Arsip Tag: Windry Ramadhina

Last Forever: Cinta dan Komitmen Bukan Akhir dari Kebahagiaan

last-forever-windry-ramadhina

Terima kasih sudah memberi kisah menarik. Novel ini edisi akhir tahun bagiku, membacanya juga di bulan Desember. Last Forever aku dapatkan dengan harga diskon di toko buku online. Saat membacanya aku tidak menyangka jika akan sepadat ini. Di antara novel-novel mbak Windry, Last Forever punya kepadatan yang signifikan. Kisah cinta orang dewasa, dengan pola pikir orang dewasa kebanyakan. Tak apa, aku sudah sering baca kisah cinta orang dewasa. Hahaha

Cinta dan komitmen yang diusung dalam novel ini menarik. Di mana kedua karakter utamanya bukan jenis orang yang suka mengikatkan dirinya pada sebuah hubungan yang memiliki dasar komitmen atau ikatan. Mereka berjiwa bebas, penuh gairah dalam karir dan kehidupan. Lana dan Samuel sama saja. Mereka keras kepala, passionate, penuh percaya diri, bebas, penuh karakter, dan antikomitmen. Tapi, mereka bodoh, menurutku, mereka lupa ketika keduanya menjalin hubungan, saling mendamba satu sama lain, selalu menyisakan waktu jika bertemu, selalu berharap pertemuan-pertemuan yag akan datang, dan tidak mengharapkan perpisahan. Tanpa sadar mereka sudah membentuk ikatan. Pengecualian bayi mereka.

Lana benar-benar perempuan yang ambisius dan keras kepala. Aku sempat berpikir, orang ambisius memang tidak jauh dari yang namanya keras kepala. Aku menyadari itu pada diriku sendiri saat membaca novel ini. Aku selalu dikatai, “Kau itu ambisius, Ma.” Dan berakhir dengan penyangkalanku. Tapi, kalau ada yang bilang, “Kau itu keras kepala.” Iya, memang aku keras kepala. Tapi, saat membaca mengenal Lana, aku seakan melihat diriku. Ambisius dan keras kepala. Kadang aku bingung, ambisius itu negatif apa positif. Karena kebanyakan mengungkapkannya dengan nada miring. Jadi aku tidak suka dibilang ambisius.

Meski begitu, aku menyukai karakter Lana yang kuat. Bukan jenis perempuan lemah. Samuel pun demikian. Pria angkuh yang aku kenal. Superior sekali, tapi dia terpuruk hanya karena seorang Lana Lituhayu Hart.

Ada Rayyi dari Montase. Aku melihat Rayyi adalah karakter cowok-cowok Jepang. Cara dia memanggil Samuel ‘Kakek’—menjadikan diriku menganggap Samuel sudah tua—, jika kalian suka baca manga atau melihat anime Jepang pasti tidak akan asing dengan panggilan ‘Oyaji’ artinya bapak atau lelaki tua’ atau ‘Jiji’ yang punya artinya paman atau lelaki tua.

Memang sebuah komitmen kebanyakan diambil berawal dari cinta, adapula karena tanggung jawab. Juga kewajiban. Saat fase Lana terluka karena terkhianati oleh Samuel yang tiba-tiba melamarnya, aku melihat Lana adalah sosok yang egois. Dia selalu berlindung pada rasa takut, traumatis akan masa lalu ibunya yang menikah dengan ayahnya. Dia takut berkorban, jatuh cinta, dan kehilangan. Dia selalu menjadikan kesedihan ibunya yang kehilangan impian dan dunianya sebagai alasan untuk membenarkan semua sikap keras kepalanya. Itu yang membuatku gemas sepanjang kisah mereka mengalir. Tapi, anehnya Lana selalu ingin bersama Samuel. Tidak mau kehilangan. …Namun, lelaki itu adalah Samuel. Lana tidak ingin kehilangan lelaki itu…

Percaya atau tidak, ia sudah mempersulit dirinya sendiri. Dia sudah cinta, tapi menyangkalnya kuat-kuat. Dia melukai dirinya sendiri. Dia takut ditinggalkan, intinya itu. Tapi, dia tahu, bersama Samuel perlahan dia menemukan kata ‘bahagia’. Yah, dia bahagia sekarang. Good job, Mbak Win. Hehehe…

(ik)
Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

storyofdeika77

Me and Paper

Tokyobling's Blog

Tokyo in Photos

Mencari Jejak

You left something, I collect it

K2Ost

MP3 Download for Kpop Song & KDrama Ost. 320 kbps, Korea MV / Live Performance

Taste Life Twice

some books just swallow you up, heart and soul...

Khatulistiwa Literary Award

Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia

billashalsa81

disiplin adalah sikapku , belajar adalah hidupku