Arsip Tag: Fiksi

Mencari Keajaiban

Berdebur dingin menelusup

Terbang mengudara penuh kabut

Menahan desakan kaku penghujam jenuh

Gelap langit bulan itu

Titik-titik putih berhamburan jatuh

Luruh air hangat dari sudut kerlingan

Angannya mengabur seiring uap mengepul lenyap

Terlampau lelah menunggu datangnya

Termangu layak orang bodoh

Dia menunggu mimpi

Mimpi tentang orang-orang yang telah lama pergi

Dia menunggu keajaiban

Keajaiban tentang esok hari penuh suka cita untuk dirinya

Letihnya mengembara

Ingin segera ia hanguskan

Pertemuannya pada desember mengingatkannya pada kenangan

Pada sebongkah hati yang dulu begitu ia sayang

Pada hasrat, rindu, dan dendam yang bersemayam dalam diam

Desember yang biru, yang mengharuskannya memilih percaya pada waktu

Ia menggali kesempatan, menemukan banyak keajaiban

Terpasung luka dan sesak yang harus ia hilangkan

Damainya ingin ia raup serakusnya

Bertemu keajaiban yang mampu membungkus kembali semua

Kembali pada tawa yang banyak ditawarkan dunia

Kembali pada raga-raga yang menyimpan jiwa-jiwa

Malang, 30 November 2015

(ik)

Duhai, Simpanan!

Senja tak lagi menggagah di ufuk langit

Kelam petang merangkak kasar saat bola pejal menggelinding hilang termakan horizon

Perdebatan yang tak kunjung usai menggugu waktu yang tak suka menunggu

Mereka bicara soal rindu, pertemuan-pertemuan, juga perselingkuhan

Mukanya berang, cangkir kopi tersisa ampas melayang pada dinding pucat seberang

Tak ada pekikan kejam, mungkin umpatan gila dari mulut banyak orang

Mereka diam membisu lagi, meresapi sunyi yang melangkahi

Senja telah hilang bersama camar yang kembali ke sarang

Malam mulai datang dengan tusukan dingin angin laut seberang

Kebisuan mereka masih bertahan mengambang di udara yang penuh asap tembakau

Tak ada yang bergerak memindahkan kedua bola mata mereka dari masing-masing

Menguliti hampir ke tulang

Menyesapi rasa asin darah yang mengalir

Tatapan mereka saling tajam menghantam

Tak ada yang benar-benar mau dipersalahkan ataupun dibenarkan

Rembulan gading tersangkut pada gelapnya langit malam itu

Merasa salah alamat muncul di ujung bulan yang rusuh

Suara mereka hilang dalam balutan kengerian

Diam-diam sebuah nyawa terbang ke awang-awang

Banyak orang berlarian tanpa mengerti apa tujuannya

Ketika menyadari sebuah kepala tertembak peluru senapan

Tubuhnya ambruk menghempas ubin warna kecokelatan

Linangan air matanya sekejap mengering

Tak disangka ia akan menghilang seperti hewan buruan

Terbunuh ditangan saingan yang sudah menikmati harum tubuh simpanannya

Mengesankan, bukan?

Dimuat di Harian Radar Malang edisi Minggu, 8 November 2015

(ik)

Ketika Anak Laki-Laki Menjadi Seorang Pria

 

Ada yang mengatakan kehidupan seorang laki-laki itu menyenangkan. Penuh kebebasan dan juga warna-warni kehidupan. Tetapi, mungkin mereka lupa bahwa seorang pria yang kata mereka begitu bebas dulunya hanyalah seorang anak laki-laki yang tidak tahu apa-apa dan hanya berpikir bahwa besok akan mendapatkan mainan baru dari ayah apabila nilai matematikanya mendapat nilai sempurna. Dan mereka mungkin lupa, ketika seorang pria yang mereka puja dengan segala kesempurnaan itu dulunya hanyalah seorang anak laki-laki yang akan menangis ketika warung Plays Station dekat rumahnya tutup atau mainan gundamnya patah karena berebut dengan temannya.

Kehidupan pria yang sebenarnya adalah penuh dengan beban dari pihak-pihak yang menekannya. Antara lain orang tuanya, saudaranya, temannya, dan saat ada di tingkat menuju menjadi seorang dewasa, istri dan mertuanya adalah tekanan baru baginya. Entah soal pekerjaan yang selalu nyambung ke persoalan gaji. Ada juga urusan keturunan dan bagaimana etikanya membantu orang tua untuk membiayai saudara-saudaranya yang masih bergelut dengan dunia pendidikan. Perihal duniawi itu yang tanpa disadari seorang anak laki-laki menjadi bebannya kelak saat dirinya menjadi seorang pria.

Jatuh cinta, tidak ubahnya dengan persoalan di atas. Hanya saja mungkin memiliki pasing grade atau taraf yang berbeda. Cinta, bukan sesuatu yang mudah untuk dipahami. Kadang dirinya seperti mendung yang hanya mengelabu di ujung langit, tetapi tidak pernah mau turun hujan yang kata mereka bilang, dia hanya sedang menunggu penuh dan malu untuk turun ketika yang dia punya belum cukup penuh.

Kata Kahlil Gibran, cinta adalah anak kecocokan jiwa. Jika tidak ada kecocokan, cinta tak bisa hadir dalam hitungan hari bahkan dalam hitungan ribuan tahun.

Memang benar apa yang dikata Kahlil Gibran dalam hal ini. Cinta membuat orang yang dalam hidupnya selalu terstruktur menjadi rancu dan kacau. Cinta bukanlah persoalan yang dapat diatasi oleh seorang diri, melainkan oleh dua orang yang bermasalah di dalamnya.

Seorang pria tumbuh dengan caranya masing-masing, ketika ditanya soal perasaannya kita tidak akan pernah tahu kapan dia akan mengatakan yang sejujurnya.

“Aku tidak akan memberi tahukan perasaanku. Kalian akan punya waktu untuk sadar akan hal itu.”

***

Sore itu hujan gerimis turun tiba-tiba. Jelas saja meski mendung sudah mengeruh dari tengah hari tadi, namun tak ada yang mengira hujan bakal turun di acara yang membuat siapa saja mengutuk untuk keluar rumah. Lain halnya dengan Calvin. Dia suka berjalan-jalan di bawah hujan gerimis, tapi tidak dengan kekasihnya. Lila, yang menganggap hujan adalah buruk.

“Apa kau ingin berjalan-jalan?” tawarnya tanpa pikir panjang saat keluar dari sebuah kedai kopi tepi jalan.

“Apa? Berjalan jalan? Tidak, hari mulai hujan.” Tegas Lila menolak ajakan Cal yang membuat cowok itu langsung berwajah masam.

“Tidak? Ini akan menyenangkan untuk berjalan-jalan saat hujan. Ini indah, bukan?”

“Tidak, tidak ada yang berharga ketika berjalan-jalan kemudian turun hujan.” Lila berkeras untuk tetap pada pendiriannya. Dengan sebelah tangannya yang kosong sementara tangan sebelahnya lagi membawa gelas kertas dengan kepulan asap, ia membuka pintu sebelah kemudi mobil hitam miliknya.

Dilihatnya Cal masih ingin berlama-lama terguyur gerimis, tidak putus asa ia menawarkan seribu madu untuk Lila jika gadisnya itu mau bermandikan gerimis dengannya. “Oh, ayolah. Kau pasti akan suka.”

“Tidak perlu. Kau akan naik atau berjalan di bawah guyuran hujan?” pungkas Lila yang membuat Cal berjalan memutar untuk segera duduk di balik kemudi.

“Baiklah, aku naik dan kau pasti akan menyesal dengan tidak menyukai hujan.”

“Terserah kau saja.”

Mobil hitam milik Lila itu pun bergerak pelan menembus gerimis yang semakin lebat. Seperti biasa Lila begitu menyebalkan hingga Cal berpikir ingin menyudahi saja hubungan mereka. Tetapi, Cal tidak akan pernah bisa menolak apa yang akan nanti Lila lakukan ketika Cal memulai ultimatumnya. Rengekkan dan sikap manja Lila pasti akan membuatnya luluh seketika. Dan itu semakin membuat Cal membenci dirinya sendiri.

Dengan begitu, Cal tidak akan pernah menjadi seorang pria. Dia seperti mendapat tekanan yang setengah ia merasa senang dan yang setengah lagi ia merasa gila dibuatnya. Dalam kamusnya saat dirinya masih bocah ingusan, mempunyai pacar akan sangat menyenangkan. Akan dianggap dewasa dan semacamnya. Lantas ketika kelas satu SMP ia berusaha mancari seorang pacar, tetapi entah dia yang terlalu bodoh atau polos. Dia hanya menjadi tukang antar dan pesuruh yang mau saja dimintai membawa barang yang katanya itu pacarnya.

Cal sangat tahu jika suatu saat nanti pasti hal yang ia risaukan akan terjadi. Ia tahu betul bahwa dalam hubungannya dengan Lila tidak akan berjalan dengan mulus. Ia tahu bahwa hubungannya dengan Lila suatu saat akan seterjal saat ini. Konsekuensi yang harus ia tanggung sangat ia pahami, hingga kadang ia merasa butuh kekuatan untuk terus menguatkannya.

“Lihatlah, kota ini sangat menakjubkan.” Dengan semangat Cal menunjuk hujan yang turun perlahan di kota hujan pagi itu.

“Kau seperti belum pernah datang kemari sebelumnya,” Lila yang begitu sinis menanggapi ocehan Cal dengan setengah hati.

“Aku tidak datang cukup jauh, itulah masalahnya. Dapatkah kau bayangkan betapa menakjubkannya kota ini dalam hujan? Hujan, pelukis, penulis, penyair …”

“Kenapa semua kota mendapatkan hujan? Apa yang indah tentang menjadi basah?”

“Kau sama sekali tidak bisa diajak membayangkan rupanya.”

Cal hanya menghela nafas setelah perdebatan kecil mereka tentang hal-hal yang benar-benar sepele. Sering kali ia dapati sebenarnya dia tidak pernah bisa menyangkal apa yang dimau dan dikehendaki Lila hingga kadang teman-temannya merasa dirinya itu seperti mainan bagi Lila.

Alasan kenapa dirinya bisa melewati masa-masa sulit itu adalah karena dirinya mencintai orang itu. Begitu polos perasaan dan pola pikirnya. Yang ia pahami, Lila juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya dan itu sudah cukup baginya.

Sebulan berlalu dan Lila sengaja datang ke acara kumpul bersama teman-temannya bersama dengan Cal. Sebenarnya dia sangat terganggu dan tidak nyaman setiap kali keluar harus bersama Cal. Entah kenapa orang tuanya sebegitu percaya dengan anak laki-laki itu. Dan jujur ia katakan, ia butuh Cal hanya untuk bisa keluar kali ini. Maka, saat tiba-tiba anak laki-laki itu bertingkah seperti punya hak atas dirinya di depan teman-temannya, itu membuat harga dirinya benar-benar dipermalukan.

“Aku harap kau tidak bertingkah sok kenal seperti tadi?”

“Apa yang membuatku menjadi sok kenal? Aku biasa-biasa saja.” Cal merasa heran dengan perkataan dari Lila yang terdengar tidak suka.

“Oh, ayolah. Kau tadi melakukannya.” Cecar gadis itu.

“Baiklah, tapi mereka, kan temanmu. Dan aku ingin mengenal mereka. Apa itu salah?”

“Tapi, tidak dengan bertingkah sok kenal seperti tadi. Aku tidak suka.” dengan sama-sama keras kepanya mereka berdua beradu pandang yang saling menekan.

“Astaga. Omong kosong macam apa ini?”

Lila menggerlingkan matanya dan menatap Cal dengan sorot mata menyudutkan, “Cal, aku pikir kau sedang dalam keadaan mood yang tidak baik. Kau harus memperbaiki ucapanmu itu.”

“Tapi, kenapa?” tanya Cal setengah frustasi dalam penekanan suaranya.

“Karena kau bersikap seperti itu dan coba kau temukan apa masalahnya.” Lila berjalan menjauh sambil menyambar gelas berisi minuman kola dan pergi entah kemana meninggalkan Cal yang masih berpikir keras tentang begitu susahnya memahami seorang wanita.

Gadis itu sadar, sikapnya terhadap Cal sudah sangat buruk. Entah kenapa dia tidak benar dalam melihat sosok Cal itu seperti apa. Dia kadang dapat melihat sosok pria di sana, tetapi lebih banyak sosok anak laki-laki dari pada sosok prianya. Ia teringat ketika awal hubungan mereka diketahui oleh teman-temannya. Hingga sekarangpun ia masih merasa malu jika diminta mengakui menjalin hubungan dengan junior beda tiga tahun dengannya.

“Oh, Tuhan! Semester dua? Kau berpacaran dengan anak kecil sekarang?” kedua temannya begitu terkejut mendengar pengakuan Lila yang tiba-tiba. Sebenarnya bukan karena tiba-tiba, tetapi karena obyek yang mereka bicarakan adalah sesuatu yang tidak pernah mereka pikirkan selama ini.

“Apa yang akan kau lakukan dengannya?”

“Apa lagi? Aku akan bersenang-senang.” Dengan santai Lila menjawab pertanyaan dari temannya itu. Senyum sudutnya muncul bersamaan dengan suara menantang. Kedua temannya ikut tersenyum mengiyakan niat Lila.

Dan ketika rasa bersalah itu diam-diam mengendap di dasar, ia berusaha tak menyadarinya. Dalam diam dan mengatur segalanya untuk tidak terjadi apa-apa, ia tahu benar bahwa sikapnya sudah membuat lelakinya itu terluka. Terluka yang mungkin ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya.

***

Seorang pria hidup dengan mengandalkan orang-orang di sekitarnya, sebenarnya. Meski ia terkesan mampu untuk melaluinya sendiri, tetapi ia lebih banyak akan bergantung ketika ia menemukan sosok yang mampu membuatnya nyaman layaknya pulang ke rumah. Seorang wanita bohong kalau dirinya mampu hidup sendiri tanpa satupun laki-laki. Karena kenyataannya ia adalah makhluk paling rapuh untuk persoalan hati. Meski seorang pria dan wanita begitu dasar sekali perbedaan di antara mereka, sesungguhnya sama saja.

Dan bicara soal perasaan wanita dan pria ada yang lebih panjang dan lebih kokoh dari pada tembok Cina. Itulah pikiran seorang wanita yang tertutup untuk seorang pria. Kenapa perempuan perlu keyakinan cinta?

Mereka bisa mencintainya dulu dan mengakuinya secara perlahan. Pria dan wanita memang unsur yang berbeda, tetapi karena berbeda itulah mereka dapat disatukan. Permasalahannya saat ini adalah ketika seorang anak laki-laki ingin menjadi pria bagi wanitanya sudah semestinya laki-laki itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan hati wanitanya. Tapi yang terjadi adalah kenapa wanitanya tidak pernah bisa melihat sedikit usahanya.

Mungkin alasan pria dan wanita telah bertengkar di usianya adalah karena mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda. Untuk menjadi orang baik, seorang pria harus menangkap setiap kata dan setiap ekspresi wajah yang ia buat. Kita semua berkencan dengan alien.

“Kau bertingkah seperti pria macho. Kulihat kau masih bertingkah seperti anak kecil. Kau memang anak kecil.”

“Aku tahu apa-apa yang aku lakukan. Kenapa kau tidak pernah bisa untuk menghargainya?”

“Cal, kau ini masih anak kecil. Kau tidak tahu apa-apa tentang duniaku. Lebih baik kau pulanglah dan belajar untuk pre-testmu besok. Bukankah matakuliah itu sangat kau benci?”

“Kenapa kau suka sekali mengata-ngataiku anak kecil? Umurku sudah 20 tahun.”

“Baru 20 tahun dan aku lebih tua tiga tahun darimu. Meskipun kita berpacaran jangan lupakan fakta itu.”

“Kenapa masalah umur di sini begitu dipusingkan? Memang apa salahku dilahirkan telat tiga tahun?”

Selalu begitu, apakah semua wanita yang berumur tua dari pasangannya akan selalu berpikir negatif tentang pasangannya? Apakah dia tidak bisa melihat bahwa dewasa itu tidak dipandang dari perbedaan umur? Padahal wanita itu adalah jenis manusia yang berapapun umurnya tidak ada bedanya sama sekali.

Bukankah pernah ada yang mengatakan bahwa cinta itu murni tanpa perlu apa-apa. Cinta tumbuh karena rasa ingin menyayangi, tetapi cinta tidak pernah membebani siapa-siapa, karena dirinya memang sesuatu yang ada sejak manusia ada. Lalu apakah kadar cinta juga berpengaruh dalam sebuah hubungan? Di mana seorang wanita dan pria akan berkontribusi di dalamnya. Cal selalu bertanya-tanya mengapa memahami seorang wanita begitu mempersulit jalannya menjadi seorang pria sejati?

Ketidakwajaran hubungan antara dirinya dan Lila memang sering kali membuatnya harus berpikir ulang apa yang seharusnya terbaik bagi mereka. Dan Cal berharap ketika keputusan sudah ia dapatkan, ia ingin mempercayainya juga yakin tanpa perlu bertanya-tanya lagi. Karena sepertinya ia sadar bahwa usahanya untuk bersikap dewasa memiliki banyak cobaan yang mengharuskannya tegar dan sabar.

***

Hari itu mendung, langit tak merona sama sekali. Aku membawa payung seperti biasa, kebiasaan yang Bunda ajarkan ternyata berguna. Sudah hampir setengah jam aku menunggu di taman dekat tempat tinggal, tapi sepertinya gadis itu ingin sedikit menguji kesabaranku. Aku kenal siapa dan bagaimana sifatnya. Maka, aku terus menunggu sampai suara langkah kakinya akhirnya terdengar dan seperti malu-malu untuk segera mendekat dan duduk di sebelahku.

Ia hanya diam tanpa memancarkan ekspresi, terkesan dingin dan tak acuh. Aku tahu ini pasti buruk. Karena memang sebenarnya aku yang memulai suasana buruk. Aku ikut berdiri sejajar dengannya, menghadap dan menatap lekat wajah oval kuning langsat itu.

Tetap tak ada suara dari kami berdua. Aku yakin sekali bahwa jauh di dalam batinnya ia sedang menggerutu tak senang, apalagi hari sebentar lagi hujan. Aku tahu dia tidak menyukai hujan. Aku biarkan dia sampai bosan. Biar saja bosan karena aku sengaja melakukannya, mungkin ini adalah satu-satunya cara terakhir untuk menggodanya.

Terlihat dia memainkan sepatunya, menghentak sedikit dan mendecakkan lidahnya kesal. Aku tersenyum saja tanpa perlu menanggapinya terlalu jauh. Hingga akhirnya ia melontarkan kata itu. Perasaan kesal, jengkel dan semacamnya. Pertahanan dirinya goyah, ia mendesak untuk segera menyelesaikan masalah ini dan aku punya solusi yang sangat tepat untuk kami berdua saat ini.

“Maafkan aku, Lila. Aku sudah tidak bisa lagi untuk jadi orang yang kau sandari. Hubungan kita sudah cukup sampai di sini. Kita lebih baik berteman saja, bagaimana?” dengan sangat jelas dan lancar akhirnya aku bisa mengutarakan apa yang ingin aku sampaikan selama ini padanya.

Wajahnya memaling ke arahku setelah berapa kali mencoba menghindar. Matanya membulat sempurna. Ahh, mata kesayanganku.

Ia mendengus kesal, “Berteman? Kau bercanda, ya? Tidak ada namanya laki-laki dan wanita berteman.”

“Itu mungkin benar, tapi percaya pasti ada sosok lain yang bisa mendampingimu nanti. Maafkan aku, Lila.”

Aku bisa melihat wajah terlukanya saat aku ingin akhir dari hubungan ini. Aku bisa melihat titik air mata yang akan segera keluar dari pelupuk matanya. Dan aku bisa tahu bahwa nuraniku berat untuk melihatnya. Tapi, aku harus membalikkan badan dan melangkah menjauh dari dirinya. Semakin lama aku melihatnya akan semakin tidak baik dan berakhir tanpa hasil apa-apa. Karena aku tidak mau terlihat seperti anak laki-laki lagi di depannya. Aku harus pergi dari hadapannya sebagai seorang pria.

Seorang pria yang mampu menguatkan diri dan orang-orang sekitarnya. Seorang pria yang tidak akan lemah hanya arena perasaannya. Saat menjadi seorang anak laki-laki banyak luka, tawa, canda, dan cinta yang aku dapatkan. Saat ini pun aku juga ingin mendapatkan banyak rawa, canda, dan cinta meski luka pasti ada. Seperti di awal aku ingin menjadi seorang pria, luka melihat orang yang dulu begitu kita cintai terluka, luka itu ada. Samar-samar memang mengganggu, tapi keyakinanku bulat, luka itu tidak akan apa-apa. Karena ketika kita tumbuh melalui rasa sakit, itulah bagaimana anak laki-laki tumbuh menjadi seorang pria. (ik)

Sempurna Itu Luka

Orang sempurna bukanlah satu-satunya yang selalu mendapat apa yang ia inginkan. Orang sempurna adalah tempat cacian bahkan kritikan mampir kepadanya. Menjadi orang sempurna seperti menjadi orang yang terhina. Bukan perkara apa-apa, hanya saja kata sempurna seperti kutukan yang tidak mau lepas sebelum sempurna itu hilang dari jagad raya.

Mungkin begitu dengan Hanny, seorang putri tunggal dari keluarga cukup kaya. Urusan penampilan dari ujung rambut sampai ujung kaki tidak perlu dipertanyakan. Masalah pergaulan dia merupakan sosok yang cukup terkenal. Otak begitu cerdas dan prestasi juga kesana kemari pun ada.

Tetapi, membayangkan kalau setiap hari harus mendengar ocehan juga celaan, bahkan sindiran dan semacamnya terlontar begitu saja kepada diri kita. Apakah ada kesabaran seseorang bisa tetap mempertahankan emosi mungkin mental untuk tetap stabil?

Aku rasa tidak. Hanny, dia tertekan di mana-mana dan sekali lagi dia bukan orang yang sempurna. Telinganya mungkin sudah bernanah, berdarah berkali-kali kalau gunjingan, celaan, dan hinaan yang ia dapat diibaratkan pisau belati atau garpu yang ujungnya tajam. Usahanya tak kunjung tampak dengan mencoba tersenyum pada sekelompok orang yang jelas-jelas memperlakukannya sebaliknya. Mungkin belum terjadi, tetapi ia tetap tersenyum, meski malam sebelum tidur tangisnya juga sampai 3 ronde pun belum cukup.

“Hanny, ngapain kamu disini? Sudah pintar tidak perlu belajar, nanti kami tersaingi dan guru akan meningkatkan standart penilaiannya kalau sampai kamu dapat nilai A lagi.” Ujar salah seorang teman yang di hadapannya terdapat setumpuk buku-buku tebal dan buku tulis yang terlihat sudah penuh dengan catatan.

“Tenang saja, aku hanya akan mengembalikan buku lalu pulang.” Balas Hanny dengan nada kalem.

“Baguslah,”

Setiap hari pujian datang sebanding dengan gunjingan yang ia dapatkan. Ia tidak mengerti kenapa menjadi seorang dia terlalu rumit berbaur dengan sesama. Mungkin mereka iri juga dengki. Tetapi, apa hal semacam itu dibenarkan?

“Jangan suka cari muka! Pergi sana!”

“Mau cari sensasi lagi? Mau pamer kalau populer?”

“Jangan sok. Cantik bukan milikmu sendiri, kaya dan pintar apalagi.”

Dengungan-dengungan yang menyesakkan telinga, membuatnya terpuruk jauh dan tenggelam dalam keruetan yang menjalar bak akar tanaman yang suka sekali menjegal kaki. Hatinya sesak, pilu. Teriakpun sama saja, matipun percuma. Dia ingin lari juga pergi. Lenyap kalau bisa.

“Tidakkk!!” batinnya terkoyak. Tak bisa dipungkiri ia sakit hati.

Tetapi, hatinya yang berlinang tak ingin malang. Ingin jiwanya unjuk diri bahwa dunia masih ada untuk dirinya. Tak dipungkiri, ia masih ingin berdiri. Tak tahu lagi hujatan seperti apa yang ia dapat setelah ini. Karena ia ingin mandiri, ingin kuat bak belati yang tajam dan penuh nyali.

Dirinya selalu dikuatkan oleh orang tuanya, kendati mereka jarang sekali berada di rumah. Masih ada guru-guru yang senantiasa memberi perlindungan. Tak jarang Hanny begitu dekat dengan gurunya dari pada kedua orang tuanya.

“Abaikan saja, jangan menghiraukan orang-orang yang iri padamu.”

“Iya, Bu.”

Fatal terjadi ketika waktu jam istirahat berakhir. Ada seseorang yang menyuruhnya untuk pergi ke dekat kamar mandi lantai 3 dengan alasan ada yang ingin dibicarakan. Tapi, yang terjadi adalah dirinya dikunci selama seharian dan selamat pada keesokan harinya. Ia menangis tersedu dan mengadukannya ke guru BP.

Orang tuanya sempat mencarinya dan mendapat laporan kalau anak semata wayangnya terpaksa menginap di sekolah. Geramnya orang tua Hanny membuat teman-temannya menciut nyalinya. Mereka seperti tersadar bahwa tindakan mereka sudah berlebihan. Etika moralnya perlu dipertanyakan. Benar-benar,sekali lagi Hanny bukanlah orang yang sempurna.

Sesampai di rumah, kedua orang tua Hanny berbincang. Memutuskan untuk memindahkan putrinya ke tempat di mana tidak ada diskriminasi yang didapat oleh putrinya. Demi kebaikan mental juga masa depannya.

“Papa ingin kamu pergi. Pergi untuk menjadi orang hebat, bukan pergi untuk menghindar.” Papa menatap lekat putrinya yang sayu matanya.

Tak ada kata-kata lain selain senyum rindu. Mungkin sedikit banyak Hanny merasa rindu pada perhatian kedua orang tuanya. Jika karena masalah ini ia mendapatkan perhatian orang tuanya, tak jadi soal kalau ia harus merana.

Malam itu juga tawaran kedua orang tuanya ia amini. Berkemas cepat tanpa perlu membawa seisi rumah. Tak lupa ia menulis surat untuk semua yang pernah memberinya perhatin, dari pujian sampai sindiran. Ia tulis dengan bahasa yang sopan dan bersahabat. Menggunakan kertas berwarna pirus beraroma kertas biasa. Kemudian ia sematkan fotonya yang saat itu menjadi peraih juara pertama olimpiade sains. Senyum merekah saat itu didampingi teman dan juga guru.

Ia titipkan kepada pesuruhnya untuk pagi-pagi sekali dikirim ke meja redaksi mading sekolah. Secepat kilat perintah sang papa, secepat itu hari berganti. Tiket berada di tangan, siap mengangkasa di akhir hari nanti.

Langit sore menjingga sempurna, ada semburat kelabu sisa mendung kemarin yang tidak habis luruh bersama hujan yang baru tadi pagi mereda. Ruang tunggu ramai lalu lalang calon penumpang dengan tentengan barang bawaan. Hanny berada di antarnya. 15 menit lagi sebelum take off, dirinya masih menunggu untuk kesekian kali kepada mereka yang dulu pernah membencinya.

Ingin berpamitan secara langsung, tetapi tak ada waktu baginya untuk sekadar beramah tamah. Kemarin juga sebuah surat sudah ia layangkan ke pengurus mading sekolah. Barangkali tadi pagi surat itu sudah terpasang dan ramai dibicarakan sampai saat ini. Isinya ia izin pamit untuk meniti pendidikan yang lebih tinggi di negeri orang. Bukan ingin pamer, tetapi ia ingin bertemu banyak orang yang mungkin tidak akan memandang ia sempurna, melainkan seseorang yang perlu belajar lebih banyak dan seseorang yang tidak pernah bisa sempurna mengalahkan Tuhannya.

Jujur sakit hatinya belum reda, ia merasa sempurnanya tidak ada arti yang mungkin dapat ia gunakan untuk memotivasi orang lain. Malahan ia mendapat motivasi dari mereka yang mencibirnya. Keanehan macam apa yang ia pikirkan, menganggap semua cobaan menjadi semacam adu mental tahan apapun.

Senyumnya terbit meski senja sudah luruh berganti petang. Suara bising mesin dan avtur yang telah berada di tangki mengantar Hanny siap mengangkasa petang itu juga. Mengubur semua luka dan membuang semua sempurna. Ia bukan apa-apa, ia akan menjadi orang serba bisa dan kuat bak metal baja.

(ik)

Rahasia Hati

Kemarin seperti halnya hari ini. Cerah tanpa ada ramalan turun hujan. Kesibukan setiap orang memuncak di penghujung hari untuk mendapatkan akhir pekan yang sempurna. Di hari yang cerah ini, masih ada yang meniti nasib dengan sembunyi-sembunyi. Mungkin juga secara blak-blakan menyadurnya begitu saja. Hingga tak paham rasa sakit yang dimiliki orang lain.

Siang itu segerombolan manusia dari segala penjuru arah menyerbu kantin kampus yang sudah dipadati mahasiswa yang memiliki tujuan yang sama setelah dari pagi bergulat dengan diktat dan materi presentasi ataupun bahan-bahan praktikum. Salah satu meja yang terletak di tengah puluhan meja lain ditempati 4 mahasiswi yang sedari tadi meributkan sesuatu yang membuat perhatian orang-orang di sekitar teralih pada mereka. Tawa berderai diproduksi dari mereka berempat. Membicarakan hal-hal yang hanya mereka yang tahu. Tanpa ada tanda-tanda apapun, hari ini akan jadi hari panjang untuk salah satu dari mereka. “Oke, semuanya. Aku punya pengumuman,” Olla, gadis berhijab biru tua dengan dandanan casualnya memecah tawa mereka untuk sesuatu yang selama ini ia pendam sendirian. “Pengumuman apa?” sahut Sanny penasaran. Dengan mata berbinar-binar dan senyum yang tak putus-putus, ia buka sedikit rahasianya, “Aku lagi suka sama seseorang.” “Benarkah? Aku juga lagi suka sama seseorang.” rasa terkejut sekaligus tertarik membuat Riyani salah satu teman Olla ikut mengungkapkan rahasianya. Keduanya saling bertatapan tidak percaya dan tertawa bersamaan pada akhirnya. Teman-teman mereka menunjukkan wajah penasaran dan ingin tahu lebih lanjut. “Jadi, siapa yang akan bicara duluan?” Erta bertanya pada keduanya dengan sekali tusukan bakso yang tinggal seperempat itu masuk ke mulutnya. “Kau duluan saja Olla. Kau kan tadi yang pertama bicara,” tanpa mengurangi rasa hormat, Riyani mengalah. “Tidak, kau saja Yani.” Tetapi, Olla memilih menjadi orang kedua dan bisa jadi itu fatal akibatnya. “Hmm, baiklah.” Senyumnya kembali terbit dan tidak bisa dipungkiri, ia begitu senang mendominasi temna-temannya. “Jadi teman-teman. Aku… suka dengan teman sekalas kita,” “Siapa?” Erta kembali tak sabar. “Galang.” Satu nama keluar dari bibir Riyani, “Aku suka sama Galang, teman-teman.” Terurailah nama itu sekali lagi dan seketika wajah gadis itu memerah malu bak tomat ranum. Namun, bukan main terkejutnya Olla setelah mendengar pernyataan Riyani tentang siapa gerangan yang gadis itu sukai. Bukan perkara siapa yang berhak menyukai Galang, tetapi kenapa harus Riyani yang juga sahabatnya. Sudah begitu Riyani terihat begitu senang sekali saat mengungkapkan hal tersebut, sehingga membuat Olla semakin menciutkan nyalinya sendiri unutk mengungkapkan siapa yang ia sukai. Karena sudah jelas, ia juga menyukai Galang. Nama itulah dan dengan tujuan yang sama ia awalnya ingin mengungkapkan perasaannya. Galang Mahendra, lelaki yang didaulat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil dan memiliki senyum kharismatik itu telah membuat Olla yang notabene adalah seorang perempuan dengan kepribadian tomboy dan suka ribut di manapun dia berada menyukainya lebih dari yang ia ketahui. Suatu kemustahilan memang untuk mampu membuat seorang Galang berbalik menyukainya. Riyani jelas lebih unggul darinya. Dengan gaya yang dimilikinya, dia lebih mungkin untuk menarik perhatian seorang Galang. Saat teman-temannya kembali mempertanyakan siapa orang ia sukai, dirinya hanya tersenyum, kemudian mengalihkannya dengan nama seseorang yang begitu saja terlintas di pikirannya. Tetapi, hal tersebut didahului Sanny yang juga nampaknya mengetahui betul siapa yang akan digagas oelh Olla. “Jangan bilang, kau menyukai Habib? Dia begitu getol mendekatimu, kan.” “Yah, begitulah.” Hanya itu dan gendikan bahu serta senyum masam yang terpaksa ia terbitkan. Selanjutnya berita tentang Riyani yang menyukai Galang tersebar cepat di kalangan teman-teman sekelas. Tentu saja itu tidak terlepas karena memang mulut besar Riyani-lah yang membuat hal itu menjadi demikian. Tersudut juga perasaan Olla yang tidak pernah ada penyampaian. Ngilu hatinya saat tahu bahwa Riyani dan Galang menjadi semakin dekat semenjak berita itu tersebar. Tidak ada yang pernah tahu apa yang dirasakan Olla, hingga dirinya lambat laun berubah menjadi sosok yang pendiam dan menjadi orang yang tidak lagi bisa nyaman, jika membicarakan masalah Galang yang tiba-tiba hinggap dipercakapan mereka berempat. Bulan saja memiliki bintang untuk terus ada di semestanya. Kenapa tak ada yang mengasihi perasaannya? Sepanjang 3 semester berlangsung dengan sangat tidak nyaman, tetapi Olla berusaha untuk beradaptasi secepatnya. Dirinya tidak ingin teman-temannya mengetahui keterpurukannya. Ia berusaha menjadi Olla yang seperti mereka kenal. Tak memiliki beban berarti yang membuatnya tak berdaya. Tetapi perlu diketahui, meski dirinya yang paling jarang menangis dan mengeluh di antar teman-temannya. Dirinyalah yang sering kali merasa sakit dan mengabaikannya begitu saja. Setiap kali mengingat Galang, yang terlintas di pikirannya adalah saat lelaki itu bersama sahabatnya. Meskipun dirinya sendiri memiliki kenangan bersama Galang, tetapi rasa cemburu membuatnya melupakan hal tersebut. Hingga suatu hari Sanny datang ke rumah indekosnya. Di sana gadis itu mendapat Olla yang bukan Olla dan sebuah kesadaran baru terlintas di pikirannya. “Kau tidak sedang patah hati, kan, La?” “Kata siapa? Tentu tidak,” menghindar bukanlah kebiasaan Olla dan Sanny langsung menyadarinya. “Jangan bohong. Kau juga menyukai Galang, kan?” tebakkan Sanny begitu tepat dan menjadikan Olla tergagap sebelum akhirnya mampu ia kilah kembali. “Kau ini bicara apa sih?” “Kau pasti selama ini menahannya? Kau pasti sakit hati. Iya, kan?” “Kau ini bicara apa? Aku tidak punya perasaan apa-apa pada Galang. Jangan mengada-ada.” “Jika benar demikian, kenapa sikapmu berubah dingin kepada Riyani? Kau jadi terlihat seperti orang terkena iritasi setiap Riyani bercerita soal Galang.” “Hanya perasaanmu saja.” Olla tetap pada pendiriannya, takkan ia mengakui perasaannya begitu saja yang percuma. “Baiklah kalau kau memang belum mau jujur. Tapi, aku bisa jaga rahasiamu itu. Tenang saja.” Dan pembicaraan tentang Galang pun terputus begitu saja tanpa ada yang mau melanjutkan. Olla menyadari dirinya tidak akan mungkin bisa terus menghindar dari teman-temannya. Tetapi, yang terjadi adalah dirinya seperti lepas kendali dan pada akhirnya akan seperti keadaan semula yang tidak pernah ada dalam agendanya. Di tengah hiruk pikuk dan kusut masai hati dan pikirannya, sebuah kabar beredar bahwa Riyani dan Galang tidak lagi bersama. Memang mereka tidak pernah mengungkapkan dan mendeklarasikan bahwa mereka saling menyukai, tetapi yang membuat terkejut adalah Galang baru saja memiliki pacar dan demikian juga dengan Riyani. Dan perlu dipertegas, mereka memiliki kekasih masing-masing bukan saling memiliki sebagai kekasih. Lucu benar ia dipermainkan nasib juga keadaan. Tawanya berderai hingga air matanya tumpah tak sengaja. Bagaimana bisa… bagaimana bisa ini semua terjadi? Apakah ini karena ia terlalu takut mengatakannya, hingga buruk sangkanya begitu alot untuk meninggalkan kewarasannya? “Olla? Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Galang suatu hari di jam kuliah sore. “Ah, tidak. Aku tidak sedang menatapmu. Jangan kege-eran ya,” cebik Olla dengan wajah sedikit memerah malu. “Oh, benarkah? Baiklah kalau begitu.” Senyum Galang masih menjadi nomor satu bagi Olla dan hal itu adalah penyakit menular baginya. “Akhir pekan ini kosong tidak?” “Eh? Tidak ada sih. Ada apa?” “Ikutan paralayang dengan anak-anak HMJ yuk, aku yang traktir deh.” Tiba-tiba jakan itu muncul begitu saja, perlu dicatat saat ini Galang masih bersama kekasihnya yang entah siapa itu namanya. “Wah, sepertinya menarik, tapi dengan anak-anak HMJ. Apa tidak masalah?” “Kenapa tidak? You come in?” “Of course,” sahut Olla tanpa pikir panjang. Dan begitulah, di akhir pekan Galang bersama dengan teman-teman HMJnya mengajak serta Olla untuk bermain paralayang bersama. Tidak terkejut juga bahwa Galang mengajak Yaya, kekasihnya, pun ikut. Dengan sangat tidak nyaman untuk kedua kalinya, Olla berusaha menikmati permainannya. Ia tidak ingin pikiran negatifnya merusak suasana baik hatinya yang tengah merasakan permainan menyenangkan dan graris pula ini. Dirinya tahu, tak ada lagi kesempatan tersisa jika ia tetap diam seperti ini, tetapi memang itulah yang ia inginkan. Tak ada kata yang perlu ia ucapkan.yang ia tahu dan inginkan adalah hatinya berhak memilih siapa saja yang memiliki hatinya. Tak perlu ditentukan dan dipastikan. Ia yakin hatinya tidak pernah salah. Jadi, meskipun matanya iritasi melihat keduanya bermesraan, tetap saja senyumnya terkembang begitu saja. Mungkin dirinya sudah memaafkan dirinya sendiri juga menerima apa yang perlu ia terima. Tak perlu ada yang disesalkan, karena memang hal yang saat ini ia butuhkan adalh semangat untuk bertemu hal batu lainnya tanpa meributkan hal-hal yang membuatnya tak dapat mengenaliku sendiri. Jika pertemuan adalah hal untuk saling berbagi hati Jika pertalian adalah hal untuk saling memahami hati Bukan inginku untuk memiliki lebih Tetapi malah relaku untuk memberikan punyaku dimiliku olehmu Sampai kapan mungkin aku tak tahu waktu Kalaupun kau tak sanggup untuk membawa bersamanya lebih lama Kembalikan saja ke tempat dimana kau amil sebelumnya Jika memang tak ingin memiliki, jangan coba-coba untuk menggodanya Karena tak ada yang mampu menggodanya di sini selain kau seorang… Puisi “Hati sang Pemilik” oleh Iklima “Aku ingat, kau tak ingin bilang apa-apa padaku jika kau suka pada Galang. Aku sekarang tahu alasannya,” ujar Sanny pada suatu jingga yang memerah dengan sempurna jika awan mendung itu tang menghitam dengan sangat buruk. “Jika kau tahu alasannya, mungkin juga aku tak perlu mengatakannya lagi. Tapi, ada sedikit kesalahan di kalimatmu.” “Bukannya aku tak ingin Galang tahu aku menyukainya, hanya aku tak ingin dia tahu bahwa dirinyalah yang telah memiliki hatiku selama ini. Bukankah itu yang lebih penting?” “Ya, kau benar.” “Aku tidak akan mengharapkan hadirnya di sisiku, jika memang bukan itu keinginannya. Aku juga tidak akan berharap dirinya akan berpikiran demikian. Bagiku, cukup menyukainya adalah sebuah pilihan. Aku bukan penggemar rahasianya, karena memang tak ada niat untuk menjadi seorang penggemar rahasianya. Jika ia tahu nanti entah kapan yang perlu ia tahu hanyalah, dirinya memiliki hatiku yang tak akan ia dapatkan jika selamanya tak ada pernyataan. Tetapi, memang cukup begitu saja. Tak perlu ada yang tahu lagi. Cukup aku dan Tuhan yang tahu. oh, mungkin juga Sanny yang menebak tepat tanpa aku iyakan sebelumnya. Cukup rahasia ini aku yang miliki dan hati ini dia yang miliki. Tak perlu ada ungkapan, karena aku percaya suatu hari nanti ada yang lain untuk mengisinya lagi.”

(ik)

Melepas Ragu dan Rindu Pada Angin

Kutuklah aku yang selalu berharap mampu menggetarkan bumi untuk lebih menyayangiku. Inginku hanya satu, tak ingin sepi dan mati sendiri. Jika memang Tuhan berkehendak lain, bisa jadi aku akan menerima apa yang Ia tuturkan. Tetapi, sedikit saja aku boleh berharap. Tolong jangan biarkan aku membenci angin yang sudah kuanggap kekasih sejati sepanjang hidupku.

Aku tak berumpun. Adapun sanak saudara yang tersebar di sekitar sana, tetapi berdiri berjauhan seperti ini bak ayam kehilangan induknya. Setiap sore harus sedikit meringis kesakitan apabila usia telah matang dan angin lembah turun untuk sekadar mendinginkan sekitar.

Belajar ikhlas setiap hari, belajar lapang untuk melepas sesuatu yang telah pergi.

Tak apa juga hal itu terjadi, karena nantinya aku akan tumbuh lagi untuk mengantar mereka yang ingin pergi dan mencari penghidupan yang baru dan mungkin tidak di sini. Hak mereka ingin pergi, juga memang bukan salah angin ketika tak berniat menerbangkannya. Hanya saja, kehilangan sesuatu yang berharga merupakan perihal yang sama sekali berbeda. Kuatkan hati untuk tak rubuh sebelum usia benar-benar habis termakan cuaca.

Aku tak setajam duri mawar ataupun kaktus padang pasir. Aku sosok yang rapuh meski pujian cantik nan anggun selalu tak kalah pamor dengan Bulan yang mekar mewah dan terjual mahal. Aku murahan, tak ada yang bisa memeliharaku. Tidak mungkin memang, karena siapa yang akan sudi dengan aku yang memang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan?

Dulunya aku seorang perindu pada sosok yang terbang melayang dan sesekali turun ke bumi tandusku untuk memberi senyum yang ibarat air, ia lebih dari sekadar zam-zam. Ia begitu agung dan sempurna jika dibandingkan dengan aku yang lugu dan tak berwarna.

Rinduku begitu menggebu hingga tak tahu malu. Kupoles diriku dengan warna dadu, tetapi hujan meluruhkan seluruh pesonaku. Membuatku pucat pasi tanpa seri. Demi Tuhanku, aku membencimu, hujan. Tetapi ia hanya menyeringai tanpa merasa berdosa.

“Kau ingin berdandan untuk siapa? Memang ada yang tertarik padamu?”

Kenapa bisa ada makhluk seperti dirinya di dunia ini? Tawanya semakin menjadi-jadi. Entah kapan susut semua tangis karena tertawanya yang keras itu. Angin datang setelahnya, begitu kacau balau seakan dirinya saat ini bukanlah sosok yang aku kenal dan kusimpankan rindu yang setiap hari kuberi.

Barangkali seharian digempur hujan dan ributnya angin yang tengah gundah. Aku bergegas mengeringkan diri dengan sinar mentari yang hangat untuk sekian kali semenjak aku bernyawa. Tetapi, aku tersadar tak ada banyak waktu untukku berkeluh kesah. Usiaku sudah berada pada ujung jemari kucing liar.

Bulu-buluku telah mengering, ia bergoyang ringan saat angin yang kukenal dan kurindukan datang menyapa. Aku belum siap, masih perlu menunggu. Kalau perlu jangan dulu. Aku ingin bersama kekasihku untuk waktu yang lebih lama. Aku masih ingin berbagi rindu padanya.

Tapi sebuah kesadaran baru bermunculan di benakku. Rinduku terlalu membuat kantongku penuh. Pori-pori tubuhku terbuka penuh, melepas seluruh rindu dan ragu yang aku simpan untuk angin yang setia bersamaku. Membawa pergi seluruh hidupku kemanapun ia pergi, kemudian menempatkanku di tempat yang baru.

Rumpunku layu, kemudian tumbuh saudara baru. Bisa jadi ia bakal tenggelam ke bumi atau tetap berada di permukaan. Yang aku tahu aku jatuh lalu bertemu bumi kembali. Mencari hara yang selalu memberiku makan dan nutrisi yang berguna. Kemudian mencari batu untuk menguatkan akar-akarku. Dan lagi mencari angkasa serta angin baru yang mau kujadikan naungan dan kekasih baru.

***

Namanya Satya, orang pertama yang mengatakan padaku bahwa akulah makhluk yang paling cantik. Dia menemukanku sendirian dan terisolasi. Setiap harinya ia datang memberiku air dan makanan. Bayangkan hari-hariku ke depan, begitu menyenangkan karena aku tidak akan sendirian lagi dan merasa bahwa dunia sedang kejam padaku. Dunia sedang sayang padaku.

Satya, lelaki yang manis meski tak rupawan. Matanya yang setengah menyipit dengan dagu lancipnya itu diam-diam telah membuatku ingin memilikinya. Bahkan saat dirinya pernah membawa gadisnya kemari untuk sekadar melihatku, aku tak sudi Satya dimiliki oleh orang lain selain aku. Aku berani bersumpah, jangankan untuk tersenyum, melihat gadis itu tersenyum pada Satya di depanku pun aku tak mau.

Semenjak hari itu Satya menjadi sering datang bersama gadisnya untuk menemaniku. Aku rindu Satya yang datang sendiri kepadaku. Aku rindu Satya yang hanya melihatku. Aku benci pada gadis yang bergelayut manja di lengan pujaanku.

Hingga sore itu tiba, Satya maupun gadisnya tidak tampak seharian. Cemasku kemana-mana. Doaku semoga tak terjadi apa-apa. Tapi, tak berlangsung lama tenangku terusik dengan dengungan suara aneh yang jarang kudengar. Kemudian aku mendengar suara Satya. Ia seperti sedang memburu dan perintahnya tegas juga sarat penekanan. Aku bingung, ada apa? Apa yang terjadi.

Pertanyaanku terjawab sudah, ketika dinding batu bata di sebelahku rubuh dan hampir menimpaku. Aku kaget setengah mati. Aku tahu selama ini aku berada di antara rumah tua yang katanya siap dipugar kembali. Tak tahu kalau itu adalah saat ini.

Satya terlihat mondar-mandir, sesekali dapat kulihat gadis yang dulu bersamanya juga turut serta. Semua orang yang ada di sana memakai helm pelindung warna putih pucat. Terlintas pikiran buruk di kepalaku. Dan benar saja, untuk pertama kali Satya menatapku dengan sorot begitu dingin. Tak pernah kurasakan dia seberbeda itu. Aku tak mengenalinya.

Dan saat benak terus bertanya-tanya, aku merasa ragaku ringan. Aku ingat angin sempat berhembus pelan kemudian riuh di sekitarku. Aku merasa terbang dan juga kosong disaat bersamaan. Ada apa? Apa yang terjadi padaku?

“Maafkan aku,” samar-samar suara berat Satya mengalun di telingaku.

Tangisku pecah saat itu juga, sesak yang ada di dada begitu kentara. Hingga hanya menutup mata dan meremas urat nadi yang kini bisa kujadikan pelampiasan. Aku tahu selama ini dia ada bersamaku, tetapi aku juga tahu selama ini dia juga mengasihaniku. Sungguh aku bukan hal yang pantas untuk dirindu. Kepada bumi aku ingin mati saja. Kepada angin aku ingin hilang saja.

(ik)

Cerita Kita dan Hujan

Rintik yang tenang,

Mengalirkan kenangan,

Kau, aku, dan hujan.

Sejauh ini hujan masih menjadi saksi yang sangat efektif untuk menyembunyikan banyak cerita di sekitarnya, begitu juga dengan cerita kita. Saat itu hujan turun dan kita membuat jalinan cerita yang akan menghuni sudut memori pada masing-masing diri kita…

(ik)
Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku