanya sampai hanya tinggal segaris saja, pipinya yang tembam membuatku merasa gemas dan ingin mencubitnya.

Tanpa sadar aku ikut tertawa bersama mereka dan demi segala apa yang diinginkan Tuhan, mataku menangkap sosoknya yang berjalan santai di antara keramaian orang. Aku terpaku sejenak, mengamatinya lebih lama untuk memastikan kebenaran mataku.

Lelaki itu tersenyum dengan senyum yang sama, gesturnya, dan cara dia berjalan, itu adalah dia. Tanpa bisa dikendalikan lagi aku berjalan menuju ke arahnya, membaur bersama keramaian orang-orang yang memadati lapangan Rampal.

Aku berusaha membelah kerumunan orang dengan kepalaku terus berputar ke kanan dan ke kiri, mataku memindai setiap orang yang barangkali adalah dirinya. Aku yakin sekali kalau lelaki yang baru saja aku lihat tersebut adalah sosoknya. Aku tidak akan bisa melupakan tentang dirinya. Bagaimana bisa aku melupakannya kalau dirinya selalu saja menjadi objek yang sama dalam setiap mimpi dan lamunanku?

Aku terus mencarinya, semangatku belum putus, aku akan terus mencarinya. Yakinku terus mendukungku untuk terus melangkah mengurai setiap kerumunan yang menjejal semakin padat menginjak waktu yang semakin larut. Tentu saja, ini malam tahun baru dan dewi fortuna sepertinya berpihak, kota Malang yang sudah masuk musim penghujan kali ini hujan tidak turun seperti tahun-tahun sebelumnya. Langit malam cerah tanpa awan, bintak berkedip-kedip seakan ingin ikut menyambut pergantian tahun baru.

Kakiku sepertinya sudah pada batasnya, rasanya nyeri sekali. Keringat mengaliri dahi dan turun sampai daguku. Nafasku sesak. Mataku berubah menjadi berkunang-kunang. Aku berputar lagi melihat sekeliling. Dia tidak ada. Aku melihat sekeliling lagi. Dia benar-benar tidak ada. Dan saat aku kembali sadar aku sudah tercekam dengan ketakutanku sendiri.

Lagi-lagi aku terjebak di tempat keramaian yang dipenuhi sesak teriakan orang-orang yang gila hura-hura. Aku memutar tubuhku untuk melihat sekelilingku, semua orang-orang asing di sekitarku membuatku pusing dan mataku berair. Inilah yang aku benci dari diriku. Terlalu bodoh, naif, dan juga penakut. Lantas kalau sudah tahu seperti itu, kenapa juga harus mengejar sosok yang belum tentu benar-benar itu dirinya? Kenapa aku selalu menjadi orang bodoh yang selalu mau saja dibodohi oleh dirinya?

Seketika aku yang gampang sekali menangis ini menitikkan air mata yang sudah sejak tadi aku tunggu-tunggu untuk jatuh. Linangannya semakin deras sampai-sampai membentuk aliran sungai kecil di kedua pipiku. Aku sudah tidak tahu lagi apakah orang-orang melihatku atau tidak. Aku menangis karena merutuki diriku sendiri yang terlalu bodoh. Bagaimana bisa aku membayangkan dirinya sudah kembali ke Indonesia dan ada di sini. Di tempat di mana dirinya yang dulu akan berjanji menemuiku. Bagaimana bisa aku dengan naifnya mempercayai ucapannya yang sudah ia langgar dan aku masih tetap datang menungguinya di sini?

Tangisku semakin keras. Aku memegangi dada kiri atasku, rasanya di sini sakit sekali. Aku berdiri setengah membungkuk, ketidakbenaran ini harus aku hentikan. Aku harus melenyapkannya, aku tidak ingin terus menerus berada dalam bayang-bayangnya. Sudah cukup selama 3 tahun ini aku menjadi orang yang begitu bodoh. Aku ingin lari saja. Tapi, aku tidak bisa. Aku masih tetap membiarkan diriku seperti ini. Perasaanku tidak semudah membuat permen apel. Perasaanku terlalu rumit untuk dilepas begitu saja.

Ya Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini merindukan seseorang? Kenapa pula dirinya tidak segera datang menepati janjinya dulu? Kenapa aku selalu menjadi orang yang menunggu? Kenapa aku tidak pernah bisa melupakannya saja? Kenapa? Kenapa aku seperti ini? Kenapa?

Aku masih menangis dalam kekalutan yang aku ciptakan sendiri. Nafasku terengah-engah. Bagaimana ini? Dia tidak ada? Apa aku sedang mimpi?

Ya Tuhan, jangan biarkan ini semua kembali terulang seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku tidak kuat lagi. Aku ingin bertemu dengannya. Aku menginginkannya, Tuhan. Isakku terdengar begitu menyedihkan di telingaku.

Samar-samar aku mendengar pembawa acara mengumumkan bahwa sebentar lagi akan memasuki hitungan mundur untuk menyambut tahun baru, namun setelah itu aku sudah tidak mendengar apa-apa lagi karena fokusku sudah terpaku pada sosok bertubuh tegap yang menjulang tinggi di depanku.

Lelaki itu tersenyum, senyum hangat yang begitu kurindukan. Sorot matanya yang menenangkan dan apa ini? Dia menggunakan sweater merah buatanku dulu lalu di salah satu tangannya terdapat permen apel dengan saus karamel cokelat keemasan. Ia membelinya dari stan tokoku. Aku tahu itu karena hanya stan tokoku yang menjual permen apel. Apa itu benar-benar dia? Dia yang kurindukan? Dia yang kunanti kehadirannya?

Aku hanya berdiri diam tanpa tahu harus berbuat apa. Aku sendiri bingung, kakiku susah untuk digerakkan. Aku hanya terpaku menatapnya dengan linangan air mata yang terus mengalir. Sesak yang sedari tadi aku rasakan semakin mencekikku. Lalu entah sejak kapan dia sudah membawaku dalam dekapannya yang sudah lama kurindukan.

Aku menangis lebih keras di pelukannya. Aku mencengkram kuat sweaternya, ingin kusalurkan perasaan kesalku padanya lewat tangis menggilaku ini. Agar dia tahu, aku sudah lama sekali ingin memukulnya, menamparnya kalau perlu karena sudah berani membuatku terus memikirkannya tanpa mau tahu masih banyak yang harus aku pikirkan selain dirinya.

“Dasar bodoh, kenapa berdiri di tengah lautan orang-orang padahal tahu kalau tidak menyukainya?”

Suara berat baritonnya terdengar samar karena tenggelam dalam suara isak tangisku. Aku tidak menjawabnya, terus saja aku membenamkan wajahku pada dadanya. Menghirup aromanya dalam-dalam, aku sudah menemukan heroinku.

Aku merasakan tangannya yang besar mengusap rambutku. Aku hanya memejamkan mata, menikmatinya. Aku tidak ingin sosoknya yang saat ini tengah mendekapku berubah menjadi kepulan asap dan menghilang begitu saja. Aku tidak ingin kecewa lagi.

“Maaf, sudah membuatmu menunggu begitu lama. Aku memang sangat jahat padamu. Aku membiarkan diriku terhanyut begitu lama di negeri orang tanpa menyadari ada seseorang yang setia menungguku.”

“Sebegitu mudahnya kau mengucapkan kata maaf?” ujarku sembari melepaskan diri dari pelukannya. Kususut habis air mataku dengan punggung tanganku. Kuamati dirinya lekat-lekat, sedikit banyak dia sudah berubah.

“Apa kau marah padaku? Apa kau membenciku?” kedua matanya meredup tanpa mengalihkan pandangannya dariku. Sebenarnya orang ini tahu tidak sih dengan hatiku yang sudah remuk seperti ini karena terlalu merindukannya?

“Itu sudah pasti. Kau dengan segala janji yang kau ucapkan dulu, membuatku harus berharap setiap harinya kau akan datang, mengetuk pintu rumahku atau pintu tokoku lalu memberiku senyum hangat yang kau miliki. Tapi, apa? Semua itu selalu saja berakhir dengan kosong. Tanpa pesan atau kabar. Kau seperti tuli dan tidak punya hati. Kau…” belum selesai kalimat panjang yang ingin kuutarakan, bibirku sudah dibekapnya dengan permen apel yang sedari tadi dia bawa.

Aku menjilatinya, manis.

Aku meraih permen apel tersebut untuk kupegang sendiri. Matanya terus mengawasiku dengan senyum yang masih mengembang. Lihat, betapa pintarnya dia melumpuhkanku, melupakanku dengan segala kesakitan dan luka yang ia torehkan pada hatiku. Dengan sekejab hilang tak berbekas. Menggelikan sekali diriku ini yang begitu mudah menerima apa saja yang ia berikan padaku.

“Rasa manisnya enak sekali, melebihi buatanku.” Senyumnya mengembang, aku hanya mengerjap-ngerjapkan mataku. Apa yang dia bilang barusan?

“Sepertinya kau sudah bisa membuatnya melebihi apa yang sudah kubuat. Kau mengalahkanku.”

“Benarkah? Ini seperti milikmu?” aku tidak merasa yakin dengan apa yang baru saja dia katakan.

“Ini milikmu. Aku tidak pernah merasakan rasa manis yang begitu nikmat seperti ini.”

“Itu karena aku membuatnya dengan terus memikirkanmu.” Setengah mati sebenarnya aku malu mengatakannya, tapi terkadang bibirku ini bergerak sendiri tanpa bisa kucegah.

“Oh ya?”

“Jadi, bagaimana? Kau mau menerimaku? Apa aku sudah dimaafkan?” aku meliriknya, Ya Tuhan, inilah yang tidak bisa aku enyahkan dari otakku, senyumnya begitu menawan dan aku tidak bisa menghindarinya. Inilah yang selama ini menyusahkanku.

“…3…2…1!!”

Belum sempat aku menjawabnya tiba-tiba suara letusan terdengar di kejauhan, luncurannya bergerak ke atas lalu pecah membentuk jaring-jaring cahaya yang berwarna-warni. Dari merah, kuning keemasan, hijau sampai biru. Sepertinya kami melewatkan perhitungan mundur, ah sudahlah, nikmatinya saya kembang apinya.

Image

Malam semakin semarak dengan langit malam yang dipenuhi banyak cahaya seperti ini. Pelan-pelan aku merasakan tanganku yang bebas digenggam olehnya. Terasa hangat dan nyaman. Aku bertaruh, malam ini akan menjadi malam yang tidak akan pernah aku singkirkan dalam ingatan.

“Ryan…” panggilku lirih, entah dirinya mendengarnya atau tidak.

“Hmmm?” ternyata dia mendengarku.

“Maukah kau tetap di sini bersamaku? Jangan pergi lagi. Aku mencintaimu.” Aku mengucapkan kalimat tersebut tanpa memandang ke arahnya. Karena aku tahu kalau aku menatap kedua bola matanya, kalimat itu tidak akan pernah terucap. sembari mengulum permen apel yang masih kugenggam, aku mencoba meredam debar jantungku yang seperti ingin lari ke tengah lapangan. Aku dapat melihatnya dari sudut mataku kalau dirinya tengah membuat senyum sudut khasnya.

“Sesuai keinginanmu, aku akan melakukannya.”

“Baiklah, itu bagus.” Aku dapat merasakan genggaman tangannya semakin erat. Aku tersenyum merasakan kehangatan yang mengaliri setiap sudut tubuhku. Aku benar-benar menyukai apa yang kau berikan padaku, Tuhan. Terima kasih.

(ik)
Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku