Arsip Tag: Sahabat

Bertemu Sahabat

Dulu, aku punya banyak teman, bahkan sahabat pun kumiliki. Dan bisa dibilang pacarpun juga, tidak usah ditanyakan. Sahabatku, mereka yang paling dekat denganku, selalu ada untukku. Kapanpun. Namun itu terjadi dulu, dulu sekali. Saat semua masih berada di tempatnya masing-masing. Sebelum semua berubah menjadi tak terkendali tanpa dapat bisa dihentikan.

Pepatah bilang, roda kehidupan sedang berputar merubah posisi nyamannya menjadi posisi yang tidak nyaman, sejauh ini bagiku. Ya, siapa yang bakal mengira seseorang sepertiku harus menjalani sebuah takdir yang terjadi seperti di drama-drama tv, di novel-novelpun demikian. Secepat kilat memporak-porandakan kehidupan mewah nan antah berantah menjadi sedekil kisah si upik abu. Cerita dongeng. Tidak bombastis, cenderung klasik atau bahkan klise. Tapi, inilah yang terjadi saat ini. Yang mungkin bakal mudah ditebak alur ceritanya, tidak memiliki kejutan-kejutan yang super mendebarkan.

Aku memang tidak punya cerita yang seperti itu. Yang mendebarkan, yang membuat orang berdecak histeris penuh rasa penasaran sampai ubun-ubun. Jelas tidak. Aku tidak membutuhkan cerita tipe seperti itu untuk menjungkir balikkan kehidupanku. Cukup yang klise dan mudah ditebak seperti ini saja rasanya aku sudah tidak sanggup hidup. Kau tahu, aku tidak suka. Tidak sanggup. Dan satu yang kutekankan di sini, ini tidak menyenangkan dan ini sangat menyebalkan.

Lihatlah, rumah megah yang dulu bagaikan istana yang kutinggali bersama kedua orang tuaku dan kedua kakakku sekarang luntur pesonanya menjadi rumah dengan luas sepetak di sebuah perkampungan yang tidak jauh dari kompleks perumahan rumah mewah dan megahku dulu. Halaman yang tidak seluas halaman yang dulu. Hanya berisi bunga melati dan kenanga tidak seperti dulu yang berisi mawar, lili, anggrek dan berbagai macam bunga yang indah dan menawan lainnya bila dibandingkan melati dan kenanga tentunya.

Dinding kamarku yang bercat putih kusam dengan sedikit bercak kuning dan fosil nyamuk yang mati ditimpuk oleh sesuatu yang keras yang mengakibatkan dia mati dan menempel di sana cukup lama, bercak darahnya pun masih. Astaga, dan lihat sekarang, sekolahku. Ya, aku pindah sekolah, bersama-sama dengan orang-orang kalangan menengah ke bawah. Tak masalah, setidaknya sekolah baruku ini masih punya nama dan segudang prestasi. Tidak seperti di novel atau di drama tv yang di sekolahkan di sekolahan yang berlabel ‘tempat buangan’.

Mau tahu kenapa kehidupanku bak cerita-cerita di drama-drama tv atau novel sekarang? Jatuh melarat. Hal ini dikarenakan Ayah terlilit hutang yang cukup besar dan semua aset rumah beserta isinya disita oleh bank. Sungguh ironis. Tidak hanya itu, setelah kabar terburuk dalam perubahan nasibku dan keluargaku, sebuah kecelakaan naas menimpaku satu bulan yang lalu. Saat itu aku pulang dari pesta yang diadakan oleh teman sekolahku. Biasalah, kegiatan kumpul sosialita. Sok metropolit. Khas kalangan orang atas dan berduit yang terlalu sesumbar dan banyak omong. Aku tidak sendirian hari itu, ada beberapa teman yang ikut pulang bersamaku. Aku duduk di jok belakang, walau sebenarnya yang dipakai adalah mobilku.

Dasar nasib dan begonya temanku yang menyetir. Dia tidak fokus pada situasi jalan di depan dan malah asyik berkoar dengan teman di sebelahnya. Ada bis yang berhenti mendadak dan temanku itu melaju kencang dan tentunya dia tidak mengerem malah membanting stir ke kanan. Bodoh. Mobil kami ditubruk mobil lain dari arah berlawanan. Tentu saja, kami memasuki jalur mereka. Kemudian menghantam pembatas jalan dan semuanya gelap seketika.

Tersadar dari tidur yang rasanya panjang dan lama sekali. Aku mencium bau obat dan khasnya rumah sakit. Aku terjebak di sini rupanya. Dalam pikiranku aku ingin mengetahui keadaan teman-temanku. Dan sungguh Tuhan mendengar permintaanku, tidak sengaja aku mendengar obrolan teman-temanku yang lain yang tengah menjengukku. Berita itu mengejutkan diriku. Kedua temanku yang duduk di jok depan meninggal dunia. Hanya aku dan Rista yang duduk di jok belakang bersamaku yang selamat. Tapi dia koma, kepalanya terbentur cukup keras dan tangannya patah. Sedangkan aku, ini petaka.

Saat ingin menggerakkan kakiku, apa yang terjadi tidaklah terjadi. Rasanya kaku, mati rasa. Aku panik sendiri di atas ranjang. Berteriak-teriak memanggil Ibuku. Ingin penjelasan, kenapa kakiku tidak bisa aku gerakkan. Dan apa yang kudengar dari mulut Ibuku sendiri adalah berita terburuk yang pernah kudengar selain kematian kedua temanku, tentu saja melarat lebih mendingan daripada harus kabar tentang diriku.

Aku lumpuh, sejauh ini, aku dinyatakan lumpuh oleh dokter. Kau tahu, lumpuh. Aku tidak bisa lagi menggunakan kedua kakiku. Salah, aku hanya lumpuh separuh. Kaki kiriku masih bisa kugerakkan tapi sangat terbatas karena bergerak terlalu sering membuatku nyeri sendi.

Manis sekali dan semenjak aku divonis lumpuh dan keluarga jatuh melarat, teman-temanku, pelan-pelan menjauhiku. Tidak lagi mau menjengukku. Sahabatku, entah ke mana rimbanya. Bahkan pacarpun tiba-tiba tidak bisa dihubungi dan aku tidak ingin mau tahu lagi. Mereka pengkhianat. Tidak setia kawan!

Baiklah, singkirkan itu semua. Aku tidak ingin mengingatnya. Yang saat ini terjadi adalah aku masih bertahan dengan kondisiku saat ini. Berjalan di atas satu kaki yang sejauh ini masih bisa diajak kerjasama, ditambah dengan kedua tongkat yang membantuku untuk berjalan. Aku tidak ingin menggunakan kursi roda, karena benda itu membuatku semakin terlihat lemah dan aku tidak suka dikasihani.

Semuanya berjalan baik-baik saja, teman-teman baruku di sekolah baruku sejauh ini tidak membuatku harus berteriak-teriak kesal karena sibuk menggodaku karena aku cacat. Mereka hanya berbisik-bisik tidak jelas dan aku akan mengabaikannya walau terkadang panas juga mendengarnya. Hingga hari itu datang, ada murid baru yang akan bergabung di kelasku. Dia seorang gadis, kuakui cantik dengan rambut panjang hitam lebatnya. Mata siapa yang tidak akan menoleh melihatnya. Namanya Monika. Aku tidak tahu kepanjangannya, tidak peduli. Dia duduk di kursi seberangku. Saat dia menoleh ke arahku, dia memamerkan senyum 3 jarinya yang sok ramah dan akrab kepadaku.

“Hai, gue Monika,” sapanya sembari menjulurkan tangannya.

Aku melirik sekilas ke tangannya yang terjulur ke arahku, “Nggak usah sok akrab deh, paling-paling sebentar lagi lo bakal jauhin gue kayak yang lainnya!” ucapku ketus tanpa membalas uluran tangannya lantas kubuang mukaku darinya. Setelah itu tak kudengar lagi si Monika itu berbicara lagi padaku. Dia sama saja dengan yang lainnya, awalnya akan bersikap manis tapi selanjutnya tingkahnya akan memuakkan mata.

Jam istirahat pun datang, dengan lesu aku mengeluarkan bekal dari dalam tas. Sejauh ini aku tidak merasa malu membawa bekal karena dalam pikiranku, membawa bekal masih lebih baik daripada aku harus berjalan bersusah payah menuju kantin, mengantri bersama banyak siswa yang kelaparan dan menjadi tontonan karena langkah kakiku yang tersendat-sendat. Aku tidak suka jadi bahan tontonan.

“Nama lo Kharisma, kan? Lo nggak ke kantin?” aku kira dia bakal berhenti mengusikku, ternyata tidak. Dan tunggu, dari mana dia tahu namaku?

“Oh, lo bawa bekal ya ternyata. Gue temenin ya…” maunya ini anak apa sih?

Aku meletakkan sendok lalu menatapnya malas, dia hanya tersenyum seramah yang dia bisa. “Gue paling nggak suka kalau makan dilihatin. Kayak sekarang ini.” Aku lihat si Monika itu hanya tersenyum tidak peduli dengan perkataan yang aku lontarkan kepadanya dengan nada ketus. Dasar aneh.

“Lo kok kesannya nggak mau ada yang deket-deket sama lo sih?” tanyanya berkomentar.

“Lo tahu apa soal gue? Nggak usah nilai orang terlalu jauh deh, sebelum lo sendiri ngerti orang itu.” Jawabku ketus lalu mulai mengabaikannya.

Sepertinya monika sudah tidak ingin lagi berdebat denganku, dia beranjak pergi dengan teman-teman yang baru saja ia kenal. Kudengar salah satu dari mereka bicara dengan lantang mengenai diriku.

“Monika, lo nggak perlu repot-repot ngajak temenan sama dia. Percuma.” Sebodoh amat kalian mau ngomong apa soal aku.

***

Sudah satu minggu semenjak kedatangan Monika di kelasku, sejujurnya banyak sekali perubahan yang terjadi di kelasku, walau aku sendiri tidak terlalu ingin tahu perubahan-perubahan itu. Yang jelas, kelas menjadi lebih semarak. Dia membawa bahan-bahan guyonan yang entah dari mana membuat seisi kelas tergelak dibuatnya. Dengan cepat kelasku jadi seperti terminal, banyak anak-anak kelas lain yang singgah untuk sekadar berceloteh dengan si Monika itu. Tidak hanya itu, banyak anak cowok yang dengan sejelas-jelasnya menunjukkan rasa tertariknya pada si Monika itu. Apa hebatnya sih?

Karena tidak tahan di dalam kelas yang sama dengannya, aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan keluar kelas. Belum sampai di ambang pintu ada segerombolan anak cowok yang masuk ke dalam kelas tanpa melihat diriku yang berjalan keluar. Mereka menabrakku hingga punggungku membentur tembok, untung saja tidak sampai terjatuh.

“Eh, sori. Nggak sengaja, lo nggak apa-apa, kan?” tanya salah satu dari mereka sambil mencoba menolongku berdiri.

“Nggak sengaja kata lo? Jalan pake mata dong!” sentakku cepat tidak terima dengan permintaan maafnya barusan kepadaku.

“Eh, namanya nggak sengaja ya nggak sengaja. Nyolot banget sih? udah cacat belagu lagi.” Cecarnya dengan nada sama-sama meninggi.

“Emang kenapa kalau gue cacat, hah?! Ngganngu lo pada?! Lo pikir gue mau cacat kayak gini?! Diem aja deh lo!” mataku nyalang menatap anak cowok yang sok kecakepan itu mulutnya. Berani juga dia ngatain aku cacat. Jadi gini ya, mereka selama ini diam lalu tiba-tiba meledakkan diri di depanku. Oke, silahkan kalian lakukan sesuka kalian!

“Hei, udah dong. Kan, mereka nggak sengaja dan buat kalian, jaga mulut kalian dong. Jangan ngatain dia cacat, nggak baik tahu,” ujar Monika tiba-tiba menengahi kami.

“Lo jadi cewek baik banget sih, masih aja belain dia yang selalu nyuekin elo.”

Apa dia bilang? “Heh! Maksud lo ngomong barusan itu apa, hah?” tanyaku nyolot lantas beralih ke si tuan puteri sok ikut campur urusan orang. “Dan buat lo Monika, nggak usah sok baik deh sama gue. Gue nggak butuh.” Secepatnya aku berlalu dari hadapan mereka. Nggak sanggup lagi, udah sumpek aku berada diantara mereka.

“Kharis! Tunggu, Kharis!” Monika masih memanggilku, tapi aku membiarkannya.

Aku terus saja berjalan tanpa mau menghentikan langkah tertatihku untuk sekadar mendengarkan celotehannya padaku. Sampai akhirnya dia berhasil menangkap bahuku dan memutar tubuhku untuk menghadapnya.

“Lo jalannya cepet juga ya…” kelakarnya yang tidak mendapat sambutan dariku. “Oke, sori. Bukan maksud gue buat…”

“Gue ngerti kok,” potongku cepat, “kalian nggak pernah mau sekelas sama orang cacat kayak gue. Karena dengan sekelas dengan orang cacat, kalian akan ngerasa nggak asyik lagi, merasa terbebani dengan omongan anak-anak dari kelas lain.” Tuturku dengan penuh emosi. Aku sudah muak dengan semuanya, dikira aku tidak tahu, mereka selalu membicarakan kelas kami yang dihuni orang cacat, yaitu aku. Apalagi salah satu dari mereka ada yang tahu asal usulku dulu, entah dari mana mereka tahu dan kemudian mereka gunakan untuk mengusiliku. Mengejekku habis-habisan.

“Kharis, kok lo mikir gitu sih? kita nggak pernah berpikiran sepicik itu kali…”

“Gue nggak mau tahu. Gue anggap kalian itu sama. Sama-sama busuk!!” aku sentakkan tangannya yang masih berada di bahuku. Lalu aku tinggalkan dia sendirian di lorong.

Sebenarnya aku merasa sedikit tidak enak hati bersikap seperti itu kepadanya, selama ini Monika selalu membelaku. Memang benar. Dia satu-satunya teman di kelas yang mau susah-susah menjadi teman sekelompokku disaat yang lainnya berusaha menghindar dariku. Tapi, aku sudah pernah dikhianati oleh teman-temanku dulu, bahkan sabahatku. Aku tidak percaya dengan yang namanya pertemanan, bahkan persahabatan. Omong kosong semuanya.

***

Bel pulang sekolah berbunyi, semua anak-anak berhamburan keluar kelas setelah salam kepada guru. Aku selalu memilih untuk pulang belakangan, mengingat kondisiku yang tidak mungkin berebut pintu untuk keluar kelas. Seperti biasanya aku berjalan dengan tongkatku yang sangat setia menemaniku walau kadang aku membencinya karena teringat kondisiku yang begini ini.

Karena keadaan sekolah sudah sepi, jadinya aku bisa mendengar langkah kaki beberapa orang yang ada di belakangku. Karena aku tidak ingin berbelit-belit, maka aku berjalan agak menepi untuk memberikan jalan bagi mereka yang ingin berjalan duluan. Tapi, sudah aku menepi, mereka tidak juga segera berlalu, malah mereka menghampiriku dan mungkin ini yang disebut dengan menghadang langkah seseorang.

Oh, ternyata mereka. Sekumpulan anak-anak cewek yang berjudul ‘geng narsis’—itu aku sendiri yang menamainya, mengingat tingkah mereka yang kekanak-kanakkan. Ada 3 orang yang saat ini merubungku.

“Mau apa kalian?” tanyaku malas.

Mereka tersenyum menghina, terserah. “Kita mau ngapain, bukan urusan lo, kan?”

“Entah kenapa, hari ini kita ngidam ngusilin orang. Dan beruntung banget lo korbannya.” Jelas cewek berkucir miring itu.

“Sori, gue nggak ada waktu buat ngelayanin penyakit kambuhan kalian. Minggir, gue mau pulang.” Aku berusaha mencari celah untuk segera pergi dari mereka.

“Eits, lo nggak bisa gitu aja lolos dari kita, Kharis!” cewek berambut dengan potongan cowok itu yang kutahu namanya adalah Sandra menarik tasku, sehingga aku kembali ke tempat semula.

“Mau kalian apa sih? minggir, gue mau pulang!” ujarku ketus tidak mau kalah dengan mereka.

“Nggak semudah itu.” Cewek berkucir miring yang bernama Ella itu mendorongku hingga punggungku menabrak tiang penyangga. Lantas mereka langsung menggeretku menuju kamar mandi. Klise banget, apa mereka ingin menggencetku saat ini? Astaga…

“Enaknya kita apain cewek cacat belagu ini?” tanya Sandra lalu mendapat cengiran dari Ella dan teman satunya yang bernama Debby yang kutahu.

“Kita telanjangi dia dan kunci di kamar mandi aja, girls!” sambar Debby kurang ajar.

“Kejam lo. Tapi, keren juga tuh. Lagi pula, gue udah enek sama tingkahnya yang sok banget, udah cacat, keluarganya jatuh melarat. Masih aja sok kecakepan. Lo tahu  sejarah keluarganya yang digosipin anak-anak, kan? Itu hukuman Tuhan buat lo, asal lo tahu itu.” Ujar Ella menambah panas telingaku yang sudah berdenging sedari tadi mendengarkan percakapan mereka. Hukuman kata mereka. Tahu apa mereka.

“Dan ini hukuman dari kita-kita.” Sandra langsung merebut kedua tongkatku dan membuangnya menjauh dariku. Aku sempat berteriak ke arah mereka, tapi yang terjadi mereka malah menampar wajahku.

Oh, rasanya telingaku yang sudah berdenging bertambah berdenging lagi dan terasa panas. Aku berusaha memberontak saat tangan-tangan mereka mencoba untuk melucuti semua yang aku kenakan saat ini. Kadang salah satu tangan mereka menamparku dan juga menjambak rambutku.

“Ya!! Kalian gila!! Gue nggak akan terima perlakuan ini!!” teriakku frustasi sembari terus mempertahan diri untuk tidak menangis karena perlakuan mereka. Sungguh ini begitu kejam dan diluar nalar. Tega sekali mereka melakukan ini padaku.

“Heh!! Silahkan teriak sesuka lo. Nggak ada yang bakal tahu kita di sini.” Mereka tertawa bebarengan dengan suara yang begitu menggelikan. Merusak pendengaran.

Saat akhirnya pertahananku jebol, meluruhlah airmata yang selama ini selalu aku simpan dan tidak ingin aku tunjukkan di depan orang lain. Aku… aku tidak bisa menahan gejolak ini. Aku tidak ingin menangis di sini, di depan mereka semua. Tapi, aku tidak berdaya. Aku tidak kuat lagi. Isakku perlahan terdengar oleh mereka dan apa yang terjadi sudah aku bayangkan sebelumnya. Mereka tertawa begitu keras sampai-sampai Ella terbatuk karena tawanya sendiri.

“Lo nangis? Lo bisa nangis? Kasihan sekali…” mereka tertawa lagi untuk yang lebih keras.

Sandra menjulurkan tangannya lalu menarik paksa baju seragamku, aku hanya menutup mataku, tidak ingin tahu apa-apa. Dan saat aku akhirnya berpikir untuk pasrah, aku tidak lagi merasakan cengkraman di tubuhku. Lalu suara yang begitu familiar memenuhi gendang telingaku. Suara Monika.

“Heh! Apa yang kalian lakukan di sini, hah?”

“Sandra, Ella, Debby!! Apa yang kalian lakukan pada… Kharisma?” sebuah suara asing menyerobot pendengaranku, seperti suara Bu Esti, guru BP. Astaga, kenapa ada Bu Esti di sini? Kenapa beliau bisa… dan jawabannya ada pada senyuman sekilas yang diberikan Monika padaku saat aku membuka mata wajahnya lah yang pertamaku lihat, kemudian berubah khawatir. Dia segera menghampiriku.

“Lo nggak apa-apa, kan, Ris? Sori, gue telat nolongin lo,” kata-katanya seperti angin surga yang masuk ke celah-celah hatiku. Kemudian Monika melepas jaketnya dan memakaikannya padaku, lalu dengan hati-hati dia membantuku berdiri.

Aku dan Monika duduk-duduk di kursi taman sekolah dengan masih penampilanku yang semrawut. “Lo nggak apa-apa, kan? Ya ampun, lihat wajah lo berantakan banget. Mereka kejam banget sih, ngelakuin ini sama lo…” Monika tidak henti-hentinya mengusap wajahku dengan sapu tangan handuknya. Membenahi rambutku yang acak-acakan. Dia tidak sadar kalau sedari tadi aku memperhatikannya. Dia memang cantik dan… sebenarnya aku tidak mau mengakui ini… dia baik.

“Kok… lo bisa tahu, gue digencet sama mereka di kamar mandi? Gue pikir… lo udah…” kataku ragu-ragu dan langsung dipotong olehnya.

“Udah pulang?” dia tersenyum. “Nggak kok, gue masih ada perlu tadi di kelas sebelah. Agak lama sih. Terus pas gue mau balik, gue lihat lo dikeroyok sama mereka dan nyeret lo entah kemana. Jadi gue pikir, ini nggak sedang baik-baik aja, langsung aja gue nyariin guru buat nyeret mereka sekalian. Tapi, ternyata nyari gurunya kelamaan. Sori…” cengiran khasnya terbit lagi. Entah kenapa aku suka cengirannya itu. Terkesan nakal, usil dan menggemaskan.

Astaga, apa yang kupikirkan? Aku bukan anak cowok yang lagi naksir cewek, kan?

“Gue… nggak apa-apa kok. Dan gue… makasih banget buat hari ini. Sori karena udah pernah kasar sebelumnya sama lo, gue pikir…”

“Kharis, nggak masalah kok kalau lo benci sama hidup lo yang saat ini. Sori ya, sebelumnya. Gue nyari tahu gosip-gosip yang beredar tentang keluarga lo. Gue pikir itu wajar aja kalau lo ngerasa Tuhan nggak adil sama lo, itu cuma sebagian kecil pikiran manusia yang nggak mau menerima kehendak-Nya.” Aku sempat kaget saat Monika bicara soal keluargaku, aku sempat ingin marah karena dia mengungkit-ungkit masalah itu tapi, langsung aku urungkan niatku, aku pikir, aku harus mendengarkannya kali ini.

“Gue ngerti, kenapa selama ini lo cuek dan nggak mau tahu soal sekitar. Jadi belagu, hahaha… sori,” dia tertawa sembari melirikku.

It’s okay kalau lo ngerasa gue kayak gitu…” aku memutar kedua mataku lalu menatapnya.

“Jadi nggak percaya sama yang namanya persahabatan. Lo tahu, sebenarnya lo bukan nggak percaya. Tapi, karena lo takut sama yang namanya persahabatan.” Aku mengernyitkan dahiku bingung, dia mau ngomong apaan sih?

“Lo itu sebenarnya takut kalau lo mencoba untuk mencari sahabat lagi, lo bakal dikhianati lagi. Sebenarnya lo ingin banget punya temen, kan? Punya sahabat. Tapi lo nggak pernah bisa dapatin itu karena sikap introvert dan galak lo itu, tahu nggak.” Jelas Monika tanpa berusaha menghakimiku. Aku berpikir sejenak. Apa iya aku memang takut? Tapi…

“Asal lo tahu, gue siap kok jadi temen lo, gue bisa terima lo apa adanya. Termasuk keadaan keluarga lo dan diri lo sendiri saat ini.” Aku cuma tersenyum masam menanggapi celotehannya bak burung nuri.

“Gue nggak lagi asal ngomong. Gue udah ngobrol sama orang tua lo.  Mereka juga kasihan, prihatin sama sikap lo semenjak cobaan ini jatuh nimpa lo sekeluarga.”

Aku terpaku sejenak, “lo ke rumah gue? Ngobrol sama orang tua gue? Kapan? Dan kok lo bisa?” ajaib banget sih ini cewek?

“Sori, sebelumnya. Gue ikut campur urusan lo, tapi gue pikir, orang tua lo ada benernya. Mereka ingin ngelihat lo ceria lagi, jadi Kharis yang dulu lagi. Penuh semangat dan suka tersenyum.” Aku menggeleng pesimis.

“Lo harus coba. Seperti kata gue di awal, gue siap jadi temen lo. Bahkan jadi sabahat lo.”

“Dan lo akan mengkhianati gue setelah semuanya kembali seperti sedia kala. Dan gue sendirian lagi!”

“Nggak Kharis. Nggak akan.”

“Mana mungkin lo seyakin itu? Gue udah terlalu sakit hati, Monika. Mereka temen-temen gue, bahkan sahabat gue. Tapi apa? Mereka ngejauhin gue cuma gara-gara cacat sialan ini. Mereka nggak pernah ada. Mereka nggak pernah mau deket sama gue. Gue dianggap lalat yang mesti di abaikan biar mereka nggak kena penyakit!” airmataku berlinang deras saat kata-kata itu meluncur tajam dari mulutku. Aku sudah tidak sanggup menahan ini semua. Seperti sampah yang sudah membusuk dan berbau tak sedap yang selalu aku simpan tanpa bisa membuangnya. Dan pada kesempatan ini akhirnya kau mampu membuang semua.

“Gue nggak pernah berharap hidup layaknya bawang putih atau si upik abu-abu atau hidup semegah puteri-puteri kerajaan. Gue cuma mau hidup itu, ya sebagaimana bisa gue jalani. Gue ingin mereka itu bisa ngertiin gue, nggak kayak gini. Gue ngerasa dibuang dan dipersalahkan atas kematian kedua teman gue yang jelas-jelas itu salah mereka sendiri.” Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Rasanya lega sekali.

“Udah puas?”

“Apa?”

“Curhatnya.” Dia nyengir lagi, sialan. “Untuk pertama kalinya lo bisa ngobrol panjang lebar sama gue. Dan lo langsung curhat, ngeluarin isi hati lo selama ini. Gimana? Udah puas? Plong?”

Aku meliriknya sekilas lalu berdeham sebentar, “Iya sih. plong. Thanks udah mau dengerin.” Kataku malu-malu.

“Sama-sama. Gue tahu, gue nggak akan pernah bisa janjiin apa-apa ke elo. Tapi, yang saat ini, sampai nanti yang bisa gue lakuin buat lo adalah… jadi orang terdekat lo yang bisa jadi tong sampah lo. Kapanpun lo perlu gue buat buang sampah lo. Gue siap,” aku meliriknya yang masih tersenyum seperti itu. Senyuman khasnya.

“Gue yakin lo bakal bisa lagi percaya sama yang namanya persahabatan. Gue emang nggak pernah ngalamin hidup sepahit yang lo rasain. Tapi, gue bersikap jadi orang yang pengertian dan pendengar yang baik. Hidup ini cuma sekali, Kharis. Gue pengen lo bisa ngerasain keindahan hidup ini dengan cara pikir yang baru dan lebih bermanfaat buat kehidupan lo kedepannya. Dan gue harap, lo bisa berdamai dengan masa lalu lo, sakit hati lo dan semuanya.”

Aku menatap Monika lekat-lekat, sungguh Tuhan sebenarnya maha adil. Disaat aku sudah tidak mengingat lagi dan tidak mau tahu lagi dengan kejelasan hidupku Dia menghadirkan makhluk ciptaan-Nya untuk membangunkanku dari mimpi buruk yang selama ini membayangi tidurku.

Dia penuh kasih dan begitu sabar menghadapi kelakuan ekstrimku padanya selama ini, tapi dia pantang menyerah. Mungkin inilah saatnya bagi diriku untuk membuang jauh-jauh sikap bodoh dan kekanakanku dan menggantinya menjadi Kharis yang baru.

Aku ingin sekali memeluknya, maka tanpa aba-aba sebelumnya, kulingkarkan kedua lenganku pada tubuhnya dan kutarik dia dalam pelukanku. Monika sempat memberontak saat aku memeluknya, tapi sebentar kemudian dia membalas pelukanku dengan hangat. Dia mengelus rambut dan juga punggungku. Rasanya damai sekali. Andai saja dari awal aku punya sahabat seperti dia, mungkin hidupku tidak semenakutkan sebelumnya.

Aku harap ini tidak akan cepat berakhir, aku ingin menikmati saat-saat indah seperti ini. Dan tanpa sadar airmataku mengalir pelan membentuk aliran sungai kecil di wajahku. Aku membiarkannya jatuh. Ini airmata kebahagiaan. Dan aku berjanji akan menjaga ikatan ini baik-baik.

“Terima kasih banyak,”

(ik)
Iklan
Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

Jia Effendie

author, editor, translator, and literary agent

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku