Arsip Tag: Hujan

Cerita Kita dan Hujan

Rintik yang tenang,

Mengalirkan kenangan,

Kau, aku, dan hujan.

Sejauh ini hujan masih menjadi saksi yang sangat efektif untuk menyembunyikan banyak cerita di sekitarnya, begitu juga dengan cerita kita. Saat itu hujan turun dan kita membuat jalinan cerita yang akan menghuni sudut memori pada masing-masing diri kita…

(ik)
Iklan

Kalau Memang…

Gambar

 

Kalau memang dalam sebuah hidup itu ada kata ‘jenuh’ itu mungkin benar adanya. Segala sesuatu yang terjadi memang tidak selamanya akan terasa menyenangkan ataupun tetap pada rasa positif. Adakalanya dia berubah menjadi membosankan. Bukan apa-apa, tidak harus menanggapinya dengan kerutan di dahi atau sanggahan yang harus mengeluarkan urat-urat leher. Hindari debat kusir yang tidak berguna dan melelahkan. dengarkan aku dulu sampai aku selesai bicara…

Yang aku maksud, ini adalah hal yang sangat wajar dan tidak mungkin ini bisa raib dari tempatnya. Kejenuhan, rasa bosan, perasaan-perasaan yang merubah perasaan yang baik menjadi buruk adalah hal wajar. Karena sebenarnya, tidak ada yang abadi dalam status situasi itu sendiri. Kadang ini menyenangkan. kadang pula berubah membosankan, tapi kadang juga kembali menyenangkan….

Intinya, kejenuhan dan ras bosan adalah suatu rasa yang pasti akan dimiliki oleh kita sebagai pelakon dalam kehidupan yang tidak panjamg ini. Hidup ini singkat kawan. Karena rasa bosan dan jenuhlah akhirnya kita menjadi tahu dan paham dan juga mengerti apa yang harus kita lakukan agar hidup, hubungan atau situasi ini tidak menjadi jenuh dan membosankan.

Tidak perlu selalu menjadi sempurna, karena sejatinya menjadi sempurna itu melelahkan. terlalu banyak orang yang menuntut. Terasa ada tali kekang yang mengikat leher kita. Dan selayaknya hujan, terkadang dia begitu mendamaikan, tapi dia  juga begitu memusingkan. Suatu ketika memberi perlindungan dari siapa saja yang akan mencuri dengar obrolanmu, namun bisa cepat berubah menjadi dinding-dinding tipis pembatas antara kita….

-Teaser Novel Hujan Kala Itu 2

Gambar

Bagian 1

 

Hari itu langit begitu gelap dan pekat karena mendung masih saja bertahan semenjak pagi tadi. Gerimis lembut pun tak urung untuk segera mereda. Genangan air disana-sini, menambah efek basah sore itu. Disebuah halte bus sudah banyak anak-anak sekolah, mahasiswa, dan pegawai kantoran yang berteduh disana sambil menunggu bus mereka dating atau sekedar menunggu jemputan. Ada yang duduk sendiri sembari menikmati sebatang rokok, ada yang hanya sekedar duduk diam dengan sekali-kali mengusap-usap kedua lengannya dan kedua mata yang terus mencari entah seseorang atau hal lainnya. Atau beberapa anak sekolah yang rebut bergosip tentang teman, pacar, guru, sampai ke hal-hal yang krusial.

Dari sekian orang yang berbeda dengan bermacam-macam aktivitas pula yang ada dihalte bus tersebut, hanya ada satu orang yang begitu tenangnya duduk di pojokkan. Dia diam dengan kedua matanya menatap kedepan. Kedua tangannya ia lipat di depan dada, dan salah satu kakinya secara berkala ia hentakkan ke tanah pelan-pelan. Jaket jins yang tengah ia kenakan Nampak basah. Mungkin dia sudah kehujanan sebelum sampai di halte. Kemudian dia berdiri melangkahkan kakinya untuk berjalan kedepan. Hanya dua langkah. Setelah tiba tepat dibawah batas atap halte, ia mendongakkan kepalanya ke atas, menatap lama aliran air hukan yang jatuh dari atap halte. Perlahan ia mengangkat sebelah tangan kanannya. Menengadahkannya. Membiarkan aliran air hujan yang jatuh dari atap halte tersebut jatuh pasrah ke atas telapak tangannya. Seakan ia ingin menampungnya dalam genggamannya.

Dia memperhatikan telapak tangannya yang terus menerus di tempa air hujan sampai-sampai beberapa kulit jarinya menjadi keriput karena kedinginan. Beberapa orang yang ada disekitarnya melihatnya dengan tatapan heran dan bertanya-tanya. Hingga ada yang mengatakan, “Orang aneh” terhadapnya. Tapi sepertinya dia tidak bergeming, seolah-olah dia sedang sendiri dan semua orang yang ada disekitarnya itu tidak ada.

Tidak berapa lama, Nampak dari kejauhan seorang gadis berlari-larian dengan tas yang ia gunakan sebagai pelinding kepala dari hujan menuju kearah halte bus tersebut. Karena dia terburu-buru untuk segera berteduh di halte tersebut, tanpa sengaja dia menabrak pemuda tadi yang membuat dia harus mengucapkan kata maaf terus menerus.

“Oh, maaf ya, maaf. Aku nggak sengaja. Maaf ya, kamu nggak apa-apa, kan? Maaf ya, maaf banget..” pemuda itu hanya menatapnya datar, ia hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun kepada gadis tadi.

Gadis itu yang ditatap datar dan dingin oleh pemuda tadi hanya bias memberikan senyumannya yang terbaik, namun langsung lenyap ketika pemuda itu kembali tidak mengacuhkannya. Gadis itu pun akhirnya hanya bias merengut lalu dia berjalan kebelakang untuk mencari tempat duduk yang kosong.

Sudah lebih dari lima bus yang berhenti didepan halte tersebut, tapi pemuda itu tetap berdiri  menatap hujan meski dia sudah tidak lagi menengadahkan tangannya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Dan halte tersebut sudah mulai sepi, hanya segelintir orang yang berada disitu. Mungkin, pemuda itu sudah mulai lelah berdiri menatap hujan, kini ia beralih untuk berjalan kearah tempat duduk panjang yang kosong. Wajahnya yang sedari tadi nampak datar dan cenderung kaku, kini sedikit menunjukkan ekspresi, lebih tepatnya terkejut. Dia terkejut dengan apa yang ditangkap oleh kedua matanya. Tapi tatapan terkejutnya itu segera berganti dengan pandangan yang lembut seperti beledu. Tatapannya seakan-akan membelai setiap jengkal wajah seorang gadis yang tengah tertidur itu. Gadis itu merupakan gadis yang tadi sore lari-larian menembus hujan untuk berteduh di halte ini dan tanpa sengaja menabrak pemuda yang saat ini tengah mengawasinya. Gadis itu tertidur dengan kepala yang ia sandarkan pada besi penyangga halte. Ia mendekap tas coklatnya dengan erat, seakan tidak ingin ada orang yang mengambilnya. Rambut hitam sebahunya nampak basah dan berantakan akibat kehujanan.

Pemuda itu berjalan mendekat kemudian mengambil tempat duduk tidak jauh dari gadis tersebut. Yang dia lakukan hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Lampu-lampu jalan sudah mulai dinyalakan, tak terkecuali lampu halte tersebut. Kedua orang itu belum ada yang mau beranjak, padahal hari sudah mulai gelap dan jalanan nampak sep. hujan juga sudah lama reda, tapi mendung masih setia menggantung dilangit yang mulai menggelap seiring berjalannya waktu.

Sekilas gadis itu menggerakkan tubuhnya perlahan, lalu kedua matanya perlahan-lahan terbuka. Dia menggeliat pelan. Dan setelah nyawanya benar-benar sempurna berada ditubuhnya, matanya membulat dengan tubuhnya yang sudah tegak ditempat. Ia menoleh ke kanan kiri. Sepi. Hanya ada dia dan seorang pemuda yang duduk tepat disamping kirinya.

Dia mengangkat pergelangan tangan kirinya dan sedikit menyingkap lengan panjang kemejanya untuk melihat arlojinya. Pukul 18:00.

“Astaga!! Aku ketiduran!! Ya Tuhan!!” pekikya setelah melihat angka pada jam digitalnya.

“Aduh, aku selalu saja ketiduran ditempat-tempat umum. Kebiasaan burukku kenapa tidak hilang-hilang sih? Ishhh.”

Gadis itu menggerutu sendiri sembari mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Sepertinya ia tegah mengecek barang-barangnya, apa ada yang hilang atau tidak selama ia tertidur tadi. Dan hasilnya, semua dalam kendalinya. Aman. Gadis itu menghembuskan nafas lega, lalu dengan terburu-buru dia bangkit dari tempatnya dan mulai berjalan keluar dari halte.

Baru dua langkah akan meninggalkan halte. Gadis itu menoleh kearah pemuda yang sedari tadi duduk disampingnya. Sesaat dia tersadar, bahwa pemuda itu adalah pemuda yang tadi sempat ditabraknya,

“Eh? Kau masih ada disini? Tidak pulang? Hari sudah gelap.” Pemuda itu yang semula memejamkan matanya, kini ia membuka matanya dan menatap gadis itu dengan tatapan datar.

Gadis itu sempat merengut ketika ditatap oleh pemuda itu, tapi dia berusaha untuk mencairkan suasan yang semakan tidak nyaman ini.

“Apa yang kau lakukan disini sampai jam segini? Apa kau tidak dicari orang rumah?” pemuda itu hanya diam sambil terus menatap gadis itu. Sedangkan yang ditatap hanya bisa nyengir dan bergumam dalam hati. Mengumpat-umpat pemuda yang sudah mengacuhkannya.

Tiba-tiba terdengar suara deringan nada panggil yang berasal dari daam tas gadis itu, ia pun segera mengambil benda itu dan mengangkatnya.

“Ya, halo?”

“Aku masih dihalte bus yang seperti biasanya. Eh? Maaf, aku ketiduran lagi saat akan menunggu bus datang. Iya, maaf. Maafkan aku, oke? Baiklah aku tunggu.” Gadis itu mengakhiri sambungan telponnya dengan seseorang yang ada diseberang sana dengan seulas senyum yang ada di bibirnya.

Gadis itu lama-lama merasa risih ditatap terus-terusan oleh pemuda itu. Maka dari itu ia putuskan untuk kembali menegur pemuda itu. Walau sebenarnya dia sangat anti untuk bersosialisasi dengan orang asing.

“Hei, sebenarnya apa masalahmu? Kenapa terus menatapku seperti itu?”

“Kau pulanglah sana. Sebentar lagi aku akan dijemput kakak ku. Apa kau tidak takut terus-terusan disini, hah?” pemuda itu hanya dia dengan terus menatap gadis itu. Gadis itu hanya bisa menelan ludahnya sendiri.

“Ah, terserah kau sajalah.” Gadis itu berjalan menjauh dari halte dan berdiri tepat dibawah pohon yang memang berada tak jauh dari halte tadi.

Tidak berapa lama, sebuah motor hitam megapro berhenti tepat didepan gadis itu, dia pun langsung meraih helm yang sudah disodorkan oleh si pengemudi. Setelah helm itu terpasang dengan benar dikepalanya, gadis itu segera naik keatas boncengan motor tersebut dan setelah si pengemudi menoleh kebelakang sebentar untuk memberi aba-aba, gadis itu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang si pengemudi lalu motor itu pun segera membawa pergi kedua orang tersebut.

Pemuda itu terus memperhatikan motor tersebut sampai tidak terlihat lagi di pandangannya. Kemudian tangan kanan pemuda itu pun merogoh saku jaketnya. Mengeluarkan ponsel warna putihnya yang kotak lebar. Ia menyentukan beberapa kali ke layar datar gelap itu lalu menempelkannya ditelinganya.

“Jemput aku.”

Singkat ia mengeluarkan suaranya yang terdengar berat, lalu ia segera memasukkannya kembali kedalam saku jaketnya. Kira-kira lima menit kemudian, sebuah mobil merci warna hitam berhenti di depan halte tersebut. Pintu depan sebelah kiri terbuka dan keluarlah seorang pria—yang sepertinya umurnya hanya terpaut tiga tahun dari pemuda itu—dengan setelah resmi jas warna hitam dengan kemeja putih serta dasi hitam berjalan menghampiri pemuda tadi.

“Tuan muda, kenapa anda baru menelpon? Ini sudah malam. Tuan bisa kena marah ayah tuan.” Ujarnya penuh kekhawatiran.

“Dia pulang terlambat, jadi aku harus menunggunya. Masalah ayah, kau tidak perlu  mengurusinya. Itu urusanku.” Untuk pertama kalinya pemuda itu mampu mengeluarkan suaranya dengan kalimat yang panjang.

“Baik, maafkan saya. Mari tuan, kita pulang.” Pria itu segera membukakan pintu penumpang belakang. Dan setelah pemuda itu masuk kedalam mobil, ia menutupnya dengan khitmad. Mobil itu kembali bergulir ke jalanan menembus keramaian kota yang semakin merajalela. Ikut berbaur bersama para mobil-mobil lainnya yang sibuk terkena macet dan menghindari macet.

Hujan Kala Itu

Gambar

Prolog

 

Apa yang terjadi saat ini mungkin adalah sebuah kebetulan. Dan apa yang terjadi keesokannya dan mungkin seterusnya itu adalah takdir. Aku sudah sangat bersyukur dengan hidup yang aku miliki sekarang. Begitu tenang, setenang lautan di samudra yang luas. Setidaknya sampai saat ini. Tapi, nampaknya aku sudah melupakan satu hal yang paling penting. Lautan tidak akan selamanya tenang, dia akan bergejolak saat badai datang. Bergulung-gulung menjadi besar samapi mampu menghantam apa saja yang ada dihadapannya.

Dan sepertinya, begitulah dirimu adanya. Kau datang seperti angin puyuh yang berpotensi badai besar bagi lautanku yang tenang. Aku tidak mengenalmu, begitupun dirimu. Kita sering bertemu, tetapi tidak ada yang saling mengerti kalu kita sering bertemu.

Pertama kalinya aku melihatmu, disaat hujan mengguyur lembut dunia kita. Kau berdiri disana dan aku berdiri disini. Kedua matamu berbinar saat menatap hujan, kau sering menengadahkan tanganmu untuk sekedar membiarkannya jatuh keatas telapak tanganmu. Dan kau sering terlihat basah karena kau sengaja berlari-larian untuk sekedar hujan-hujan dan kemudian berteduh disini, di halte ini. Tempat biasanya kau tertidur saat sedang menunggu bus.

Aku jadi sering mengamatimu, menirukan semua kebiasaanm dan lama-lama aku jadi sering menunggumu. Menjagaimu.

Apa aku sudah terserang flu?

Kenapa badanku merasa tidak sehat kalau sehari saja tidak melihatmu?

Apa aku sedang mengigau?

Dan yang kutakutkan, apa aku sudah jatuh cinta padamu? Di halte ini, tempat dimana semua berawal.

 

I Wished…

Gambar

dari sekian banyak cerita yang samapi di telingaku, kenapa hanya cerita tentang dirimu yang begitu mengena di hatiku?

aku layaknya layang-layang yang ditiup angin musim kemarau, tidak punya prinsip, hanya sekedar mengikuti dorngan yang diberikan padaku

begitupun juga dengan hidupku, selalu mencondongkan pada dirimu, tidak pernah sedikitpun aku mencoba lepas dari jeratmu…

aku menikmatinya, tapi disaat aku mulai lelah berharap akan mu, aku mulai merasa diriku koma…

ku coba untuk bangun, tapi aku tak dapat melakukannya, aku semakin jatuh kedalam alam kejatuhanku…

dan selama ini aku hanya ada dalam bayang-bayangmu…

dan ku harap aku mampu untuk kembali bangun, bangkit, berdiri, lalu berlari

dan ku harap aku tidak lagi bersandar tapi berdiri tegak, sendiri

dan ku harap aku bisa hidup dengan mandiri tanpa harapan dari dirimu lagi

dan ku harap aku tidak akan mengingat dirimu sebagai masa depan tapi masa lalu

dan ku harap aku bisa melakukan ini semua untuk diriku, sendiri

dan ku harap…

 

mengintip dari celah jendela

mengintip dari celah jendela

hei, aku baru saja melihatmu berjalan disana
kemudian aku mengikutimu, maksudku mengikutimu dengan cara terus melihatmu sampai sejauh mana kau berjalan…
dan kau berhenti, menolehkan kepalamu kebelakang, dan tiba-tiba kau tersenyum dan melambaikan tangan, kearahku kah??

saat hujan reda

saat hujan reda

hujan…
menatap dikejauhan tempatku berdiri
dimana ku lihat indah sosokmu
mengalun nada-nada bicara
gerimis…
mendesiskan alunan suara ditempatku bersandar
dimana ku saksikan senyum tergores menawan diwajahmu
dan kilat matamu yang sarat akan kehangatan
rintik…
menggerakkan simphoni alam raya
dimana kau bersenandung lirih ditempatku merajuk
dan menatapku dengan wajah polos yang tertiup anak-anak angin utara
tetes…
menyatu dengan janji kebersamaan meski tak pernah sekalipun terucap
dimana tercipta gurauan singkat yang mampu mengubah arah tujuan maya
sampai kau goyahkan ditempat ku berdiam diri
reda…
histori ini akan bergulir dan,
saat semua berhenti bergerak, apa yang ingin kau lakukan?

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku