Arsip Tag: Resensi

Bulan Terbelah di Langit Amerika: Apakah Dunia Akan Lebih Baik Tanpa Islam?

Ilustrasi oleh Google

Ilustrasi oleh Google

Sutradara                     : Rizal Mantovani

Produser                      : Ody Mulya Hidayat

Penulis Skenario          : Hanum Salsabiela Rais

Produksi                      : Maxima Pictures

Pemeran                      : Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Nino Fernandez, Rianti Cartwright, Hannah Al Rashid

Durasi                          : 90 menit

Negara                         : Indonesia

Bahasa                         : Indonesia

Berkesempatan bisa kembali untuk menikmati karya Hanum Salsabiela Rais dan suami Rangga Almahendra yang sebelumnya ramai dengan filmnya 99 Cahaya di Langit Eropa. Memang film Bulan Terbelah di Langit Amerika masih sekuel dari 99 Cahaya di Langit Eropa. Masih setia menghadirkan Acha Septriasa dan Abimana Aryasatya sebagai pasangan suami istri Hanum-Rangga, dan teman mereka Nino Fernandez. Di film ini menghadirkan peran baru yang akan dibawakan oleh Rianti Cartwright dan Hannah Al Rashid.

Bulan Terbelah di Langit Amerika menceritakan tentang seorang jurnalis wanita bernama Hanum yang harus menemani suaminya bernama Rangga sekolah di Wina. Pada suatu hari, ia menerima sebuah tugas dari atasannya yang bernama Gertrude Robinson untuk membuat artikel yang bertema “Would The World Be Better Without Islam”. Artikel tersebut nantinya akan dimuat dalam sebuah koran. Gertrude juga meminta kepada Hanum supaya mewawancarai dua narasumber dari pihak muslim dan nonmuslim di Amerika. Narasumber tersebut merupakan para keluarga korban serangan World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001 di Washington DC, New York.

Di sisi lain, Rangga juga diminta bosnya yang bernama Professor Reinhard untuk pergi ke Washington agar bisa mengikuti sebuah konferensi internasional dalam bidang bisnis. Dalam konferensi yang nantinya akan membahas dan memfokuskan seorang filantropi dunia bernama Brown Phillipus tentang “Strategi The Power of”.

Bersama-sama akhirnya pasangan suami istri itu terbang ke New York. Kembali bertemu dengan Stefan (Nino Fernandez), teman mereka dan pacarnya Jasmine (Hannah Al Rashid). Nampaknya perjalanan mereka tidak semulus rencana awal sebelum mendarat di kota paling padat itu. Dimulai dari berkas jurnalis Hanum yang tertinggal di taksi yang mereka tumpangi, perdebatan khas antara suami-istri, tanggung jawab dari masing-masing akan tugas mereka, dan sebuah pertanyaan besar: Akankah dunia lebih baik tanpa Islam?

Film ini menyuguhkan kilas balik tragedi terbakarnya gedung WTC oleh teroris. Banyak pertanyaan mencuat seputar siapakah teroris itu? Apa tujuan mereka? Hingga sebuah ide tentang teroris adalah seorang Islam. Kecamuk yang dihadirkan pada setiap karakter begitu menyentuh. Pergolakan hati seorang wanita mualaf Julia Collins atau Azima Hussein—diperankan oleh Rianti Cartwright—yang mendapat tudingan bahwa suaminya adalah seorang teroris pelaku serangan WTC. Ia dikucilkan, ia dihujat habis-habisan, dan yang sangat disayangkan adalah ketika ia sangat mencintai agamanya saat ini (Islam), ia kehilangan akan kebanggaannya.

Pada saat scene itu saya terenyuh. Mata saya pedih. Bagaimana bisa seorang muslim sampai kehilangan rasa bangga pada agamanya sendiri? Hanum berusaha keras membuktikan bahwa dunia akan baik-baik saja dengan Islam. Dan dengan kegigihannya, ia kembali mengajak Azima terus percaya bahwa Islam akan memberikan rasa damai dan aman. Islam bukanlah agama yang membenci. Dan, ketika kita berpasrah pada-Nya, segalanya pasti akan ada jalan.

Film ini sarat emosi. Tidak banyak yang bisa saya utarakan saat selesai menonton ini. Jika kita berkaca pada dunia saat ini, bagaimana kerusuhan masih santer terdengar. Fitnah akan Islam masih merajalela dan masih banyak saudara-saudara kita sesama muslim yang perlahan-lahan kehilangan kebanggaannya.

Dalam film ini, nantinya akan terkuak sebuah benang merah yang mengaitkan Azima Hussein, Phillip Brown, dan seseorang bernama Michael Jones. Sebuah benang merah yang akan membuka jalan pikiran kita untuk menemukan jawaban tentang pertanyaan: Akankah dunia lebih baik tanpa Islam?

Lagi-lagi ekspektasi setiap orang berbeda-beda. Untuk film ini, saya berpendapat bahwa manajemen emosinya sangat dapat. Mengaduk perasaan. Teman saya ada yang menangis saat menonton film ini. Tapi, eksekusi akhir yang diberikan saya rasa masih bisa dimaksimalkan. Apa yang penonton cari-cari memang sudah ditemukan, akan tetapi polesan pada sebuah akhir kisah harus bisa membuat antiklimaks tersebut lebih berkesan. Namun, usaha yang diberikan Hanum dan suami dalam ceritanya ini sudah sangat baik. Mereka tidak kehilangan ciri khas mereka. Menceritakan kisah mereka tanpa berusaha untuk menggurui. Karena sewajarnya sebuah karya besar itu, selain berguna bagi dirinya sendiri juga bermanfaat untuk orang lain. (ik)

Iklan

Last Forever: Cinta dan Komitmen Bukan Akhir dari Kebahagiaan

last-forever-windry-ramadhina

Terima kasih sudah memberi kisah menarik. Novel ini edisi akhir tahun bagiku, membacanya juga di bulan Desember. Last Forever aku dapatkan dengan harga diskon di toko buku online. Saat membacanya aku tidak menyangka jika akan sepadat ini. Di antara novel-novel mbak Windry, Last Forever punya kepadatan yang signifikan. Kisah cinta orang dewasa, dengan pola pikir orang dewasa kebanyakan. Tak apa, aku sudah sering baca kisah cinta orang dewasa. Hahaha

Cinta dan komitmen yang diusung dalam novel ini menarik. Di mana kedua karakter utamanya bukan jenis orang yang suka mengikatkan dirinya pada sebuah hubungan yang memiliki dasar komitmen atau ikatan. Mereka berjiwa bebas, penuh gairah dalam karir dan kehidupan. Lana dan Samuel sama saja. Mereka keras kepala, passionate, penuh percaya diri, bebas, penuh karakter, dan antikomitmen. Tapi, mereka bodoh, menurutku, mereka lupa ketika keduanya menjalin hubungan, saling mendamba satu sama lain, selalu menyisakan waktu jika bertemu, selalu berharap pertemuan-pertemuan yag akan datang, dan tidak mengharapkan perpisahan. Tanpa sadar mereka sudah membentuk ikatan. Pengecualian bayi mereka.

Lana benar-benar perempuan yang ambisius dan keras kepala. Aku sempat berpikir, orang ambisius memang tidak jauh dari yang namanya keras kepala. Aku menyadari itu pada diriku sendiri saat membaca novel ini. Aku selalu dikatai, “Kau itu ambisius, Ma.” Dan berakhir dengan penyangkalanku. Tapi, kalau ada yang bilang, “Kau itu keras kepala.” Iya, memang aku keras kepala. Tapi, saat membaca mengenal Lana, aku seakan melihat diriku. Ambisius dan keras kepala. Kadang aku bingung, ambisius itu negatif apa positif. Karena kebanyakan mengungkapkannya dengan nada miring. Jadi aku tidak suka dibilang ambisius.

Meski begitu, aku menyukai karakter Lana yang kuat. Bukan jenis perempuan lemah. Samuel pun demikian. Pria angkuh yang aku kenal. Superior sekali, tapi dia terpuruk hanya karena seorang Lana Lituhayu Hart.

Ada Rayyi dari Montase. Aku melihat Rayyi adalah karakter cowok-cowok Jepang. Cara dia memanggil Samuel ‘Kakek’—menjadikan diriku menganggap Samuel sudah tua—, jika kalian suka baca manga atau melihat anime Jepang pasti tidak akan asing dengan panggilan ‘Oyaji’ artinya bapak atau lelaki tua’ atau ‘Jiji’ yang punya artinya paman atau lelaki tua.

Memang sebuah komitmen kebanyakan diambil berawal dari cinta, adapula karena tanggung jawab. Juga kewajiban. Saat fase Lana terluka karena terkhianati oleh Samuel yang tiba-tiba melamarnya, aku melihat Lana adalah sosok yang egois. Dia selalu berlindung pada rasa takut, traumatis akan masa lalu ibunya yang menikah dengan ayahnya. Dia takut berkorban, jatuh cinta, dan kehilangan. Dia selalu menjadikan kesedihan ibunya yang kehilangan impian dan dunianya sebagai alasan untuk membenarkan semua sikap keras kepalanya. Itu yang membuatku gemas sepanjang kisah mereka mengalir. Tapi, anehnya Lana selalu ingin bersama Samuel. Tidak mau kehilangan. …Namun, lelaki itu adalah Samuel. Lana tidak ingin kehilangan lelaki itu…

Percaya atau tidak, ia sudah mempersulit dirinya sendiri. Dia sudah cinta, tapi menyangkalnya kuat-kuat. Dia melukai dirinya sendiri. Dia takut ditinggalkan, intinya itu. Tapi, dia tahu, bersama Samuel perlahan dia menemukan kata ‘bahagia’. Yah, dia bahagia sekarang. Good job, Mbak Win. Hehehe…

(ik)

Critical Eleven: Tiga Menit Mengenalmu dan Delapan Menit Mencintaimu

133359_ikanattasa2

Ilustrasi oleh Google

I’m very happy!

Critical Eleven benar-benar membuatku meneguk ludah berulang-ulang. Dia mampu membuatku terpaku terus membacanya. Kisah yang TV diangkat Mbak Ika Natassa sangat menguras emosi.
Selama membaca Critical Eleven aku bertanya-tanya apakah sesakit itu ucapan Ale ketika didengar oleh Anya? Padahal tidak dengan nada menuduh, marah, bahkan menyindir. Itu semacam kata-kata yang lolos begitu saja selayaknya, Aku lapar. atau Aku ingin pipis.
Tapi, dampaknya begitu besar. Kemudian aku iseng bertanya pada ibuku sendiri. Jujur kukatakan aku dulu lahir sangat kecil dengan berat 28 kilo. Kakak dari ibuku menyalahkan ibuku karena aku terlahir sangat kecil, apalagi dengan kulit tubuhku yang agak mengkerut. Tapi, ibuku menanggapinya dengan santai. Lalu pertanyaanku adalah Jika waktu itu bapak juga ikut menyalahkan Ibu perihal kelahiranku, apa reaksi Ibu?
Ibuku terdiam sejenak lantas berkata, Jelas itu juga salah bapakmu. Selama Ibu mengandungmu dia jarang ada di rumah. Apa yang Ibu inginkan seperti makanan atpembaca pun yang Ibu perlukan selalu luput dari dia. Hamil dirimu itu adalah pengalaman yang luar biasa lahir batin. Kamu sendiri juga sudah tahu bagaimana hubungan Ibu dengan nenekmu.
Deg. Ah, jadi benar. Perasaan Anya sama persis dengan perasaan ibuku jika saat itu ibu disalahkan oleh bapak terkait kelahiranku. Seorang wanita yang hampir sempurna menerima kodratnya harus dibatalkan dengan cara mengambil bayinya dengan begitu cepat. Bahkan dia masih belum menyusui bayinya itu. Dia rapuh, dia butuh sandaran, dia ingin dikuatkan. Tapi, sejurus kemudian sandarannya menusuknya dari belakang. Dengan ucapan-ucapan pelan tapi, menyakitkan. Jelas, semua wanita pasti akan sakit hati dan berjatuhan karena terkubang rasa bersalah dan penyesalan.
Penggambaran rasa sakit Anya begitu manusiawi. Kesabaran dan keikhlasan yang ditampilkan begitu natural. Aku menyukai karakter Aldebaran Risjad. Seorang lelaki yang masih teguh agamanya meski lama tinggal di negara atau di lingkungan yang minim seagama dengannya.
Aku juga suka penulis yang cerdas. Memang sih semua penulis dituntut untuk lebih cerdas dari pembacanya. Karena apa yang dia tulis itu akan mencerminkan apa yang selama ini dia peroleh. Seperti Mbak Ika yang selalu menonjolkan sisi filosofisnya, menurutku pribadi, entah itu dari dialog film, kutipan dari buku, percakapan entah siapa. Ataupun pengalaman dari pekerjaannya sendiri. Itu semua keren bagiku. Satu hal lagi, judulnya yang adorable itu begitu penuh makna dalam pengambaran kisah setebal 339 halaman itu. Tiga menit saat akan take off dan delapan menit saat landing.
Dan sebuah kejutan datang kira-kira pertengahan 2016 kalau tidak salah bahwa Critical Eleven ini akan naik ke layar lebar. Filmnya akan rilis tahun 2017. Wah senang sekali!! Sungguh menegangkan dan juga aku sebagai pembaca berharap hasilnya akan memuaskan. Novel ini begitu kuat, aku yakin Mbak Ika dan tim produksi film Critical Eleven akan menggarapnya dengan sangat baik. Dari penulisan naskah filmnya, cast pemainnya, lokasi, properti, sinematografi, dan masih banyak lagi.
Aku yakin banyak yang akan memberikan ekspektasi tinggi pada fim ini, tidak dapat dipungkiri begitu besar fans dari Critical Eleven ini. Tapi, selayaknya mereka telah berusaha dengan sebaiknya dan kami para pembaca akan setia dengan hasil apapun, pasti pada akhirnya akan menemukan rasa puas dari ekspektasi itu.
Karena mimpi kami para pembaca bisa terwujud, yakni menyaksikan karakter Ale dan Anya secara nyata keluar dari imajinasi kami ke dalam sebuah layar lebar. Bisa bayangkan itu, pasti di sepanjang jalan saat film itu diputar nantinya, kami akan sering memegang mulut untuk menahan diri agar tidak berteriak kegirangan.
Aku berharap semoga film Critical Eleven sukses dalam penayangannya nanti. Semoga karakter Ale dan Anya memuaskan imajinasi kami. Dan semoga ada sisipan adegan Ale dan Anya udah punya anak hihihi. Aku berharap Ale dan Anya hidup bahagia.
Dan masih tetep, aku melampirkan beberapa kutipan yang aku suka:
Karena beginilah dari dulu gue mencintai Anya. Tanpa rencana, tanpa jeda, tanpa terbata-bata. Hal 142
Nya, orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita. Hal 252

Love love, sukses ya Mbak Ika dan tim produksi film Critical Eleven. 

img_20170110_212210_840

my own

Morning Glory: Pertemuan Takdir yang Menakjubkan

LaVyrle Spencer - Morning Glory

Ya Tuhan!

Buku yang manis dan penuh cinta. Buku setebal hampir 600 halaman ini cukup membuatku tersedot ke kisah Elly dan Will yang cukup menghebohkan.

Kisah seorang Eleanor Dinsmore yang awal namanya adalah Eleanor See dan akrab dipanggil Elly menyatakan di sebuah iklan koran bahwa dia membutuhkan suarang suami! Bayangkan itu, dia mencari seorang suami. Mungkin itulah yang menjadikan julukan gila padanya bertambah, karena sebelumnya dia pernah dianggap gila karena tingkah keluarganya. Kemudian pertemuan pertama mereka—Elly dan Will maksudku—dengan Will yang seorang mantan narapidana, tidak memiliki tempat untuk pulang, tidak ada yang peduli dan percaya padanya. Tapi, saat mereka saling membutuhkan, tidak ada keraguan yang hadir. Semua lenyap dan tergantikan dengan perasaan percaya, hangat, dan cinta.

Sempat terpikir saat membaca buku ini, seberapa luas rumah yang dimiliki oleh Elly. Mengingat wanita itu punya kebun jeruk, apel, lemon, sebuah pohon asam besar, kandang sapi, keledai dan ayam. Juga tumpukan rongsokan mobil tua dan tungku yang diceritakan di awal sempat membuat menyita ruang di halaman rumah Elly. Mungkin bayanganku adalah rumah Elly seperti rumah dengan peternakan yang luas itu.

Tidak hanya itu, cerita tentang masa Perang Dunia II juga mampir menghiasi kisah mereka berdua. Di mana seorang William Lee Parker, mendapat panggilan kenegaraan untuk menjadi tentara relawan. Yang kemudia berhasil mendapatkan pangkat kopral dan juga anugerah purple heart. Sebuah anugerah yang pertama kali ada semenjak PD II dan samapai saat ini masih terus diberikan kepada tentara yang memiliki usaha heroik dalam penyelamatan.

Juga Lula Peak yang membuatku mendaftar segala nama hewan yang ada di hutan maupun kebun binatang. Bagaimana bisa seorang wanita tidak bisa menjaga birahinya sendiri dan malah mengumbarnya ke orang lain. Dasar gila.

Dan saat bab yang mengisahkan Will harus membantu persalinan Elly, aku sungguh tercengang dibuatnya. Elly dengan santainya tidak masalah dia melahirkan sendiri tanpa bantuan peralatan dan orang-orang medis. Ya Tuhan, itu tindakan yang berani. Aku sampai merinding dibuatnya.

Dan aku sangat terharu saat Will berusaha untuk membelikan Elly cincin di hari pernikahan mereka, dan ketika Will mungkin sudah mampu membeli cincin emas, Elly berkeras tetap memaki cincin imatisinya dan berkata, “Aku ingin memakai cincin yang disematkan olehmu di hari pernikahan kita.” Oh, aku mencintai wanita ini, kata Will dalam hati. Betapa tidak, mereka saling mengagumi satu sama lain dan saling menghormati dan mencintai satu sama lain.

Oh, Will… apapun, siapapun… nama William seperti magnet tersendiri. Semenjak karenamu, Willian Hakim 🙂

(ik)

Sabtu Bersama Bapak: Sekotak Kenangan, Hiburan, dan Wejangan di Setiap Hari Sabtu

sabtubersamabapak

Ilustrasi by Google

Desember yang mendingin karena hujan turun hampir setiap hari. Di tengah hiruk pikuk jadwal penelitian yang semakin mendekati akhir dan skripsi yang perlu segera dituntaskan. Saya membuka lagi file review sebuah novel yang baru-baru ini akan naik ke layar lebar. Yap, novel karangan Aditya Mulya, ‘Sabtu Bersama Bapak’. Saya menuntaskan cerita keluarga ini saat KKN sekitar kurang lebih tujuh bulan yang lalu.

Cerita ini berkisah tentang seorang bapak yang hanya memiliki waktu setahun untuk dapat menghela napas bersama istri dan kedua anak laki-lakinya. Tapi, yang menjadi menarik adalah ketika waktunya hanya singkat, ia pergunakan untuk membuat sebuah rekaman video yang berisi pesan-pesan untuk bekal anak-anaknya kelak. Pesan-pesan itu dapat dilihat oleh kedua anaknya setelah bapak mereka tiada. Setiap hari Sabtu mereka akan berhenti melSayakan aktivitas hanya untuk menyimak pesan-pesan bapak mereka yang diputar oleh ibu mereka. Saat mereka beranjak remaja, ada pesan tersendiri. Saat mereka beranjak dewasa, bahkan ketika mereka menikah, ada pesan-pesan bapak yang menuntun mereka.

Hingga mereka dewasa, hingga anak-anak mereka lahir. Pesan-pesan dari bapak mereka masih menjadi tontonan favorit mereka berdua. Satya, sang kakak dan Cakra atau Saka sang adik. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang tak terlihat seperti kehilangan kasih sayang dari seorang bapak. Meski bapak mereka sudah meninggal jauh saat mereka masih kecil.

Dalam novel Sabtu Bersama Bapak ini kita akan ditunjukkan kehidupan Satya saat sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Dan Saka yang masih berusaha dalam mencari calon istri. Mereka masih memiliki seorang ibu yang setia mendampingi. Terharu sekaligus kocak membaca novel ini secara langsung. Banyak kata-kata bijak yang dapat dipetik. Merasa sangat mendapat masukan yang bermanfaat. Mungkin karena saya masih berstatus anak dan belum menjadi orang tua, jadi pesan-pesan yang disampaikan cukup mengena. Juga bisa dijadikan bekal nantinya.

Penggambaran yang dibuat Kang Adhit benar-benar ringan, tetapi mempu menyatukan segala lapis rasa yang ada. Senang mendengar Saka akhirnya laku dan Satya yang mampu menjadi ayah sejati pada akhirnya, meski di awal ia perlu belajar banyak. Buruan segera baca novelnya sebelum filmnya tayang di bioskop.

(ik)

What If: Tuhan Memang Satu, Kita yang Berbeda

P_20150922_143945[1]

Isu cinta beda agama itu bukan hal baru. Ada beberapa kisah yang berputar di sekitarku. Tentang seorang teman perempuanku yang seorang muslim dan pacarnya yang Katolik. Atau yang baru-baru ini, keduanya temanku, perempuan itu seorang Protestan dan laki-laki itu muslim sepertiku. Perbedaan-perbedaan yang ada di setiap selubung kehidupan manusia itu memang tidak sebatas kaya-miskin, cantik-jelek, pintar-bodoh, rajin-malas, dan banyak hal bersifat adjective lainnya.

Kita mahkluk sosial, sama-sama ciptaan sang Khalik. Punya insting untuk saling mengenal satu sama lain, saling berbagi apapun yang sepantasnya bisa dibagi. Punya rasa ketertarikan, bahkan rasa benci dan permusuhan. Kita semua manusia hidup berdampingan. Sesadar apapun kita dengan banyak sekali perbedaan yang membentang di dalam hidup manusia. Jauh sebelum manusia sebanyak sekarang. Bahkan saat akhirnya Tuhan memutuskan menciptakan Adam.

Dalam novel ini, ‘What If’, aku kembali disadarkan bahwa segalanya pasti ada sebab dan ada solusi. Tapi, terkadang sebab dan solusi akan menciptakan sebuah dilematis tersendiri yang mengakibatkan orang yang bersangkutan di antaranya merasakan perasaan yang mungkin hanya mereka atau beberapa yang punya posisi yang sama seperti mereka.

Selama menyelesaikan kisah Kamila-Jupiter, aku tidak menyalahkan mereka, baik Kamila maupun Jupiter. Banyak pertanyaan yang berseliweran di dalam sumsum kelabuku. Bahkan aku sempat melontarkan pertanyaan kepada ibuku.

“Kenapa hidup manusia itu rumit? Maksudku hubungan antar manusia itu rumit?” ada jeda sejenak, “ketika sepasang anak manusia saling jatuh cinta, saling mengasihi. Apa yang salah dari mereka. Kenapa perbedaan yang mereka miliki harus selalu mengunggulkan logika daripada apa yang mereka saat ini rasakan?

Kenapa stigma masyarakat begitu kuat melempar mereka ke sudut dan bolak-balik membenturkan mereka agar sadar bahwa mereka berbeda? Lantas kalau memang Tuhan menuliskan jalan mereka demikian, siapa yang patuh dipersalahkan? Mereka tidak sedang merancang bom bunuh diri. Mereka hanya sedang jatuh dalam kubangan bernama cinta.”

Kemudian ibuku mendebat, “Itulah ujian Tuhan yang bersifat inmaterial. Tidak melibatkan apa-apa. Hanya hati, perasaan, dan juga imanmu. Seberapa kuat iman yang saat ini kamu teguhkan dalam hati. Seberapa yakinkah kamu dengan kitab sucimu, yang bicara tentang ayat-ayat dan perihal apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan. Tuhan tidak serta merta mencipta manusia dalam perbedaan. Itulah kenapa logika harus selalu bermain dalam setiap keputusan yang dibuat manusia. Sekalipun hati nurani dan perasaan beriringan menyertai.”

Yah, pembicaraan ini pasti sangat panjang. Dan selama dekade-dekade di masa depan pasti akan masih ada kisah Kamila-Jupiter yang lain. Mbak Morra kembali sukses membuatku berpikir hanya dengan membaca novel setebal 279 halaman saja. Percintaan yang tidak melulu soal cinta segitiga. Tidak dengan drama dan tidak dengan kata-kata indah penuh rekayasa.

Penuturan yang gamblang dan yakin bahwa di luar sana memang demikian. Semakin dibuat rindu dengan ulasan Teori-Teori Sosial. Buku Das Kapitalis, milik Karl Max kalau tidak salah sempat mencuri perhatian di awal aku mengunjungi Kafe Pustaka, bulan-bulan yang lalu. Karena kavernya lebih tepatnya. Lalu seorang yang aku ikuti di Wattpad memasangnya sebagai gambar sampul berandanya. Kemudian Kamila dan Helena membahasnya. Aku tertarik ingin membacanya. Mereka semua mata kuliah semester satu atau dua. Dulu sekali, sekarang aku semester delapan. Skripsi. Aku hampir lupa soal itu.

Satu rahasia kubuka, bulan-bulan lalu aku hampir merasa nyaman dengan seseorang yang berseberangan denganku. Tapi, kuberitahu bahwa itu adalah nyala lilin yang sebentar kemudian terhembus angin dan mati. Aku sadar dan kembali menatapnya dengan tatapan seperti sebelumnya. Hanya teman, tidak lebih. Dan semua hilang begitu saja tak bersisa. Ini hanya sekadar sementara. Aku bersyukur soal itu.

(ik)
Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku