Arsip Tag: Luka

Sempurna Itu Luka

Orang sempurna bukanlah satu-satunya yang selalu mendapat apa yang ia inginkan. Orang sempurna adalah tempat cacian bahkan kritikan mampir kepadanya. Menjadi orang sempurna seperti menjadi orang yang terhina. Bukan perkara apa-apa, hanya saja kata sempurna seperti kutukan yang tidak mau lepas sebelum sempurna itu hilang dari jagad raya.

Mungkin begitu dengan Hanny, seorang putri tunggal dari keluarga cukup kaya. Urusan penampilan dari ujung rambut sampai ujung kaki tidak perlu dipertanyakan. Masalah pergaulan dia merupakan sosok yang cukup terkenal. Otak begitu cerdas dan prestasi juga kesana kemari pun ada.

Tetapi, membayangkan kalau setiap hari harus mendengar ocehan juga celaan, bahkan sindiran dan semacamnya terlontar begitu saja kepada diri kita. Apakah ada kesabaran seseorang bisa tetap mempertahankan emosi mungkin mental untuk tetap stabil?

Aku rasa tidak. Hanny, dia tertekan di mana-mana dan sekali lagi dia bukan orang yang sempurna. Telinganya mungkin sudah bernanah, berdarah berkali-kali kalau gunjingan, celaan, dan hinaan yang ia dapat diibaratkan pisau belati atau garpu yang ujungnya tajam. Usahanya tak kunjung tampak dengan mencoba tersenyum pada sekelompok orang yang jelas-jelas memperlakukannya sebaliknya. Mungkin belum terjadi, tetapi ia tetap tersenyum, meski malam sebelum tidur tangisnya juga sampai 3 ronde pun belum cukup.

“Hanny, ngapain kamu disini? Sudah pintar tidak perlu belajar, nanti kami tersaingi dan guru akan meningkatkan standart penilaiannya kalau sampai kamu dapat nilai A lagi.” Ujar salah seorang teman yang di hadapannya terdapat setumpuk buku-buku tebal dan buku tulis yang terlihat sudah penuh dengan catatan.

“Tenang saja, aku hanya akan mengembalikan buku lalu pulang.” Balas Hanny dengan nada kalem.

“Baguslah,”

Setiap hari pujian datang sebanding dengan gunjingan yang ia dapatkan. Ia tidak mengerti kenapa menjadi seorang dia terlalu rumit berbaur dengan sesama. Mungkin mereka iri juga dengki. Tetapi, apa hal semacam itu dibenarkan?

“Jangan suka cari muka! Pergi sana!”

“Mau cari sensasi lagi? Mau pamer kalau populer?”

“Jangan sok. Cantik bukan milikmu sendiri, kaya dan pintar apalagi.”

Dengungan-dengungan yang menyesakkan telinga, membuatnya terpuruk jauh dan tenggelam dalam keruetan yang menjalar bak akar tanaman yang suka sekali menjegal kaki. Hatinya sesak, pilu. Teriakpun sama saja, matipun percuma. Dia ingin lari juga pergi. Lenyap kalau bisa.

“Tidakkk!!” batinnya terkoyak. Tak bisa dipungkiri ia sakit hati.

Tetapi, hatinya yang berlinang tak ingin malang. Ingin jiwanya unjuk diri bahwa dunia masih ada untuk dirinya. Tak dipungkiri, ia masih ingin berdiri. Tak tahu lagi hujatan seperti apa yang ia dapat setelah ini. Karena ia ingin mandiri, ingin kuat bak belati yang tajam dan penuh nyali.

Dirinya selalu dikuatkan oleh orang tuanya, kendati mereka jarang sekali berada di rumah. Masih ada guru-guru yang senantiasa memberi perlindungan. Tak jarang Hanny begitu dekat dengan gurunya dari pada kedua orang tuanya.

“Abaikan saja, jangan menghiraukan orang-orang yang iri padamu.”

“Iya, Bu.”

Fatal terjadi ketika waktu jam istirahat berakhir. Ada seseorang yang menyuruhnya untuk pergi ke dekat kamar mandi lantai 3 dengan alasan ada yang ingin dibicarakan. Tapi, yang terjadi adalah dirinya dikunci selama seharian dan selamat pada keesokan harinya. Ia menangis tersedu dan mengadukannya ke guru BP.

Orang tuanya sempat mencarinya dan mendapat laporan kalau anak semata wayangnya terpaksa menginap di sekolah. Geramnya orang tua Hanny membuat teman-temannya menciut nyalinya. Mereka seperti tersadar bahwa tindakan mereka sudah berlebihan. Etika moralnya perlu dipertanyakan. Benar-benar,sekali lagi Hanny bukanlah orang yang sempurna.

Sesampai di rumah, kedua orang tua Hanny berbincang. Memutuskan untuk memindahkan putrinya ke tempat di mana tidak ada diskriminasi yang didapat oleh putrinya. Demi kebaikan mental juga masa depannya.

“Papa ingin kamu pergi. Pergi untuk menjadi orang hebat, bukan pergi untuk menghindar.” Papa menatap lekat putrinya yang sayu matanya.

Tak ada kata-kata lain selain senyum rindu. Mungkin sedikit banyak Hanny merasa rindu pada perhatian kedua orang tuanya. Jika karena masalah ini ia mendapatkan perhatian orang tuanya, tak jadi soal kalau ia harus merana.

Malam itu juga tawaran kedua orang tuanya ia amini. Berkemas cepat tanpa perlu membawa seisi rumah. Tak lupa ia menulis surat untuk semua yang pernah memberinya perhatin, dari pujian sampai sindiran. Ia tulis dengan bahasa yang sopan dan bersahabat. Menggunakan kertas berwarna pirus beraroma kertas biasa. Kemudian ia sematkan fotonya yang saat itu menjadi peraih juara pertama olimpiade sains. Senyum merekah saat itu didampingi teman dan juga guru.

Ia titipkan kepada pesuruhnya untuk pagi-pagi sekali dikirim ke meja redaksi mading sekolah. Secepat kilat perintah sang papa, secepat itu hari berganti. Tiket berada di tangan, siap mengangkasa di akhir hari nanti.

Langit sore menjingga sempurna, ada semburat kelabu sisa mendung kemarin yang tidak habis luruh bersama hujan yang baru tadi pagi mereda. Ruang tunggu ramai lalu lalang calon penumpang dengan tentengan barang bawaan. Hanny berada di antarnya. 15 menit lagi sebelum take off, dirinya masih menunggu untuk kesekian kali kepada mereka yang dulu pernah membencinya.

Ingin berpamitan secara langsung, tetapi tak ada waktu baginya untuk sekadar beramah tamah. Kemarin juga sebuah surat sudah ia layangkan ke pengurus mading sekolah. Barangkali tadi pagi surat itu sudah terpasang dan ramai dibicarakan sampai saat ini. Isinya ia izin pamit untuk meniti pendidikan yang lebih tinggi di negeri orang. Bukan ingin pamer, tetapi ia ingin bertemu banyak orang yang mungkin tidak akan memandang ia sempurna, melainkan seseorang yang perlu belajar lebih banyak dan seseorang yang tidak pernah bisa sempurna mengalahkan Tuhannya.

Jujur sakit hatinya belum reda, ia merasa sempurnanya tidak ada arti yang mungkin dapat ia gunakan untuk memotivasi orang lain. Malahan ia mendapat motivasi dari mereka yang mencibirnya. Keanehan macam apa yang ia pikirkan, menganggap semua cobaan menjadi semacam adu mental tahan apapun.

Senyumnya terbit meski senja sudah luruh berganti petang. Suara bising mesin dan avtur yang telah berada di tangki mengantar Hanny siap mengangkasa petang itu juga. Mengubur semua luka dan membuang semua sempurna. Ia bukan apa-apa, ia akan menjadi orang serba bisa dan kuat bak metal baja.

(ik)
Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku